Hujan Biru; Puisi-Puisi Agung Setya (Banjarmasin)

in Puisi by
Hujan Biru; Puisi-Puisi Agung Setya (Banjarmasin)
Varians Patetik

Kita pernah sama-sama berselancar di kelopak Dandelion. Berharap terlempar ke altar monumen kita yang megah. Ada halimun tipis aroma petrikor. Di sana, kita saksikan babad kita ditulis tergesa-gesa. Bagai sisa dosa-dosa. Sonder asa.

Tatkala kita menyalin sedap malam pada jubah ksatria, kita sama-sama hendak berbicara tanpa ingin mendahului. Seperti laku santun para Darwis ketika berdebat dengan iblis. Menjadi merah muda, pada akhirnya. Doa pagi berubah mantra.

Rasa ini mulai meruap perlahan-lahan, ke dalam lubang hitam yang termahsyur. Seperti aroma Bucung menerobos lubang hidung. Atau seperti mengoyak kulit ari bayi-bayi malaikat bersayap biru lebam. Kita tak pernah lagi: bersemoga dalam gelombang doa yang sama.

Risak rindu masih iseng mengetuk hati. Kelak, tak ada rindu menjamah dadaku lagi. Sampai, tak ada sapa terdengar di pintu rumahku lagi.

kota manis 2015

 


Hujan Biru

Semestinya aku

menggenggam tangannya sebelum diguyur hujan

sebelum terbawa genangan kenangan

ke dalam pori-pori bumi sebelum terlambat

 

Telah kukatakan dalam bahasa ibu, “bertahanlah!”

tapi hujan buru-buru menjatuhi bumi

maka tak sempat kukatakan

keterangan di kertas undangan itu

 

apa yang sama dari hujan dan warna biru?

barangkali sembilu

atau tanyakan pada bangku taman

pilukah ditinggal kupu-kupu?

 

Dan semua kenangan lunas-tuntas terlarut hujan

di pagi ini, seraya membawa oksigen

yang pernah kita hirup bersama

di sudut-sudut kota yang berserak kenangan

 

kota manis, 2015

 


Menatap Pepohonan

Apabila kau tatap batang-batang pohon di sepanjang jalan,

ingatlah tubuhku yang keras.

Seperti tabah, menolak patuh dicambuk angin.

Sebab, aku adalah putra sebatang pohon.

Sebab, pohon adalah bangsa pendiam.

Berakar makna; berbuah surga.

 

Ketika mata rindumu sulit terpejam,

ingatlah aku sebagai daunan.

Sebelum jatuhku tiba,

ingatlah segala kehijauan dan kesegaranku.

Sebab, aku ingin terbaring kering,

menjadi pupuk kehidupan:

yang menghidupi.

 

Seandainya surya menusuk-nusuk ubun-ubunmu,

ingatlah aku sebagai pohon utuh.

Peneduh segala gelisahmu; cinta-kasihmu.

Sebelum kau bangun istanamu, di atas bangkaiku.

Sebab, tak ada yang lebih membahagiakan,

bagi kami, bangsa pohon,

selain menjadi:

pepohonan sepanjang matamu memandang.

 

kota manis, 2015

 


Petang yang Matang

:Heidi

 

Dan berkerumun burung-burung ke arah timur

Dijejali rizki hari ini, sambil merayakan dengan cuitan

“Bukan dari rahim twitter, sayang!” ucap Heidi

Tapi kami begitu senang mengekor ke balik Alpen

Pegunungan yang keibuan

 

Sepotong keju yang kami lahap

Terasa bagai darah

Dingin. Persis jiwa-jiwa yang dimasak rindu

Maka, kami memuntahkan salju

Dengan puluhan papan ski yang patah

Bergelindingan menaiki Alpen: jadilah

 

Heidi menciumku dengan latar senja

Ich Lieb Di

Jemarinya menusuk dadaku

Menyentuh jantung

Dan memerasnya sampai kering

 

Hening sesaat

Lonceng mendentang

Saat itulah, ‘kan kau temukan, wajahku

 

kota manis, 2015

 


Platonis

At the touch of love everyone becomes a poet (Plato)

 

Di sana, kita akan tahu

Koran-koran memberitakan secangkir teh yang terlindas kereta

Suara kereta menguburkan jenazah cangkir teh

Di pinggir kolam yang birunya menghitam

 

Seekor katak membacakan puisi yang ditulis oleh si A

Teriring pukau aroma jazz di cafe langganan

Yang isinya: selembar cinta tercelup pada permukaan telaga

Milik siapa?

 

Tuan pemilik perusahaan koran menggigil ketakutan

Ditinggal sang Nyonya naik haji

Tak masuk akal, benar, tak masuk akal

Sebab, api ateis membakar rongga dadanya

 

Lalu ditulislah hikayat istrinya di halaman satu

Diimbuhinya dengan omong-kosong nafsu-nafsi

“Kapan ada cinta lagi?” tanya tuan pemilik koran

Kepada Ami, benih pohon karet yang dinamainya

 

Sabarlah sayang, platonis akan tiba

Membawa beberapa sarung dan kupiah

Serta sajadah

Menghadap kiblat, memanjatkan doa pendek

 

Cinta, di mana cinta

 

kota manis, 2015

Agung Setya

Agung Setya

Kelahiran Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 7 Januari 1992. Saat ini bergiat di Komunitas Menulis Karya Pena Aksara Banjarmasin. Cerpennya, “Pongo”, menjadi salah satu cerpen di pusparagam Aruh Sastra Kalsel 2014. Bisa dibaca tulisan-tulisannya di lembarkertas.tumblr.com.
Agung Setya

Latest posts by Agung Setya (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com