Empat Fiksi Mini tentang Seorang Penyair Tua

in Puisi by

: sdd

IA TERSESAT DI SEBUAH SAJAKNYA

DIA masuki belantara sajaknya sendiri. Dia mulai dari kata pertama di sajaknya, sebuah kata yang berhuruf awal A. Sajak yang dia kira sederhana itu ternyata menyesatkan. Di dalamnya banyak jalan setapak bersilangan dan lorong-lorong berliku. Dia mula-mula tenang-tenang saja, tapi lama-lama risau, akhirnya cemas, dan bahkan ketakutan.

“Bagaimana caranya saya keluar dari bait-bait sajak sini?” katanya, pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu menggema di dinding-dinding sajaknya, membuatnya semakin takut saja.

Bila akhirnya dia bisa bebas dari sajak itu, sajaknya sendiri itu, maka itu berkat bantuan sebuah kata yang ia letakkan di akhir larik akhir bait akhir sajaknya. Sebuah kata yang dia beri tanda tanya.


IA TAKUT MEMBACA SAJAK-SAJAK LAMANYA

DI usia tuanya dia suka membersihkan halaman rumah dinasnya (rumah dinas untuk penyair), membaca buku (kadang ia merasa ditipu oleh kacamatanya), menulis sajak baru (susah sekali mencari waktu untuk diajak menemukan sajak baru), menerima tamu (teman-temannya, mahasiswanya, dan penggemarnya), menerima telepon dan membalas SMS (kadang ia mengirim SMS ke nomornya sendiri), sesekali ia masih mengajar juga (meskipun ia pernah salah masuk ruangan lalu mengajar mahasiswa yang seharusnya tidak diajarnya).

Ia takut membaca sajak-sajak lama yang ia tulis dulu. Kenapa? Ia takut sebab kalau ia membaca sajak lamanya maka ia sering bertanya, “kok dulu saya bisa menulis sajak sebagus itu, ya? Kenapa sekarang susah sekali…”

Takutnya bertambah besar kalau ia membayangkan sajak-sajaknya itu menjawab, “Apa betul kamu dulu yang menuliskan kami?” Ia takut sekali.

GADIS KECIL ITU SUDAH DEWASA

GADIS kecil itu, Indah namanya, sudah dewasa. Pada suatu gerimis, yang tak juga menua, ia bertemu dengan penyair yang dulu pernah menuliskannya dalam sajak bersama gerimis yang sama.

“Saya gadis kecil yang diseberangkan gerimis itu, Pak Penyair,” kata Indah.

“Kamu?”

“Ya. Aku sudah bersuami, dan punya anak tiga…”

Ingin sekali Pak Penyair itu bertanya, apakah gadis yang kini dewasa itu bahagia, mana dulu tangis yang ia kibaskan dengan tangan kanan, dan mana payung yang ia pegang dengan tangan kiri. Tapi, ia tidak bertanya, justru ia yang ditanya.

“Gerimis-gerimis begini Pak Penyair mau ke mana?”

“Ah, di usia begini susah sekali menyeberangi Jakarta.”

“Oh, Pak Penyair mau menyeberangi gerimis ini?” Pak Penyair mengangguk.

Maka, di gerimis yang sama dengan gerimis yang dulu ia sajakkan, Pak Penyair diseberangkan oleh si Gadis yang dulu ada dalam sajaknya yang kini sudah dewasa itu.

Sayangnya, tak ada yang menyajakkan peristiwa itu. Sayang…

IA TERTIDUR DI DEPAN TELEVISI

IA tertidur di depan televisi, dan televisi itu jengkel sekali. “Buat apa aku dihidupkan kalau tidak ditonton,” kata televisi itu, “Kalau memang tidak mau nonton, ya matikan saja.”

Si Penyair tak mendengar gerutu si televisi itu. Ia tertidur pulas napasnya menciptakan dengkuran tua.

“Kalau dia tidak mematikan kamu, kamu saja yang mematikan dia,” kata remote control (entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia?).

Si penyair terkejut. Memandangi remote control di tangannya. Saat itu televisi sedang menyiarkan tentang sebuah bom yang dijatuhkan pesawat tempur Israel di sebuah sekolah di Palestina. 40 anak tewas.

Kata penyair itu, “Ah, Tuhan, apakah orang setua aku masih harus disiksa dengan mimpi buruk?” Televisi itu tidak juga ia matikan.

 

 

2009

Hasan Aspahani

Penyair, buku puisinya, Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016.

Latest posts by Hasan Aspahani (see all)