“Dzikrun”

in Cerita Pendek by
fineartamerica.com

Pernahkah orang tuamu menyuruh memotong kuku-kukumu yang panjang dan hitam sembari berkata seperti ini, “Awas, nanti jadi rumahnya Dzikrun!?” Atau pernahkah seseorang nyinyir “Hiii…, ada tahinya Dzikrun!” ketika mendapati kuku-kukumu kotor dan tak terurus sama sekali? Jika kau pernah mengalaminya, maka duduklah sebentar. Akan kuceritakan kepadamu sebuah kebenaran mengenai Dzikrun yang tak akan pernah kaudapatkan dari siapa pun. Karena sejatinya, Dzikrun bukanlah sekadar orang yang numpang berak di kuku jari tangan dan kakimu.

Kebenaran ini kudapatkan dari Nyai Satirah, perawan tua yang umurnya lebih dari seabad itu. Percaya atau tidak, namun kau harus percaya, sebelum ia akhirnya memutuskan untuk memilih bisu, ia menceritakan kebenaran ini kepadaku. Saat itu aku dalam perjalanan pulang dari menutup jemuran batu bata di sawah karena langit mulai mengabarkan kabar buruk (setidaknya begitu yang kurasakan sebagai pembuat batu bata tradisional). Aku berjalan dengan tergesa. Dan sial, ketika tepat di depan rumah Nyai Satirah, dari arah barat kulihat hujan sedang menyergap apa saja yang terhampar di bawahnya. Aku tidak ingin pakaianku basah kuyup. Selain itu aku juga tidak ingin terkena omelan Marni, istriku. Karena jika saja aku pulang dengan pakaian yang basah, ia akan segera mengomel, “Kenapa nggak neduh dulu, sih?! Kau tahu sendiri, kan, musim-musim kaya gini susah nyari panas!” Maka dari itu, aku memutuskan untuk berteduh di emperan rumah Nyai Satirah.

Aku duduk di sebuah kursi kayu tua yang biasa digunakan Nyai Satirah termenung. Pintu rumah Nyai Satirah tertutup—dan memang seperti itulah biasanya, selalu tertutup, kecuali jika ia sedang terpekur di kursi kesayangannya di emperan rumah, daun pintunya akan terbuka. Hujan mericik dari atap gentingnya yang mulai menghitam dan mulai diselimuti lumut hijau. Sambar kilat dan suara geludug sedang berkejaran di langit yang abu-abu. Dan bersamaan dengan suara petir yang memekakkan telinga, kudengar lamat-lamat suara Nyai Satirah yang memanggil namaku.

“Lib!”

Saat itu ia sudah berdiri di depan pintu. Kupandang sejenak matanya yang rahasia itu. Lalu dengan amat sopan, kuanggukkan kepalaku sebagai tanda penghormatan. Ia membalasnya dengan satu pejaman mata yang cukup lama, kukira setara dengan tiga detik. Aku berdiri dan kupersilakan Nyai Satirah untuk duduk di kursi tuanya. Namun, dengan suara yang amat lirih, ia menolak.

“Sudah, duduklah kau di situ!”

Aku mengiyakan perintahnya dan duduk kembali di kursi tuanya. Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya yang gelap—karena tidak memasang atau menyambung listrik dan semakin gelap karena langit yang muram—sejenak kemudian ia kembali dengan kursi kecil yang amat pendek (kami menyebutnya dingklik) dan duduk di sampingku. Sebenarnya aku merasa tidak enak. Sungguh tidak sopan jika seorang yang lebih muda duduk lebih tinggi dari orang yang lebih tua. Tapi mau bagaimana lagi, ketika kuajak untuk bertukar tempat duduk, sekali lagi, dengan suara lirihnya ia menolak.

Langit masih gelap. Hujan sedang sibuk bercinta dengan rumput dan daun-daun. Tak ada percakapan yang terjadi antara aku dan Nyai Satirah. Di emperan rumahnya itu, kami seakan menelan kata-kata masing-masing. Sesekali aku ingin mencoba mengajaknya berbasa-basi. Namun ia tetap saja diam ketika potongan-potongan kalimatku selesai kuucapkan. Kulihat matanya sedang menerawang jauh menembus tirai hujan yang makin tebal. Entah sedang memikirkan apa.

Dan entah bagaimana, tiba-tiba ia bertanya kepadaku tentang Dzikrun.

“Lib, tahukah kau cerita tentang Dzikrun? Atau pernahkah seseorang menceritakan kisah Dzikrun kepadamu?”

Kupandang wajahnya yang dipenuhi lipatan-lipatan dan bintik-bintik gaib. Pandangannya masih sama, lurus, menyibak guyuran hujan.

“Belum, Nyai. Yang saya tahu, biasanya orang-orang sini menakut-nakuti anak-anaknya yang memiliki kuku panjang dan kotor dengan menyebut tahi Dzikrun.”

“Hanya itu?”

“Iya, Nyai, hanya itu yang saya tahu.”

“Kalau begitu, maukah kau kuceritakan kebenaran tentang kisah Dzikrun?”

Hujan masih lebat. Beberapa anak kecil dengan tubuh telanjang sibuk bermain kapal-kapalan di genangan air yang meninggi.

“Apakah Dzikrun itu benar-benar ada, Nyai? Maksud saya, tidakkah itu hanya sebuah mitos untuk menakut-nakuti anak kecil?”

Mendadak Nyai Satirah memalingkan pandangannya ke mukaku. Ia menikam mataku dengan tatapan yang mengerikan. Segera kutundukkan kepala dan kujatuhkan pandangan di tanah emperan rumahnya yang tak rata. Serombongan semut merah sedang berjalan rapi membentuk garis yang teratur. Dan air hujan, masih mericik dari atas genting yang lumutan.

“Jika kau membutuhkan saksi untuk membuktikan kebenaran kisah itu, Lib, akulah yang akan menjadi saksi.” Nyai Satirah kembali melayangkan pandangannya ke depan, mengawang di sela-sela hujan. “Karena aku adalah buyut Dzikrun.”

Tiba-tiba cahaya petir membelah langit dan suaranya yang menggelegar itu jatuh di dadaku. Anak-anak kecil yang bertelanjang tadi sudah berhamburan, berlarian ke rumahnya masing-masing. Kupandang kembali Nyai Satirah di sampingku. Betapa tubuh yang ringkih itu penuh dengan rahasia-rahasia. Rambutnya yang putih seperti tangan-tangan maut yang gaib. Mulutnya seperti mengulum duka yang panjang, yang siap meledak kapan saja ia menginginkannya. Dan matanya, seperti pisau jagal yang mematikan.

Aku terdiam. Semut-semut merah masih berjalan teratur di depan tempatku duduk. Setelah suara petir yang memekakkan itu lenyap di ujung langit yang lain, Nyai Satirah mulai bercerita ihwal kisah Dzikrun. Angin barat terbang dengan gesit, membuat tirai hujan menari-nari, sesekali seperti terbuka, seperti di panggung-panggung opera.

***

Dzikrun dilahirkan dari keluarga pencuri, dari pasangan Amin dan Rukamah. Tak seperti arti namanya “orang yang dapat dipercaya”, Amin, adalah seorang pencuri ulung. Namanya telah dikenal di penjuru-penjuru desa. Dan entah bagaimana, meskipun ia telah diketahui sebagai pencuri, tak ada seorang pun yang berani meringkusnya. Barangkali karena kesaktiannya. Ia memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, kebal terhadap senjata api dan tajam.

Pernah suatu ketika seseorang dari desa lain melabrak rumah Amin karena geram sapinya yang sedang bunting raib tak tahu rimbanya. Ia mengira Amin yang telah membawa dan menjualnya di Pasar Setu, pasar sapi. Dan dengan satu jawaban dari orang desa yang gemetar di cengkeramannya, laki-laki itu akhirnya sampai di depan rumah Amin. Ia berteriak, memaki, menantang dengan amat lantang. Rukamah yang juga mendengar suara laki-laki itu segera mendekap tubuh Dzikrun kecil.

Amin menyambut tantangan laki-laki itu. Amin keluar rumah. Sebelum ia sampai di pelataran, dengan gerakan secepat kilat, laki-laki itu merangsak maju dan segera menetakkan parangnya di leher Amin. Mengherankan, dari aduan parang dan leher itu muncul suara dentingan yang amat keras. Seperti suara besi saling beradu. Amin masih berdiri tegap di tempatnya berpijak. Sedangkan, laki-laki yang menantangnya mulai ketakutan. Karena amat ketakutan, laki-laki itu menebas tubuh Amin dengan membabi-buta. Namun, seperti kejadian awal, suara dentingan beterbangan di udara, dan tak ada goresan sedikit pun di tubuh Amin. Dan dengan satu gerakan yang pasti, Amin berhasil merebut parang dari laki-laki itu. Kemudian dengan satu tebasan yang amat cepat, kepala laki-laki yang menantangnya telah tergolek di tanah.

Seperti halnya Amin, Rukamah juga seorang pencuri yang lihai. Namun namanya tidak setenar suaminya itu. Namanya hanya terkenal di desanya sendiri. Rukamah biasa mencuri kelapa, labu, melon, jagung, padi, atau cabai milik tetangganya di ladang. Sesekali ia juga mencuri ayam. Ia menjebak ayam-ayam milik tetangganya dengan memasang umpan biji jagung yang mengarah ke sebuah kurungan besar yang terbuka pintunya. Amat sederhana, namun selalu berhasil.

Sedangkan Dzikrun, nasib melahirkannya sebagai bocah yang kurang waras. Orang-orang desa menganggap ketidakwarasan yang menimpa Dzikrun sebagai karma untuk Amin dan Rukamah. Namun, seperti sebuah peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Dzikrun mewarisi jiwa pencuri dari bapak dan ibunya. Di usianya yang kelima, misalnya, ia sudah berani mencuri jambu air yang ranum milik tetangganya. Di usia lima belas, ia berani mencuri ayam. Dan seterusnya, hingga namanya dikenal seperti nama bapaknya.

Namun, di usianya yang ke-dua puluh lima, bapak dan ibunya meninggal secara bersamaan. Menurut desas-desus, keduanya diracun oleh orang-orang desa karena sudah amat geram dengan kelakuan Amin dan Rukamah. (Entah bagaimana caranya meracuni.) Saat itu Dzikrun sudah menjadi pencuri ulung—meski dengan kondisinya yang kurang waras—dan jarang pulang ke rumah. Ketika ia mendengar berita kematian orang tuanya itu, ia sama sekali tidak acuh. Baginya, ia memiliki kehidupan sendiri.

Dan petaka Dzikrun, dimulai saat bulan dalam hitungan dua belas. Saat itu malam amat memanjakan mata. Bulan yang membubung di langit hampir membentuk bulatan yang sempurna. Anak-anak bertebaran di luar rumah bermain singkongan[1], di halaman rumah Patkur. Dan Dzikrun, malam itu ia sedang mengendap-endap mengamati seekor ayam cemani di kandang belakang rumah Patkur. Ayam yang seluruh tubuhnya berwarna hitam itu masih terjaga, bertengger di atas tiang gantungan jagung. Dzikrun masih mengawasinya dengan sabar, menunggu hingga ayam itu tertidur, terlena, dan ia akan segera membekapnya dengan balsem. Entah dari mana ia mendapatkan trik seperti itu. Yang jelas, cara itu selalu membuat pekerjaannya menjadi mulus.

Anak-anak masih berlarian berganti tempat sembunyi. Suara kentongan sesekali melengking, kadang-kadang diiringi teriakan “singkong!” yang lantang. Para bapak sedang asyik ngobrol dan main gaple di cangkruk. Dan ibu-ibu sibuk bertukar cerita dan berita yang tak pernah pasti kebenarannya. Tiba-tiba pintu belakang rumah Patkur terbuka. Dzikrun tergeragap. Ia segera duduk dan merapatkan tubuhnya di pojok pintu kandang. Dari tempatnya yang tak terjamah cahaya bulan itu, ia melihat seorang gadis sedang berjalan menuju kiwan[2]. Gadis itu hanya mengenakan tapis yang menutupi dada dan sebagian pahanya. Dzikrun kenal siapa gadis itu. Ia Suratmi, anak perempuannya Patkur.

Dzikrun terus memandangi Suratmi yang berjalan ke kiwan. Betapa dadanya terasa sesak ketika melihat paha dan betis Suratmi yang disepuh cahaya lembut bulan. Jarak antara rumah Patkur dan kiwan memang agak jauh. Barangkali delapan sampai sepuluh meter. Ketika Suratmi sudah masuk ke dalam kiwan, dan setelah ia melepas tapis yang membalut tubuhnya, Dzikrun mengendap-endap menghampiri tempat mandi itu. Ia dengan hati-hati bersembunyi di balik pohon asem yang menjulang di samping kiwan. Di sana ia aman karena terlindung bayangan batang asem yang besar. Dari balik pohon itu, melalui lubang bilik yang cukup besar, ia bisa menelisik tubuh Suratmi dengan leluasa. Ia tertegun melihat tubuh telanjang Suratmi yang sintal, dada yang bulat dan ranum yang siap dipetik, dan kewanitaan yang, ah, baru kali itu ia merasakan napas yang amat berat.

Malam itu ular di tubuh Dzikrun bangkit, meliuk-liuk, mencari mangsa. Ia menggeser tubuhnya dengan hati-hati. Mengendap-endap. Dan dengan gerakan segesit kucing, ia telah merengkuh tubuh Suratmi dari belakang. Suratmi hendak berteriak, tapi tangan kiri Dzikrun segera membekap mulut gadis itu. Lalu keduanya terjatuh di alas batu. Dan cahaya bulan, lindap di wajah Suratmi yang teriris-iris.

Entah kebetulan atau kuasa Tuhan, seorang anak yang sedang bersembunyi di kandang Patkur—bermain singkongan—mendengar suara kersak dan isak yang lirih. Anak itu celingukan mencari sumber suara yang samar-samar itu. Dan akhirnya matanya sampai di kiwan. Samar-samar, dari terang cahaya bulan, ia melihat dua orang sedang saling tindih. Ia masih belum tahu permainan apa yang sedang mereka lakukan. Namun, dari tangisan yang lirih itu ia tahu pasti apa yang terjadi di depan matanya bukanlah kejadian yang baik. Lalu, dengan kakinya yang lincah ia menghambur pergi dari tempat sembunyinya.

Bulan masih mengambang di muka langit. Malam masih sama, menyembunyikan rahasia-rahasia. Suara-suara serangga malam saling berkelindan disusul suara kaleng anak-anak yang bermain singkongan. Dzikrun masih menghunjamkan nafsunya di tubuh Suratmi ketika tanpa ia sadari, orang-orang—laki-perempuan—mulai berlarian menghampiri kiwan Patkur. Patkur, bapak Suratmi, berada di barisan depan dengan menenteng sabit yang menyala matanya. Tepat setelah ular iblisnya menyemburkan bisa yang mematikan, Dzikrun mendengar kaki-kaki yang berderap di tanah. Sebagai pencuri, ia mampu membedakan dengan baik batas-batas keheningan. Dengan geragapan Dzikrun menerobos bilik kiwan meninggalkan tubuh Suratmi yang terkapar di alas batu. Nahas, ia terlambat lari untuk meninggalkan jejaknya. Akhirnya para lelaki mengejarnya dengan trengginas. Para ibu membopong tubuh Suratmi yang tak sadarkan diri.

Di bawah remang malam itu, Dzikrun terus berlari ke arah sawah. Diterobosnya batang-batang jagung yang setinggi tubuhnya. Di belakangnya, orang-orang mulai membuat siasat. Mereka berpencar, berbagi arah untuk mencegat Dzikrun. Teriakan-teriakan dan umpatan menggema di awang-awang. Dan…,

Doooorrrrrrrrrr!!!

Sebutir timah panas telah merobek kulit betisnya. Dzikrun tersungkur di tanah sisa bajakan yang mengeras. Darah segar bertetesan di tanah. Orang-orang semakin dekat. Dzikrun kemudian bangkit dan lari dengan kaki berjingkat-jingkat. Lalu sebongkah batu melayang menimpuk tepat di tengkuknya. Ia kembali tersungkur.

Doooorrrrrrrrrr!!!

Sebuah peluru kembali bersarang di tubuhnya. Kali ini pundaknya yang mengalirkan darah segar. Sejurus kemudian orang-orang telah menghajar tubuh Dzikrun yang tertelungkup. Batu, krakalan[3], dan kayu bergantian memberikan memar di tubuh Dzikrun. Kaki-kaki dan tangan-tangan bergiliran menghantam kepalanya.

“Anjing!”

“Dasar gak waras!”

Pukkk!!!

“Mampus lu!”

“Mati!”

Pokkk!!!

“Bajingan!”

“Bunuh!”

Prakkkk!!!

Dan sebuah popor senapan dengan sangat keras meretakkan tempurung kepala Dzikrun. Darah segar mengucur dari luka di sekujur tubuhnya.

“Kukira orang tak waras sepertimu tak doyan perempuan!”

“Potong barangnya!”

“Potong!!”

Patkur segera melucuti pakaian Dzikrun. Ia menemukan sesuatu jatuh di tanah. Dzikrun sudah terkapar tak berdaya.

“Sebentar, biar kusiksa dulu dia dengan balsem (balsem yang akan digunakan Dzikrun membekap ayam cemani Patkur) ini!”

“Hahaaa. Bagus!”

“Biar kapok!”

Dengan sabit, Patkur mecolek balsem dan melumurkannya ke kelamin Dzikrun. Ia kemudian meratakan balsem itu dengan kakinya yang kasar hingga membuat Dzikrun meringis kesakitan.

“Rasain lu!”

Dzikrun merasakan hawa panas yang tak terperi membakar kemaluannya.

“Udah, cepet potong!”

“Potong!!!”

Patkur berjongkok.

“Kar, pinjam parangmu. Ri, pegang barangnya!”

Muhari menarik dengan keras kelamin Dzikrun. Patkur kemudian menempatkan parang yang berkilat-kilat itu tepat di pangkal kelamin Dzikrun. Dan dengan satu umpatan,

“Mampus lu!”

Dzikrun berteriak lantang. Kesakitannya menggema di dinding-dinding malam. Darah membuncah tak tentu arah. Setelah itu ia tak sadarkan diri. Tubuhnya terkapar. Kakinya mengangkang. Kepala dan tangannya terkulai.

“Kita apakan binatang tak berguna ini?” tanya seseorang dari kerumunan.

“Buang saja di Kuburan Dumpo!”

“Ya, betul!”

“Biar jadi santapan anjing-anjing Dumpo!”

Kaki Dzikrun kemudian diseret. Kepalanya membentur-bentur tanah krakal dan pematang yang keras. Ia akan dibuang di Kuburan Dumpo, tempat paling keramat dan berkumpulnya anjing-anjing hutan dengan taring yang panjang. Di tengah perjalanan pembuangannya itu, anjing-anjing Dumpo seakan memberi penyambutan. Salak dan lolongan panjang membelah malam yang sunyi. Lalu, di depan Kuburan Dumpo yang diliputi semak-semak mengerikan, kedua tangan dan kaki Dzikrun dicekal. Tubuhnya diayun-ayunkan. Dan dalam hitungan kelima, tubuh yang lunglai itu terpelanting lalu jatuh di rerimbun semak-semak liar.

***

“Betapa tragis nasib buyutmu, Nyai. Aku tak pernah berpikir jika kisah Dzikrun jauh lebih mengerikan ketimbang cerita ia berak di kuku-kuku yang panjang dan kotor.”

Langit masih keabu-abuan. Hujan masih seperti ribuan jarum yang berjatuhan.

“Kisahku belum selesai, Lib. Dan sebuah peristiwa yang lebih mengerikan terjadi setelah Dzikrun dibuang di Kuburan Dumpo. Sebuah peristiwa yang tak diduga orang-orang desa.”

“Apakah saat itu Dzikrun belum mati? Maaf, maksudku, meninggal, Nyai.”

***

Bulan mulai mengabur di atas langit. Ribuan kelelawar yang entah dari mana datangnya berputar-putar di atas Kuburan Dumpo. Dua ekor anjing menyeret tubuh Dzikrun dan merapatkannya ke sisi sebuah makam. Belasan anjing kemudian duduk rapi mengelilingi tubuh Dzikrun. Sesekali mereka menyalak dan mengeluarkan lolongan yang panjang.

Tubuh Dzikrun masih terkulai. Di batas antara mati dan hidupnya itu, lamat-lamat ia mendengar suara yang memanggil namanya.

“Bangunlah, Dzikrun!”

Lalu anjing-anjing menggonggong dan menyalak.

Dengan segenap tenaganya yang tersisa, Dzikrun mulai membuka matanya. Dan alangkah terkejutnya ia ketika matanya mendapati sesosok yang mengerikan. Dzikrun ingin berteriak, namun mulutnya benar-benar tercekat. Sosok yang sedang berada di hadapannya itu bertubuh besar dan tinggi. Seluruh tubuhnya sehitam jelaga. Dan kepalanya, adalah kepala anjing. Telinganya meruncing. Moncong dan hidungnya menyatu. Gigi-giginya besar. Kedua taringnya memanjang mencapai bahu. Dan matanya menyala-nyala. Merah. Mengerikan.

“Nasibmu menyedihkan sekali, Dzikrun.” Sosok itu berkata-kata dengan suara yang berat. “Jika kau mau, kau bisa balas dendam kepada mereka.”

Dzikrun masih menatap sosok itu dengan tubuh bergetar. Betapa orang tak waras sekali pun tetap memiliki ketakutan. Ia ingin berkata-kata dan menanyakan siapa sosok itu namun mulutnya benar-benar bungkam.

“Kau tak perlu banyak bertanya, ajalmu sebentar lagi akan tiba. Tapi, jika kau mau membalas dendam, aku bisa menunda kematianmu. Apa kau ingin balas dendam kepada orang-orang biadab itu, orang-orang yang juga telah meracuni kedua orang tuamu?”

Mendengar kata-kata terakhir sosok berkepala anjing itu, ketakutan Dzikrun mulai surut.

“Kau pasti kaget, bukan?” Sosok mengerikan itu menyeringai. “Lihatlah ke atas!”

Dzikrun memalingkan pandangannya ke atas mengikuti perintah sosok itu. Ribuan kelelawar yang berputar-putar di atas kepalanya mendadak menyibak, menyisakan ruang kosong di tengah-tengah. Dan seperti mimpi, tiba-tiba ruang kosong itu menampilkan bagaimana orang-orang kampung bersiasat untuk meracuni orang tuanya hingga meninggal.

“Dan kau perlu tahu, bapakmu, Amin, adalah pengikutku. Kau tahu ilmu kebal bapakmu, bukan? Semua itu kuberikan padanya karena ia patuh perintah-perintahku. Tidakkah kau ingin membalaskan kematiannya? Atau setidaknya kau membalas perbuatan orang-orang itu kepadamu.”

Ribuan kelelawar kembali berhamburan, berputar-putar, menghapus gambar gaib di atas kepala Dzikrun. Langit kembali kosong. Dzikrun meringis merasakan darah yang mengucur deras dari selangkangannya. Anjing-anjing di sekelilingnya mengendus-endus bau darahnya yang segar. Dzikrun kemudian kembali menatap mata sosok berkepala anjing itu. Dan sosok mengerikan itu paham arti tatapan Dzikrun. Tatapan yang tajam dan picik itu seperti sebuah jawaban, “Iya, aku ingin membalas orang-orang desa. Aku ingin membunuh mereka.” Lalu sosok penunggu Kuburan Dumpo itu memberikan sebuah persyaratan.

“Pejamkan matamu, dan serahkanlah jiwamu padaku!”

Dzikrun menurut. Dipejamkannya kedua belah matanya yang memar dengan hening. Ribuan kelelawar di atas kepalanya berputar dengan sangat cepat kemudian mengabur seperti kepulan asap hitam yang membubung. Dan bersamaan dengan sebuah benda merah menyala yang dimasukkan sosok berkepala anjing ke dada Dzikrun, ribuan kelelawar itu kemudian lesap memasuki tubuh Dzikrun yang masih terkulai di tanah. Lalu, sesaat kemudian, salak dan lolongan anjing bersahut-sahutan membelah malam yang jelaga.

Setelah malam persekutuan Dzikrun dan penunggu Kuburan Dumpo, di malam hitungan bulan ke-tiga belas, orang-orang kampung mendapat mimpi yang aneh. Orang-orang desa, laki-perempuan, tak terkecuali anak-anak ribut menggunjingkan mimpi yang menjarah tidur mereka. Seseorang yang dianggap sebagai tetua desa, akhirnya menyarankan untuk mengadakan tolak bala. Tiap pertigaan dan perempatan jalan yang ada di desa diberi sesaji. Sekeliling rumah ditaburi garam. Pintu rumah dipasang gantungan air tiga warna di dalam plastik. Anak-anak dilarang keluar selepas maghrib. Dan para laki-laki meronda di cangkruk-cangkruk desa.

Malam bulan lima belas. Bulan melingkar sempurna seperti tampah. Para ibu dan anak-anak bersembunyi di bilik rumah merapal doa-doa tolak bala. Para bapak asyik bercengkerama dan main gaple di cangkruk-cangkruk desa. Sesekali mereka mengeluarkan umpatan “Mati kau, Dzikrun!” Saat itu malam terasa senyap. Bulan tiba-tiba memucat. Tiba-tiba tujuh ekor cangak melintas di atas langit. Lalu disusul salak dan lolongan anjing-anjing hutan yang mengerikan.

Malam itu tak seorang pun yang menyadari bahwa bahaya tengah merayap di kegelapan. Maut memang rahasia dan tak terduga. Seperti kedatangan Dzikrun malam itu yang tak diduga orang-orang desa. Ia berjalan dengan wajah tertunduk menyeret bayangannya yang redup dari jalan yang mengarah ke persawahan. Dari cangkruk, Muhari—orang yang menarik kelamin Dzikrun—samar-samar melihat tubuh Dzikrun yang buram karena bulan yang pucat. Namun ia belum mengetahui pasti kalau orang yang berjalan itu adalah Dzikrun. Ia kemudian berjalan beberapa langkah dari cangkruk berharap bisa melihat wajah orang itu dengan jelas. Dan secepat kilat, mata Dzikrun yang merah telah menikam mata Muhari. Muhari berteriak.

“Dzikrunnnnnnn!!!”

Orang-orang di cangkruk berhamburan. Kentongan tanda bahaya bertalu-talu disusul bunyi kentongan di cangkruk lain. Beberapa orang bergegas mengambil senjata-senjata yang mematikan, parang, sabit, celurit, pedang, hingga senapan. Mereka tahu, yang sedang berjalan saat itu bukanlah murni diri Dzikrun. Karena seperti ramalan tetua desa, setan akan mencari mangsa ke dalam desa. Dan mereka mulai sadar bahwa inilah jawaban dari mimpi-mimpi dan ramalan yang mengerikan itu.

Dzikrun masih berjalan pelan ketika orang-orang dengan senjata mematikan mulai menyerbunya. Dzikrun kemudian berhenti sejenak, mendongakkan kepalanya seperti menyerap kekuatan gaib dari bulan purnama yang pucat. Tiba-tiba tubuhnya yang telanjang membesar, tinggi, dan hitam. Daun telinganya meruncing. Hidung dan mulutnya menyatu dan memanjang seperti anjing. Dua taringnya menjuntai sebatas bahu. Kuku tangannya memanjang dan meruncing. Betapa malam itu kematian begitu dekat, sembunyi di balik cahaya bulan yang pucat.

Orang-orang desa gentar. Mereka seakan berpikir lagi, menyerah atau menyerang. Tiba-tiba seseorang berteriak lantang dari belakang. Suara Patkur.

“Maju! Jangan takut! Manusia tidak akan kalah dengan setan!”

Suara Patkur kembali mengobarkan api di dada orang-orang desa. Mereka kembali maju dan mengacung-acungkan senjatanya masing-masing. Dan mereka tidak tahu, bahwa yang mereka hadapi adalah manusia setengah setan.

Dzikrun berlari seperti anjing. Dan dengan satu lompatan tinggi yang hampir menutupi tubuh bulan, ia merangsek di tengah orang-orang desa yang menyerbunya. Kuku-kuku Dzikrun yang tajam itu bergerak dengan lihai di tengah kerumunan, menari-nari seperti sabit yang memotong batang-batang padi. Sedangkan senjata-senjata tajam yang menetak ke tubuh Dzikrun hanya menimbulkan suara denting yang memekakkan. Kepala-kepala berjatuhan. Darah membuncah, membasahi rumput-rumput yang tumbuh liar.

Beberapa orang berlarian tunggang-langgang. Dengan lompatan yang gesit, Dzikrun berhasil memenggal kepala orang-orang itu dan membelah dada mereka dengan kukunya yang tajam dan kuat. Betapa mengerikan cara Dzikrun membalaskan dendamnya. Ia membelah dada orang-orang desa dan memakan jantung mereka.

Malam memerah. Bulan berdarah. Dzikrun melompat ke sana kemari dengan gesit, menumbangkan dan mengambil jantung orang-orang desa. Dan saat itu, ketika Dzikrun akan membelah dada Patkur, tiba-tiba Suratmi menghampirinya dengan tangis berderai-derai. Dilihatnya mata Suratmi yang memohon-mohon keselamatan bapaknya. Namun, Dzikrun bukanlah manusia. Ia telah bersekutu dengan setan dan berubah menjadi iblis anjing yang mengerikan. Lalu, dengan satu sentakan, terbelahlah dada Patkur. Diambilnya daging yang berdegup-degup kecil itu dari dada yang menganga dan ditelannya utuh-utuh.

Dzikrun kemudian menghampiri tubuh Suratmi yang bersimpuh di tanah. Tubuh Suratmi bergetar ketakutan. Dzikrun memandang perut Suratmi sejanak lalu beradu tatap dengan mata perempuan yang pernah digumulinya itu. Mata Dzikrun yang merah itu seperti mengatakan,

“Jangan takut, Suratmi! Aku tak akan membunuhmu atau membunuh perempuan dan anak-anak di desa. Setelah ini, aku tak akan lagi menampakkan diri di desa. Aku akan moksa di Kuburan Dumpo. Namun, ingatlah, aku akan tetap menampakkan diri di mimpi-mimpimu dan anak-cucumu agar kisahku abadi. Dan yang terakhir,” Dzikrun kembali menatap perut Suratmi. “Jagalah jabang bayi di perutmu itu!”

Setelah membisikkan kata-kata ke dalam mata Suratmi, Dzikrun kemudian melompat tinggi lalu berlari ke arah Kuburan Dumpo. Lalu lenyap. Raib. Gaib.

Purnama pucat. Pohon-pohon terpekur. Serangga-serangga malam menyanyikan lagu layung[4]. Malam itu, di jalan-jalan desa terkapar tubuh-tubuh yang tak utuh. Kepala, tangan, kaki, buntung. Dada menganga. Tulang-tulang mencuat. Dan bau anyir darah menguar ke seluruh penjuru desa.

Malam yang senyap. Bulan yang pucat. Purnama yang berdarah.

***

Hujan telah mereda bersamaan akhir cerita Nyai Satirah. Senja mulai terbit di langit barat. Namun sebagiannya masih keabu-abuan. Aku masih menimang-nimang, apakah yang diceritakan Nyai Satirah adalah sebuah kebenaran? Atau hanya bualan seorang perawan tua?

Sisa-sisa hujan masih menetes di genting emper rumah Nyai Satirah. Semut-semut masih berbaris rapi di depan kursiku. Dan Nyai Satirah masih menerawang tirai hujan yang mulai menipis. Dan entah bagaimana, tiba-tiba aku menanyakan hal bodoh, perihal mengapa Nyai Satirah tidak menikah. Aku berulang kali meminta maaf karena pertanyaan bodohku itu.

“Tidak, apa-apa, Lib.” Kata Nyai Satirah menenangkanku. “Aku tidak ingin anak-anakku tersiksa sepertiku karena Dzikrun dan cerita-ceritanya yang selalu datang di mimpi-mimpiku. Semua yang kuceritakan padamu barusan itu kudapatkan dari mimpi-mimpiku. Aku tidak lupa satu kejadian pun. Dan dengan tidak menikah, berarti kutukan ini akan terputus di sini.”

“Lalu, mengapa Nyai menceritakan kisah ini kepadaku?”

Nyai Satirah kembali memandangku. Dan sejenak kemudian kembali melayangkan pandangannya jauh ke depan.

“Agar kebenaran tidak lenyap.”

Hujan benar-benar telah reda. Daun-daun menjatuhkan sisa-sisa air yang menggenang di permukaannya. Orang-orang yang bekerja sebagai pembuat batu bata sepertiku berduyun-duyun dari sawah. Kukira mereka pasti berteduh di brak[5]. Karena hari mulai meremang dan maghrib segera menjelang, kuputuskan untuk pamit pulang kepada Nyai Satirah. Toh, hujan juga sudah berhenti. Sebelum aku benar-benar pergi, ketika kucucup tangannya yang keriput, ia berbisik di telingaku

“Ingatlah kisah ini baik-baik, Lib. Karena setelah ini aku akan bisu. Itulah kutukan yang diberikan tetua desa sebelum ajalnya direnggut Dzikrun. Siapa yang menceritakan kisah ini, ia tak akan bisa bicara lagi. Namun, kau tidak perlu takut, karena Dzikrun akan menyembuhkan kutukan itu jika kau puasa mutih dan menaruh sesaji jantung ayam di Kuburan Dumpo. Karena Dzikrun ingin kisahnya abadi. Dan sesuai sumpahku, aku memilih bisu setelah menceritakan kisah ini. Dan kau, bebas memilih untuk menceritakan kisah ini atau tidak. Karena diceritakan atau tidak diceritakan, kisah ini akan tetap abadi dengan caranya sendiri.”

Begitulah kebenaran yang telah dikisahkan Nyai Satirah kepadaku. Dan setelah menceritakan kisah itu, ia benar-benar bisu.

Bukankah kisah Dzikrun yang kuceritakan ini jauh lebih mengerikan dari sekadar mitos rumah dan tahi di kuku-kuku panjang dan kotor? Dan sebelum kau beranjak pergi, akan kuingatkan kembali kutukan tentang kisah ini karena kau telah mengetahui semua kebenaran tentang Dzikrun. Seperti yang dibisikkan Nyai Satirah kepadaku, setelah ini aku juga tak akan mampu berkata-kata lagi kecuali jika aku puasa mutih dan memberi sebutir jantung ayam untuk Dzikrun di Kuburan Dumpo. Dan kau, kau bebas memilih untuk menceritakan kisah ini atau tidak. Karena diceritakan atau tidak, kisah ini akan tetap abadi dengan caranya sendiri.(*)

Yogyakarta, 30 April 2017

[1] Singkongan adalah sebuah permainan yang mirip dengan petak umpet. Bedanya, seorang penjaga, ketika telah menemukan tempat persembunyian sang pesembunyi, ia harus membunyikan kaleng bekas yang sudah disediakan. Selain itu, ia juga harus menjaga kaleng agar lawan (pesembunyi) tidak mendahuluinya, dengan membunyikan kaleng dan berkata “singkong!”. Karena jika itu terjadi, permainan akan diulang dengan lawan (pesembunyi) kembali bersembunyi.

[2] Kamar mandi tradisional yang tempat airnya, biasanya, terbuat dari gentong besar dan biliknya terbuat dari anyaman daun dan pelepah kelapa.

[3] Tanah sisa bajakan di sawah yang mengeras.

[4] Kematian.

[5] Tempat membakar batu bata tradisional.

Rosyid H. Dimas

Rosyid H. Dimas

Penulis dengan nama pena Rosyid H Dimas ini lahir di Rembang 18 Juli 1996. Sekarang tengah menempuh pendidikan S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Ia senang menulis cerita pendek dan puisi. Beberapa karyanya terkumpul dalam antologi Jiwanta (cerita pendek), My Cup Of Story (cerita pendek), Kamu tanpa Spasi (puisi), Aquarium dan Delusi (puisi), dan Moratorium Senja (puisi).
Rosyid H. Dimas

Latest posts by Rosyid H. Dimas (see all)