Godaan Eksistensial Penyair: Membaca Puisi-Puisi Moh. Wan Anwar

in Esai by
slingshotsandarrows.wordpress.com

Sebuah puisi dapat dikatakan sebagai buah (yang tumbuh dan matang) dari jurnalisme batin dan intelektual yang sekaligus merupakan pengalaman empiris dan eksistensial penyairnya yang diolah menjadi seni dan suara-suara artistik yang memadukan (menggabungkan) narasi kata-kata serta modus ujaran dan nada-nada musikal hingga menjelma lirik dan nyanyian puitik. Puisi juga merupakan upaya merayakan realitas yang acap kali mengundang tanda-tanya, dan lepas dari ikhtiar konseptualisasi, sampai-sampai ketika John Keats ditanya oleh Fanny Brawney, “Bagaimana puisi dapat dipahami?” Keats menjawab puisi mestilah dipahami lewat dan melalui “rasa”.

John Keats misalnya mengumpamakan bahwa jika seseorang ingin menyelami sebuah danau, maka ia mestinya menyelami dan “mengalami” danau itu sendiri, “merasai” airnya, bukan berusaha menggapai tepian atau menemukan jawaban apa itu danau—karena puisi tidak berusaha mendefinisikan dan “mengonseptualisasikan”. Dengan demikian, puisi merupakan sebuah perayaan bagi misteri, atau katakanlah tidak berusaha untuk mengonseptualisasi apa itu hidup secara saintifik, karena puisi justru merupakan penolakan terhadap saintifikasi dan konseptualisasi itu sendiri.

Dalam kadar ini, penyair acap kali mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipersepsikannya secara eksistensial dan secara batin, tak jarang memancarkan aura religius dan spiritual, menyangkut pengalaman hidup dan perjumpaannya dengan segala yang menarik minatnya dan yang merundung (atau kadang kala mengguncang batinnya) ke dunia rasa dan estetika, sering kali menjadi perenungan yang sublim, atau tak jarang berbuah karya-karya musikal dalam sajak—menjelma nyanyian dan senandung:

“Angin nyaris tak sempat menuliskan kata

bagi orang yang terbunuh di jalanan

sosok bayangan yang mengerang panjang

seperti sekarat daun-daun.

Kita tak lagi bisa

berduka pada teriakan parau jalan raya

kecuali igauan yang menguap ke udara.

Dan sekarang hari seperti akan lewat tanpa keluhan.


Tanpa warna merah di almanak

dan upacara bendera setengah tiang

di kamar kita memang selalu berdekapan

menjadi seluruh perjalanan dan kenangan.

Di bawah lampu neon pinggir jalan

kutemukan diriku mengunyah kemuraman.

Kemuraman, meraba jantung

yang kian berdebar-debar”

Puisi Moh. Wan Anwar di atas, yang berjudul “Hari-Hari yang Lewat” itu pada dasarnya merupakan nyanyian puitis seorang penyair terkait pengalaman dengan realitas kota yang dilihat dan dialaminya secara bathin sekaligus secara jurnalistik dan empiris, namun diolah dan disulap menjadi sebuah opini kritik atau kritik opini dengan meminjam medium suara-suara estetik demi menggambarkan realitas dan kenyataan yang mendadarkan ragam ironi bagi seorang pelihat dan pengamat yang peka dan artistik.

Siapa gerangan “orang yang terbunuh di jalanan” dalam puisinya itu? Adakah itu menunjuk kepada nasib si penyairnya sendiri yang memaksudkan dirinya ketika tengah didera dan dirundung pengalaman kegetiran? Ataukah “yang terbunuh di jalanan” itu adalah kaum miskin kota, misalnya gelandangan? Ketika dengan nada bertanya, puisinya diawali dengan larik: “Angin nyaris tak sempat menulis kata”, yang seakan si penyair sudah sedari awal telah menjadikan puisinya itu sebagai pertanyaan dan gugatan ironis menyangkut realitas kota bagi ragam orang yang mengalami dan menghidupi kota yang dimaksud.

Sejumlah puisi Moh. Wan Anwar memang sering menarasikan hal-hal (perjumpaan empiris dan eksistensial) yang menurutnya membentangkan realitas-realitas ironis, yang acap kali bertubrukan dan bertolak-belakang antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, di dalam kemegahan sebuah kota acap kali terdapat para gelandangan, atau di dalam institusi-institusi yang mengklaim sebagai para penjaga tradisi dan agama acap kali terdapat hipokrisi. Hingga dapat dikatakan, puisi-puisi Moh. Wan Anwar adalah sejumlah narasi puitik yang sesungguhnya menawarkan renungan-renungan filosofis tentang kenyataan hidup itu sendiri.

Sesungguhnya, jika dibaca dengan cermat, “yang terbunuh di jalanan” dalam puisi berjudul “Hari-Hari yang Lewat” itu lebih merupakan gambaran eksistensial sebuah peristiwa dan pengalaman yang merundung penyairnya, yang dalam hal ini adalah peristiwa romantik, sebagaimana disenandungkan bait-bait terakhir puisi tersbut:

Di bawah lampu neon // pinggir jalan // kutemukan diriku // mengunyah kemuraman. // Kemuraman, meraba jantung yang kian berdebar-debar”.

Si penyair menggambarkan peristiwa dan pengalaman eksistensial romantik dirinya dengan mengolah fantasi dan simbolisme demi menghidupkan suasana dalam puisi. Dalam hal ini yang dipinjamnya adalah suasana per-kota-an: lampu neon, daun-daun pepohonan di pinggir jalan. Bagi si penyair yang tengah berada dalam kegetiran batin itu, benda-bentda tersebut menjelma kemuraman yang merundung dirinya. Sehingga, kegembiraan yang mestinya didapat dalam suasana kota, justru menjadi  realitas ironis bagi dirinya yang tengah mengalami kegundahan eksistensial tersebut, lalu menjelma dendang bagi diri dalam rangka menemukan katarsis dan pelepasan dengan nyanyian, seperti puisinya yang berjudul “Kasidah Lilin” berikut.

“Pada hari ini telah kaugenapkan hitungan nafas

dengan iringan kasidah cahaya.

Dua puluh tiga tahun

waktu dan cuaca menguji setiamu pada bumi.

Langit yang melahirkan musim dan cakrawala

aku harap kau pun menyala,

meski angin teramat deras menggempurkan pepohonan

yang sedang khusuk ruku di jiwamu.


Meliuklah seperti para darwis

mengikuti loncatan irama dalam batin

seperti para penari yang bercakap

dengan gerak tubuhnya sendiri.


Mabuklah bersama pengembara

menjelajahi ruang-ruang

yang tak pernah terjangkau pikiranmu.

Dan pada detik-detik yang lambat ini

akan kuundang para malaikat

untuk membasuh rambut

dan lumpur yang membaluri kulit tubuhmu.


Bersiaplah kau dari pedang

yang tiba-tiba membelah dadamu,

menghapus bercak-bercak hitam

bersembunyi dalam lipatan-lipatan kalbu.


Dan ketika kau tiup api dalam tubuhku

pahami, aku kekal menyala

dalam kekosonganmu”

Sebuah puisi yang beraura dan bercita rasa sufistik tersebut pada dasarnya berusaha melakukan transendensi diri si penyair ketika mengalami peristiwa eksistensial yang sunyi dan sublim kala si penyair dirundung kesepian. Ia meminjam alam sebagai perumpamaan dan gambaran untuk menyuarakan harapan akan perubahan di masa depan yang diinginkan si penyair untuk mengatasi dan melampaui peristiwa kekinian yang dialami dan dirasakannya saat itu. Tak diragukan lagi oleh kita sebagai pembaca, puisi berjudul “Kasidah Lilin” itu adalah upaya sublimasi dan transendensi dari pengalaman penyairnya yang bersifat manusiawi dan profan. Karenanya, puisi tersebut memiliki jiwa spiritual dan religius yang sunyi dan menghunjam ke dalam batin.

Puisi-puisi Moh. Wan Anwar ditulis dari sejumlah pencarian dan perjalanan batin ke banyak tempat, sehingga puisi-puisinya merupakan catatan rihlah dan perjalanannya, secara empiris sekaligus eksistensial. Puisi-puisinya merupakan kisahan perjumpaan yang kemudian diendapkan menjadi renungan (meditasi), yang lalu ditembangkan:

“Di sebuah senja pertemuan kita, kaulekat kutatap

dari seluruh penjuru mata. Perlahan kau menurun

ke laut dan ikan-ikan memasang jaring

menjerat tubuh molekmu yang panas

 

di antara jeruji besi, rangka pinisi, dan tiang-tiang

kau kuintip dari kerimbunan rindu

— sebuah pulau begitu saja tumbuh dari pelupukmu —

dan ketika sedikit kureguk kopi, kau balik mengintip

 

dari sela-sela pohon di pulau itu

seperti kata-kata selamat berpisah, cahayamu

merebak ke cakrawala bagai lukisan

memancarkan usia pelukisnya. Kupegang erat

 

pagar besi di sampingku setelah rokok dimatikan

berjalan ke sebuah sudut tempat sepasang remaja

— dari dunia berbeda — khusyuk menerjmahkan

nyala senyummu. Mungkin di dasar laut

 

kau malah berpeluk dengan gugusan karang

ketika kusadari kopi di meja mengubur waktu

— sebenarnya aku tak biasa minum kopi —

mamang tak ada lagi yang perlu ditunggu

 

juga liku-liku jazz — mengapa bukan losquin — di kafe

sebelah sana, atau alunan adzan yang pada setiap baitnya

bersembunyi puisi — tempat jantungku

memompakan kata-kata ke sekujur kepulanganku”

            Puisi Moh. Wan Anwar yang berjudul “Sebelum Senja Selesai” itu adalah puisi impresionistik sekaligus naturalistik, tak ubahnya lukisan-lukisannya Giovanni Segantini yang mengambarkan dan mendadarkan kehidupan sekaligus kematian dengan figur-figur alam seperti lembah, ladang, dan pegunungan, serta orang-orang pedesaan yang diabadikan pada kanvas-kanvasnya. Begitu pun detail-detail lanskap laut dan alam yang dibentangkan dan dinarasikan puisi “Sebelum Senja Selesai” itu tak ubahnya senandung romantis tentang seorang penyair yang jatuh cinta pada pandangan pertama, keterpesonaan tiba-tiba pada seorang perempuan. Penyair berusaha melukiskannya sebagai keindahan dengan menggabungkan sensasi detail tubuh perempuan dengan pesona alam, yaitu laut dan gugusan karang.

            Moh. Wan Anwar adalah seorang penyair romantis yang selalu tak berdaya menghadapi godaan eksistensial yang sifatnya sentimental, sebagaimana telah tergambar dengan jelas dalam suasana dan gaya naratif puisi-puisi yang dituliskannya menjadi sebuah ziarah batin dan nyanyian-nyanyian kasidah, tapi tak pernah lupa untuk menawarkan kesan dan pesan ironis, yang menjadi ciri khas puisi-puisinya.

“Dengan siapa lagi aku mesti bercakap

selain dengan hati sendiri. Atau jalan lengang

di antara bangunan angkuh yang berhadapan

saat selamat malam digumamkan. Sedang kau

tetap setia pada arah tuju yang entah, selain

doa dan mabuk yang jadi keyakinan

 

tapi aku akan belajar menumbuk luka

dari mercury dan hingar bingar aroma bir

yang menawan. Bukan dari omonganmu

tentang bocah lusuh di emper toko atau warna

kelaparan yang kecoklatan. Sebab aku sendiri

dan kau sendiri, barangkali. Kita tak pernah

berkenalan (deru mobil terdengar begitu jauh)”

            Sebab peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman eksistensial si penyair itu memang pada akhirnya kembali dan menjadi milik si penyair, seperti yang ia siratkan dalam larik-larik puisinya yang berjudul “Lagu Braga Malam” tersebut. Puisi itu akan mengingatkan kita pada parafrase (satu larik) puisinya Chairil Anwar yang berbunyi: ‘Nasib adalah kesunyian masing-masing’ yang terkenal dan kemudian menjadi pameo dan slogan di kalangan para seniman dan penyair. Saya kira, tak berlebihan, bila saya katakan bahwa puisi-puisinya Moh. Wan Anwar adalah sejumlah gambaran godaan eksistensial sebagaimana dikatakan Chairil Anwar itu.

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Lahir di Serang, Banten. Menulis banyak esai dan fiksi di banyak media. Tinggal di Serang.
Sulaiman Djaya

Latest posts by Sulaiman Djaya (see all)