Eka Kurniawan, Sastrawan dan Karyanya

in Esai by
nytimes.com

Cantik Itu Luka dalam kalimat pengakuan terakhir pada buku dengan judul yang sama merupakan karya sastra bernarasi panjang nan tebal. Saya kira hanya sedikit sastrawan Indonesia yang berhasil membuncah di penulisan, pasar, dan pembaca (pun berhasil menarik para bibliofili negara tetangga). Para pendahulu seperti Pramoedya Ananta Toer, Iwan Simatupang, Remy Sylado, Umar Kayam, Kho Ping Hoo, Akhdiat K. Mihardja, W.S. Rendra, Chairil Anwar, W. B. Mangunwijaya, Mochtar Lubis, Nh. Dini, HB Jassin, Sapardi Joko Damono, dll., memberikan sumbangsih yang signifikan dalam duni kepenulisan dan sastra. Jelas sekali ini bermanfaat untuk para penerusnya untuk merumuskan karya-karya baru yang muncul di era modern. Salah satunya Eka Kurniawan yang karya dan kepenulisannya banyak dipengaruhi oleh karya-karya para pendahulu. Kita dapat menelusuri jejak para sastrawan tersebut pada karya-karyanya.

Cantik Itu Luka berkisah tentang latar sejarah, dibaur dengan berbagai macam napas: intrik, polemik, cinta, takabur maupun brutal. Bagaimana Eka Kurniawan dapat menuliskan karya yang dapat dikatakan langka di Indonesia, memikat dan tebal? Semua ada pada waktunya. Kita tinggalkan dulu saja pertanyaan itu. Ada dua nama sastrawan Indonesia yang tampak menyisakan jejak di Cantik Itu Luka: Pramoedya Ananta Toer dan Iwan Simatupang.

Dewi Ayu disingkap narator sebagai seorang dengan karakter yang kuat, tegas, tidak neko-neko, bijak, juga terkadang cabul. Bagaimana karakter seperti itu ada di Halimunda? Sejurus itulah kesan Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia dan tertraloginya dengan nama terkuat hingga sejagat bumi terkesima: Nyai Ontosoroh (tidak dengan cabulnya tentu). Dengan semua runtutan pengisahan narator, Dewi Ayu bergulat dalam sejarah pra dan pasca-kemerdekaan Indonesia bersama kelamnya dunia prostitusi yang menaunginya. Nyai Ontosoroh juga bersinggungan dengan prostitusi di Bumi Manusia, meskipun tidak masuk ke dalamnya. Dewi Ayu dengan fisik Belandanya, sementara Nyai Ontosoroh adalah bunga desa pribumi. Kita katakan saja pergumulan Eka dengan Pramoedya saling singkap-menyingkapi, zaman kacau begitu menyintaskan jalur berbeda bagi kedua karakter tokoh yang dikisahkan sang narator. Pada banyak tempat pengisahan, perempuan selalu mengalami peristiwa tragis kala masa perang (atau di masa apa pun). Melalui hal itu, kita dapat melihat sisi psikologis mereka atau orang yang memanfaatkannya.

Kesan pada karya Pram juga kita dapati pada pengisahan penulis, pada awal-tengah kalimat ataupun setelah tanda koma: sebab.

Ya, kata itulah ciri khas yang bisa didapati pada Pramoedya. Kata ini identik dengan gaya lama atau bahasa kerennya oldschool. Gaya penulisan Pram ini bisa ditemukan di buku Tetralogi Pulau Buru-nya. Dan kekhasan itu, yang bisa dikatakan eksentrik, mendapati rohnya sendiri dalam sebuah buku. Mungkin Eka ingin merunut gaya itu dan mengabadikannya sekali lagi? Siapa tahu.

Iwan Simatupang dengan bukunya Ziarah juga tampak berpengaruh pada penulis untuk mengisahkan latar pekuburan, ketika Kamino, Farida, dan Kinkin ada di cerita tersebut.

Kita sampai pada kumpulan cerpen CoratCoret di Toilet. Untuk membuat kisah bernapas panjang dibutuhkan sesuatu untuk membangun fondasinya. Pada kumpulan cerpen yang diterbitkan tahun 2014 dan ditulis tahun 2000 tersebut, diperoleh gambaran bagaimana Eka Kurniawan membangun imajinasinya untuk membuahkan Cantik Itu Luka. Karya itu terbit pertama kali di tahun 2002 (Penerbit Jendela). Unsur-unsur cerita yang bertebaran di sana-sini di kumpulan cerpen CoratCoret di Toilet membuat saya curiga itu tidak sepenuhnya cerpen yang ditulis Eka di tahun 2000-an. Untuk yang sudah membaca dua karyanya itu saya kira tak sulit untuk menghubungkan kaitan-kaitan yang terjalin.

Dalam teknik penulisan, Eka juga dipengaruhi oleh sastrawan luar negeri. Gabriel Garcia Marquez adalah salah satunya. Sebelum menuliskan Cien Años De Soledad, Gabo terlebih dahulu menuliskan cerpen El Coronel No Tiene Quien Le Escriba (No One Writes to the Colonel) menyusul karya Magnum Opus yang menandaskannya sebagai peraih Nobel Sastra tahun 1982. “Hmm…, sebentuk kesamaan bukan?” Sebagaimana Eka, Gabo juga banyak dipengaruhi oleh penulis besar lainnya, pengembangan realisme-magis terinspirasi dari William Faulkner dengan “Yoknapatawpha-nya” dan Gabo dengan “Macondo-nya.” Gaya penuturan Gabo pun dapat dikatakan duduk bersila dengan Ernest Hemingway. Kembali Ke Eka, dengan “Halimunda-nya” dan dengan Gabo setali tiga uang. Beberapa penulis lainnya tampak beruntut memasuki jalan cerita Eka Kurniawan, seperti Knut Hamsun dan buku silat favoritnya. Semua dilebur menjadikannya satu.

Seperti pemain layangan, menggunakan teknik gulung-tarik-ulur untuk menerbangkan sebuah layangan. Kemudian, si pemain (penulis) dan penonton (pembaca) akan menikmatinya bergaung dan melayang gemulai. Saya tak ingin terlalu vulgar membicarakan resep dapur sang penulis, terlepas dari semua bumbu-bumbu. Karya Eka Kurniawan merupakan salah satu pencapaian dalam sastra dan dunia kepenulisan. Kita dapat meresponsnya dengan berbagai cara: membeli karyanya, membuat kritik, ataupun dengan menciptakan karya sastra baru.

Saya merasa dekat dengan Eka setelah membaca tulisan-tulisan artikel-jurnal mulai dari tahun terbawah tahun 2000-an pada alamat arsip.ekakurniawan.com, yang terbaru di ekakurniawan.com. Di sana, dapat dijumpai beberapa cerita yang melatarbelakangi  kisah mengapa dia memfavoritkan Knut Hamsun dengan novel Lapar dan buku-buku silat dengan salah satu penulisnya yaitu Kho Ping Hoo. Pendeknya, saya rasa semuanya berasal dari dasar dan pengaruh influental pendalaman Eka, Lapar-nya Knut Hamsun melekat pada pergumulan kehidupan mudanya di Jogja dan buku-buku silat dengan awal cerita gairah kepenulisannya.

Eka Kurniawan sejauh ini sudah menghasilkan 8 karya dan beberapa buku terjemahan ke dalam bahasa Indonesia. Rataan karyanya bernada cabul-blak blakan, membuatnya punya gaya tersendiri, mungkin dia memang menyukainya atau bahkan sudah jatuh cinta dengannya? Sialan. Dan pengaruh lain sastrawan ada pada sampul-sampul buku: Corat-coret Di Toilet, Lelaki Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, dan Karya terbaru O. Coba baca siapa yang membuat sampulnya, ya Eka sendiri. Ketika di Jogja, Eka memang pernah bekerja di penerbitan sebagai penggarap sampul buku. Dia pernah juga belajar seni grafis meskipun hanya setahun. Hal ini sama dengan yang dilakukan Gunter Grass, seorang sastrawan Jerman. Grass merasa jika sampul dan isi suatu buku digarap oleh penulisnya sendiri maka akan mempunyai kekhasan tersendiri.

Eka adalah Eka, sebagai pembaca saya menikmati suguhan karya yang bagi saya lucu-tragis-tidak lupa, cabul. Semua bayang-bayang para sastrawan di baliknya apakah itu mengkritik atau memuji bisa jadi bahan acuan untuk sastra Indonesia meredup atau terang? Salah satunya dengan merespons melalui karya sastra baru mengikuti jejak Eka Kurniawan atau bergaya orisinal yang mana keduanya tentu susah dilakukan dan bukannya tidak mungkin.  Kembali mengutip Eka dengan gaya bahasa saya sendiri, “Untuk menghasilkan sastrawan berkualitas, anak-anak muda kita harus menjejalkan bacaan sastrawan dunia 50, 100 atau 150an buku dalam setahun.” Kemudian, dengan kutipan Pramoedya, “Aku ingin lihat bagaimana semua ini berakhir?”

Cantik Itu Luka baru-baru ini merayakan 15 tahun kelahirannya dengan format hardcover jacket, menandakan apresiasi besar pada penulis dan karyanya. Selamat!

Yogyakarta, 12 Januari 2018

Ilham Syah Rangkuti

Ilham Syah Rangkuti

Sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di bidang Elektro.
Saat ini bergiat membaca dan menulis.
Ilham Syah Rangkuti

Latest posts by Ilham Syah Rangkuti (see all)