Eksistensi Penjual Cendol dalam Komik Medan

in Esai by
eksentrika.com

Usman, seorang bujang lapuk yang kerjanya menjadi penjual cendol, disuruh ibunya supaya cepat menikah. Namun, niat saja belum cukup tanpa adanya uang di tangan. Artinya, pesta pernikahan yang diimpikan ibunya untuk Usman sementara tinggal angan-angan belaka.

Usman dan ibunya tinggal jauh di pelosok kampung. Mereka berdua mendiami gubuk reyot. Untuk makan sehari-hari, Usman menjual cendol ke kota Medan. Hampir semua tempat dijelajahinya. Bukan sedikit sindiran, ejekan, yang diterimanya dari sesama penjual makanan. Tapi, ia menerimanya dengan gembira dan lapang hati.

Malahan, dengan yakin Usman menyatakan tak mau beralih ke profesi yang lain. Ia cukup bahagia menjalankan lakon menjadi penjual cendol. Tak peduli hujan dan panas yang menyengat, ia tetap memanggul dagangannya mencari langganan baru.

Satu hari, saat melewati satu toko, ia dipanggil oleh seorang saudagar yang bernama Umar. Usman masuk ke dalam dengan menenteng dua gelas cendol. Kemudian ia dicecar sejumlah pertanyaan. Pembicaraan berkisar mengenai seorang gadis. Namanya Cahaya Bulan. Anak Orang Kaya Karim. Selama itu, Usman berhasil meyakinkan Umar bahwa Cahaya Bulan adalah langganan setianya. Umar pun percaya. Ia menitipkan “surat cinta” untuk diteruskan kepada Cahaya Bulan. Sesuatu pekerjaan tidak ada yang gratis. Umar juga menyelipkan “uang jajan” yang lumayan untuk Usman.

Beres dari situ, Usman lewat pada satu toko kelontong milik saudagar Abas. Nasib baik kembali menghampiri Usman. Ia dipanggil ke dalam. Tak lupa pula ia membawa dua gelas cendol. Satu gelas untuk Abas dan lainnya jatah kerani (juru tulis) kantor. Selama berbasa-basi dengan Abas, Usman mendapat pertanyaan yang membuatnya tercengang. Ujung-ujungnya kembali kepada sosok Cahaya Bulan. Usman kembali berlagak. Tanpa ragu ia mengatakan kenal baik Cahaya Bulan. Abas puas atas jawabannya. Ia memberi instruksi khusus pada Usman dan tak lupa menitip “uang saku”.

Karena dibalut rasa penasaran, Usman berniat melihat wajah Cahaya Bulan. Gadis itu memang cantik dan rupawan. Pantaslah jadi idola dan rebutan. Usman pun sudah dinasihati tetangga sekitar, jangan terlalu sering memandang Cahaya Bulan, nanti bisa sakit, sudah banyak yang demikian.

Besoknya, secara terpisah Usman melapor kepada kedua orang saudagar tersebut bahwa peluang mendapatkan Cahaya Bulan telah terbuka lebar.

Kini, Usman banting setir mengubah penampilan. Ia sengaja membeli beberapa bungkus rokok mahal yang hanya diisap oleh orang-orang kaya. Dandanannya berubah drastis. Bajunya dari bahan kain mahal yang dibuat oleh penjahit terkenal. Duitnya tentu saja berasal dari kedua orang “hidung belang” yang kena “bualnya”.

Usman tetap berjualan cendol seperti biasa. Ketika ia berjumpa dengan Cahaya Bulan, tentu saja terjadi banyak prasangka. Cahaya Bulan menduga, Usman hanya menyamar menjadi penjual cendol supaya bisa bertemu dengannya. Kalau dipadu-padankan dengan apa yang ia pakai sekarang, mana mungkin Usman terlihat seperti orang miskin.

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dalam lubuk hatinya terdalam, sebenarnya Usman ingin menyadarkan kedua saudagar berumur yang telah punya keluarga itu supaya kembali ke jalan benar.

Usman sempat “pontang-panting”, menyelesaikan persoalan tanpa merasa ada pihak yang dirugikan. Usman bertindak kesatria. Saudagar Abas dan Saudagar Umar mengalah. Mereka menjadi sosok yang rajin beribadah dan rajin memberi derma.

Saat Usman membuka topeng dan selubungnya, lakunya hampir mirip seperti epik Scarlet Pimpernal dalam kisah Barones Orczy. Ia memang hanya penjual cendol biasa yang terbiasa menderita.

Cerita berakhir dramatis. Cahaya Bulan mau dipersunting Usman dan hidup bahagia untuk selamanya.

***

Pada awal abad ke-20, di Kota Medan, ada sekelompok orang yang pekerjaannya menjual cendol. Jika kita melakukan kilas balik, akan muncul satu pertanyaan: Sejak kapan di Medan orang jualan cendol? Tidak ada satu jawaban dan data yang pasti. Padahal profesi orang jualan cendol merupakan bagian tidak terpisahkan dari sejarah ekonomi kotanya.

Kisah tentang penjual cendol yang menghibur dan acap kali lain dari apa yang dibayangkan orang muncul ke permukaan setelah dilangsirnya komik Pendjual Tjendol dengan Dua Saudagar karya Djas oleh Firma Harris Medan, tahun 1963. Melalui cerita bergambar (cergam), pembaca jadi tahu, dulunya tukang jual cendol memikul dagangannya masuk ke kampung-kampung dan keluar masuk gang yang ada di antero kota.

Kedudukan cergam Medan dalam sejarah komik di Indonesia merupakan hal yang menarik. Kurun waktu 1954-1965 telah banyak dihasilkan cergam dalam pelbagai genre.

Komikus Medan punya karakteristik tersendiri dalam berkarya. Djas dalam membuat komik, kerap menampilkan objeknya berupa manusia-manusia pinggiran. Ada kalanya muncul sebagai pemenang. Walau tak sedikit yang terpinggirkan dan kalah oleh keadaan. Di situlah letak menarik karyanya. Penuh dengan nuansa jeritan rakyat kecil. Djas yang aslinya bernama Jafar Siddik adalah seorang Kepala Seksi Photo di Departemen Penerangan. Lingkungannya adalah lingkungan kreator komik. Abangnya, Zam Nuldyn, lebih dahulu dikenal sebagai komikus spesialis cerita rakyat. Meski ada satu dua karyanya berlatar cerita detektif.

Soal mencipta, Djas punya beberapa keunikan. Pertama, ia bisa melukis dengan tangan kiri atau dengan tangan kanan sama baiknya. Kedua, gambar perempuan dan laki-laki dalam komiknya punya ciri: sama-sama berotot dan tampak kekar. Ketiga, ia banyak memasukkan dialek khas Medan dalam dialog tokohnya. Maka dari itu, kata-kata antara lain: melece, beselemak (belepotan), litak (capek), gedap (todong), pencorot (nomor paling terakhir), terasa asyik saat di baca. Dengan demikian, karyanya mudah diterima oleh pelbagai kalangan dan dikukuhkan sebagai satu mata rantai dalam sejarah komik di Indonesia.

***

Awal tahun 1965 pemerintah pernah melarang penerbitan komik di Tanah Air. Larangan disebabkan karena kandungan ceritanya tidak mendukung kebijakan politik pemerintah dalam hal character building (membangun karakter).  Cerita-cerita silat, kekerasan, dan balas dendam karena alasan pribadi atau adanya cerita mistik dianggap tidak membangun. Tidak tertutup kemungkinan bentuk penyajian cerita seperti itu dianggap berasal dari Amerika Serikat karena bersamaan dengan pembatasan film impor dari Hollywood.

Beberapa penerbit komik di Medan terpukul dengan kebijakan pemerintah. Lagi pula, mereka merasa tidak merasa membuat komik yang mengandung unsur-unsur demikian. Setahun setelah peristiwa 65, sudah banyak surat kabar di Medan menghentikan penerbitan cergam karena kelangkaan kertas dan mahalnya harga klise.

Banyak penerbit partikelir (swasta) yang tidak sanggup untuk menerbitkan buku lagi atau pemiliknya ganti usaha kepada bidang lainnya. Hal ini yang menjadi satu pertanda bahwa era Komik Medan pelan-pelan meredup untuk selamanya.

Koko Hendri Lubis

Koko Hendri Lubis

Mengikuti Program Residensi Penulis dari Kemendikbud pada 2017 ke Belanda. Sekarang sedang menulis buku tentang sejarah roman-roman yang terbit di Medan dan meriset komik-komik yang pernah terbit di Medan.
Koko Hendri Lubis

Latest posts by Koko Hendri Lubis (see all)