Ibu dan Sepotong Malam; Puisi Salman Rusydie Anwar (Kebumen)

in Puisi by
puisi ibu dan sepotong malam
Sumber gambar katherinescrivens.wordpress.com

Yaasiin

 

di antara mulut-mulut
yang menggumamkan ayat-ayatmu
aku seperti kehilangan nama hari pada kalender
sepi mengeras
sunyi menderas
yaasiin

doa dan tilawah meluncur
bagai anak panah
mengarah padamu
terkubur tanah

o, barzakh yang terhijab
tempat rindu-ratap saling berpaut
lempar sebutir kabar padaku
yang terus menukilkan arang lelumpur
di lembar harianku
yaasiin

kuraba langit malam yang kesekian
sembari mengincar biji alif
dari lembar kitab kejadian
kemana kata mesti kuucap
dimana rasa harus kukecap
pohon kesetiaan kutanam
untuk kemudian kutumbangkan
betapa pengkhianatan yang begitu sempurna
yaasiin

pada batas segala debu
dimana yang fana dan yang abadi bertemu
aku ingin tegak berdiri
bukan lagi sebagai pohon di belantara hutan
tapi sebagai rusa
yang memilih lelap
dalam rengkuhan cakar sang Singa
yaasiin

Kebumen, 2015

 

 

Kabar Dari Selembar Daun yang Gugur

 

sudahkah sampai kabar itu
padamu
pohon mangga di halaman rumah kita
selalu membisikkan rindu langit
pada setiap dedaunnya yang berguguran

mungkin kita harus memungut daun itu
setiap pagi
dan menjadikannya sebagai kanvas
tempat melukiskan rencana-rencana
yang tak pernah utuh

atau kita biarkan saja
daun itu di sana
mengintip langkah kita
yang terus mengitar-ngitar
dari kecemasan ke kecemasan

sebentar kemudian
angin barangkali akan datang
lalu menerbangkannya ke tempat terjauh
meninggalkan kita
kesepian, lalu menua
sambil terus berbagi terka dan tanya
‘sampai kapan kita setia merawat usia?’

Kebumen, 2015

 

 

Hamdalah

aku ingin sekali lagi
kepadamu mengucapkan terima kasih
lalu kubaca jejakmu pada diri
sebagai sungai
yang menjaga rindunya pada muara
terus berkobar

mawar setangkai
mungkin tak pernah cukup menawar senyummu
yang menggores batu-batu
hingga mengucurkan jutaan tetes madu

kujilat matahari
lepas subuh hingga maghrib labuh
panasnya yang berguguran
seakan menderaskan kata-katamu
‘wahai cintaku, wahai cintaku
darimu aku tak pernah jauh’

aku ingin sekali lagi
kepadamu mengucapkan terima kasih
sambil membenamkan sepi dan nyanyi
menanggalkan duri dan nyeri

hingga batas gelora
mendekapmu terlanjur puncak
kubaca sebaris kalimat
yang pernah kuhafal dulu
‘kekasih,
bila kata tak cukup pantas
mengurai kemurahanmu
di sekujur hidupku
maka usap bibirku
agar bisa memberimu senyum
sepenuh waktu’

Kebumen, 2015

 

 

Hujan dan Pagi Menjelang Sarapan

pagi ini, kau harus sarapan
telah kusediakan segelas susu
yang kuperas dari mimpi malam yang genit

tak perlu membaca koran
sebab berita tak akan pernah
mengantarkanmu kemana-mana

lihat saja kaki hujan
di tubuh jendela
ia begitu gelisah
sebab lupa mengingat
jalan pulang menuju langit

katamu, tersesat itu
pahitnya sekeras batu
dan aku hanya mengangguk
meski terkadang
dari sebuah ketersesatan
kita belajar mengenang
banyak jalan

Kebumen, 2015

 

 

Ibu dan Sepotong Malam

ibu
malam sudah larut
tapi mataku
begitu sulit dijamah kantuk

kulihat jendela
tirainya terbuka
dan angin kecil pun datang
mengelusnya perlahan

dua ekor kunang-kunang
di luar sana
terbang berkejaran
entah ke mana
dan aku, ibu
terkenang kembali pada kisahmu
tentang dua binatang itu

ibu
malam sudah larut
tapi mataku
begitu sulit dijamah kantuk

kuhirup sisa kopi
kental rinduku berapi-api
berkobar dan menjalar
di antara putaran-putaran jam
yang detaknya
mendebarkan namamu
di dada

jauh darimu, ibu
adalah luka yang tak terkatakan
perihnya membangunkan badai
dan aku kini
seperti nelayan begitu tua
yang terapung-apung
di atas gelombang air matanya sendiri

ibu
malam sudah larut
tapi mataku
begitu sulit dijamah kantuk

ketika jarak
antara engkau dan aku
mencuramkan rindu
aku pun paham, ibu
bahwa air mata paling luka
bukan hanya milik remaja
yang putus cinta

dan aku tak membutuhkan rimba hutan, ibu
menjauh darimu
akan sempurna menjadikanku
binatang jalang*
yang terbuang perlahan-lahan
dari rahimmu bertabur kembang

Kebumen, 2015

*diksi milik penyair Khairil Anwar.

Salman Rusydie Anwar
Add Me

Salman Rusydie Anwar

Guru ngaji mushala kecil di desa. Sela-sela waktunya mengajari ngaji digunakan untuk menulis cerpen dan puisi. Sekarang tinggal di sana, di Kebumen.
Salman Rusydie Anwar
Add Me

Latest posts by Salman Rusydie Anwar (see all)

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com