Ia Tidak Boleh Beranjak Besar

in Cerita Pendek by
as_the_mother_lost_her_child_by_alizadeh_art-d60k9g4
img12.deviantart.net

Saya tidak tahu sejak kapan ia tumbuh. Tahu-tahu saya terbangun dan tubuh terasa berat dan lambung mual berkepanjangan. Saya gemetar ketika diberi tahu oleh dokter keluarga kalau sebuah kecambah tengah berkembang di tubuh saya. Tentu bukan begitu cara dokter menyampaikannya, tapi itulah yang kemudian saya pahami bahwa ia mirip tumbuhan yang cepat berkembang di tempat basah; bahwa cabang dan daun-daunnya sebentar lagi muncul; bahwa berbulan-bulan kemudian barulah ia berubah dari tumbuhan menjadi seorang bayi.

***

Bayi itu lalu melepaskan daun-daunnya dan bermetamorfosis menjadi bocah yang senang menggambar di mana pun ia berada. Kalau sedang menggambar, kedua bibirnya selalu basah karena ia senang memainkan air ludah. Kadang, ia membuat balon dari air ludah itu dan saya menjerit jika kebetulan melihatnya. Saya sudah bilang kepadanya, jangan jorok, jangan bermain-main dengan ludah yang menjijikkan. Ia malah menarik diri ke dalam dunianya, sibuk memandangi kertas-kertas yang berisi pemandangan atau gambar orang atau sebuah jalan dan menganggap suara saya sekadar udara yang bergetar atau bunyi sayap serangga yang berputar-putar mengelilinginya. Ia juga sembarangan kalau duduk; kedua kaki ia selonjorkan atau mencangkung. Benar-benar serampangan—dan sedikit mengerikan. Sama sekali tidak menunjukkan kalau ia peduli dengan diri sendiri apalagi pada orang lain. Ia tidak terlihat risih. Sangat berbeda dengan saya yang dengan cermat memperhitungkan bagaimana sebaiknya duduk agar tetap menawan, agar tidak melakukan kesalahan sebagai seorang perempuan dari keluarga terhormat. Ia juga bukan anak yang rapi.  Cat air dan kertas berhamburan di lantai. Saya tidak keberatan dengan semua itu. Dengan segala kekacauan yang dibuatnya atau tangannya yang berlepotan cat air dan kadang melekat di wajah dan bajunya. Namun, kehadirannya di dunia ini yang mengganggu saya. Ia seperti sebuah penanda buruk. Ia seperti angka-angka dalam sebuah arloji yang berputar cepat dan bisa menyeret saya ke dalamnya.

Tetaplah menjadi bocah, itu yang saya ucapkan setiap hari, nyaris sebuah doa. Hal paling menakutkan bagi saya jika melihat ia tumbuh besar dan saya jadi tua. Saya tidak ingin menjadi tua. Saya cemas tiap kali umurnya bertambah dan seiring dengan itu tanda-tanda ketuaan muncul di tubuh saya; bintik hitam di lengan yang makin banyak, garis-garis halus di sudut mata, lemak di bawah dagu.

Saya tak bisa menahan waktu, tapi saya bisa membuat ia selalu menjadi bocah dengan segala kekacauan yang dibuatnya, dengan segala yang sebenarnya tidak saya sukai, tapi tidak lebih menakutkan ketimbang melihatnya perlahan-lahan mengembang bagai roti dalam pemanggangan. Maka itulah yang benar-benar saya lakukan.

***

Memasuki usia remaja, ia tetap saya beri baju anak-anak, membuat ia tampak masih berumur sembilan tahunan dan tampak canggung di antara teman-teman seusianya. Saya banyak membelikannya gaun lucu dengan pita di bagian dada atau rumbai-rumbai di pinggir bawahnya. Gaun itu memang tidak sesuai lagi di tubuhnya yang mulai mengalami perubahan; payudara yang mulai bengkak, pinggul yang membesar—tapi ia tidak pernah menolak pakaian yang saya berikan. Mungkin saja ia merasa malu dan berusaha menerimanya. Mungkin saja ia tidak nyaman dan menahannya.

Ia tidak punya banyak teman. Tidak pernah mengundang teman ke rumah, sebaliknya tak bertandang ke rumah orang lain—kecuali ke rumah depan tempat ia biasa meminjam buku-buku pada perawan tua yang menghabiskan waktu mengurus perpustakaan kecil. Saya pernah mendengar, perempuan itu jatuh cinta pada seorang pengarang dan malangnya pengarang itu jatuh cinta kepada tokoh perempuan dalam kisah yang ditulisnya. Dunia macam apakah itu? Namun, begitulah, anak itu justru menyukai orang-orang seperti itu. Ia bisa berjam-jam di sana. Mengagumi buku-buku dalam rak-rak yang tinggi. Mendengar cerita-cerita tentang dunia yang luas dari perempuan itu; soal sastra, musik, hingga pertunjukan teater. Sampai suatu malam, saat kami duduk di meja makan, ia bertanya, bolehkah aku nonton pertunjukan teater bersama Nona Bil? Kami mungkin akan pulang agak malam, aku akan sulit membangunkanmu, jadi biarkan aku bermalam di rumahnya satu kali saja. Saya menatapnya sekilas dan tanpa menunggu lama, menggeleng. Tubuhnya terhenyak di sandaran kursi dan sejak saat itu saya tahu kalau ia mulai menyadari kebencian di antara kami pada akhirnya akan tumbuh besar tanpa perlu ditutupi lagi. Ia pun semakin banyak menghabiskan waktu di rumah itu, bahkan mulai memindahkan alat-alat gambarnya ke sana. Kalau saya tidak memanggil pulang, barangkali ia tak akan keluar untuk selamanya dari rumah itu, tersedot ke dalam buku-buku atau gambar-gambarnya yang makin aneh. Saya tahu itu cara ia mengisi rasa sepi. Persis seperti saya waktu kecil; kesepian dan menderita. Bedanya, ia memilih kegiatan menggambar dan membaca banyak buku sebagai luapan penderitaannya, sedangkan saya memilih tergila-gila kepada cermin.

***

Saya memang hanya punya satu orang teman: diri saya sendiri yang berada dalam cermin. Ia yang adalah saya. Ia yang tak boleh beranjak tua dan membuat saya tak mengenalinya lagi. Saya benar-benar menyukai saat pertama kali ia berubah menjadi perempuan paling indah. Saya kasmaran. Saya mabuk. Saya memujanya. Alangkah indah bola mata jernih itu. Alis melengkung. Bibir tebal dan basah. Hidung. Dagu. Segala yang tampak muda dan tidak akan saya biarkan direbut oleh waktu.

            Seluruh hidup ingin rasanya saya habiskan di depan cermin. Namun, suatu ketika pintu rumah kami terbuka dan seorang lelaki berdiri di depan dan itu awal saya tak bisa lagi bahagia.

            Lelaki itu, di mata saya, mirip kelelawar. Saya benci sekali sayapnya yang hitam. Dan lelaki itulah yang menarik saya dari depan cermin dan memberi kecambah di perut satu tahun setelah hari pernikahan dan mulai saat itu saya hidup dalam ketakutan-ketakutan, sementara lelaki itu melanjutkan petualangan ke berbagai daratan dan lautan dan banyak mengirimi saya surat-surat tidak berguna sebelum hilang tanpa kabar.

***

“Kenapa Mama membenciku?” Ia berdiri menjulang di pintu dan, sesaat, di mata saya, ia mirip hantu yang tembus cahaya.

            “Itu kau?” tanya saya untuk meyakinkan. Bagaimanapun ini pertama kali ia berada di pintu kamar saya, paling tidak setelah ia berusia empat tahun dan mulai mengerti kalau saya tidak menyukainya. Saya tetap ingin memastikan kalau ia memang benar-benar bukan hantu yang belakangan sering masuk ke mimpi saya dalam berbagai rupa dan bentuk, membuat saya bisa saja tiba-tiba terbangun dari tidur dengan sekujur tubuh basah.

            “Tidak,” tolaknya, “Mama jawab pertanyaanku. Aku akan menunggu di sini saja.”

            Saya memandangnya dengan jengkel. Anak itu ternyata keras kepala—melebihi yang saya kira. “Kalau begitu, pergilah. Jangan datang ke sini lagi,” kata saya tidak bisa menahan diri.

            Wajahnya menegang. Mulutnya sedikit terbuka. Lalu ia segera berlari. Saya mendengar suara kakinya yang kacau. Saya berlari. Saya ingat suara kaki saya yang kacau di lantai. Tidak ada yang mengejarnya. Tidak ada yang mengejar saya.

***

Setelah kejadian itu saya merasa terbebas dari sebuah kutukan. Barangkali karena ia telah sepenuhnya melepaskan diri dari saya. Ia bukan lagi kecambah yang dulu membuat saya sangat cemas, bukan bayi atau bocah yang bisa berubah menjadi jarum yang bergerak cepat dalam arloji dan membuat saya hidup dalam ketakutan. Ia sudah benar-benar besar sekarang. Dan anehnya saya bisa menerimanya dengan mudah. Dimulai dari ia yang berlari meninggalkan pintu kamar saya dengan bunyi langkah kaki yang kacau, lalu hari ini saat ia duduk di meja makan dan mengenalkan seorang lelaki yang akan membawanya keluar dari rumah.

            Saya tidak perlu bertanya banyak tentang lelaki berwajah kemerahan dan memiliki hidung yang terlalu besar untuk menjawab, ya, semua terserahmu, di antara denting sendok yang nyaring seolah sengaja dijatuhkan seseorang—dan orang itu adalah saya sendiri. Saya bahkan tidak terlalu yakin ingin mengingat nama lelaki itu seperti saya memilih tidak peduli lagi dengan hal-hal di luar diri saya.

            Tak lama, ia benar-benar sudah pergi. Ia membawa semua yang seharusnya ia bawa hingga saya tidak menemukan baunya sama sekali di rumah. Saya sendiri heran, bagaimana ia bisa melakukannya? Apa ia memunguti semua jejaknya yang tertinggal di lantai atau menggosok segala sesuatu yang pernah dipegangnya dengan cairan pembasmi bakteri atau sejenisnya? Apa ia benar-benar tidak ingin diingat—sedikit saja?

***

Jika ada yang bertanya apa saya mengenal perempuan itu dengan baik, dengan menyesal saya jawab, tidak. Saya tidak mengenalnya sama sekali. Saya tidak tahu perasaan-perasaannya. Saya tidak tahu tentang apa saja yang ia pikirkan. Saya cuma tahu ia tidak pernah menyukai saya. Hanya itu. Dengan alasan itu pula, saya tidak betah berada di dekatnya. Bukan. Bukan tidak betah, melainkan saya sedikit takut. Saya lebih suka menjauh. Kalau bisa ke tempat yang jauh sekali. Sayang, saya tidak punya kaki yang lebih panjang untuk melakukannya. Saya hanya bisa pergi ke rumah Nona Bil. Ia malah tidak menyukai perempuan baik hati itu. Perempuan yang mengajarkan saya cara membuat bunga, serangga, laut, pelangi, dengan hanya memejamkan mata. Perempuan yang mampu membuat saya melupakan segala kesedihan yang saya tahan diam-diam.

            Lalu, puluhan tahun kemudian, kabar itu datang. Kabar kematiannya yang mendadak. Bayangkan, sampai menjelang mati ia tetap tidak ingin saya berada di dekatnya; saling mengucapkan beberapa kalimat perpisahan yang membuat kepergiannya lebih damai. Satu-satunya benda yang khusus ia tinggalkan untuk saya adalah sebuah brankas dengan kode angka bulan dan tahun kelahiran saya (sesuai pesan yang ditulis tangan olehnya). Ditemani pengacara keluarga kami, saya membuka brankas itu. Saya menemukan berlembar-lembar kertas yang ia tulis untuk saya menjelang kematiannya. Dalam surat panjang itu, ia menyatakan dalam sembilan puluh kalimat yang tersebar di sepanjang surat tentang ketidaksukaannya kepada saya, selebihnya mengenai kesepian dan penderitaannya, tak lupa juga soal sejumlah harta benda yang boleh saya lelang atau disumbangkan ke panti sosial setelah kepergiannya, kecuali cermin, tulisnya, tanpa menjelaskan apakah cermin itu ingin dibawanya ke dalam peti mati atau tidak—dan menutupnya dengan paragraf pendek saja: aku berharap aku pernah mencintaimu. (*)

  GP, 2015

Yetti A.KA

Yetti A.KA

tinggal di kota Padang, Sumatera Barat.
Yetti A.KA

Latest posts by Yetti A.KA (see all)