Imlek dan Ketupat; Sepotong Kisah Keberagaman di Belinyu

in Hibernasi by

Semesta masih gelap, lamat suara adzan subuh baru selesai dikumandangkan, sahutan ayam silih berganti, menanda pagi menjelang. Di dapur, Emak memulai aktivitasnya. Alat masak saling berpadu menghasilkan suara yang membangunkan seisi rumah. Aroma rempah menyeruak menggugah rasa. Bukan tanpa sebab Emak memulai aktivitasnya di awal waktu. Hari ini bertepatan dengan Imlek atau lebih dikenal dengan istilah “Ko Nyien” bagi masyarakat Belinyu. Aneka masakan disiapkan, dari rendang, gulai ayam, udang asam manis, dan tak ketinggalan menu utama yaitu ketupat.

***

Wajah semringah Atuk[1] Alai terpancar ketika melihat rombongan keluarga kami datang. Tubuh yang gagah dengan deretan gigi putih masih lengkap, tidak menyiratkan bahwa usianya yang semakin senja.

“Ayo…, ayo…, masuk, banyak-banyak rezeki, panjang umur sehat selalu yo. Terima kasih…, terima kasih,” doanya dengan dialek Tionghoa yang kental sambil menyalami kami satu per satu.

Tradisi berkunjung dan merayakan Imlek bersama masih terpelihara sampai saat ini di Belinyu. Bukan sesuatu yang muskil ketika masyarakat pribumi (Melayu) berkunjung ke tetangga Tionghoa seperti halnya ketika umat muslim melaksanakan perayaan lebaran Idul Fitri.

Bagi keluarga kami, Imlek tahun ini memiliki arti yang berbeda dari tahun sebelumnya. Cerita bermula ketika anak Atuk Alai membawa anaknya untuk pijat dengan Emak. Beberapa kali pijat, Cece[2] Iin meminta Emak untuk memijat ayahnya.

Jamak bagi tukang pijat, bercerita dengan pasien pijat sudah menjadi standar baku. Suasana akrab dan hangat pun terjalin, ditunjang karakter pasien pijatnya pandai berkelakar. Di sela obrolan, tanpa sengaja sang pasien melihat foto kakak saya. Ia bercerita bahwa wajah kakak mirip dengan saudaranya. Singkat cerita, dari petunjuk wajah inilah cerita dimulai, membawa ke pilinan akar keluarga.

Dalam ceritanya, Nek Lima yang merupakan sepupu Kakek, menikah dengan pemuda imigran asal Tiongkok. Cinta dua insan berbeda keyakinan dan budaya itu ternyata tidak berjalan mulus. Pertentangan datang dari keluarga. Tetapi kuatnya cinta tak meredupkan langkah dua sejoli ini. Berbekal tekad sehidup semati, keduanya pergi dari kampung halaman, komunikasi mereka terputus dengan keluarga besar.

Pernikahan antaretnis kerap terjadi di Bangka dan sudah sejak lama. Hal ini dimulai dari gelombang kedatangan pekerja asal Tiongkok yang bekerja di penambangan Timah di Bangka dan Belitung. Dalam bukunya, Bangka Tin and Mentok Pepper, Mery F Somers Heidhues menjelaskan bahwa Belinyu menjadi salah satu distrik yang menerima gelombang arus besar orang Tiongkok ke Pulau Bangka di sekitar tahun 1834–1843. Datang tanpa membawa keluarga, pemuda-pemuda dari Tiongkok menikah dengan gadis lokal. Dari proses pernikahan antaretnis juga yang mempercepat akulturasi budaya. Perpaduan budaya dapat dilihat pada beragam aspek kehidupan masyarakat, seperti bahasa, kuliner, dan kesenian.

***

Belinyu bertumbuh dalam dinamika penambangan timah yang pesat di wilayah Bangka sehingga mendorong Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda terus mengembangkan potensi tersebut. Berbagai infrastruktur dibangun sebagai penunjang kehidupan karyawan. Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mantung yang sekaligus tercatat sebagai pembangkit listrik bertenaga uap pertama di Asia Tenggara, diperkirakan dibangun pada tahun 1908 oleh perusahaan Banka Tin Winning Maatschappij.

Hadirnya PLTU membawa perubahan pada pola penambangan timah saat itu yang sebelumnya masih tradisional dan berfokus pada pekerja. Pekerja timah Tionghoa dianggap lebih unggul dan mampu menambah produksi timah. Teknologi yang diperkenalkan oleh mereka menggunakan kincir air.

Bertambahnya masyarakat yang tinggal di Belinyu berpengaruh terhadap pertumbuhan wilayah. Dari pola ruang yang terbentuk, merepresentasikan tiga etnis besar yang hidup dan melakukan aktivitas sosial bersama, dikenal dengan klaster Eropa, klaster Melayu, dan klaster Tionghoa.

Klaster Eropa dikenal sebagai pemukiman kaum borjuis yang berada di pusat kota. Kawasan ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti sekolah, gereja, gedung societet, rumah sakit, penjara, kantor pos, dan fasilitas lainnya. Wilayah Melayu bertumbuh di kawasan produksi, tersebar di kawasan PLTU Mantung. Berprofesi sebagai pekerja mereka tinggal, di area industri. Sedangkan warga Tionghoa berada di wilayah pasar. Hal ini terkait dengan profesi mereka sebagai pedagang dan sebagian lainnya menjadi buruh kasar di kebun lada.

Perpaduan antaretnis juga membentuk pola kehidupan masyarakat Bumi “Seperadik Sedulur” ini saling melebur dan berkembang bersama. Klaster yang ada bukan berupa sekat atau kelas pemisah. Masing-masing etnis dapat menjaga harmonisasi dan soliditas masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari bangunan kelenteng yang berdampingan dengan masjid. Tidak hanya itu, di Kelurahan Kutopanji berdiri Gua Maria yang merupakan tempat ziarah umat Katolik terbesar di wilayah Keuskupan Pangkalpinang. Wilayah dengan luas 746,50 km² ini menyimpan jejak panjang sejarah toleransi.

***

Hadirnya ketupat pada Imlek menjadi bukti wujud perpaduan budaya dan tradisi masyarakat di Belinyu. Bukan hanya karena Atuk Alai sebagai keluarga, setiap tahun Emak sering mengirimkan ketupat untuk diberikan kepada tetangga Tionghoa sebaliknya tetangga Tionghoa di tempat kami selalu merayakan Idul Fitri bersama, saling bersilaturahmi.

Di hari yang berbahagia ini, terasa indah ketika melihat ketupat menjadi menu pelengkap hidangan Imlek bersanding dengan kue keranjang dan menu utama lainnya.

Jika ketupat dimaknai sebagai bentuk pengingat dengan makna mengakui kesalahan (ngaku lepat) serta laku papat yang merupakan empat lelaku yang harus kita jalani yaitu mencerminkan beragam kesalahan manusia, kesucian hati, mencerminkan kesempurnaan dan saling memaafkan. Mengisi makna penting Imlek. Imlek 2569 yang bertepatan dengan tahun anjing tanah, hendaknya diisi sikap positif menghadapi kehidupan ke depan.

Bagi laki-laki yang memiliki nama lengkap Sulaiman ini, Imlek tahun ini lebih memiliki makna penting yaitu terhubung dengan keluarga yang sudah lama dicari, tepat 35 tahun. Ditambahkan, inti perayaan ini adalah bagaimana antarkeluarga saling menjaga, memberi kasih, menghilangkan perbedaan dan tak kalah penting, bagaimana menatap hidup dengan optimis.

“Ini adalah kehendak langit” dengan mata berbinar Atuk Alai menatap keluarga besarnya.

Pesan kasih sayang hendaknya bukan hadir dari ruang kosong, tetapi merasuk menjadi laku dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi saat ini, gerusan makna toleransi semakin nyata, pudarnya semangat kebersamaan serta egoisme kelompok menjadi sangat memprihatinkan.

Menumbuhkan spirit kebersamaan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok tetapi harus saling melengkapi. Hubungan kekeluargaan antarwarga Tionghoa dan pribumi di Bangka tidak lahir secara kebetulan tetapi karena merasa sebagai satu keluarga besar. Hal tersebut juga hadir karena nilai tradisi leluhur yang selalu diturunkan kepada anak cucu saat ini dengan semboyan fan ngin thong ngin jit jong yang memiliki arti orang Melayu, Tionghoa semua sama dan setara.

[1] Kakek.

[2] Kakak.

Rendra Agusta

Rendra Agusta

Alumni “Sorogan Esai” Iboekoe. Berkhidmat mempelajari Indigenous Psychology.
Rendra Agusta