Genjer-Genjer dan Politik 65

in Esai by
Untuk esai genjer-genjer
fssanews.com

Akhir-akhir ini fobia komunisme muncul kembali. Di berbagai daerah gambar-gambar “palu arit” bermunculan, kemudian memantik polemik dan perdebatan panjang. Terbaru, konser band lokal Mesin Sampink dengan aliran reggae di GOR Majapahit Jalan Gajah Mada, Kota Mojokerto, terpaksa dibubarkan polisi pada 08/05/2016. Sebabnya, band tersebut melantunkan lagu Genjer-Genjer, lagu yang berasal dari ujung timur pulau Jawa, Banyuwangi. Lagu yang memberi warna pada percaturan politik tanah air. Ingatan tentang lagu itu berdiam dalam film Pengkhianatan G-30 September Partai Komunis Indonesia (PKI). Genjer-genjer, judul musik yang sama sekali tak berkisah politis namun dianggap sebagai musik yang haram untuk didengar. Lagu itu semata berkisah kemelaratan dan kemiskinan hidup sehingga menjadikan genjer (limnocharis flava; sejenis rumput liar) sebagai makanan utama karena rakyat tak mampu membeli beras dan gandum. Orde Baru di bawah Soeharto menganggapnya sebagai sebuah penghinaan atas kekuasaan yang mengedepankan pembangunan serta imaji manusia Indonesia yang maju dan modern. Lagu-lagu cengeng, romantik, berkeluh dan meratap diindikasikan sebagai aral atau batu sandungan yang tak sesuai dengan visi dan mimpi pemerintah.

Dwi Pranoto (2015) lewat penelitiannya tentang syair-syair lagu banyuwangian mengindikasikan ada perbedaan yang tajam pada segmentasi serta tema lagu sebelum dan sesudah 65. Sesudah gejolak 65, kontrol pemerintah pusat begitu kuat untuk mengatur kreativitas musisi. Lagu-lagu yang dihadirkan wajib bercerita tentang kemakmuran, keindahan alam, tawa, kegembiraan, sukacita, dan tak lagi berisi ratapan dan kesedihan hidup. Negara hadir untuk menunjukkan kuasanya dalam nada dan bunyi. Lagu-lagu menjadi monumen yang mengekalkan imajinasi tentang Soeharto dan Orde Baru. Sementara musisi-musisi yang sebelumnya berkisah ketertindasan hidup lewat lagu sebagaimana Genjer-Genjer langsung dianggap sebagai bagian dari PKI. Nasib mereka tak jelas hingga kini, konon diciduk oleh aparat dan tak pernah kembali. Muhammad Arief, pencipta lagu Genjer-Genjer, adalah salah satunya.

Mencipta lagu berakibat pada pertaruhan nyawa. Lagu dan musik kemudian tak cukup diterima sebagai deretan nada dan lirik. Ada kekuatan besar di baliknya. Banyuwangi yang dikenal dengan kendang kempulnya, adalah representasi dari musik rakyat yang berbicara tentang kejujuran dan kebenaran. Kejujuran dalam bermusik itulah yang dianggap pengkhianatan oleh Orde Baru. Pelarangan dan pencekalan sudah menjadi hal yang biasa. Genjer-Genjer mencoba dipetieskan, kata lain dari dihilangkan. Bernard Arps (2009) dengan tegas menyatakan jika di bawah pemerintahan bupati pertama di masa Orde Baru, genre musik di Jawa Timur terutama Banyuwangi dibangkitkan lagi secara radikal dengan konteks anyar tanpa Genjer-Genjer. Pada tahun 70-an, Soeharto juga pernah mengunjungi Banyuwangi (Muncar). Kedatangannya disuguhi dengan kesenian angklung. Dengan seketika penguasa Orde Baru itu bertanya pada bupati setempat, apakah kesenian itu pernah beraviliasi dengan Genjer-Genjer dan digunakan oleh PKI? Bupati mengiyakannya. Soeharto kemudian memberi instruksi khusus agar dilakukan “pemurnian” musik yang diindikasikan pernah bersentuhan dengan PKI. Pemurnian bagi Orde Baru adalah ikhtiar mensucikan kembali hakikat musik yang sebenarnya. Musik-musik yang bersentuhan dengan PKI ditengarai tak murni, penuh dosa alias menipu.

Proyek itu dijalankan oleh bupati dengan membuat penyuluhan. Musisi-musisi diberi penataran cara membuat musik yang murni dan indah menurut pemerintah. Karya-karya lahir dengan sentuhan baru, lewat regulasi dan kontrol yang ketat. Musik dan lagu baru Banyuwangian diharapkan mampu mendekonstruksi romantisme musik cengeng ala Genjer-Genjer Muhammad Arief. Lagu baru harus penuh puja-puji, cita-cita dan sesak hormat pada penguasa. Dengan demikian, ada garis demarkasi yang jelas antara musik pra-65 dan sesudahnya. Seniman-seniman di bawah Orde Baru dengan segera akan dianggap komunis jika masih berupaya melagukan lagu-lagu sezaman dengan Genjer-Genjer. Ada ketakutan yang tak terbendung, bahkan hingga kini. Genjer-Genjer semata dikenang dan dilagukan dalam batin, haram tersuarakan lewat ucapan dan petikan gitar.

Perebutan kekuasaan dan eksistensi antara Orde Baru dengan PKI menjalar tak hanya dalam ruang fisik berwujud peperangan, namun juga menyelinap dalam nada dan bunyi. Ia mengintervensi bahkan dalam ruang yang paling privat sekalipun. Genjer-genjer adalah saksi di kala Soeharto menjadi “konduktor” orkestra musik. Suara-suara sumbang mencoba dibungkam. Memoles dan menciptakan warna baru dalam harmoni musik. Setelah Orde Baru runtuh, keberanian untuk mengaransemen ulang lagu-lagu berbau komunis mulai muncul. Namun negara masih fobia dengan masa lalu. Pelaku musik dan musisi dicekal jika masih melantunkannya. Sebagai sebuah musik, Genjer-Genjer tidak hanya membawa beban-beban nada dan harmoni, namun stigma-makna komunisme.

Banyuwangi dengan lagu-lagunya memang memiliki ciri dan keunikan sendiri. Ia dibawakan dalam takaran nada-nada minor (diatonis) serta selendro banyuwangian (pentatonis). Sebagaimana lazimnya lagu-lagu di wilayah nada minor, harmoni dan kekuatan nadanya memiliki kesan romantis, sedih dan ratapan. Menjadi medium yang ideal untuk mengungkapkan gejolak batin dan ketertindasan hidup layaknya Genjer-Genjer. Genjer-Genjer sebagai sebuah musik tak lagi netral. Ia menyambung ingatan dan kisah tentang masa silam. Ada rasa ketakutan dan kebencian. Musik telah berpendar menemukan makna dan nilainya. Oleh karena itu, siapa diri kita ditentukan pula oleh musik apa yang kita dengar. Namun, seberapa pun Genjer-Genjer dilekatkan dengan stereotip komunisme, sejatinya ia hanya sebuah bunyi, tidak lebih. Siapa pun dapat mendengarkan dan menikmatinya tanpa harus repot-repot dicecar dengan pertanyaan apakah ia komunis atau bukan.

Sama seperti kata-kata dalam puisi, ia bebas menemukan pembacanya. Musik bebas menemukan pendengar dan penikmatnya. Ia kemudian bebas makna, siapa pun dapat melekatkan tafsir untuknya. Menjadi ironis kemudian jika tafsir itu harus diseragamkan atau disamaratakan oleh penguasa. Hari ini mendengar Genjer-Genjer dianggap komunis, padahal satu orang dapat memaknainya sebagai lagu cinta yang romantis dan melankolis, tak ada urusan dengan PKI. Jika mendengarkannya harus bertaruh nyawa, musik dengan demikian tak lebih dari sekadar alat yang digiring pada satu tujuan tertentu berupa klaim-klaim kebenaran yang dogmatis layaknya agama, tak bisa diganggu gugat.

Kita mengenang lagu Genjer-Genjer sebagai sebuah catatan penting sekaligus saksi dari pergolakan politik, di mana kekuasaan melawan estetika, serta arogansi penguasa mendekonstruksi nada. Kita pun membekukan segala kisah tak harus melulu lewat museum, bangunan dan patung, namun juga lewat bunyi atau musik seperti halnya Genjer-Genjer.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Etnomusikolog. Pengajar di Institut Seni Indonesia Surakarta.
Aris Setiawan

Latest posts by Aris Setiawan (see all)

  • Junaidi Khab

    Ah, foto Kak Aris tegang amat… :v