Indonesia dalam Imajinasi Saya

in Hibernasi by
destinationimagination
coolvibe.com

Filsuf Plato (427-347 SM) pernah mengutip pernyataan penyair Pindaros (522-443 SM) dalam Buku I The Republic, tentang sebuah harapan yang indah seorang warga negara. Harapan—begitulah kata Pindaros—mencerahi jiwa orang yang hidup dalam keadilan dan kesucian dan merupakan juru rawat bagi usianya dan merupakan rekan seperjuangannya. Harapan adalah hal terkuat untuk mempengaruhi jiwa manusia yang gelisah.

Sebagai rakyat Indonesia, saya tentu memiliki harapan besar. Harapan itu muncul tidak dari ruang kosong; harapan muncul karena saya merasa telah berpijak di bumi Indonesia dan menghirup udara Indonesia. Darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah ayah ibu Indonesia. Beras yang saya makan setiap hari adalah beras Indonesia. Rasanya sangat tidak pantas jika sebagai rakyat Indonesia, saya akan kehilangan harapan, yang menurut Pindaros, sebagai bagian dari keadilan, kesucian, dan juru rawat saya sebagai manusia Indonesia.

***

Saya membayangkan sebuah bangsa besar; memiliki kekayaan alam berlimpah; memiliki seni budaya luhur; memiliki banyak suku bangsa yang unik; beragam bahasa; beragam seni dan budaya; beragam ras dan agama. Saya membayangkan manusia Indonesia tetap percaya diri di tengah pergulatan interaksi global; meskipun bergaul dengan orang-orang Eropa, manusia Indonesia tidak dengan mudah ter-Eropa-nisasi baik secara kultur maupun pemikiran-pemikirannya; meskipun bergaul dengan budaya pop Korea, tidak dengan mudah berpenampilan seperti orang-orang Korea.

Ada beberapa kaca cermin bangsa yang unik. Di Asia misalnya, Jepang merupakan negara modern, dengan kemampuan teknologi yang berkembang pesat. Tiongkok juga menjadi negara modern dengan kemampuan Industri yang luar biasa. Begitu pula Korea yang tidak kalah berkembang. Tetapi manusia Jepang, Tiongkok, dan Korea tetap menjaga identitas budaya mereka dengan baik. Mereka bangga dengan identitas budaya bangsanya masing-masing sehingga hal-hal baru yang masuk ke bangsa mereka tidak dengan mudah mengubah mindset dan tidak ter-sophisticated dengan budaya-budaya impor.

Nilai-nilai kebangsaan yang tertanam dalam darah daging kita seharusnya dijaga dengan baik. Pancasila adalah satu-satunya dasar negara yang harus dijadikan pegangan hidup, baik dalam interaksi antarsesama manusia, antarsesama suku bangsa, antarsesama pemeluk agama. Sehingga tidak ada lagi pertikaian sebangsa dan se-tanah air yang akan memudarkan harapan-harapan kita sebagai warga negara.

***

Manusia Indonesia tidak perlu merasa kecil di hadapan bangsa lain. Manusia Indonesia tidak perlu merasa bergaya ala bangsa lain. Manusia Indonesia seharusnya percaya diri akan kemampuan, style, pemikiran, pengetahuan, dan budaya yang kita miliki. Bangsa yang kuat harus ditopang oleh optimisme masyarakatnya serta harapan-harapan besar yang masih mampu mengalir dalam darah daging bangsanya.

Saya membayangkan orang-orang Indonesia dapat berteriak selantang-lantangnya; “Akulah Jawa, Akulah Indonesia”, “Akulah Bugis, Akulah Indonesia”, “Akulah Papua, Akulah Indonesia”, “Akulah Madura, Akulah Indonesia”, dan seterusnya. Perbedaan suku bangsa dapat dijadikan sebagai spirit untuk mengakui kekayaan bangsa kita.

Meskipun latar belakang suku dan agama kita berbeda-beda tetaplah bersatu padu dalam lagu Indonesia Raya. Jika bangsa lain mampu beranjak dari tempat duduknya, kita harus yakin bangsa Indonesia juga bisa melakukannya, asalkan memiliki kehendak, jujur, adil, dan optimis. Rektor Universitas al-Azhar Cairo Mesir saja pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah taman surga, karena saking subur dan kayanya negeri ini. Mengapa manusia Indonesia merasa inferior?

***

Sudah saatnya bangsa kita dapat menentukan masa depan sendiri secara mandiri. Sudah saatnya bangsa kita tidak diatur-atur oleh bangsa lain. Kita seharusnya dapat mengelola kekayaan alam kita sendiri; kebutuhan air minum tidak harus membeli dari perusahaan-perusahaan asing dan migas bisa dikelola sendiri secara mandiri.

Harapan-harapan masa depan Indonesia akan dengan mudah dicapai jika manusia Indonesia yang memiliki elan vital dan ikut andil membangun karakter bangsa yang berbudaya dan berbudi luhur. Sehingga nilai-nilai kejujuran, keadilan, kedamaian, keharmonisan, toleransi, dan seterusnya bisa tegak kembali dalam tatanan berbangsa dan bernegara. Akhirnya, meminjam bahasanya Gusdur setiap mengakhiri tulisannya, itu hanya mudah dikatakan, tapi sulit dilakukan, bukan?

Ahmad Muchlish Amrin

Ahmad Muchlish Amrin

Lahir di Sumenep, 24 Agustus 1984. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan lain-lain.Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud, Bali. Kini mengelola Komunitas Tang Lebun di Yogyakarta.
Ahmad Muchlish Amrin

Latest posts by Ahmad Muchlish Amrin (see all)