Eliav

in Cerita Pendek by
pinterest.com

Saya kerja di Vermeil di toko parfum Roge di paling sudut bawah gedung terakhir Alcove Charme. Vermeil adalah kota yang paling dekat dengan awan, kata berbagai buku kecil, dan penyair Poull Artchur menyebut kota kami sebagai jari-jari kabut. Guru sekolah menengahku menafsirkan istilah itu dengan cermat atas dasar kecenderungan matanya yang lebih sering melihat kota dari sisi terjauh desanya tempat ia sering menjauh untuk membaca di bawah pohon obrazé sambil menangis memahami bacaan-bacaan indah. “Membaca adalah untuk membaca!”—itu kredonya yang paling terpampang di berbagai umpatannya—sering ia sampaikan kepada kami untuk menjelaskan hubungannya yang karib dengan berbagai puisi. Kami menyebutnya Guru Paling Trop untuk membedakannya dari para “Guru Tak Jelas” lainnya.

Berdasarkan pengamatannya pada kecenderungan bentuk awan itu Guru Paling Trop meyakini puisi Artchur sebagai penjelasan paling memadai bagi telapak tangan kasih sayang langit yang terbuka ke arah kota dan kota seperti jari-jarinya yang basah oleh air mata doa para pencinta. Jarang dari kami yang berani menafsirkan lain puisi berjudul “Caille” itu. Di mataku sendiri kabut-kabut itu, apalagi jika sudah terkumpul di atas kawasan gedung Alcove Charme, seakan jari-jari jeruji raksasa yang selalu siap turun untuk memerangkap semut-semut hitam di bawahnya yang jika lolos akan terbakar oleh kaca pembesar para pengawas kota. Apalagi jika “hujan pedang” turun dari kabut itu, terancamlah rasanya jiwa saya ini. Hanya di Vermeil orang dapat melihat hujan seakan sabitan-sabitan pedang. Hal ini bukan legenda yang sifatnya sekadar dongeng, tapi memang masa lalu itu sering ditutupi kekuasaan dengan bahasa dongeng.

Dan semua kota pada mulanya adalah desa dan atau hal-hal lain yang berhubungan dengan segala apa yang mendorongnya jadi asing. Menurut banyak sumber yang “damai-dibaca”, Vermeil adalah nama desa tempat gadis-gadis tersenyum memetik stroberi bersama burung-burung caille yang bertelur merah di semaknya. Bukan karena burung-burung caille itu makan stroberi maka telurnya merah. Para caille bertelur merah karena leluhur mereka pernah kelaparan di satu musim perang panjang dan yang bisa mereka makan hanya gumpalan-gumpalan darah kenyal di sepanjang Vermeil. Sebuah sekte di kaki Gunung Coer Exex mengharamkan telur itu sebagai makanan jemaatnya sebab itu adalah darah leluhur yang abadi.

Dulu di Vermeil, menurut buku Il est le Divin Vermeil lahir seorang anak matahari berkulit kuning terang. Ia jatuh dari langit siang terang di atas tumpukan gandum dan tak lama kemudian datanglah tiga orang suci bersurban bersama unta pendek yang bertugas membawa tiga guci berisi air suci dari ujung bumi yang kerontang yang di satu “titik kehikmatan” baru mereka tumpahkan setelah mereka mengadakan upacara doa-doa dan mata mereka menengadah ke langit tapi tubuhnya melengkung penuh kerendahan. Saat itu awan-awan turun lebih dekat ke arah Vermeil dan suburlah desa kami oleh hujan berkah dari atasnya.

Beberapa sumber menyebut “Vermeil” sebagai nama bagi anak matahari, bukan nama desa atau sungai yang tercipta setelah hujan berkah pertama yang melimpahkan aneka benih kelestarian bumi. Versi-versi lain masih banyak, bahkan ada juga yang menafsirkannya secara harfiah: “Vermeil” hanya punya dua kemungkinan, kalau tidak merujuk pada merah stroberi, pasti merah pada telur-telur caille. Gara-gara kota kami kadang memerah langitnya di musim gugur, orang juga menyebut Vermeil sebagai “Kota Rubi” atau “Scarlet Town”. Namun tak satu pun penting apalagi benar. Aku harus membaca sejarah-sejarah Vermeil sebagai karangan orang-orang yang tidak dapat bekerja sebagai tukang kebun atau pengolah bunga-bunga! Memang Vermeil kota parfum. Barang siapa tidak dapat mengubah keadaan dunia dengan penuh risiko, jadilah sejarawan yang menciptakan wangi-wangian pengabur busuk kubur kenyataan di belakangnya dan di depannya.

Parfum-parfum dari Vermeil adalah parfum-parfum berwarna merah dan diburu oleh mereka yang menyukai aroma keberanian. Tapi untuk menyamarkan Vermeil sebagai kota dengan masa lalu penuh kubangan darah, toko-toko membuat bermacam variasi gambar stroberi dan burung caille di atas gadis-gadis desa berikat kepala pada botol-botol dan kantung kertas produk mereka. Beberapa bingkai gambar ada pula yang meniru model sudut-sudut pada batu rubi. Tapi itu terlalu dipaksakan sebab di Vermeil sejauh ini belum ditemukan batuan merah atau lainnya.

Jadi, ada kesan, kami ini benci dengan sejarah busuk di belakang kota kami, tapi kami menjadi eksis juga karena sejarah itu. Merah itu menyeramkan, tapi juga bermakna keberanian sekaligus identitas yang paling jadi ciri kami. Untuk membuat gambar lain rasanya kami ada dalam ancaman kehilangan jati diri. Karena itu kami hanya membuat variasi unsur-unsur tadi: gadis-gadis, stroberi, burung caille dan penambahan-penambahan seperti bunga, rumput yang cantik, atau keranjang, atau topi jangkung! Semua diatur oleh Undang-Undang.

Mengapa topi jangkung? Dulu ada pesulap terkenal dari Vermeil bernama Jules Vermeil (nama aslinya orang tidak tahu), yang menghadiahkan topi sulapnya kepada anak Wali Kota yang suka berteriak-teriak ketakutan jika sudah melihat hujan pedang. Kata Jules topi sulap adalah obat mujarab untuk mengusir rasa takut sebab hanya di dalam topi sulap para pesulap menyimpan iblis-iblis yang membantunya dalam bermain sulap. Iblis jahat yang turun di saat hujan hanya takut pada iblis yang membantu manusia. Sejak itu Tuan Wali Kota membuat Peraturan Kota Anti-Iblis yang mewajibkan warganya memiliki topi jangkung para pesulap untuk mengusir kejahatan sejarah. Kata dengan nada mewajibkan dalam undang-undang itu berbunyi “menekankan bahwa salah satu ciri yang baik bagi ketenangan warga… dst…” yang kemudian menjelma gerbang masuk kota kami yang dihiasi puncak hitam berbentuk topi sulap. Berbagai gerbang gang di sekitar kota memakai simbol yang sama berturut-turut.

Sebagai orang yang pernah kerja di gereja dan lalu di toko parfum, ketakutanku bukan pada hujan pedang, tetapi hujan air mata yang lebih luka daripada luka sejarah Vermeil yang disamarkan secara serius oleh kisah-kisah sejarawan pembual.

***

Di Vermeil aku  hidup sendiri. Ayahku, Fidel Sombre yang malang, telah mati di bawah mesin penggiling bunga cordon. Bajunya terbakar bara tungku mesin penyuling. Ia dibantai sekelompok orang berbendera putih yang tinggal di balik Gunung Coer Exec. Fidel yang legam, bagai semut hitam berkasta paling rendah, terhina dan sengsara di bawah kekejaman yang belum diselesaikan sejarah. Mereka terdiri dari sejumlah kelompok yang bengis tapi tak pernah habis ditumpas pemerintah. Jika mereka lapar, mereka akan menghunus pedang ke arah desa-desa terdekat. Kata buku-buku sejarah itu, mereka hanya menciptakan teror untuk pemerintah dan sejauh ini pemerintahlah yang tak pernah tidur. Tapi mengapa harus para semut hitam warisan kesetiaan para budak yang jadi sasaran, sedangkan mereka tidak mungkin tidur lebih lama daripada pemerintah?

Dan ibuku pergi dengan suami barunya, seorang ahli sepatu lancip bahan kulit; ia bernama Saisir, nama yang pantas bagi seorang bandit kelas tikus. Tapi tentu saja ada rasionalnya mereka cocok: ibuku pandai membuat rajutan kaus kaki untuk mereka yang tak pernah melepas sepatu dan takut melihat hujan pedang. Sedangkan pengrajut tidak ada hubungan terlalu dekat dengan pekebun dan pengolah bunga, apalagi semut hitam. Tukang rajut berurusan dengan tikus dan raja tikus saja. “Saisir” itu kemudian menjadi nama belakang sejumlah pejabat pemerintah desa yang hidup dari upeti-upeti para penati.

Sebelum aku bisa bekerja di bawah gedung Alcove Charme, aku bekerja di bagian luar Gereja Remplir sebagai petugas penjaga kolam doa di sudut taman. Kepada patung Anak Pemanah di atas kolam aku suka bicara “Tolong sih, Saint Enfant, pindahkan aku dari sini ke satu tempat yang bisa membuatku lupa kesedihan sejarah!” Aku suka bilang begitu sebab mengurus kolam doa seakan mengurus air mata kesendirianku sendiri yang tak kunjug habis. Dan keluh-kesahku itu rupanya didengar kolam doa dan patungnya yang berpanah mata jantung itu: seorang perempuan gelisah bernama Eliav datang ke gereja untuk menangis. Ketika dilihatnya di arah luar ada pemuda hitam kurus kering penuh kesedihan, tahulah ia bahwa kesedihannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kesedihanku.

“Namaku Eliav Roge. Aku pencinta parfum dan burung caille, dan seekor caille yang biasa kutemui di kebun, menurut telegram dari Ayah tadi pagi, mati tanpa kepala. Aku sedih menyaksikan kejamnya manusia. Tapi sekarang, di depan wajahmu yang mengenaskan ini, kesedihanku tidak berarti lagi,” begitu ucapnya sambil berusaha menunjukkan rasa hormatnya kepadaku. Segera aku tahu Eliav membaca baris Artchur Je suis triste de voir la cruanté humaine dalam “Plaie” yang sering membuat Guru Paling Trop merasa perlu untuk mengepalkan tangan ke arah kami, manusia-manusia bengong dalam kelas-kelas keheranan—sekurang-kurangnya menurut penglihatanku.

Eliavlah yang mengajakku pergi meninggalkan pekerjaan di Remplir, pulang ke sebuah desa yang jauh sekali untuk bertemu ayahnya, Tuan Roge, yang segera mengerti dengan kedatangan Eliav membawaku serta. Aku pun bekerja di kebun bunga Tuan Roge. Kadang aku bekerja di bagian penyulingan, kadang bekerja sebagai teman main Eliav jika ia ingin pergi ke kebun stroberi warisan buyutnya yang belum ia kembangkan jadi bagian bisnis yang melimpah, hanya dipanen untuk pasar desa terdekat. “Orang sudah gunakan kimia—ah, kau tahu apa soal kimia?—demi menahan kebusukan. Kebun ini untuk kita saja dan warga terdekat.” Begitu ia pernah berkata tapi ia tidak sinis kepada rendahnya sekolahku. Aku tahu ia banyak tekanan di kota, terlalu banyak aturan dan ketidakkonsistenan di dalamnya.

Tidak setiap hari aku bertemu Eliav sebab ia harus mengurus sejumlah bisnisnya di Vermeil. Tapi mungkin karena ia terbiasa kutemani jika ia pulang ke desa, ia akhirnya memintaku dari ayahnya agar dipindahkan kerja di Vermeil di bawah gedung Alcove Charme. Bagiku kerja di mana pun tidak masalah, asal aku bisa jauh-jauh dari kolam kesedihan yang tidak pernah kering.

Di perjalanan menuju Alcove Charme, di atas kereta kuda milik keluarga Roge yang lamban dan gagah, aku membuat gambar setangkai gandum yang sedang dipeluk dan dijunjung seekor semut hitam. Rupanya Eliav memperhatikan gambar itu dan dia bersorak senang sebab dia sedang melamunkan gambar apa untuk produk baru parfum Roge yang sudah ia namai “Eli”. Gambar semut dan gandum itu rupanya menjadi variasi tambahan dari kebun stroberi di latarnya dan burung caille di langitnya. Dengan segera parfum “Eli” itu dikenal dengan nama lain “Semut Gandum”.

Eliav sangat berterima kasih dan aku diberinya keleluasaan untuk mengatur toko kecil menawan di bawah gedung Alcove Charme itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa pada mulanya, tapi karena tahu hidur harus berubah, aku terus menggembirakan diri. Siapa pun pembeli yang datang, akan kusapa dengan bahasa kegembiraan. Maka terkenallah namaku dengan antribut versi para pelanggan. “Oh, Prevert yang Menyenangkan!”, misalnya, atau “Hai Prevert Kegembiraan!” Kalau toko sedang sepi, aku bisa mengerjakan hal lain, seperti menggambar di buku harian.

***

Betapa aku mencintai Eliav sejak pertama melihatnya di Gereja Remplir. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada orang-orang yang aku kira bisa membuat tafsir yang baik bagi perasaan-perasaan yang terekam gambar. Kepada tamu-tamu toko yang datang dari luar kota Vermeil, aku suka cerita tentang sejarah Vermeil, peperangan yang tak terungkit, topi sulap, hujan pedang, puisi tentang awan dan jari tangan, stroberi, burung caille. Tapi aku tak pernah cerita tentang perasaanku. Setiap ada orang bertanya apa makna gambar semut memeluk gandum di botol “Eli”, aku sebenarnya ingin cerita bahwa semut hitam itu adalah kasta terendah dari bangsa pekerja yang mendapat keberuntungan hidup, gandum itu, yang bagiku adalah Eliav sendiri. Eliav adalah setangkai gandum anugerah yang sudah mengubah hidupku. Aku tak lagi mencari-cari remah gula-gula sambil menahan sedu meluap. Aku merasa benar-benar jadi manusia, makan gandum, setelah bertemu Eliav. Gandum adalah cintaku yang menenangkan laparnya sejarah.

Tapi cerita itu tak pernah aku sampaikan kepada pelanggan mana pun. Mereka asing bagiku. Andai saja Eliav yang bertanya makna gambar itu aku baru akan cerita, atau tidak sama sekali jika akhirnya aku bisa melupakan cinta sebagai hal yang harus diterusterangi. Sayang sekali Eliav tidak pernah bertanya, tidak juga pernah merasa heran dengan semut dan gandum itu—mengapa bukan semut dan gula-gula, misalnya? Eliav mengambil gambar itu dan menjualnya sebagai merek dagang. Kadang-kadang kegembiraan dan kesedihanku sekaligus hilang jika sudah berpikir jangan-jangan aku tak lebih dari barang dagangan belaka! Ah, tafsir itu berbahaya jika dibatinkan. Sebagai orang-orang kulit putih, Eliav dan keluarga Roge tentu bukan bagian dari sejarah orang-orang bengis di balik gunung itu. Mereka juga bukan bagian dari pemerintah yang tak pernah tidur itu. Mereka keluarga yang sejah dahulu hidup tenang bersama kaum kami.

Setelah beberapa tahun-tahun aku kehilangan daya untuk bicara soal perasaan kepada Eliav, akhirnya aku tahu aku belum sangat bahagia sebagai manusia sehingga diam-diam aku tidak hanya membuat gambar tapi juga nyanyian. Aku sangat takut buku harianku dibuka Eliav sebab jika ia bisa menafsir semua itu ia akan melihat cinta yang hitam selalu untuknya. Ada sebuah gambar manusia berwajah semut hitam di buku itu yang berdiri membelakangi gambar perempuan sedang memegang gandum. Gambar itu tentang keinginanku pergi dari toko Roge agar aku tidak tersiksa oleh ketidakmampuan berbicara. Yang mengerikan, ada gambar manusia kepala semut hitam yang sedang berdiri mengangkang di atas tubuh perempuan tanpa busana! Aku kira aku sudah sampai pada titik gila karena ketidakmampuan ini, dan akhirnya aku sakit. Tiga bulan aku terbaring dalam demam dan sering bermimpi dalam kejaran pedang-pedang. Kata Eliav, di hari terakhir dia menjengukku, kalau kamu terus saja sakit, Prevert, dengan siapa aku bisa bicara jika aku mengasingkan diri di toko akibat sepi tinggal di desa atau di kota? Lalu aku menunjuk buku harian di kamarku: “Untuk sementara bawalah buku harianku itu dan bicaralah dengannya! Setiap buku harian hanya ingin dibaca oleh mereka yang dicatatnya.” Ternyata Eliav, dari menjengukku itu, terus pulang ke desanya, dan toko dijaga salah seorang karyawannya dari unit bisnis lain. Buku harianku dibawanya ke desa, mungkin, dan ia harus mengalami nasib yang mengenaskan. Ia diculik orang tak dikenal di jalan pulang dan mungkin itu kelompok dari Coer Exex yang mau memeras keluarga Roge. Aku baca berita itu di koran kota dan aku menangis. Tapi untuk mengejar Eliav ke sarang kebengisan aku tidak mungkin bisa. Akhirnya malam itu, dalam gigil demam yang serius, aku naik ke gerbang utama Vermeil dan menuliskan “Tolong Eliav!” di topi pesulap raksasa dengan cat putih. Aku menuliskan kata-kata yang sama di gerbong kereta, di tiang-tiang, di sudut-sudut kota, di jalan raya, di punggung seorang gembel yang tersungkur karena anggur murahan. Aku menulis kata-kata yang sama di bawah plang “Roge”. Aku menggambar semut hitam menghunus pedang ke arah gunung di sebuah dinding Gedung Perwakilan Warga Kota. Aku naik ke atap gereja dan memasang bendera merah bertuliskan “Doakan Eliav!” di puncak mahkotanya.

Aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi dalam kota. Pagi hari, ketika aku turun dari gereja sambil bernyanyi “Cintailah dirimu untuk dirinya, cintailah dirinya untuk sejarah”—laguku sendiri yang tertulis di buku harian, ketika turun dengan tubuh yang lelah tapi berkobar, dua orang lelaki berjaket mendorongku ke dalam kotak kayu untuk mengangkut kuda. “Biar Eliav tidak tahu aku mencintainya, wahai para penangkap, tapi Eliav selamat atas turun tangannya pemerintah secara serius!” teriakku kepada dua orang itu.

Saya tidak tahu apa tindakan nyata pemerintah. Berbulan-bulan aku dalam penjara, kota kami hanya wangi oleh aneka parfum, demi busuk sejarah tidak terlalu tercium. Terbayang olehku para sejarawan tak ada kerjaan itu pada suatu hari akan menulis koleksi baru soal hal-hal lain yang lebih berfungsi sebagai bagian dari paket wisata kota. Aku dipenjara karena aku pengacau dan mengganggu ketertiban umum. Tentu saja, dan bagi kota Vermeil, segala substansi sama artinya dengan segala aksi warganya!

Kalau aku tatap jendela penjara dan melihat awan gulung-gemulung betapa dekat di atas kota, aku lebih suka pada guruku di kelas menengah itu. Paling tidak, seyogianya, Tuan Wali Kota punya air mata melihat nasib warganya. Bukan mereka kolam yang kering, tapi mereka tak membaca puisi lagi setelah mereka memasuki ketakutan menjaga kekuasaan dengan aneka kegagahan yang kerontang. Lihatlah apa yang akan aku lakukan: aku adalah semut hitam yang dapat membuat lubang pelarian dan persembunyian! Tak peduli suatu hari akan kembali ditangkap. Tugas utama manusia adalah meneruskan perjuangannya dalam cinta, aku kira. Tak ada keutamaan lainnya. Dengan sebuah kawat besi dari ranjang, aku mulai membuat lubang di bawah dipan penjara, seakan mengorek sejarah demi menembus masa depan. Aku diam-diam percaya pada satu baris puisi Artchur: sejarah bisa disusuri jika tembus lubang penghalangnya. []

Arip Senjaya

Arip Senjaya

Dosen filsafat dan sastra di FKIP Untira, Ketua Jurusan PBSI FKIP Untirta (2016-skrg).
Arip Senjaya

Latest posts by Arip Senjaya (see all)