Hantu Wanita dan Cinta Lelaki yang Keras Kepala

in Cerita Pendek by
pinterest.com

Lelaki setengah baya itu berdiri gelisah di teras rumahnya. Dia sedang menunggu kedatangan seseorang. Di tangannya tergenggam segelas kopi dan kopi itu dia minum sedikit demi sedikit. Biasanya, sebelum kopi itu habis, seseorang yang dia tunggu itu pasti sudah datang. Namun, malam ini, meskipun kopi di gelasnya telah tandas, seseorang yang dia tunggu itu tak kunjung datang.

“Kenapa lama sekali, ya? Tak biasanya dia datang terlambat seperti ini,” bisiknya resah.

Di kejauhan terdengar salak anjing dan koak pungguk yang tenggelam di antara bunyi-bunyi serangga malam. Lelaki itu duduk bersandar di kursi rotan. Mata cekungnya memandang tak berkedip ke arah pot-pot geranien yang bergantungan di bawah atap. Beberapa puluh menit berlalu, tak ada hal khusus yang terjadi. Tetapi beberapa lama kemudian bunga-bunga bersulur panjang itu bergerak, menggeliat, lalu mengeluarkan asap tipis berbau wangi.

Lelaki dengan tubuh kurus kering itu berdiri. Wajahnya memancarkan kegembiraan. “Akhirnya kau datang,” ucapnya riang.

Di hadapannya telah berdiri sesosok wanita langsing yang betul-betul cantik, dengan tulang pipi tinggi, dan rambut hitam berkilau sampai ke punggung. Nyaris tidak ada cela pada kecantikan wanita itu, kecuali wajahnya yang dingin pucat, sepasang kaki yang tak menapak bumi, dan gaun putih lusuh yang bersinar redup. Penampilan wanita itu, serta kedatangannya yang begitu tiba-tiba, seakan menegaskan bahwa dia jelas bukan manusia, melainkan sesosok hantu wanita.

“Bisa tidak jika kau tak lagi mengusikku?” Pertanyaan itu terdengar ketus.

“Aku tak bermaksud begitu,” jawab lelaki kurus kering lesu. Hantu wanita bergaun putih itu membalikkan badan dengan muka masam.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?”

“Seperti ini?”

“Iya, sinting seperti ini,” tegas hantu wanita. Dia berbalik kembali menghadap lelaki itu. “Sudah saatnya kau mengambil keputusan. Aku tak bisa terus-terusan menemuimu.”

“Tapi, kita telah berjanji sehidup-semati. Lagi pula, hanya kau satu-satunya wanita yang kumiliki,” desah lelaki kurus kering sedih.

“Pikirkanlah lagi. Aku bukan satu-satunya wanita di dunia ini,” kata hantu wanita jengkel. Kemudian nada suaranya menjadi lebih tinggi. “Kau tak boleh membiarkan dirimu terikat pada orang mati! Carilah wanita lain dan hiduplah bahagia bersamanya!”

Lelaki kurus kering menggeleng.

“Lupakan aku. Apa pun jalan pikiranmu, kenyataannya sekarang kita sudah berbeda. Jadi, kalau kau masih saja tidak bisa melakukannya, potong saja kepalamu yang bodoh itu!”

Hantu wanita itu melayang ke dalam rumah. Lelaki kurus kering mengikutinya. Di ruang dapur yang tak seberapa luas, hantu wanita menyiapkan sebongkah roti serta sepotong sosis. “Makanlah,” katanya pendek. “Kau pasti lapar.”

“Kau sendiri tidak lapar?” tanya lelaki kurus kering dengan tampang bodoh. “Sudah bertahun-tahun kau tidak makan.”

“Orang mati tidak makan,” jawab hantu wanita datar. Dia lantas duduk di kursi sambil meletakkan siku di atas meja. Rambutnya yang hitam terurai menutupi sebagian wajahnya yang putih pucat.

“Aku tak melihat sayur-sayuran segar di kulkas. Kapan terakhir kali kau belanja?”

“Mungkin seminggu atau sebulan yang lalu,” jawab lelaki kurus kering sekenanya.

Hantu wanita melayang ke arah jendela dan menyibak gordennya sedikit. “Hidupmu berantakan sekali sejak aku mati,” komentarnya sedih.

“Begitulah,” ujar lelaki kurus kering pelan. Diambilnya roti di atas meja, lalu mengunyahnya. Pada kunyahan pertama, semua biasa saja, tapi pada kunyahan kedua, dia tersedak. Wajahnya sontak berubah pias saat melihat segenggam ulat yang baru saja dimuntahkannya.

“Lihat itu,” ujar hantu wanita sambil menunjuk gumpalan ulat yang bergerak-gerak di atas meja. “Semua bahan makananmu sudah berulat. Kapan kau akan sadar? Kau butuh wanita untuk menata hidupmu kembali.”

Suara lelaki kurus kering tercekat. Dia meludah beberapa kali, lalu mengelap mulutnya dengan ujung kemeja. “Aku tidak bisa … sungguh …,” katanya tersendat-sendat.

“Keras kepala!” maki hantu wanita gusar. Suaranya terdengar seperti gema yang memantul dari lorong yang sangat dalam. “Harus berapa kali aku menjelaskannya? Aku ini sudah mati. Kau dengar? Aku-sudah-mati!”

Dalam beberapa detik, penampilan hantu wanita itu berubah mengerikan. Kulit wajahnya retak-retak mirip tembikar pecah. Tercium bau sangit memualkan. Lelaki kurus kering meringkuk ketakutan. Dia melihat tubuh hantu wanita itu berdenyar-denyar seperti layar televisi rusak. Pemandangan itu membuatnya menutup mata.

“Buka matamu biar kausadar! Aku sudah muak dengan segala sentimentalmu ini!” hardik hantu wanita.

“Jangan salahkan aku. Aku tidak bisa menghilangkannya. Aku … Aku ….” Lelaki kurus kering merengek-rengek seperti bocah. Kepalanya menggeleng-geleng, sedangkan tangannya menutup wajah.

Hantu wanita mendengus. “Sudahlah,” katanya jengkel. Wujudnya kembali seperti semula; cantik dan lembut. Dengan  gerakan ringan, dia melayang kembali ke sisi meja makan dan  berdiri gontai. Dagunya agak terangkat sedikit, sementara sebelah tangannya bersitumpu ke atas meja.

“Bagaimana, ya, agar semua ini lebih mudah? Ayo, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan?”

Lelaki kurus kering memberanikan diri membuka mata. Raut ketakutannya memudar, lalu perlahan-lahan kembali seperti semula. Seakan memang tak mampu lagi bersuara, lelaki itu diam sebentar, menatap wajah hantu wanita itu takut-takut. “Kenapa kau tidak mengajakku ikut bersamamu?” tanyanya kemudian.

“Aku tidak bisa,” jawab hantu wanita murung. Dia melayang ke langit-langit, dekat lampu neon, bergantungan di sana dengan sebelah tangan. “Aku cuma hantu yang terjebak di rumpun geranien. Lagi pula,” lanjutnya, “aku bukan malaikat maut….”

Lelaki kurus kering menatap hantu wanita itu dengan kecewa. Satu detik kemudian dia menunduk sambil mencengkeram kepala. Hantu wanita melayang turun, lalu berdiri di belakangnya.

“Ada apa?”

“Kepalaku, rasanya seperti mau pecah.”

“Kau sendiri yang membuat persoalan ini menjadi rumit. Padahal kau hanya perlu merelakanku, lalu melanjutkan hidup seperti biasa.”

“Tidak, tidak!” seru lelaki kurus kering yang tampaknya semakin bingung. “Yang kubutuhkan cuma aspirin. Bukan yang lain.”

“Tunggulah di sini, aku akan mengambilnya,” jawab hantu wanita. Dia melayang ke rak kayu di dekat kulkas. Tak lama, dia sudah menyodorkan segelas air, dua butir aspirin, dan sebutir pil kuning kecil yang mirip pil penenang.

“Sudah malam,” kata lelaki kurus kering sambil mengambil gelas dan butiran pil yang disodorkan kepadanya. “Kau akan menemaniku sampai pagi?”

“Sayangnya tidak.” Hantu wanita menggeleng. “Sebenarnya … aku berat sekali menyampaikan hal ini, tapi apa boleh buat, kupikir kau memang harus mendengarnya.”

“Apa itu?”

Hantu wanita melayang ke atas kulkas dan duduk menyilang kaki. Dia termenung, memandangi lelaki itu menenggak pil. “Ini kunjungan terakhirku,” katanya pelan.

“Oh, yang benar saja!” Lelaki kurus kering tiba-tiba berdiri. “Ini tidak boleh terjadi. Kau sudah pernah meninggalkanku sekali, dan sekarang kau berniat meninggalkanku lagi, begitu? Jahat sekali kau padaku!”

Ditendangnya meja makan, kemudian dirobohkannya rak piring hingga seluruh benda berbahan gelas di dalamnya pecah dan mengeluarkan suara centang berentang yang gaduh. Setelah puas melampiaskan kemarahannya, lelaki kurus kering meringkuk di sudut dapur. Dia menangis. Di atas kulkas, hantu wanita memandanginya dengan sedih.

“Tolong jangan pergi,” mohon lelaki kurus kering di sela sedu sedannya. “Apakah aku membuatmu kecewa?”

Meskipun sudah memejamkan mata untuk menahan air mata, hantu wanita itu akhirnya terisak juga. “Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan hal ini padamu atau apakah nantinya kau akan mengerti,” katanya ragu-ragu. “Tapi aku memang harus pergi, waktuku tak banyak lagi ….”

“Ah, tidak, tidak,” jawab lelaki kurus kering cepat-cepat. “Kau hanya ingin menyakitiku, kan? Kau hanya ingin membalas semua perbuatanku di masa lalu, kan?”

Itu merupakan kesempatan bagi hantu wanita untuk menjelaskan semuanya. “Sama sekali bukan begitu,” mulainya. “Aku telah memaafkan segala kesalahanmu. Pengkhianatanmu. Semuanya tanpa tersisa.”

Selanjutnya hantu wanita itu menjelaskan bagaimana kematian telah menjadi penghalang bagi mereka untuk hidup bersama. Dengan waswas, seperti sedang membangun menara pasir, dia mengungkapkan semua yang telah terjadi selama mereka hidup bersama. Episode-episode kecil yang mereka lewati dalam suka duka, adalah bukti yang tak dapat disangkal bahwa dia sangat mencintai lelaki itu.

Lelaki kurus kering menyimak tanpa komentar, kemudian lama dia termenung sampai akhirnya berkata, “Aku mengerti … maksudku, samar-samar aku ingat bahwa dirimu memang sudah lama mati.” Dia menarik napas panjang, lalu mengaku, “Aku… aku sebenarnya takut hidup tanpamu.”

Hantu wanita melayang mendekati lelaki kurus kering, dia melingkarkan lengan di lehernya, lalu memeluknya. “Jangan khawatir, kita pasti bisa bersatu kembali, Sayang.”

“Di mana?”

“Di surga.”

Lelaki kurus kering—yang pikirannya sudah gelap itu—tertawa. “Jangan begitu yakin,” katanya skeptis. “Jika aku harus menyusulmu, aku tak tahu jalan mana yang harus kutempuh untuk menemuimu di surga itu.”

Hantu wanita mundur menjauh, melayang kembali ke langit-langit. “Maksudmu?”

Lelaki kurus kering melepas napas panjang, lalu mengamati hantu wanita itu dari bawah. “Jika kau berkata bahwa kita pasti bersatu, rasanya itu tidak mungkin. Kau mati dan aku hidup. Orang mati tidak mungkin hidup kembali.”

“Kalau kau mencintaiku, kau tak boleh berpikiran seperti itu,” hantu wanita berkata serius.

“Tapi, kita bisa apa jika kenyataannya memang seperti itu?”

Hantu wanita diam saja.

“Tidak ada cara lain,” kata lelaki kurus kering. Dia menatap mata hantu wanita itu lekat-lekat. “Akan kulakukan… ya, ya, akan aku lakukan.”

“Apakah itu artinya ….”

“Artinya kita akan bersama lagi,” potong lelaki kurus kering lalu tertawa gembira.

Lelaki setengah baya itu lalu berjalan menuju teras. Di tangan kanannya tergenggam seutas tali, di tangan kiri sebuah bangku. Pot geranien berayun dan mengeluarkan suara keriut yang mistis. Lelaki itu mengalungkan tali ke lehernya. Sesudah bangku terguling, tubuhnya tergantung. Kakinya menyentak-nyentak sesaat, kemudian diam.

Di kejauhan, terdengar salak anjing dan koak pungguk  yang tenggelam di antara bunyi-bunyi serangga malam. Hantu wanita itu tegak di ambang pintu. Mata hitamnya memandang tak berkedip ke arah pot-pot geranien yang bergantungan di bawah atap. Beberapa puluh menit berlalu, tak ada hal khusus yang terjadi. Tetapi, beberapa lama kemudian bunga-bunga bersulur panjang itu bergerak, menggeliat, lalu mengeluarkan asap tipis berbau wangi. (*)

Adam Yudhistira

Adam Yudhistira

penulis kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan. Beberapa karya cerpen dan puisinya telah dimuat di media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Media Indonesia, Majalah GADIS, Tabloid Cempaka, Lampung Post, Sumatera Ekspress, Berita Kota Kendari, Besemah Independent, dan lain-lain. Ia penyuka musik underground dan peminum kopi yang taat.
Adam Yudhistira

Latest posts by Adam Yudhistira (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.