IKAN-IKAN PERGI KE LANGIT

in Cerita Pendek by
seijisan.blogspot.com

Sebagai pemancing tua, ia sudah sangat paham seluk-beluk kehidupan sungai dan ikan-ikan, bahkan tentang tabiat air pun ia begitu hafal. Ia punya rumus tentang hubungan ikan, air, suhu, dan waktu.

Sebelum memancing, biasanya ia akan membaca waktu—dalam hal ini tentang jam dan bulan masehi—lalu melihat cuaca, kemudian mengamati air—tentang warna dan cara mengalirnya—, jika semuanya sudah dirasa bagus, barulah ia melempar kail.

Wajar bila ia sering mendapat hasil tangkapan ikan yang selalu lebih banyak dari teman-temannya sesama pemancing. Sebab ia tak sembarang memancing, apalagi ketika mata kail menghunjam air, bibirnya akan bergetar, merapal sesuatu, sembari gerak jemarinya halus mengelus pangkal joran. Kadang yang kiri, kadang yang kanan.

Hanya beberapa detik setelah kail dilempar, ikan-ikan mengayuh sirip, matanya tergoda pada kail yang menusuk umpan hingga rekat, menguar wangi tertentu bagi penciuman ikan. Ikan-ikan itu berebutan, demi perutnya ia lupa bahaya, mulutnya yang rakus langsung menyambar kail, hingga si pemancing itu mudah menariknya ke darat. Ikan-ikan itu menggelepar di pasir lalu mati dalam keranjang bambu.

Setiap hari, si pemancing itu selalu pulang lebih pagi, membawa hasil tangkapan dalam keranjang kecil. Jika mau, ia bisa memancing ikan banyak dengan membawa keranjang besar, tapi ia tidak rakus, ia hanya ingin demi kebutuhannya saja, pun sadar jika ikan-ikan itu masih perlu berkembang biak.

Sepulang memancing, ia menjajakan ikan itu dari rumah ke rumah sampai habis, dan hasilnya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya, yang tanpa anak, tanpa istri; hanya sendirian, bermukim di rumah bambu, di dekat pohon randu purba yang tumbuh di lereng Bukit Montorra, berhadap-hadapan dengan ladang berambut semak rukam, bertetangga pepohonan, begitulah ia akan selalu bercakap dengan kesunyian, sebagai satu-satunya pilihan, karena ia bisu, tak bisa bercakap dengan orang-orang.

Sudah belasan tahun ia bekerja sebagai pemancing dan penjual ikan, tanpa mengeluh, tanpa rasa gengsi. Berkarib dengan joran, menyapa ikan-ikan. Dari sungai ke sungai ia berteman batu, duduk dan melempar kail, seolah memancing takdir hidupnya yang selalu tenggelam ke dasar yang sangat dalam.

Di tengah-tengah takdir bisu yang ia panggul, ia dikaruniai kelebihan; bisa mengerti bahasa ikan. Ia amini sebagai anugerah Tuhan, supaya dirinya tak kesulitan mendapat ikan.

Sebelum memancing, biasanya ia akan menguping percakapan ikan-ikan dari tepi sungai, terlebih ia akan menyimak obrolan ikan seputar makanan kesukaannya, sehingga ia mencari makanan kesukaan ikan-ikan itu sebelum memancing. Alhasil, ikan-ikan mudah menyantap mata kailnya.

Kian hari, seiring persaingan antarpemancing semakin ketat, beberapa teman seperjuangannya mulai pindah menggunakan potas. Ikan-ikan banyak yang mati, mulai dari yang indukan sampai yang anakan, mengambang turuti arus berbuih yang menerjah batu. Tubuhnya lecet, perutnya sobek, menampakkan usus berurai, mirip cacing halus tersangkut di serabut akar pohon yang tumbuh di tepi sungai. Air sungai hitam keruh, menguar bau tak sedap, berbau bahan-bahan kimia.

Ia sangat cemas, matanya terpaku memandang ratusan bangkai ikan menghilir nelangsa, dipermainkan arus sungai yang sangat kotor, bibirnya yang bisu hanya bisa menggetarkan kalimat istigfar.

“Satu ledakan potasium akan membunuh ikan-ikan secara sadis, sama halnya dengan membunuh masa depan, membunuh anak cucu dan  orang-orang,” tukasnya dalam diam.

Sejak saat itu ia memilih tidak memancing, kesehariannya digunakan untuk memberi makan ikan-ikan yang tersisa hidup, sembari melarang beberapa temannya yang bisa diajak kompromi dengan bahasa isyarat sekadarnya, untuk tidak menangkap ikan dengan potasium. Meskipun tugas itu sangat berat, ia melaksanakannya dengan senang hati, sambil lalu, di sela itu, ia mencarah guguran kayu di tepi sungai untuk dijual sebagai mata pencaharian barunya setelah berhenti memancing.

Setiap hari wajahnya menyiratkan aura sendu, matanya cekung dilabuhi separam air mata, tangisnya tak henti, mengiringi ratap sedih ikan-ikan yang kehidupannya mulai terampas secara liar.

Beberapa hari kemudian, para pengebor juga datang berjibun untuk mencari mata air, puluhan mata besi mereka melukai beberapa tepi sungai secara binal. Dan lubang pengeborannya memuncratkan air kotor semacam limbah. Para penambang pasir pun tak kalah semangat membawa truk-truk yang lengkap dengan alat pengeruk.

Si pemancing bisu kini selalu tak buang waktu untuk mengunjungi Tojaran, yaitu sehampar batu besar di tepi sungai, posisinya langsung menjorok ke hamparan air, di bawah batu itu, ada cekungan yang dimasuki air, ikan-ikan menjadikannya rumah untuk berlindung dari segala bahaya. Di cekungan itu segala hal yang berurusan dengan dunia ikan dimusyawarahkan, pun di sanalah telur-telur ikan dijaga untuk usaha perkembangbiakan.

Dengan sedikit membaringkan tubuhnya di datar batu Tojaran, ketika telinganya bersentuhan dengan ujung rumputan yang menjulur dari sebelah tubuhnya, ia bisa mendengar percakapan ikan-ikan di bawah batu.

“Moyang berpesan, agar kita berkorban merelakan daging segar ini disantap oleh manusia, tapi selama manusia itu mau bersyukur,” ucap salah satu ikan paling tua membuka pertemuan mereka.

“Iya, asal manusia juga memancing kita dengan cara yang wajar dan tidak berlebihan,” sambung yang lain.

Arus alir sungai menderas, menjambak suara kecipak air dari gerekan ekor dan sirip ikan-ikan. Angin mengirim bau potasium dari riak air yang menghitam.

“Lingkungan kita sudah tercemar, dirusak oleh manusia, demi memenuhi kerakusan mereka.”

“Kita tidak mungkin bisa melawan mereka yang dikaruniai akal.”

“Sayang akalnya banyak tak digunakan dengan baik.”

“Lantas apa yang selanjutnya harus kita lakukan? Sementara mereka tak mungkin bisa kita lawan.”

Semuanya membisu, masing-masing memikirkan cara terbaik untuk lepas dari kesedihan yang disebabkan ulah manusia. Sejenak cakap mereka seperti terputus. Keheningan melantun tiba-tiba, yang terdengar hanya suara air mengalir, seperti membaca sajak tentang sungai yang terluka.

“Tak ada jalan lain, kita harus meninggalkan tempat ini dan pindah ke tempat lain yang aman,” jawab ikan paling tua, yang tadi membuka pertemuan itu.

“Ke mana kita mau pindah?”

“Ke langit.”

“Ke langit?”

“Iya. Di langit kita akan hidup dengan malaikat, bukan dengan manusia. Tidak mungkin malaikat rakus. Di sana kita akan berenang-renang dengan tenang,” imbuh ikan paling tua, seraya memecut air dengan ekornya. Ikan-ikan yang lain bersorak ria sembari mengibaskan siripnya, mereka membayangkan alangkah indahnya hidup di langit, tanpa ada tindak keserakahan manusia.

“Dan setelah kita pindah ke langit, sungai yang didera keserakahan manusia ini suatu saat akan meluapkan bencana,” sambung ikan tua dengan mata menyala.

Si pemancing bisu terkejut mendengar percakapan ikan-ikan, lekas mengangkat kepala dan telingannya yang sebelumnya menempel di atas sehampar batu, perlahan duduk bersila, sepasang matanya masih terbelalak heran, berpadu dengan ujung alisnya yang saling bersentuhan, dahinya berkerut, detak jantungnya kencang, seperti ada jarum gaib yang mematuk-matuk dadanya dari dalam. Kemudian ia tak bisa membendung air matanya, merembes atas nama kesedihan.

Ia bangkit menyisir tepi sungai, berteriak-teriak dengan bahasa kebisuannya, berharap orang-orang paham pada apa yang ia sampaikan. Ia menemui orang-orang yang menangkap ikan dengan potasium. Lantas melarang mereka untuk tidak mengulang pekerjaan buruknya itu dengan bahasa lisan dan bahasa isyarat yang ia bisa.

Ia terus berjalan, melintasi tepi sungai yang berkelok-kelok, berpasir, berkerikil dan—ada—yang curam berdinding batu. Lalu menemui para pengebor dan penambang pasir agar menghentikan pekerjaannya. Lantang ia bersuara untuk menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Sepasang tangannya terus meliuk-liuk, memberi isyarat bahwa ikan-ikan akan pergi ke langit karena sungai akan meluapkan bencana. Tapi orang-orang hanya menertawakan dan mengolok-olok dia dengan sebutan si bisu gila. Mereka tak hirau meski di depannya tubuh sungai hitam tercemar, tepi-tepinya terkeruk liar, ikan-ikannya mengambang jadi bangkai yang meruapkan bau tajam.

Setiap hari, si pemancing tua yang bisu itu hanya bisa terisak sedu melihat sungai-sungai tercemar dan penuh kerukan berbahaya. Andai ia bisa bicara, ingin rasanya ia menyampaikan perihal musyawarah ikan di balik batu Tojaran. Tapi tak ada daya. Sebagaimana ikan-ikan, ia hanya mengamini nasibnya yang kian kisut di antara tatih tubuhnya yang semakin rapuh. Mengemas ribuan butir air mata di sela bunyi derit tulang tuanya yang semakin mendengkul.

Setelah melewati hari dengan segala luka di tepi sungai, tibalah ia di suatu hari yang buruk. Ia melihat manusia—yang dengan nafsunya—jadi lebih rakus tinimbang binatang. Mereka merelokasi sungai jadi tempat pengolahan bahan bangunan, sisa ikan yang hidup diracun sampai tak tersisa. Bangkai ikan-ikan mengambang bagai runtuhan kelopak bunga mendekap dada sungai yang tercemar. Kemudian beberapa orang petugas mengangkisnya ke darat. Lalu dibakar bersama tumpukan sampah.

Asap ikan-ikan yang dibakar itu mengepul tebal, menyunggi bau daging yang gosong, meliuk-liuk, menebar bau ke seantero dusun, sebagian membubung jauh menuju langit. Si pemancing tua bisu itu cuma bisa mendongak lemas, menatap sedih asap yang membubung, seraya bergumam di hatinya, “Ikan-ikan itu akhirnya benar-benar pergi ke langit.”

Gaptim, 08.18

A. Warits Rovi
Add Me

A. Warits Rovi

Lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Karya-karyanya dimuat di berbagai media nasional dan lokal antara lain: Horison, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Medan Bisnis, Majalah Sagang, Radar Madura, dan lain-lain. Kumpulan puisinya dapat dinikmati di antologi komunal, di antaranya, Bersepeda Ke Bulan (Antologi Puisi Pilihan harian Indo Pos, 2014), Ayat-Ayat Selat Sakat (Kumpulan Puisi Pilihan Riau Pos, 2014). Saat ini, menjadi guru bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura, Madura.
A. Warits Rovi
Add Me

Latest posts by A. Warits Rovi (see all)