Film Mahana (2016) Menguak Selimut Tebal Kultur Lokal di Selandia Baru

in Hibernasi by
Film Mahana (2016) Menguak Selimut Tebal Kultur Lokal di Selandia Baru
Film Mahana. Sumber gambar: dokumen pribadi

Usai salat Jum’at (25/11/16) di lantai dasar salah satu gedung perkantoran Auckland University of Technology (AUT), yang ada dalam pikiran saya adalah pulang. Bukan, saya bukan ingin segera rebah di kasur empuk apartemen sebab malam tadi saya cukup tidur. Saya ingin menyunting beberapa esai-residensi sebab saya tak ingin day-off besok diganggu oleh jadwal menulis. Saya ingin jalan-jalan dan belanja, hahaha. Lagi pula, bakda Jum’at bukanlah waktu bebas sepenuhnya sebab pukul 5 petang kami memiliki agenda Film-Evening di lantai III gedung perkuliahan AUT. Sebagai penggemar film, saya ingin menonton dan oleh karena itu saya harus punya waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain sebelum jadwal itu tiba.

***

Saya berjalan kaki ke lokasi pukul 4.45 dan tiba 20 menit kemudian ketika seorang laki-laki Maori paruh baya sedang membincangkan rezim Soekarno dan Soeharto di depan kelas. Meskipun saya menyaksikan bagaimana musisi Iman Fattah (Jakarta) dan pegiat museum Daniel Haryono (Yogyakarta) membanding-bandingkan situasi Indonesia di zaman pemerintahan kedua presiden RI tersebut, saya tetap tidak terlalu mengerti apa yang Robert, begitu penanggung jawab acara itu menyebut dirinya, bicarakan sebab saya baru bisa duduk manis di kursi bagian belakang ketika ia sedang memberikan semacam pengantar film. Lima menit kemudian ia menyilakan seorang perempuan Maori—yang juga paruh baya—di kursi dosen yang menghadap monitor berlogo apel-digigit itu berbicara. Setelah memperkenalkan dirinya sebagai dosen mata kuliah Media Studies dan Maori Language, Ella—begitu nama panggilannya—mengatakan kalau film yang sebentar lagi diputar berjudul “Mahana” yang berarti kedamaian dalam bahasa Maori sekaligus nama sebuah keluarga pencukur-bulu domba di daerah pesisir pantai timur Selandia Baru.

***

“Mahana” adalah karya sutradara internasional asal Selandia Baru, Lee Tamahori, yang diadaptasi dari novel karya Witi Ihimaera berjudul Bulibasha yang berlatar tahun 1960-an di pedesaan Selandia Baru. Film bergenre drama-keluarga ini mengetengahkan perseteruan Keluarga Mahana dan Keluarga Poata, dua keluarga pencukur domba yang terlibat persaingan bisnis gudang bulu domba sejak lama. Meskipun begitu, sejatinya hal itu bukanlah plot utama film yang disebut beberapa review sebagai wasilah bagi Tamahori untuk pulang kampung. “Mahana” justru ingin menampilkan bagaimana seorang lelaki tua Suku Maori (diperankan oleh Tamuera Morisson) yang patriarkis, tradisionalis, sekaligus otoriter, menampilkan wajah Maori yang cenderung kaku dan kasar dalam karakter darah-dinginnya yang kuat. Kakek paling dihormati dalam keluarga Mahana yang selama ini hidup nyaman dalam lingkungan keluarga besarnya yang patuh, menemukan ketidaknyamanan dan keterusikan ketika cucu bungsu sang kakek, Simeon (Akuhata Keefe), mempertanyakan sejumlah hal—tentang bahasa Maori yang dilarang digunakan oleh masyarakat umum hingga pertentangan batin karena perbedaan mereka dalam memandang-tafsirkan kata “kekuatan” dalam persepsi Maori. Bagi sang kakek, kekuatan adalah kecakapan membelah kayu, menggembala domba-domba, hingga berkuda; sedangkan Simeon, ketika ditanya gurunya di kelas, mengatakan bahwa kekuatan bukan hanya tentang fisik, tapi juga kepribadian.

Tak pernah Simeon dan keluarganya sangka kalau sang kakek akan mengusir mereka dari rumah besar keluarga hanya karena perbedaan pandangan tentang hal-hal yang ‘gagal’ Simeon pahami. Sang kakek tidak menyilakan anak seusia Simeon masuk ke bioskop rakyat, meskipun di kesempatan yang lain, ketika gurunya meminta, Simeon menyampaikan semacam kata penutup dalam sebuah persidangan-di-desa-yang-berjalan-otoriter yang membuat hakim tertegun.

Simeon dan keluarga akhirnya tinggal di rumah tua di lereng bukit yang tidak terjal. Mereka menebas pohon-pohon hingga lahan kosong yang mengitari rumah itu tampak bersih dan tidak semrawut. Mereka bertahan hidup dalam semua keterbatasan dan kekurangan. Mereka berusaha melupakan apa yang kakek mereka lakukan, meskipun itu tidak mudah. Simeon sendiri merasakan ada sesuatu rahasia penting yang sengaja dipelihara keluarganya—terutama oleh kakek dan neneknya—sebab selembar foto lama yang pernah ia temukan menampilkan sosok perempuan yang ia yakini adalah sang nenek (Nancy Burning) dengan laki-laki—yang ia tebak—adalah suami neneknya itu… dan laki-laki di foto itu bukanlah sang kakek kala muda. Simeon yakin, sikap neneknya yang dingin, termasuk di acara makan malam keluarga yang dikuasai oleh ceramah sang kakek, berhubungan dengan foto itu. Imajinasi Simeon yang mundur beberapa puluh tahun demi menampilkan heroismenya dalam menyelamatkan sang nenek, menghasilkan citra realis yang dramatis—meskipun sejatinya mimpi yang dialaminya begitu surealis.

Mungkin karena sedang berada di Selandia Baru, saya merasa begitu akrab dan dekat dengan keindahan lanskap dan dialek bahasa Inggris orang-orangnya. Bahkan ketika kami sudah kembali ke apartemen, Joko dan Toufiq mengatakan kalau mereka pernah mengunjungi beberapa lokasi yang digunakan sebagai latar syuting film itu. “Kamu harus mengunjungi Devonport, Benn. Tidak jauh dari apartemen. Tinggal jalan kaki. Lalu nanti ketemu laut yang indah. Kamu akan langsung teringat ‘Mahana’.” Waduh! Saya benar-benar ketinggalan.

Dalam urusan sinematografi, “Mahana” berhasil mendapatkan nilai tinggi dengan tata gambar yang bersih, berwarna, indah, namun tidak terkesan keremaja-remajaan atau kekanak-kanakan, meskipun hal itu bukan jaminan bahwa “Mahana” akan meninggalkan citra yang membekas di benak penonton. Bila warna terbaik adalah hijau, kita butuh warna hitam, merah, atau biru yang—katakanlah—bukan warna terbaik, untuk melihat hijau itu. Pada titik ini, Tamahori menunjukkan hasil kerja yang oksimoron sebab hanya menampilkan hijau yang indah itu. Tinjauan ini mungkin sangat mungkin dipengaruhi dua film Tomahori lain yang pernah saya tonton: “James Bond: Die Another Day” (2002) dan “Once Were Warriors” (1994), meskipun, ya meskipun saya lebih menyukai “Mahana” daripada keduanya.

Yang paling menarik dari “Mahana” ini adalah kecakapannya menampilkan oksimoron yang lain dari sebuah kata ajaib di dunia kreatif masa kini: lokalitas. Adat, budaya, atau apa pun yang berelasi dengan tradisionalitas ternyata tidak selamanya menjelma menjadi kearifan lokal (local wisdoms). Bahkan, kata-kata Simeon ketika gurunya meminta ia memberi pandangan tentang kekuatan (strength), “Strength is not always related to physics, because small people may have strong personality” cukup membekas di benak saya. Kutipan itu mungkin terkesan sederhana, namun dalam konteks “Mahana”: sang kakek yang otoriter dengan semua ke-Maori-annya beririsan, sebelum akhirnya bertabrakan, dengan jiwa kritis cucu laki-laki yang pada awalnya menyimpan rahasia besar terkait sang kakek dan nasab keluarganya, membuat drama-keluarga ini memiliki nilai tersendiri. Simeon tidak menentang Maori, tetapi melawan penyalahgunaan nilai-nilai budayanya.

Beberapa bagian dramatik di film ini tampaknya sengaja tidak dieksplorasi hingga meletus sebagaimana Tamahori yang sengaja membiarkan ending tanpa twist, tidak serta-merta membuat film ini menjadi mainstream. Justru, hal itu menunjukkan kematangan Tamahori dalam memainkan plot. Ia tidak tergoda mengamburkan pesan-pesan moral dalam dialog. Kuatnya akting Akuhata Keefe dan Nancy Burning membuat film ini memiliki komposisi yang berimbang.

Film Maori yang dirilis secara internasional pertengahan 2016 ini sebaiknya masuk watching-list bagi yang belum menyaksikannya. Selain akan mendapatkan cerita drama yang tidak tergoda untuk menjadi dramatik dan potret orang lokal yang justru gagal menyerap spirit lokalitas itu sendiri, alasan tidak pentingnya adalah: saking indahnya gambar dalam “Mahana”, ia akan membawa Anda merindukan Selandia Baru meskipun belum pernah mengunjunginya.***

Auckland, 2016

Benny Arnas
Follow Me

Benny Arnas

lahir di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, 8 Mei 1983. Ia menulis (sastra) pada tahun 2008 ketika berusia 25 tahun. Pengujung tahun tersebut, cerpen pertamanya “Dua Beranak Temurun langsung” dimuat Kompas.
Karya mutakhirnya adalah novel Tanjung Luka (GPU, 2015) Buku-bukunya yang lain adalah Cinta Paling Setia (Mizan, 2015), Cinta Tak Pernah Tua (GPU, 2014), Parigan (bennyinstitute, 2014), Bersetia (Mizan, 2014), Jatuh dari Cinta (Grafindo, 2011), Bulan Celurit Api (Koekoesan, 2010), dan Meminang Fatimah (selfpublishing, 2009). Lebih dekat dengannya di Twitter @bennyarnas atau surat elektronik benny.arnas@gmail.com.
Benny Arnas
Follow Me