Harga Kebahagiaan

in Esai by
Harga Kebahagiaan - Esai BASABASI.CO oleh M. Faizi
Sumber gambar: tumblr.com

Baik kaya atau miskin, bahkan beragama atau tidak, kamu pasti ingin hidup bahagia. Saya yakin begitu. Jangankan makhluk yang berakal, pohon dan batu pun ingin bahagia, yaitu dengan tidak ditebang sembarang tanpa pengganti dan batu tidak ingin ditambang secara gila seperti sekarang yang sedang terjadi. Siapa pun ingin bahagia karena bahagia adalah “tujuan” semua orang. Sebab itu, jika ada orang yang semestinya bahagia karena telah dianugerahi kemampuan untuk memiliki semua keinginan tapi mereka tidak bahagia, mungkin karena ia asyik dengan “cara menuju kebahagiaan” dan bukan kebahagiaan itu sendiri.

Indeks kebahagiaan dapat dilihat dari banyak item. Ada negara-negara tertentu yang dianggap sebagai representasi tempat yang cocok untuk ditinggali. Sebutlah Swiss atau Norwegia atau Oman, misalnya. Konon, negara itu termasuk negara dengan warga paling bahagia. Untuk mengumumkan pernyataan ini, ada indeks-indeks khusus yang digunakan.

Akan tetapi, secara mudah bisa dikatakan; orang jadi bahagia ketika semua keinginannya terpenuhi. Keinginan ini termasuk keamanan, privasi, dan terutama fasilitas untuk hidup enak sebagai manusia. Dapat melampiaskan syahwat fisik dan syahwat kuliner bisa bahagia, tapi beda takarannya. Bagi penganut spiritulisme, justru ketika mampu menahan diri dari godaan syahwat itulah puncak kebahagiaan diraih. Dengan demikian, patok dan takaran kebahagiaan sudah berbeda pandangan, bukan? Adakah patok umumnya? Simbiosis. Kebahagiaan ada dalam bentuk syukur dan sabar.

Simbiosis populer dalam biologi. Ia adalah ciri utama makhluk hidup. Kata kuncinya adalah interaksi, kesalingan: saling menguntungkan. Simbiosis kemudian berkembang dan didapuk sebagai istilah populer dalam kehidupan manusia, terutama simbiosis mutualisme. Saya mengomentari status kamu dan kamu me-like postinganku. Contohnya seperti itu.

Saya ajukan sebuah ilustrasi. Begini; saya berkunjung ke rumah kamu dengan alasan tertentu dan kamu tidak wajib berkunjung ke rumahku. Jika selo, silakan, jika sibuk, tidak apa-apa. Jika kita punya anggapan seperti ini, maka kita sudah bahagia. Jika mewajibkan simbiosis; kalau saya ke rumah kamu maka kamu wajib main ke rumahku, kebahagiaan tidak sepenuhnya ada di dalam cara itu.

Contoh: Seseorang yang baru saya kenal memberi duit sangat banyak. Yang ia lakukan bukanlah karena saya bekerja untuknya ataupun menjadi cecunguknya. Dia memberi hanya karena ingin memberi. Mengapa harus jatuh ke tangan saya dan bukan ke tanganmu? Itu namanya rezeki dan biarlah ia menjadi rahasia yang dia ketahui sendiri. Rahasia di sana ada pada sedikit ngurus dan banyak bersyukur. Jika kamu ingin mendapatkan duit dari seseorang dan kamu merasa harus bertanggung jawab melakukan sesuatu terhadapnya, jadilah tukang: bekerja = dibayar.

Terkadang, hubungan timbal balik itu sangat kaku, diatur secara rasional sehingga kita takut menerima karena nanti diminta harus memberi. Siapa yang mengatur cara hidup seperti ini? Kapital? Saya tidak tahu, tapi beginilah aturan main yang tertulis ataupun tidak dalam keseharian kita, dalam kehidupan kita.

Contoh lagi; saya membuat kopi, bahkan kadang dengan cara menumbuk sendiri, untuk tamu yang datang. Ada kala mereka bilang, kopimu enak. Ada yang minum dan menyisakannya setengah (mungkin agar saya habiskan nanti), namun ada pula yang tidak meminumnya sama sekali karena mag dan atau karena ogah. Saya membuatkan kopi untuk mereka bukan karena mereka telah membayar Rp.4000 (untuk kopi biasa) atau 10.000 (untuk baru tumbuk) atau 70.000 untuk kopi luwak karena saya bukan penjual kopi dan ruang tamu saya bukanlah emperan warung. Saya menyuguhi seperti itu, ya, karena kebetulan saya sempat dan ada stok kopi untuk menyuguhi begitu.

“Memberi adalah kata kunci dalam kebahagiaan”; sering Anda mendengar anjuran semacam ini, kan? Kita mungkin menolak untuk menyepakatinya karena kita merasa miskin dan lebih sering menerima. Benarkah harus begitu? Kenyataannya,  menerima banyak angpau dan hibah membuat kita senang, tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan orang yang memiliki dorongan untuk memberi tanpa imbalan (harus diperkecualikan di sini; mereka yang memberi dengan imbalan, dengan iming-iming, dengan harapan kembalian). Ini jelas berbeda karena dalam “pemberian berimbal” semacam itu, ada kontrak tidak tertulis di dalamnya. Lihatlah betapa banyak pemberian di masa-masa kampanye. Mereka yang memberi dalam momen itu tidaklah sungguh-sungguh bahagia karena mereka akan lebih bahagia andaikan ada kembalian nanti di hari H pemilihan: tambahan suara.

Berdasarkan prinsip ini, maka berbuat baik (memberi) adalah sebuah tindakan an sich. Ia tidak terkait dengan simbiosis mutualisme. Pasalnya, ketika kita berbuat baik kepada si Anu dan berharap agar si Anu kelak juga akan berbuat baik kepada kita, kebahagiaan cara ini mudah menguap, mudah hilang. Kebahagiaan sejati dapat diraih hanya dengan mengerjakan kebaikan an sich pula, yaitu kebaikan hanya sebagai kebaikan.

Ketika kita berjalan dan melihat orang terjatuh dari sepeda motor atau menemukan mobil yang mogok, secara naluriah kita akan terpanggil untuk turun tangan, membantunya. Jika tidak ada respons sama sekali dari dalam hati Anda, pada saat itulah sebetulnya kita harus bertanya: “benarkah diriku masih menyimpan rasa belas dan iba?”. Dalam contoh ini, kebahagiaan diperoleh justru karena telah bisa “menjadi manusia”, saling membantu orang lain serta menyadari bahwa kita tidak bisa benar-benar mandiri tanpa adanya orang lain. Sementara itu, yang dibantu akan bahagia karena merasa ada orang lain yang memperhatikannya.

Tidak ada keuntungan sedikit pun ketika kita menolong orang bernasib malang sebagaimana contoh di atas. Mending andai pada saat kejadian ada seorang kawan yang memfotonya dan mengunggahnya ke media sosial, atau ada  wartawan lewat dan meliput. Untunglah kita, numpang terkenal. Tapi, jika tidak ada satu orang pun di sana, masihkah Anda mau menolong, memberi bantuan, meluangkan waktu yang sebetulnya dapat Anda pergunakan untuk hal lain yang lebih produktif?

Nyatanya, selain prinsip simbiosis mutualisme, kita kerap dihantui oleh rumus “efisiensi, efektivitas, dan produktivitas”. Ini pikiran maju dan baik, namun ada kalanya juga menipu (saya ulangi: ada kalanya). Demi efisiensi dan produktivitas, yang dengannya semuanya pekerjaan harus efektif, kadang kala ia menjadi dalil untuk berhemat secara ekstrem alias pelit, tidak mau memberi kecuali jika kita yakin ada imbalan kembali. Itu mengapa saya katakan, terkadang kita tertipu oleh jargon-jargon yang sangat manis itu.

Dalam Islam, dikenal term “min haisu la yahtasib”, yakni sumber rezeki, termasuk kebahagiaan, dari jalan yang tidak diduga, tidak diketahui kapan dan berapa. Ini bukanlah dasar untuk bermalas-malasan. Wajib bagi manusia untuk berusaha. Yang ini diajarkan dan ia disebut ikhtiar. Puncak ikhtiar atau usaha disebut “at-thaaqah”, yakni batas akhir usaha. Adapun kemampuan yang dibarengi dengan ketaatan disebut “istitha’”, yaitu mampu namun juga disertai ketaatan sehingga sebuah perbuatan akhirnya dilakukan.

Singkat kata, jalan rezeki itu adalah seperti yang tergambar di atas. Jika kita hanya berharap upah dari orang yang kita abdi, maka itu logika tukang. Jika kita berharap rezeki dari entah siapa tanpa kita bekerja, itu logika pengemis. Jika kita menjalankan tugas-tugas kemanusiaan sampai batas maksimal untuk siapa pun, maka kita tentu bakal mendapatkan rezeki dari jalan apa pun dan mana pun, itu pun bersyarat: iman. Tanpa iman, keyakinan macam ini tidak akan jalan. Nah, begini yang mestinya kita yakini meskipun kita ragu-ragu. Iman harus dimantapkan lebih dulu sebab iman itu selaras dengan peniadaan keraguan. Ketika seseorang telah beriman, tidak ada hasud (iri/dengki) karena iman adalah air dan dengki seumpama minyak. Iman dan dengki tak menyatu sebadan, seperti air dan minyak tak menyatu secawan.

Maka dari itu, hibah, hadiah, sedekah, zakat, adalah ragam bentuk pemenuhan kebahagiaan yang sejati. Terkhusus zakat, ia harus “dipaksa” karena kita yakin, tidak semua orang bisa legawa dan mudah jika hanya dianjurkan saja, dianjurkan memberi secara suka-suka. Sekadar contoh, adanya perintah zakat fitrah dan zakat mal (harta) menunjukkan ajaran Islam bagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan itu terkadang harus dipaksa supaya kita bahagia.

Memang ada orang yang tidak ingin bahagia? Jelas, semua orang ingin bahagia, namun terkadang mereka tidak menyadari bahwa kebahagiaan itu tidaklah gratis. Dengan cara dipaksa, mereka sebetulnya berinvestasi kebahagiaan setahap demi setahap yang pada ujungnya mereka sendiri yang bakal menikmatinya. Lalu, mengapa masih ada orang yang tidak sudi mengeluarkan zakatnya? Itulah dia yang disebut dengan “thaqah” tapi tidak “istitha”; mampu tapi enggan melakukan. Maka, dasar dari semua itu hanyalah satu, yaitu iman.

M. Faizi

M. Faizi

kiai penikmat kopi di Pesantren An-Nuqayah Sumenep, Madura.
M. Faizi

Latest posts by M. Faizi (see all)