Hal Paling Menyedihkan ialah Tidak Bisa Bersedih di Tengah Kesedihan

in Celoteh by
Hal Paling Menyedihkan ialah Tidak Bisa Bersedih di Tengah Kesedihan
pinterest.com

Pernahkah Anda merasakan betapa tidak enaknya tidak bisa menangis di tengah deraan sedih paling pilu—misal saat harus berpisah dengan seorang kawan baik? Lalu, Anda berpura-pura mengucek mata sampai merah, memejam dalam-dalam, atau memalingkan muka berseolah tak mau memperlihatkan rasa pilu, mengerutkan kening, berusaha menghadirkan memoar-memoar yang diharapkan mampu menciptakan air mata. Dan, tetap gagal!

Kata Orhan Pamuk, hal paling menyedihkan ialah tidak bisa bersedih di tengah kesedihan. Dalam pengalaman tak berulang demikian, rupanya kesedihan tidak bisa menangis sebagai kelaziman bersedih bakal terasa jauh lebih menggiriskan kenestapaan dibanding wujud kesedihan yang sebenarnya sedang menyayat di dalam dada yang berguncang-guncang.

Dalam tamsil lain, bagaimana perasaan Anda bila lisan kepalang menyerukan pekik mengusir-usir kepada orang yang amat Anda cintai untuk suatu perkara yang menggulitakan nalar dan batin, padahal sesungguhnya sangat muskil Anda melakukannya sehingga esoknya Anda menggumam betapa sungguh akan terasa lebih baik bila Anda tak pernah benar-benar bangun pagi lagi?

Ini situasi yang sama sekali tak pernah Anda impikan, tetapi terjadi juga. Alih-alih mengalami, sekadar melindap sebuah khayalan tentang hal tersebut, kegentaran dan kesedihan sontak menerkam maujud Anda. Bagaimana lagi saat tragedi itu kepalang sungguh-sungguh terjadi?

Seorang kawan mengisahkan keputusannya untuk berhenti menyalakan akun-akun sosial medianya lantaran teramat mendalamnya keprihatinan di dada dan kepala menyaksikan pertikaian-pertikaian yang lebih barbar daripada kebuasan binatang atas nama Tuhan, yang, katanya, “Tuhan sendiri niscaya sangat menyesalkan kebiadaban sosial media.”

“Tuhan bersedih, begitu, bagaimana kau tahu?” tanya saya.

“Kukira seyogianya begitu, sebab Tuhan hanyalah Dzat yang Mahabaik, dan tidaklah mungkin kebaikan bisa menerima kebiadaban.”

Ia lalu mencontohkan seliweran jubel status dan komentar yang saling maki, hujat, nista, bahkan mengafirkan, yang, katanya, “Bagaimana mungkin ada manusia yang mengambil alih Hak Prerogatif Tuhan untuk menilai baik atau buruk pada seorang manusia?”

Saya mengangguk—di hati, terlintas serentak penggalan kalimat George Orwell dalam Animal Farm, betapa sungguh munafiknya para binatang yang mulanya menyerukan keadilan dan kesetaraan sebagai pemberontakan terhadap kelaliman manusia penguasa peternakan yang kejam dan serakah itu, tetapi ujungnya terjebak pada “kehendak berkuasa” (will to power) yang penuh kelaliman dan keserakahan, sebagaimana manusia pemilik peternakan itu, yang tampaknya, saya pikir, telah menjelma risiko logis dari segala jenis apa pun yang di dalamnya bergolak berberainya nalar dan batin.

Anda barangkali bisa dengan fasih menyebut tragedi pembunuhan Utsman bin Affan sebagai titik nadir “masa sensitif” meluasnya kemelut politik di kalangan umat Islam pasca wafatnya Rasulullah Saw. Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq sampai terlibat dalam peperangan Jamal yang mengsehadapkan pasukan muslim pimpinan Abdullah bin Zubair dengan pasukan muslim pimpinan Muhammad bin Ali bin Abu Thalib. Sebuah insiden sejarah yang tak semestinya terjadi, tetapi kepalang telah terjadi, dan Anda tak kuasa menjabarkan bagaimana itu bisa terjadi—persis saat Anda ingin menangis tetapi air mata tak kunjung meruah dan Anda seketika begitu sebal pada diri sendiri.

Dengan niat luhur menegakkan syariat dan keadilan, Sayyidah Aisyah bersama pasukannya berangkat ke Basrah untuk menuntut qishash pada pelaku pembunuhan Utsman bin Affan. Di sebelahnya, sebagai khalifah, Ali bin Abi Thalib yang berkewajiban memelihara keamanan tak punya pilihan lain selain seturut mengirimkan pasukan ke Basrah bukan untuk memerangi pasukan Sayyidah Aisyah, tetapi mengendalikan keadaan.

Semua berjalan baik-baik saja di antara para pasukan muslim itu. Tetapi perang tiba-tiba meletus gara-gara ulah Abdullah bin Saba’ dari kubu pemberontak Basrah yang mendalangi pembunuhan Utsman bin Affan. Ketika orang-orang sedang terlelap, sekelompok pasukan Abdullah bin Saba’ menyerang pasukan Thalhah dan Zubair, membunuh beberapa orang di antara mereka, lalu melarikan diri di kepekatan malam. Pasukan Sayyidah Aisyah yang kaget dan panik itu menyangka pasukan Ali, lah, pelakunya. Perang pun meletus!

Perang yang berkobar dari usai Zhuhur hingga Ashar itu dimenangkan pasukan Ali bin Abi Thalib. Korban-korban pun berjatuhan dari kedua pihak. Air mata sesal terkuras dari wajah Sayyidah Aisyah dan sekaligus Ali bin Abi Thalib.

Dengan sepenuh cinta dan hormat, Ali bin Abi Thalib memulangkan dan menjaga Sayyidah Aisyah. Sayyidah Aisyah pun memberikan penghormatan yang tinggi kepada Ali bin Abi Thalib dan menyuruh banyak sahabat untuk berguru ilmu kepadanya.

Keduanya yang merupakan bagian dari kekasih Rasulullah Saw. tidaklah mungkin bermusuhan, sama sekali muhal. Demi apa pun! Tetapi, bagaimana kita memberikan penjelasan atas problematik kehidupan yang kadang tampil dengan sangat misterius, apalagi dengan hadirnya manusia-manusia penceracau macam Abdullah bin Saba’?

Kita tidak ingin, tetapi kejadian pula. Kita menampik keras melakukan sesuatu yang kita benci tetapi ia menimpa pula. Kita ingin menangis untuk melepaskan gegar kepiluan di dalam dada, tetapi ke mana kini air mata? Lalu kita bergumam untuk sekadar melenakan gemuruh sedih, bukankah kesedihan tak harus selalu tegak lurus dengan air mata sebagaimana dialami manusia-manusia?

Tentu tidak. Anda bebas mendefinisikan dan mengartikulasikan kesedihan—sekalipun batin Anda resah karena tidak serupa dengan manusia-manusia lainnya; bukankah ini memang bagian dari nestapa menyalahi mainstream? Urusan hati, siapalah yang mampu mendeteksi kecuali hati yang memiliki perilaku itu sendiri?

Inilah di antara bukti tak terperi tentang selalu mendesaknya manunggaling akal dan batin pada maujud manusia, yang sudah pasti ketika salah satunya dinegasi—umumnya akallah yang didigdayakan—terlecutlah situasi problematis: separuh manusia, separuh entah; separuh saya, separuh orang lain; separuh bahagia, separuh menderita.

Bagaimana rasanya menempuhi hidup yang setengahnya adalah saya dan setengah lainnya adalah entah? Bagaimana rasanya menepuk dada girang yang menabalkan kebahagiaan tetapi di detik yang sama batin kroak akibat mengerami kedustaan-kedustaan yang menabalkan kegelisahan?

Sesungguhnya kita takkan bisa mencecap anggur-anggur kebahagiaan bersama racun-racun kegelisahan; bisa tertawa di atas kesedihan—sebab batin dan akal selalu menghasrati kepaduan.

Saya membayangkan, yang bisa bertampil seolah benar-benar demikian bahagianya niscaya para binatang di hadapan buruan-buruannya. Tetapi, kata George Orwell lagi, binatang pun sungguh tidaklah lebih binatang dibanding yang selainnya, termasuk manusia.

Saya merasa sedih—pun seyogianya Anda.

Jogja, 24 Maret 2016

Edi AH Iyubenu, M.Ag.

Edi AH Iyubenu, M.Ag.

staf Lajnah Ta’lif wa Nasyr (LTN) PW-NU DIY dan Mahasiswa Doktoral UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Edi AH Iyubenu, M.Ag.