Drupadi: Ketika Perempuan Menaruh Dendam

in Rehal by

Judul               : Drupadi

Pengarang       : Seno Gumira Ajidarma

Cetakan           : Pertama, Januari 2017

Tebal               : vi +149

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Barangkali yang lebih santer terdengar atau terlihat di dunia maya tentang novel terbaru dari Seno Gumira Ajidarma ini adalah kritik atas pemilihan desain sampulnya. Terlepas dari desain sampul yang dinilai para kritikus sebagai hasil kerja amatir, Seno menyajikan sosok seorang Drupadi dengan sangat apik. Bila dalam novel berjudul senada Ardian Kresna menarasikan Drupadi sebagai seorang kanca wingking yang manut dan mengakhiri cerita sampai peperangan di Padang Kurusetra, Seno berkisah tentang perempuan poliandris yang tidak menyukai suratan takdir mulai dari saat ia diperebutkan dalam sayembara hingga akhir hayatnya.

Sebelumnya, sepuluh bab yang ditulis sejak tahun 1984 sampai 2006 ini telah dimuat dalam berbagai koran harian dan majalah mingguan. Di novel ini pula terdapat ilustrasi karya Danarto yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang dialami Drupadi di setiap bab. Seperti tulisan-tulisan khas Seno sebelumnya, pembaca akan disuguhi dengan narasi detail yang memikat. Pada umumnya cerita tentang Drupadi dan Pandawa berkisah seputar sayembara memperebutkan Drupadi, perjudian dengan Kurawa yang membuat Drupadi dan Pandawa dihinakan, pengasingan di Wirata dan Perang Bharatayudha di Padang Kurusetra. Namun lewat novel ini Seno membuat pembaca berpikir ulang mengenai sosok Drupadi dan Pandawa.

Drupadi, perempuan dengan kecantikan yang melebihi mimpi “terpaksa” menikah dengan kelima Pandawa atas permintaan Ibu Kunti sekalipun Arjuna yang memenangkan sayembara.  Kelima Pandawa terus menerus menolak menikahi Drupadi karena rasa sungkan satu sama lain, hingga akhirnya Ibu Kunti memutuskan Drupadi harus menikahi kelima anaknya dengan pertimbangan bahwa ialah yang bisa melayani kelembutan Yudhistira, kekasaran Bima, kegairahan Arjuna, dan keanggunan Nakula-Sadewa. Ia tak menjawab dengan tegas bahwa Arjunalah yang ingin dinikahinya sebab dengan Pandawa saling melempar tanggung jawab untuk menikah, maka menikahi kelimanya menjadi satu-satunya peluang bagi Drupadi untuk bisa bersama Arjuna.

Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tentu seorang perempuan memiliki kehendaknya sendiri. Namun meski dirinya hidup di antara para bijak, selain kepada perempuan tidak pernah diajukan pertanyaan, perempuan sendiri tidak akan memperjuangkan kehendak dan cita-citanya dengan cara menyatakannya. (hal. 26)

Meski di awal kisah Drupadi terkesan pasrah dan nrimo, pembaca akan dikejutkan bahwa ternyata seorang Drupadilah yang mewacanakan balas dendam atas penghinaan Kurawa di meja judi setelah berakhirnya dua belas tahun masa pengasingan Pandawa. Lewat kata-kata ia menampar kelima Pandawa yang lalai dalam menjaga kehormatan dan harga diri istrinya yang telah begitu setia serta mempertanyakan kembali kepada mereka hakikat seorang kesatria. Pada malam jahanam ketika dirinya dipertaruhkan di meja judi, ketika rambutnya yang tersanggul dijambak Dursasana, ia telah bersumpah tak akan kembali menyanggul rambutnya sebelum dikeramasi dengan darah Dursasana. Drupadilah yang memantik Bharatayudha di Padang Kurusetra, menyebabkan kematian seratus Kurawa, dan menghadirkan kematian yang mengenaskan bagi seorang Dursasana.

Para Pandawa adalah ahli bertapa, namun di seluruh anak benua tiada pembunuh yang lebih besar daripada mereka. (hal. 107)

Di sini cara seorang Seno menarasikan sebuah perkelahian dan darah cukup memukau. Ketika Abilawa mencincang tubuh Kichaka, Bima menghirup dan memeras darah dari mayat Dursasana untuk mengeramasi rambut Drupadi, serta Aswatama membalas dendam dengan cara menghabisi nyawa anak-anak Pandawa yang selamat dari perang agung di Padang Kurusetra, dapat membuat pembaca merasa ngeri sekaligus tercekat. Selain itu Seno menawarkan pilihan kepada pembaca untuk merenungi kembali sebenarnya sosok seperti apakah Pandawa? Pantaskah mereka disebut sebagai kesatria?

Lewat Drupadi, pembaca dapat melihat bagaimana seorang perempuan mampu menghidupkan dirinya dengan dendam yang bisa memberi dampak mengerikan. Ia tak akan serta-merta menerima peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sebagai suratan. Sebab dengan memercayai suratan, tak ada lagi yang menarik dari kehidupan dan usaha manusia atas. Kaum lelaki yang selalu merasa dirinya paling menentukan, akan kelimpungan apabila perempuan mengambil tindakan.  Selain itu, Drupadi juga mengingatkan bahwa perempuan juga memiliki hak. Ia berhak untuk marah, berhak untuk dibela, serta berhak dijaga kehormatannya.

Di akhir hidupnya, Drupadi yang tidak dilahirkan lewat rahim seorang perempuan melainkan dari bunga teratai yang sedang merekah tetap menjadi perempuan pujaan. Setelah mencecap manis dan pahitnya kehidupan manusia, ia bersama kelima Pandawa pergi untuk menjalani Yoga Pemusnahan (suatu cara untuk menyatukan jiwa dengan sumber kehidupan) di Mahameru diiringi tangis orang-orang Indraprastha.

Sepanjang hidupnya Drupadi ingin memanusia, dan dewa-dewa memberinya puncak-puncak kebahagiaan maupun penderitaan yang paling mungkin dialami manusia. Jatuh cinta pada Arjuna dalam pandangan pertama, namun menjadi istri kelima Pandawa, dan akhirnya dihinakan para Kurawa. (hal. 128)

Di bagian akhir Seno memberikan catatan akhir dan sekadar bacaan yang bisa menjadi referensi bagi pembaca untuk mengenal versi lain dari Drupadi dan Pandawa. Salah satu yang menarik adalah pilihan Seno untuk menarasikan Pancawala sebagai anak Drupadi dari kelima ayahnya ketimbang Drupadi mempunyai lima anak dari lima ayah seperti teks Kakawin Bharat-Yudha. Selain unik, pilihan ini menguatkan Drupadi sebagai perempuan poliandris yang memiliki “kuasa” atas kelima suaminya, terlepas dari ketidaktahuan siapa ayah biologis dari Pancawala.

Lewat novel ini Seno tidak hanya mampu menarasikan kisah pewayangan dengan cara yang menarik, tetapi juga menyampaikan gagasan tentang kesetaraan perempuan lewat tokoh sentral bernama Drupadi.

Annas Chairunnisa Latifah

Annas Chairunnisa Latifah

Tinggal di Semarang.
Annas Chairunnisa Latifah

Latest posts by Annas Chairunnisa Latifah (see all)