Duh, Potret!

in Memorabilia by

Orang-orang ribut mengenai berita Bumi Manusia mau digarap menjadi film. Ribut telah agak reda. Teks sastra gubahan Pramoedya Ananta Toer itu pikatnya tak kunjung pudar bagi jutaan pembaca di Indonesia dan negeri-negeri asing. Berita penggarapan film oleh sutradara terkenal sempat membikin heboh, menguras ingatan dan pemikiran. Kini, sibuk debat mulai berganti tema-tema mengarah ke politik. Orang-orang Indonesia memiliki energi berlimpah dalam debat, ribut, sengketa, dan perseteruan. Kita mengingat lagi saja Bumi Manusia mumpung orang-orang di Indonesia sedang keranjingan pamer foto atau potret setiap detik. Pameran sampai embusan napas terakhir. Mati saja masih ingin dipotret. Di Indonesia, sehari tanpa potret bakal mengurangi nafsu mengejek, fanatik, dan manja.

Satu tokoh bisa ada di ribuan potret, tersaji ke publik dari hari ke hari. Dulu, perkara potret pernah membikin sewot Pram. Sewot tak dimuntahkan kasar dan norak ke publik. Bukalah halaman-halaman awal Bumi Manusia! Pram terkesima duluan ke potret berlatar masa lalu: “Salah satu hasil ilmu-pengetahuan yang tak habis-habis kukagumi adalah percetakan, terutama zincografi. Coba, orang sudah dapat memperbanyak potret berpuluh ribu lembar dalam sehari. Gambar pemandangan, orang besar dan penting, mesin baru, gedung-gedung pencakar langit Amerika, semua dan dari seluruh dunia–kini dapat aku saksikan sendiri dari lembaran-lembaran kertas cetak. Sungguh merugi generasi sebelum aku– generasi yang sudah puas dengan banyaknya jejak-langkah-sendiri di lorong-lorong kampungnya itu. Betapa aku berterimakasih pada semua dan setiap orang yang telah berjerih-payah untuk melahirkan keajaiban baru itu. Lima tahun yang lalu belum lagi ada gambar tercetak beredar dalam lingkungan hidupku. Memang ada cukilan kayu, namun belum lagi dapat mewakili kenyataan sesungguhnya.”

Tokoh dinamai Minke oleh Pram itu bergirang menikmati zaman “kemadjoean”, zaman berkelimpahan potret. Ia mengatakan generasi terdahulu merugi. Minke tak pernah tahu pada abad XXI, Indonesia “dikutuk” potret. Orang-orang berpotret sampai mati! Adegan berpotret, mengoleksi, dan pamer sudah ibadah kolosal mencipta “sorga-sorga” selama 3 detik. Minke tentu merugi tak turut hidup di abad XXI. Ritual terpenting adalah berpotret-memotret. Sehari tak menghasilkan sebiji potret, duka lara hinggap memberi sesalan paling pedih. Hiduplah, berpotretlah! Matilah, berpotretlah! Mantra paling mujarab abad XXI berjudul potret atau foto. Semua urusan berbeda, menepi saja dan pergilah ke ujung neraka!
Pram mengawali Bumi Manusia dengan potret. Apa itu kesengajaan dari gairah imajinasi atau memiliki jejak ke teks sastra masa lalu? Bukalah buku berjudul Sang Pemula (1985) susunan Pram di halaman-halaman memuat fiksi gubahan Tirto Adhi Soerjo. Cerita berjudul Boesono disajikan ke umat pembaca pada tahun 1912. Tirto Adhi Soerjo mengurusi potret di awal abad XX. Potret tercantum di teks sastra agar teringat pembaca di tahun-tahun belakangan. Peristiwa Boesono kasmaran pada Soendari disahkan oleh potret. Tirto Adhi Soerjo mengisahkan: “Wadjah dan perangai jang sedemikian manis beloem pernah diperolehnja dan tersediakan oentoek djadi isterinja. Dari sakoe badjoenja segera diambilnja potret Soendari. Dilihatnja berkali-kali, terasa beloem poeas djoega.” Pada potret, Boesono tenggelam di lamunan asmara. Potret itu ajaib!

Di lembaran kertas, Boesono melihat pujaan tanpa cela. Soendari itu perempuan sempurna. “Dalam potret itoe Boesono sedang menikmati Soendari jang sedang berpose, ia mengenakan kebaja hitam lekam. Kainnja batik kawoeng babaran Jogja, bersepatoe nona-nona, tangan membawa kimpoel oeang dan tangan kiri membawa kipas boeloe. Topinja gaja Eropah berboeloe poetih. Ia berdiri begitoe tenang ditaman jang indah,” tulis Tirto Adhi Soerjo. Pada masa lalu, potret bagi lelaki berlagak modern dan menuruti gandrungisme terasa terpenting demi perasaan dan lamunan paling romantis. Boesono berbeda dari Minke saat berurusan potret adalah dampak keampuhan ilmu-pengethuan. Boesono memilih potret itu asmara.

* * *

Boesono dan Minke dari masa lalu tak pernah bertemu perempuan terkenal di Indonesia, hampir seratus tahun. Perempuan itu berpengaruh gara-gara potret dan jamu. Dulu, penulisan masih portret, belum potret. Ia cantik dan anggun. Ia dalam potret dianggap berkhasiat bagi para peminum jamu. Minumlah jamu dan pandangilah foto! Sembuhlah! Potret di ketakjuban agak mistis. Potret itu menandai industri jamu menggunakan tatapan mata modern dan imajinasi sealur milik Boesono dan Minke.

Di buku berjudul Museum Jamu Nyonya Meneer (1984), kita mendapat keterangan singkat. Usaha pembuatan jamu oleh Meneer terkenal di Semarang dan pelbagai kota kisaran tahun 1918-1919. Orang-orang menggemari minum jamu. Orang sakit ingin bertemu langsung dengan Meneer agar jamu semakin berkhasiat. Meneer tak bisa meladeni semua permintaan orang sakit. Siasat pun dijalankan. Meneer membuat potret. Di bungkus jamu, orang-orang bakal melihat ada potret Meneer. Konon, siasat bisnis itu manjur. Perusahaan jamu Tjap Portret Njonja Meneer jadi terkenal dan membesar. Kita cuma ingin mengenang bahwa potret berhasil merevolusi bisnis jamu di Indonesia. Meneer sangat mengerti situasi zaman. Dulu, potret itu langka dan membuat bumiputra gampang takjub.

Pada masa 1930-an, potret semakin berarti saat menjadi kegemaran publik. Alat-alat didatangkan dari negeri asing demi kesaktian memotret. Buku-buku pun diperlukan memberi pelajaran potret. Cerita kesembuhan orang minum jamu setelah melihat potret di bungkusan tergantikan ilmu dan teknik. Di majalah Sin Po edisi 4 Agustus 1934, kita membaca iklan bermaksud mujarab. Buku dijuduli Hal Portret menggoda pembaca agar lekas membeli dan membaca sampai khatam: “Dalem ini boekoe ditoetoerkan asal-oesoelnja portret sampe keadahan sekarang, brikoet hal zincografie dengen recep-receptnja sekalian, djoega atoeran boeat bikin cliche. Banjak pertanjaan jang seringkali dimadjoekan, aken dapet djawaban dengen batja ini boekoe, seperti kapan portret dimoelai, apakah goenaja portret, bagimana zincografie dibikin, apa jang diseboet telefotografie jang sekarang moelai ada di Indonesia, dan laen-laen lagi.”

Buku itu terbeli oleh orang berduit atau yang bekerja di surat kabar. Pembelian bisa dilakukan di Drukerij Sin Po (Batavia) atau melalui pemesanan. Buku teknik dan pengetahuan, meninggalkan takjub asmara dan jamu. Potret perlahan digandrungi saat Indonesia sedang diguncang malaise dan alur pergerakan politik kebangsaan memilih potret-potret membarakan imajinasi Indonesia. Para tokoh atau pemimpin dikenali orang-orang melalui potret-potret dipasang di surat kabar atau dipajang di dinding. Potret ingin revolusioner, berwatak politik kebangsaan berhadapan pameran foto parlente kaum kolonial selaku “kaum pemberi perintah.” Indonesia melulu dijadikan bangsa asing itu sebagai “studio” untuk potret memberi tumbal miskin, bodoh, nestapa, dan minder bagi bumiputra. Pada masa 1930-an, potret dipelajari untuk mentas dari longsor perintah kolonial. Orang-orang mulai melihat potret Soekarno, Tan Malaka, Agoes Salim, HOS Tjokroaminoto, Semaoen, Soetomo, Sjahrir, dan WR Soepratman.

Tahun demi tahun berlalu. Pada masa 1950-an, revolusi dan demokrasi milik Indonesia. Tahun teringat tentu 1955. Orang-orang berdemokrasi di bilik suara. Mereka memberi suara sambil mengingat tokoh. Sekian orang mengingat dan memuja melalui potret-potret. Pada tahun tercatat di sejarah, ada buku luput dari pembuatan bibliografi potret di Indonesia. Buku itu berjudul Beberapa Resep Fotografi disusun oleh Peter Wessing, terbitan Noordhoff-Kolff, Jakarta. Buku diterbitkan berdalih orang-orang Indonesia semakin keranjingan potret. Buku resep dianggap penting dalam pemajuan ilmu meski tak mengikutkan bab potret berwarna. Penulis menjelaskan: “Fotografi berwarna belum sangat madju di Indonesia; resep-resep itu tidak kami muat dalam buku ini, sebab tidak begitu perlu.” Indonesia memasuki zaman potret adalah “kekuasaan”, melampaui asmara picisan dan sakit (pusing, mencret, pilek).

Pada masa 1950-an dan 1960-an, kita memastikan potret Soekarno paling laris. Ia mengalahkan potret para artis. Kelarisan potret Soekarno agak tersaingi oleh kemunculan ribuan potret Soeharto saat menjadi penguasa di masa Orde Baru. Orang bakal mengingat sekian potret apik Soeharto beradegan memancing, potong padi, mesem, berpidato, dan potong tumpeng. Potret Soeharto menjadi tontonan paling lama saat dipasang di dinding kantor, sekolah, dan rumah. Selama puluhan tahun, orang-orang diharap bersabar dan melawan jemu jika melihat dinding melulu bertemu Soeharto. Potret Soeharto pun paling sering diminta bocah-bocah seantero Indonesia melalui surat-surat dikirimkan ke istana. Mereka ingin bermimpi jadi presiden asal rajin melihat potret Soeharto.

* * *

Pada masa 1980-an, potret menguasai imajinasi Indonesia. Majalah Tempo edisi 24 Juli 1982 mengabarkan lakon terbesar Indonesia. Di sampul, pembaca melihat gambar keluarga berdandan parlente berada di depan kamera. Mereka ingin menghasilkan potret. Mereka ingin moncer dan mengabadi di lembar kertas. Judul buatan redaksi: “Orang Indonesia Memotret.”

Wartawan Tempo membuat kalimat-kalimat wajib dikutip meski terbaca di abad XXI. Kita menghidupkan lagi kalimat-kalimat telah berusia tua: “Jepret! Bunyi itu kini terdengar di mana-mana di Indonesia. Di tengah hiruk-pikuk keramaian kota, di antara kesunyian rimba, di pucuk gunung tempat para remaja dan siapa saja berwisata. Ia juga muncul di tengah kematian, kengerian dan rasa haru: mengabadikan saat-saat terakhir kapal Tampomas II dan mengalihkan wajah kuyu dan lapar bocah-bocah di Flores ke kertas film. Pendeknya, potret-memotret kini telah menjadi bagian dari gaya hidup, dan gaya sewot kita.”

Laporan panjang menguak nafsu memotret di Indonesia sulit dihentikan dengan khotbah atau sindiran. Sepanjang hari peristiwa memotret seperti “ibadah” meraih “surga”. Orang-orang berkalung kamera. Segala tempat dipilih untuk memotret. Pernikahan menghasilkan ratusan potret. Pelesiran mencipta ratusan potret. Berpacaran bergantung potret. Perkara sekolah wajib memiliki potret. Politik pun memuja potret. Hiburan dan kesengsem artis dipuaskan dengan potret.

Kini, orang tak berkamera berjulukan manusia dari “abad pertengahan”. Sehari tanpa menghasilkan potret mungkin berdosa. Potret bertebaran memenuhi bumi dan langit. Kita sulit berpuasa dari potret. Beribadah saja dipotret. Mandi pun dipotret. Makan bakal sia-sia tanpa potret. Orang sedang membaca buku ingin dipotret. Kelonan kadang dipotret untuk koleksi berahi. Politik bertahun 2019 tanpa potret tentu mustahil. Potret mungkin mukijzat paling digandrungi dan berpetaka di Indonesia. Duh, potret!

Di pinggiran Solo, lelaki bermulut gondrong memilih mendengarkan lagu lawas. Peristiwa mendengar lagu di pagi hari setelah rampung mencuci gelas, piring, dan baju. Lagu itu melenakan dan memanjakan perasaan picisan. Lagu bertokoh Ratih Purwasih. Pilihan lagu untuk membedakan diri dari kegemaran orang-orang mendengarkan lagu asal Korea, Amerika, Eropa, dan India. Lelaki cengeng itu memilih mendengarkan lagu lawas ketimbang mengurusi potret-potret mau mendefinisikan Indonesia bertahun 2019. Ia masih bisa berpihak ke potret asal itu bertokoh A Soebandono, sebelum menikah. Ia mengartikan zaman berkelimpahan potret dengan mendengarkan Ratih Purwasih, berusaha melupakan A Soebandono dan kaum politik: Hitam putih fotomu/ dalam album kenangan/ kusimpan selalu/ kukenang kembali kala rindu…. Duh, potret malah kecengengan terawetkan bergelimang sendu dan rindu. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)