H.B. Jassin, Sang Penengah, dan Manusia Kliping

in Esai by
jakarta.go.id

Genap seabad Hans Bague (H.B.) Jassin mangkat melanjutkan rentang nyawa berikutnya. Ia wafat meninggalkan bejibun karya yang sesekali dikenang melalui pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Meskipun generasi muda yang lahir pada 80-an ke atas acap kali sayup-sayup mendengar dan menghafal namanya, kiprahnya dalam jagat kesusastraan Indonesia tak berkurang. Sejarah mencatat, putra kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917 itu diberi predikat “Paus Sastra” karena ketelatenannya mengumpulkan pelbagai karya sastra anak bangsa yang masih berusia jagung.

Jassin pernah mengakui di depan publik bahwa proses kreatifnya dipengaruhi oleh kedua orang tuanya sejak dini. Bague Mantu Jassin, ayah H.B. Jassin, memiliki watak yang keras dan disiplin sehingga lingkup pergaulannya dibatasi hanya seputar selasar rumah. Tindakan itu membuatnya tumbuh sebagai anak yang introver, tak berani mengemukakan pendapat secara bebas, dan digelayuti perasaan serba salah. Karena itu, berdampak pada perkembangan psikologi Jassin beberapa tahun kemudian: kerap meletup-letup tanda menyeruak daya kreativitasnya dalam menulis.

Pola didikan Mantu membuatnya layu tatkala berkesempatan mengemukakan pendapatnya di depan umum. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kelihaiannya dalam keterampilan menulis. Ia tumbuh sebagai anak gagap verbal tapi tangkas di atas pena. Realitas demikian niscaya dipengaruhi gaya pendidikan informal dalam keluarga, terutama berkat tangan dingin ayah Jassin.

Sementara itu, Habiba Jau, ibu Jassin, memiliki perlakuan hangat kepadanya. Ini berbeda 90 derajat sebagaimana pola asuhan ayah Jassin. Bila ayahnya kerap naik pitam, ibu Jassin justru meredam kemarahan itu melalui pendekatan kultural-personal. Kelembutan sang ibu membuat Jassin betah di rumah. Ia hampir absen melempar kemurkaan kepada Jassin karena ibunya menyadari betapa kenakalan anak-anak merupakan hal wajar dan seyogianya disikapi dengan tenggang rasa. Oleh sebab itu, H.B. Jassin pada periode anak hingga remaja berada di dua dunia yang saling berkontradiksi, tetapi kondisi itu menempanya menjadi manusia yang tahan banting.

Berdaulat Penuh

Pembeda Jassin dan generasi lain yang lahir sebelum revolusi fisik tahun 1945 adalah ketegasan sikap dalam menghadapi dua persoalan yang ambivalen. Ia tak memosisikan diri pada pingpong benar atau salah dalam konteks polemik di antara para sastrawan dan budayawan. Jassin acap berpikiran dingin dan mengambil jarak terhadap masalah. Posisi ini tak mudah karena membutuhkan kedalaman berpikir dan objektivitas dalam bersikap. Apalagi, di usianya yang relatif muda, tuntutan keadaan sering kali menjeratnya pada sikap emosional tanpa dasar. Namun, ia memilih berada di tengah demi menjaga independensi.

Tiga tahun sebelum H.B. Jassin tamat di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, ia memberikan pidato simposium dalam rangka Dies Natalis di fakultas yang sama pada 5 Desember 1954. Kendatipun usianya sangat muda dan tergolong masih berstatus mahasiswa, Jassin mendapatkan kepercayaan besar sebagai individu yang mampu mengurai benang-benang kusut perihal perdebatan mengenai kesusastraan Indonesia. Dalam pidato berjudul Kesusastraan Indonesia Modern Tak Ada Krisis Jassin menengahi polemik antara Soedjatmoko dan Boejoeng Saleh (B.S.).

Sebelum menyampaikan pidato, H.B. Jassin sempat menolak permintaan panitia karena pelbagai prasyarat sebagai pembicara di depan umum tak dimilikinya. Respons demikian sebetulnya bentuk kerendahan hati karena menurut pengakuannya ia tak memiliki “kecekatan bicara, kecakapan berpikir, kecepatan merumuskan, daya reproduksi, daya reaktif terhadap ucapan dan pendapat yang berlainan dari pendapat sendiri.”[1]

Di depan para mahasiswa sastra, Jassin memulai argumentasinya secara eksplisit dan tak mengulang pernyataan masing-masing perspektif yang berpolemik. Pengulangan itu, menurut Jassin, hanya akan memperkeruh keadaan dan menumpulkan rumusan baru yang menjembatani dua dikotomi. Karenanya, ia mendedah terlebih dahulu duduk perkara yang semula didiskusikan khalayak dalam forum interaktif dan tertulis. Jassin menyikapi problem itu seperti cara pandang yang berlainan; satu melihat dari timur dan lainnya memandang dari barat, utara, dan selatan. Objeknya tak berubah, sedangkan sudut pandang sudah barang tentu berbeda.

Kedewasaan Jassin dalam memandang perseturuan di antara pengarang membuatnya diakui sebagai pemerhati sastra yang netral. Ia seperti apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, yakni “adil sejak dalam pikiran” karena keluwesannya dalam mencermati masalah. Jassin tak bergegas mengambil kesimpulan tanpa dasar. Ia melihat kausalitas masalah secara sistemis sehingga memahami alasan di balik seseorang berpendapat, terlebih premis-premis yang diajukan itu berkelindan dengan konstruksi berpikir subjek yang niscaya heterogen.

Walaupun Jassin memaklumi pendapat orang lain, baik dangkal maupun kritis, ia tak lantas bungkam dan menyikapinya secara remeh, tetapi malah mengkritisi dua kubu yang berseberangan. Sisi pertama diwakili oleh Soedjatmoko dan Sutan Takdir Alisjahbana (S.T.A.) yang mensinyalir kemacetan suatu karya sastra karena “memperdengarkan suara yang pesimistis dan puisi mereka makin lama makin kosong dan kabur.”[2] Menurut Takdir, hulu persoalan itu mengerucut pada kolotnya kaum tua yang menghendaki glorifikasi masa lampau dan kemacetan berpikir kaum muda yang menghamba pada Barat (Eropa dan Amerika).

Dua poin penyebab kemandekan kualitas karya sastra itu menghilangkan identitas sejati yang diharapkan Soedjatmoko dan S.T.A. mampu memperkaya wacana kebudayaan Indonesia. Akan tetapi, pihak oposisi berpendapat lain. B.S. menegaskan bahwa krisis itu tak ada. Ia mengajukan fenomena kuantiatif terbitnya Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer), Jalan Tak Ada Ujung (Idrus), dan roman-roman lain yang belum diterbitkan sebagai bentuk kemajuan pesat kesusastraan Indonesia pascakemerdekaan.

Menguatkan B.S., Nugroho Notosusanto mengkomparasikan produksi karya sastra antara periode 1945-1950 dan 1950-1954, baik yang dibukukan maupun dimajalahkan. Pokok argumen Nugroho cukup sederhana. Pertama, adanya krisis karya sastra berpijak pada kekecewaan segelintir tokoh tatkala melihat realitas di lapangan tak sesuai dengan harapan sebelum revolusi fisik. Semula mereka berekspektasi melejitnya kualitas dan kuantitas karya sastra usai deklarasi kemerdekaan, namun kenyataannya berbanding terbalik sehingga sudah barang tentu dirundung kekecewaan. Kedua, menurut Nugroho, mayoritas pengkritik terlalu mengagungkan masa silam karena pada masa itu mereka berada dan menikmati di puncak kejayaan sebagai pengarang atau penikmat karya sastra.

Seperti ungkapan klasik lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya; H.B. Jassin melihat pergulatan opini itu sebagai wilayah subjektif lain yang cenderung saling menyalahkan dan tak mau keluar dari tempurung egoisme masing-masing. Seperti halnya justifikasi S.T.A. ihwal degradasi nilai puisi, Jassin menjernihkan kesimpulan sepihak itu dengan kewaskitaan berpikir: perbedaan ukuran apresiasi sebuah karya sastra berbeda antara sebelum dan sesudah kemerdekaan. Jassin menengahinya secara asertif bahwa zaman telah mengalami keberlangsungan perubahan yang dinamis. Karena itu, diperlukan fleksibilitas sudut pandang, jarak pandang, dan resolusi pandang.

Kedaulatan karya sastra, sebagaimana diakui Jassin, terus berjalan dinamis dengan atau absennya polemik, sebab ia akan berdenyut selama kehidupan itu berlangsung.

Pasang Badan

H.B. Jassin dan sastra adalah dua dimensi yang tak terpisahkan. Sejak ia menjatuhkan hidup untuk mendedah karya sastra sebagai bukan sekadar profesi, melainkan juga “anak rohani”[3] yang diapresiasi dan dikritik, Jassin secara implisit membangun kesadaran personalitas. Term ini perlu dibedakan dengan istilah identitas yang bertalian dengan konstruksi imajiner eksternal yang membutuhkan legitimasi publik. Sedangkan personalitas, sebagaimana perspektif epistemologi, mengaitkan individu dengan substansi derivatif—dikaruniai langsung oleh Tuhan, bahkan ditetapkan untuk senantiasa bergerumul mengenai dunia sastra.

Tanpa diikuti istilah sastra atau diberi predikat sebagai kritikus, nama Jassin tetap mengandung laku seorang kritikus dan penggemar kesusastraan Indonesia (dan dunia), karena kehidupannya merepresentasikan kesusastraan itu sendiri. Oleh karenanya, tatkala terjadi huru-hara ihwal plagiasi yang dilakukan HAMKA dan laporan itu ditulis Abdullah S.P. pada 1962 di koran terkemuka Bintang Timur, H.B. Jassin berani pasang badan. Novel HAMKA berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang diterbitkan pertama kali tahun 1939 dan mengalami beberapa cetak ulang selama tiga dekade setelahnya itu diduga menjiplak novel Al Majdulin (Magdalena) karya Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi.[4]

Polemik antarkubu sastrawan dan seniman yang diwakili oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan Manifest Kebudayaan (Manikebu) mengemuka. Adu argumen melalui mimbar terbuka memanas. Penggugat, Abdullah S.P., mengajukan hasil penelitian melalui metode perbandingan idea-script dan idea-sketch. Ia menyimpulkan dua novel klasik itu memiliki kesamaan. Namun, Jassin menampik pandangan itu. Ia mengajukan alasan berbeda kenapa HAMKA tak mencuri karya sebagaimana yang dituduhkan.

Jassin mengakui ada kemiripan unsur intrinsik, namun HAMKA mengonstruksinya secara autentik.[5] Ia tak serta-merta menjiplak karya Mustafa karena HAMKA mengontekstualisasikan isi novel berdasarkan pengalaman empirisnya. Di balik pernyataan Jassin demikian tersirat dukungan moral untuk HAMKA yang telah menyibak tradisi Minangkabau di dalam novelnya. Karena itu, menurut Jassin, prasyarat plagiasi yang dituding Abdullah tertolak secara rasional jika melihat dari teori sastra perbandingan. Abdullah, menurut Jassin, terlalu gegabah menjatuhkan dugaan tak bertanggung jawab.

Keberanian Jassin di hadapan publik, terutama pembaca karya sastra, dalam menyuarakan opini menurut kebenaran versinya menuai gayung bersambut, meskipun tak hanya kelompok pro, tetapi juga kontra. Kendati demikian, reputasi Jassin usai mengutarakan gagasan itu tak lantas selesai dan mendapatkan sanjungan publik, malah sebaliknya: membuka domino masalah lain yang berujung jeruji besi pada sepuluh tahun berikutnya.

Nasib baik tak selalu berpihak kepada Jassin. Mencintai sastra bukan saja mendapatkan kenikmatan estetikanya, melainkan juga risiko yuridis. Pada 28 Oktober 1970 Jassin dipenjara atas hukuman penistaan agama selama satu tahun dengan dua tahun percobaan. Dua tahun sebelumnya, pada Agustus 1968, ia meloloskan cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin (nama samaran) di Majalah Sastra. Keputusan itu ternyata membawa malapetaka. Walaupun sepanjang tuntutan tak berfokus kepada konten cerpen, tetapi H.B. Jassin sebagai penyeleksi di belakang dapur.

Cibiran yang dialamatkan kepada Jassin ditanggapinya secara elegan. Ia berpendirian bahwa “cerita pendek Langit Makin Mendung yang adalah hasil imajinasi, mempunyai dunia lain dan logika lain dari karya agama dan karena itu tidak bisa diukur dengan akidah-akidah agama”[6] sehingga seharusnya disikapi berdasarkan perspektif sastra, bukan dari kacamata hukum yang kaku dan baku—apalagi ukuran agama yang dogmatis. Akan tetapi, Jassin tak hanya berdialog kepada masyarakat sastra yang menerima dunia sastra sebagai ruang otonom, tetapi juga masyarakat luas yang beraneka ragam latar pengetahuannya. Jassin kalah di meja hijau, namun ia menang melawan kepongahan dan kesempitan berpikir diri sendiri.

Pada momen kelam itu Jassin tak sendiri. Ali Audah, Taufiq Ismail, HAMKA, Wiratmo Soekito, dan Bur Rasuanto membela Jassin di depan pengadilan dan melalui publikasi tulisan di beberapa media nasional. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka bukan mendukung Ki Panji Kusmin, melainkan H.B. Jassin. Mereka menyikapi cerpen itu sebagai produk yang jauh dari nilai sastra karena menghadirkan istilah eksplisit yang ambigu di satu sisi dan nama samaran yang menandakan keculasan di sisi lain. Walaupun demikian, identitas asli di belakang nama Ki Panji Kusmin tetap menjadi rahasia Jassin sampai ia wafat pada 11 Maret 2000.

Titik Religiositas

Bangunan spiritual H.B. Jassin terekspresikan melalui karya fenomenalnya, yakni interpretasi puitis berjudul Al-Qur’an Bacaan Mulia. Ia mengonstruksi pemahaman literer Al-Qur’an secara langsung sehingga melahirkan karya puisi yang berbait-bait berdasarkan kitab suci umat Islam. Tentu eksperimen berani Jassin itu menuai perdebatan di antara ulama. Hujan kritikan tertuju kepada Jassin selama buku tersebut diedarkan. Cibiran seputar tak memiliki kapasitas sebagai mufasir tepercaya karena minim pengetahuan bahasa Arab memenuhi wacana komentar di media massa nasional kala itu. Jassin menerima kritikan itu dengan lapang dada sebagaimana sebelumnya.

Publik terperanjat tatkala buah pikiran itu resmi didistribusikan di seluruh agen buku di Jawa dan beberapa kota besar lain. Mulanya jamak diketahui bahwa Jassin bukan seorang ahli agama atau sastrawan yang mengulas tema-tema Islam. Oleh sebab itu, lazim bila publik tercengang karya kudus itu lahir di tangan Jassin yang terkenal sebagai kritikus dan dokumentator sastra Indonesia. Pandangan ini menandakan keraguan segelintir masyarakat terhadap kemampuan Jassin sebagai penafsir al-Qur’an, terlebih melakukan keberanian ijtihad mempuisikan al-Qur’an versi Jassin yang niscaya sarat subjektivitas.

Krisis kepercayaan masyarakat terhadap posisi Jassin menyiratkan dikotomi yang kudus dan yang profan. Keduanya dianggap berseberangan dan tak mewakili Jassin sebagai individu yang berada di tengah posisi itu. Khalayak pada masa itu—barangkali berlanjut hingga sekarang—masih teperdaya oleh otoritas formal yang mempartisi kemampuan seseorang berdasarkan identitas. Karenanya, Jassin harus diposisikan sebagai seseorang yang berpaut dengan jagat sastra dan wajib dilepaskan dari sesuatu yang bukan sastra seperti dimensi agama.

Postulat di atas bisa dibuktikan secara ilmiah, khususnya untuk masyarakat akademik, namun pengecualian bagi Jassin karena ia tak tersekat oleh koridor ilmu. Jassin adalah anomali di kerangka keilmuan objektif, sebab ia manusia multidisiplin yang bebas keluar-masuk bangunan faktual dan fiksional. Bukti ini bisa diteroka lebih lanjut melalui substansi kritik sastranya yang enggan terpaku oleh teori baku. Ia lebih memilih dorongan intuitif tatkala hendak menganalisis sebuah karya sastra, baik cerpen, prosa, drama, maupun novel.

Latar belakang karya Al-Qur’an Bacaan Mulia berpaut erat dengan pergolakan asmara Jassin dengan Arsiti. Istri kedua Jassin itu wafat pada tahun 1962. Kenyataan demikian harus diterima Jassin, meskipun sangat terpukul atas kepergian orang yang dicintainya itu. Ia merasa teralienasi oleh keadaan yang tak berpihak kepadanya. Kesunyian dan kemurungan melanda Jassin hingga pada suatu momen tertentu ia belajar agama Islam lebih giat dan menikah lagi dengan Yuliko Willem. Jika sebelumnya ia hanya membaca buku konvensional, pada titik guncangan itu Jassin lebih rajin membaca al-Qur’an.

Kesadaran transendental itu kemudian turut melatarbelakangi karya al-Qur’an Bacaan Mulia. Walaupun ia bukan ahli agama, apalagi penafsir tepercaya, setidaknya buah pena tersebut merupakan salah satu perwujudan kreatif Jassin yang tak instan karena dimulai beberapa tahun sebelumnya dengan proses yang intensif dan kredibel. HAMKA, sebagai salah seorang ulama terkemuka, mengakui karya Jassin yang bisa dipertanggungjawabkan dan memperkarya khazanah literatur Islam yang langka di Indonesia dan dunia. Meskipun demikian, sanjungan dari orang nomor satu di kalangan Majelis Ulama Indonesia (M.U.I.) itu tak serta-merta menyurutkan krisis kepercayaan terhadap Jassin di mata masyarakat. Menurut sejarah, buku itu tetap ditarik dari peredaran.

Dokumentator Langka

Tradisi mengkliping lahir seiring dengan revolusi mesin cetak yang diinisiasi oleh Johannes Gutenberg di Jerman abad ke-15.[7] Pelbagai ilmu pengetahuan yang semula ditulis manual berubah drastis: diketik, dibukukan, didistribusikan, bahkan diarsipkan sebagai bagian dari pengkudusan hasil intelektual umat manusia. Fenomena demikian berlangsung berabad-abad hingga semangatnya diteruskan oleh H.B. Jassin. Ia suka rela melakukan kerja literasi, baik pengguntingan data, pengatalogan informasi, maupun perawatan dokumentasi agar sistematis dan bertahan sepanjang tahun.

Posisi Jassin sebagai dokumentator menguntungkan pelbagai pihak. Seniman, sastrawan, dan ilmuwan cenderung menyerahkan naskah buah penanya kepada Jassin karena ia dianggap mampu merawatnya dengan baik. Pemberian wewenang itu diterima Jassin sebagai bentuk tanggung jawab moral yang tak mudah. Ia harus menjaganya, meski membutuhkan modal yang besar. Kendati demikian, iktikad luhurnya terhadap penyimpanan ilmu pengetahuan tak luruh di tengah himpitan ekonomi yang semula menghimpit Jassin.

Di awal kegemaran mengumpulkan majalah, makalah, koran, dan naskah buku, Jassin acap kali mengeluarkan rupiah hasil keringatnya sendiri. Bentuk totalitas tersebut mendapat perhatian serius dari Gubernur D.K.I Jakarta, Ali Sadikin. Pada periode kepengurusan Bang Ali, Pusat Dokumentasi Sastra (P.D.S.) H.B. Jassin berdiri dan pemerintah daerah turut ambil andil dalam kepengurusannya. Kebijakan itu mempermudah Jassin mengelola dokumentasi sastra, terlebih menerima kucuran dana demi menunjang keberlangsungan pengarsipan data ditanggung oleh pemerintah Jakarta.

 Ketekunan Jassin membuahkan hasil bagi generasi muda yang hendak membaca, menulis, dan meneliti jagat sastra Indonesia. P.D.S. H.B. Jassin kini ramai peneliti dan akademikus dari seluruh wilayah di Indonesia, bahkan tak luput dikunjungi cendekiawan luar negeri. Eksistensi buah intelektual Jassin berujung pada ketenaran namanya di sejarah sastra Indonesia di satu ujung dan kesuraman penerus—khususnya angkatan muda—di ujung lain. Tak ada penerus yang berkomitmen penuh seperti halnya H.B. Jassin. Realitas demikian merupakan keprihatinan zaman yang tak terelakkan.

Sepanjang sejarah dokumentasi pribadi di Indonesia, selain Jassin, setidaknya terdapat dua nama yang hasil pengumpulan informasinya bermanfaat bagi masyarakat: Pramoedya Ananta Toer dan Ragil Suwarna Pragalapati. Pertama, kiprah Pramoedya terhadap aktivitas kliping dimulai sejak pendudukan Jepang. Ia pernah satu kantor dengan Jassin di Balai Pustaka. Meskipun hasil klipingannya tak sebanyak Jassin, apalagi diberi tempat besar oleh pemerintah, Pramoedya menunjukkan betapa kegiatan dokumentasi itu membantunya menata konstruksi berpikir supaya lebih sistematis dan komprehensif.

Kedua, Ragil Suwarna Pragalapati, penulis produktif yang tumbuh bersama para penyair dan seniman Persada Studi Klub (P.S.K.) di Malioboro periode 70-an. Walaupun usianya jauh sekitar tiga dekade di bawah H.B. Jassin, ia dikenal publik sebagai dokumentator yang tekun, bahkan nyentrik bagi sebagian orang di masanya. Ia tak sekadar mengumpulkan karya sastra hasil ketikan dan tulisan manual para penyair P.S.K., tetapi juga tiket, surat pribadi, daftar hadir, dan cetakan lain sepanjang proses kreatif di Malioboro. Sebagian data tersebut juga dilakukan Jassin, meskipun tak selengkap Ragil karena ia mengumpulkan kuitansi, nota, dan daftar bon para penyair Yogyakarta tanpa terkecuali.

Bila dokumentasi Jassin disimpan di kompleks Taman Ismail Marzuki (T.I.M.) di Jakarta, penyimpanan arsip Ragil di Perpustakaan Emha Ainun Nadjib (E.A.N.) di Kadipiro, Yogyakarta. Tempat itu menjadi favorit para pemburu data masa silam yang sering kali dilupakan khalayak. Sebelum perpustakaan E.A.N. terbuka bagi umum sejak tahun 2012, Perpustakaan Gereja Kotabaru, Yogyakarta, menjadi andalan selama setengah abad.

Akan tetapi, kehadiran semua pusat dokumentasi itu tak dibarengi semangat generasi muda dalam mengoleksi ilmu pengetahuan (cetak) sebagaimana dilakukan Jassin, Pramoedya, dan Ragil. Meskipun zaman telah berubah dari teks cetak ke digital, namun kecenderungan abai terhadap penataan informasi masih terus menggejala. Karena itu, ziarah artefak pemikiran H.B. Jassin begitu signifikan, terutama bagi generasi merunduk Indonesia.

[1] Lebih lanjut lihat Jassin, H.B. 1867. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei III. Jakarta: P.T. Gunung Agung. Hal. 1.

[2] Majalah Pujangga Baru Edisi Januari XII/7 tahun 1951.

[3] Istilah ini dipopulerkan Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

[4] Novel ini hasil saduran dari judul asli Sous les Tilleus karya Alphonse Karr.

[5] Mengenai komentar unsur internal karya sastra itu lihat Kata Pengantar H.B. Jassin dalam Novel Magdalena terbitan P.T. Kirana tahun 1963.

[6] Jassin, H.B. 1983. Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia. Jakarta: Gramedia. Hal. 191.

[7] Mengenai tokoh terkemuka di Abad Pertengahan Eropa itu silakan cek karya Man, John. 2002. The Gutenberg Revolution: The Story of a Genius and an Invention that Changed the World. London: Headline Review.

Rony Kurniawan Pratama

Rony Kurniawan Pratama

Peneliti Pendidikan Literasi Yogyakarta.
Rony Kurniawan Pratama

Latest posts by Rony Kurniawan Pratama (see all)