Ibarat Sekerat Cheesecake

in Rehal by

Judul               : PESAWAT KERTAS

Penulis          : Noor H. Dee

Penerbit        : minimapress

Tebal              : 79 halaman

Cetakan         : Pertama, Desember 2017

Di sudut restoran hotel di dekat Benteng Rotterdam, Makassar, Budi Darma salah satu sastrawan besar kita membincangkan beberapa cerpen dari penulis muda Indonesia di acara Makassar International Writers Festival (MIWF) 2017. Salah satu poin yang berulang kali disampaikan olehnya ialah bahwa penulis tidak berkewajiban memberi informasi dalam cerita karangan secara keseluruhan kepada pembaca. Penulis dan pembaca yang adalah manusia, memiliki sifat bercerita dan suka cerita (baca: homo fabula) dan dengan informasi yang tidak utuh tersebut pembaca dapat menyimpulkan sendiri atau bahkan mengembangkan ceritanya berdasar preferensi masing-masing. Dan usaha ngirit informasi ini juga menjadikan pembaca berada di strata yang sama dengan penulis.

Namun, nyatanya pendapat Budi Darma tersebut tidak seratus persen diimani oleh banyak cerpenis kita. Banyak sekali cerpen yang dijadikan sebagai ajang pamer kemahiran bertutur, hingga berlarat-larat dan terjebak dalam ketidakintiman prosa yang kemudian menihilkan istilah cerita pendek itu sendiri.

Di titik inilah, kemudian muncul istilah minimalis yang dalam sastra Indonesia sendiri masih asing dan baru. Di luar negeri, kita sudah mengenal gaya kepenulisan Raymond Carver, Etgar Keret yang cenderung ringkas dan tidak bertele-tele. Kemudian ada juga Ben Loory yang bisa dikatakan sebagai pembuka cara baru dalam cerita pendek minimalis.

Cerita pendek minimalis bukan sekadar ukuran yang ringkas, sebagaimana fiksi mini yang beberapa tahun lalu sempat santer mencuat. Cerita pendek minimalis mencoba menghapus hal-hal tidak penting dalam prosa sehingga prosa dapat langsung mengikat pembaca lewat konflik. Tidak dijemukan dengan bunga-bunga kata, deskripsi latar, liuk-liuk pemandangan, atau bahkan penulis tidak begitu penting menjelaskan nama, sifat, fisik dari tokoh dalam cerita pendek minimalis.

Buku Pesawat Terbang karangan Noor H Dee ini bisa jadi pembuka cara baru bercerita di Indonesia. Mencoba mengadopsi gaya Ben Loory. Sebuah buku yang menjadi pembuktian persisten penulis untuk terus mencoba gaya baru dalam cerpen.

 

Fiksi Mini vs Cerita Minimalis

Pada tataran bentuk, Fiksi Mini yang sudah lebih dahulu masyhur di Indonesia tidak jauh berbeda dengan cerita minimalis, gaya menulis cerpen Noor H Dee dalam buku ini. Namun sejatinya keduanya memiliki perbedaan signifikan bila menilik pada musabab keduanya lahir.

Fiksi mini muncul dari komunitas yang mencoba memanfaatkan batasan karakter platform Twitter untuk menulis cerita super ringkas yang sekaligus tuntas. Kemudian dikembangkan oleh Agus Noor dalam beberapa kisah yang lebih panjang namun tetap memilik tonase yang hampir sama. Menjerat dan kemudian menjebak dengan ending kisah yang mengejutkan.

Namun, cerita minimalis tidak sepenuhnya demikian. Cerita minimalis tidak melulu harus berjumlah sedikit secara kata dan kalimat. Cerita minimalis hanya meniadakan bagian-bagian yang tidak penting, bagian yang tidak perlu diketahui oleh pembaca, dan bagian yang sekiranya over-informasi bila ditulis. Secara panjang, cerita minimalis bisa saja sepanjang cerpen kebanyakan dengan tetap mengetengahkan kaidah, hanya pokok cerita yang disampaikan untuk pembaca.

Ibarat makanan, cerita minimalis tidak disibukkan dengan garnis atau hiasan. Kalau dalam seni berbenah, gaya Pesawat Kertas akan mengingatkan kita pada gaya konmari yang diusung Marie Kondo. Benar-benar menyimpan yang dibutuhkan, selebihnya disingkirkan.

Misalkan dalam cerita “Jam Tangan”, kita hanya diberi cerita tentang seorang Gadis yang menerima hadiah dari kekasihnya berupa jam tangan, yang akan menyala meski tidak ada baterai. Jam tangan itu tidak membutuhkan baterai. Selama kamu masih mencintaiku, jam tangan itu tidak akan pernah mati sampai kapan pun. (hal.4)

Namun, nyatanya jarum jam tangannya tidak bergerak sama sekali. Sebuah simpulan dari cerita nowhere-nobody-nofeeling, tanpa latar tempat, tanpa tokoh penuh, dan kejelasan perasaan, kita sudah dapat menyimpulkan dan senyum membayangkan kisah di antara dua orang tanpa identitas tersebut.

Tokoh-tokoh dalam buku ini murni terlepas dari berbagai emblem jamak di fiksi. Noor H Dee hanya menyebut sebagai individu bebas dan kemudian langsung ditempelkan dengan aktivitas cerita. Lelaki itu membuat pesawat kertas untuk anaknya. Atau ketika membuka pintu, lelaki tua itu melihat Maut sedang bertengger di pintu pagar rumahnya. Semua tokoh cerita dalam buku ini dilekatkan pada aktivitas, bukan adjektiva penjelas subjek.

Alur dan kelengkapan sebuah cerita bukan berarti nihil dalam bentuk seperti ini. Kita sudah dapat menemukan konflik bahkan penyelesaian yang ajaib. Misalkan dalam cerpen “Negosiasi”, kita dapat menerka problem gender tersirat lewat sebuah dialog suami istri. Bahwa perempuan digambarkan memiliki jauh lebih banyak daftar permintaan daripada lelaki. Si suami hanya menulis satu keinginan, Aku tidak ingin kamu pergi. (hal.16)

Noor H Dee mencoba bermain-main di zona surealis atau dongeng ajaib di beberapa cerpen. Misalkan di “Kacamata”, “Botol Kaca”, atau “Lelaki Tua dan Maut”. Ranah surealis digambarkan tidak berlebihan dan membuka ruang-ruang penafsiran.

Tersebab bentuk dan informasi yang serba minimalis inilah, justru menjadi kelebihan penulis untuk membuka ruang tafsir lebih luas dan bebas. Dalam cerpen “Langit”, kita akan diajak ke sebuah lanskap surealis di mana seseorang memanjat menuju langit. Dia yakin di langit ada keindahan melebihi bumi. Namun, di tengah ketika dirasa langit begitu susah dijangkau, dia memandang bumi. Mengapa bumi terlihat begitu indah? ujarnya penuh penyesalan. (hal.30)

Pun dalam cerpen “Lelaki Tua dan Maut”, yang memperlihatkan bagaimana orang mempercaya Maut dengan membunuh maut itu sendiri.

Bentuk minimalis, cerita tanpa bunga kata dan kalimat-kalimat mubazir membuat tanda bintang cerdas pada pilihan kebaruan penulisan cerita pendek. Genre baru di Indonesia yang segar. Kita tentu pernah menikmati sepotong cheesecake yang super-lezat. Demikianlah kesan merampungkan buku ini; intim, tidak mubazir, dan adiktif. []

Teguh Afandi

Teguh Afandi

Penggiat Klub Baca Yogyakarta.
Teguh Afandi

Latest posts by Teguh Afandi (see all)