Insan Kamil

in Tajalli by
english.shibir.org.bd

Di dalam lumbung sufisme Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240), sebutan manusia sempurna atau insan kamil itu sudah dipastikan menunjuk kepada Nabi Muhammad Saw. Tidak ada yang lebih sempurna dari beliau, baik secara lahiriah maupun batiniah, dari awal mula penciptaan sampai kapan pun.

Karena itu, dengan tegas bisa diungkapkan bahwa seluruh kemuliaan yang lain pastilah berada pada urutan di bawahnya, pastilah pula merupakan percikan dari kemuliaannya. Maka, tidak boleh tidak bahwa semua yang mengalami wujud memiliki pertautan dengan beliau seberapa pun kadar “spiritualnya”. Alasannya pasti: tak ada apa pun yang tidak mempunyai nilai kemuliaan. Karena bahkan wujud itu sendiri adalah kemuliaan yang merupakan derivasi dari wujud hadiratNya melalui cahaya primordial Nabi Muhammad Saw.

Sebagai makhluk nisbi yang paling dekat dengan kemutlakan Allah Ta’ala, beliau yang merupakan manusia paling sempurna itu tampil sebagai poros semesta yang dikelilingi seluruh anasir alam raya. Beliau adalah sumbu wujud yang membawahi apa pun yang lain. Beliau merupakan puncak dari seluruh penciptaan semesta.

Andaikan alam raya ini diibaratkan dengan sesosok manusia, beliau adalah dimensi kecerdasan spiritual yang merupakan penggerak utama bagi setiap tindakan anggota-anggota tubuh yang memiliki nilai kebaikan dan keluhuran. Andaikan kehilangan dimensi terpenting itu, manusia akan kehilangan substansi jati dirinya sebagai wakil Allah yang ditugasi mengelola laju sejarah kehidupan ini.

Para nabi, dari mulai Nabi Adam hingga Nabi ‘Isa, ibarat rangkaian bintang-gemintang di langit keagungan, keindahan dan kebenaran hadiratNya. Sedangkan Rasul Pungkasan, Nabi Muhammad Saw., laksana matahari yang tampil sebagai cahaya terbesar di antara semua cahaya yang dikandung dan dipantulkan oleh makhluk. Dan seluruh cahaya itu tentu saja merupakan kekuatan-kekuatan rohani yang memang sengaja disebarkan oleh Allah Ta’ala sebagai “paket-paket” keselamatan dan keberuntungan umat manusia.

Di bawah kekuatan rohani itu ada kekuatan indrawi yang tidak saja berfungsi untuk keberlangsungan dan kenyamanan hidup manusia, tapi juga terutama sebagai pintu rohani untuk membaca sekaligus merasakan dimensi jalaliah dan jamaliah yang disandang oleh hadiratNya. Dan di bawah kekuatan-kekuatan indrawi yang dimiliki manusia, ada kekuatan-kekuatan “indrawi” pula yang melekat pada rumpun binatang, pada pohon-pohon dan tanaman, pada tanah dan bebatuan.

Dalam konteks paradigma sufisme ini, alam semesta tak lain merupakan bagian manusia, manusia merupakan bagian dari para nabi, para nabi merupakan bagian dari Nabi Muhammad Saw., dan cahaya beliau yang secara hakiki identik dengan substansi wujud merupakan pancaran langsung dari cahaya Allah Ta’ala. Di sini dapat pula diungkapkan bahwa apa yang disebut sebagai makrokosmos itu murni tertuju terhadap Sayyidul Anbiya wal Mursalin, sedang sebutan mikrokosmos disandang oleh alam semesta. Berbanding terbalik dengan realitas empiris yang disaksikan oleh umat manusia.

Dan karena sebutan makrokosmos itu lebih tertuju kepada dimensi rohani ketimbang dimensi jisim, maka wajar ketika Syaikh Abu Yazid al-Basthami sampai ke puncak bukit spiritualitasnya, dengan tandas beliau kemudian menyatakan: “Andaikan ‘Arsy Allah Ta’ala itu jatuh ke dalam zawiyah hatiku, maka dapat aku pastikan bahwa hatiku masih sangat luas untuk menampung apa pun yang lain lagi.”

Paradigma sufisme yang memandang hierarki wujud secara spiritual itulah yang kemudian melahirkan adanya konsepsi wihdatul wujud (وحدة الوجود) yang terutama digawangi Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Di dalam terminologi yang telah melahirkan gemuruh kontroversi ini, apa yang disebut sebagai keanekaragaman realitas itu sama sekali tidak otonom secara hakiki, tapi murni sebagai gelombang paling permukaan yang sepenuhnya hanya merupakan jebakan sekaligus ujian bagi ketajaman penglihatan batin umat manusia. Dan, tentu saja yang paling jernih menyaksikan substansi keesaan wujud itu tak lain adalah Insan Kamil, Nabi Muhammad Saw.

Wallahu ‘a’lam bish shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.