Jais Darga, Menjadikannya Kawan Sekaligus Lawan

in Rehal by

Judul : Jais Darga Namaku

Penulis: Ahda Imran

Penerbit : KPG, Jakarta

Cetakan : Pertama, April 2018

Tebal : 525 halaman

ISBN : 978-602-424-831-4

Kisah dimulai di Limbangan, Garut, tahun 1947 pasca Perjanjian Renville, ketika pemerintah Republik sudah hijrah ke Yogyakarta. Kisah itu sungguh mematahkan hati, bahkan ketika baru saja dimulai. Pada suatu malam yang sepi, Raden Nana Sunani baru saja membawa pergi bayi empat bulannya. Ia bersama kakaknya, Raden Ningsih, memulai pelariannya ke Bandung demi tak mengindahkan keinginan anggota gerombolan yang mengaku laskar; yang hendak memperistrinya. Suami Raden Nana, Raden Icang Suryanata, sudah menjadi bagian dari laskar. Tentu tanpa menurut keinginannya sebab laskar diceritakan menyeramkan, suka membawa senjata, dan mendatangi rumah-rumah penduduk.

Bagian pertama, “Telur”, adalah awal dari tiga belas bagian dalam novel Jais Darga Namaku. Bagian awal ini seketika menyaru cerita-cerita pendekar lawas, sebuah kisah perlawanan serigala berbulu domba. Poin yang cukup tersirat adalah penerimaan sekaligus perlawanan terhadap kebangsawanan di waktu yang sama. Raden Sastrawinata, bapak Raden Nana, adalah seorang bangsawan atawa menak. Pada masa itu, golongan ini acap kali dianggap cecunguk Belanda atau jongos Republik. Keluarga menak dihormati di depan layar, seakan sikap hormat itu sudah meresap ke dalam pori-pori setiap orang—termasuk para anggota laskar yang sedang diliputi kekesalan dan amarah. Di balik layar, musuh tetaplah musuh. Potret masyarakat hierarkis yang banal diperlihatkan melalui cara Raden Sastrawinata kehilangan nyawanya tanpa lebih dulu kehilangan kehormatan dari “musuhnya”.

Di satu bagian saja kisah Limbangan ditulis, tetapi keseluruhan hidup sang tokoh utama, Jais Darga, akan selalu kembali pada situasi pelarian di Limbangan. Seperti pula Raden Nana tak bosan bercerita pada anaknya, Jais, tentang kisah pelarian itu. Tanpa kekisruhan dan pelarian, rumah Cirateun, Bandung—tempat kelahirannya—takkan ada dalam linimasa. Harus diakui, tempat itulah yang kelak menghantarkan kisah menuju dunia yang lebih terbuka. Cirateun adalah titik awal menuju keragaman perspektif. Bukan hanya sebagai bangunan fisik atau spasial, tetapi pun darinya kita dapat menemukan tokoh Raden Mas Dargawidjaja, sang bapak yang membawa kisah ke dalam satu garis panjang yang konsisten. Senantiasa ada kepergian, senantiasa pula ada kepulangan—yang tak lain menuju keluarga; menuju sang bapak.

Novel Jais Darga Namaku ditulis melalui sudut pandang orang pertama. Seperti yang tertera dalam sinopsis di belakang buku, saya mengharap-harap penceritaan panjang tentang bisnis seni rupa dunia—lengkap dengan nuansa konspiratif. Cerita kehidupan keluarga di dalamnya, jujur saja, bukan suatu hal yang terduga. Namun ketidakterdugaan itu yang justru kemudian membawa pembaca pada pemahaman tentang sudut pandang baru keluarga menak yang lazimnya tak lepas dari ragam etiket, cara mendidik, dan terutama model budaya patriarkal.

Rentetan kisah masa muda Jais berdasar pada ingatan-ingatan. Ia ditulis dengan kesadaran penuh sebagai perempuan dewasa. “… Bapak dan Ibu tak pernah sekalipun mengingatkan bahwa aku anak perempuan yang mestinya berambut panjang. Mengapa aku tak mau pakai rok dan lebih suka memakai celana panjang dengan kemeja pun tak pernah mereka tanyakan.” Dalam narasi-narasi semacam itu, terdapat kesadaran yang besar tentang bagaimana sebuah keluarga menak biasa memandang anak perempuan; bagaimana seharusnya perempuan bertindak. Di atasnya, ada pula kesadaran bahwa keluarganya tak tenggelam dalam stereotipe yang patriarkal. Semacam sebuah tarikan napas lega yang panjang.

Narasi itu adalah konkretisasi dari apa yang saya sebut sebagai “sudut pandang baru” dalam keluarga menak. Jais tumbuh dengan beragam cita-cita serta bermacam problematika modern di perkotaan: perceraian orang tua, distingsi lelaki dan perempuan dalam pergaulan, kegelisahan sebagai orang yang tak pernah payah secara keuangan, hingga refleksi eksistensial tentang diri.

Kisah mengenai ketertarikan pada lukisan belum muncul di masa-masa dini. Antara kisah a la pendekar di awal dengan kisah seorang art dealer terdapat ruang susur yang panjang. Kalau sepanjang menyusurinya pembaca tak menemukan irisan antara ruang personal Jais dengan lukisan-lukisannya kelak, maka Jais Darga Namaku akan jadi sekadar potongan-potongan puzzle yang menyatu tapi tak genah dipandang. Di situlah tepatnya peran penulis sangat diharap-harapkan, untuk menghiasi ruang susur itu.

Ruang susur yang panjang itu ternyata justru mempersembahkan potongan-potongan pengalaman yang bisa dinikmati. Periode “Jais Slebor” di Bandung menjelang akhir 1970-an adalah periode pemberontakan khas anak muda—bagian yang tak lepas dari diskursus tentang “masa depan” dan “nasib”. Ya, memang pada akhirnya Jais menjadi seorang art dealer yang sukses mendunia. Hatta penceritaan dinamika masa muda Jais tersebut menjadi ruang susur bagi pembaca—yang punya narasi konflik selain urusan art atau lukisan-lukisan. Ia dapat cukup terpisah dari fakta di ending.

Pilihan-pilihan hidup Jais kemudian membawanya ke pengalaman penting dengan lukisan Jeihan Sukmantoro yang berhasil dijualnya. Peristiwa itu membawa pembaca menuju pergerakan-pergerakan lain yang berkaitan dengan lukisan. Ia melesat begitu cepat. Dari sebuah pertanyaan: “you know who is Jeihan?”, perjalanan menjelajahi museum-museum di Eropa, hingga kemudian lahirlah “Jais Art”. Melalui penulis, yang digambarkan Jais mengenai dirinya sendiri selalu penuh keyakinan. Segala pilihan yang diambil Jais digambarkan secara positif dan berani ambil risiko, meski kita paham bahwa dalam perkara memilih, manusia tak sesederhana itu. Ada kerumitan-kerumitan personal yang tak terjelaskan dalam narasi sesimpatik apa pun. Paling tidak, dalam penceritaan, Jais—dalam memilih jalan hidupnya—digambarkan sebagai subjek dengan kedirian (mineness). Meminjam istilah Heidegger, Jemeinigkeitalways my own or in each case mine.

Kedirian seorang Jais—atau dasein dalam term Heidegger—merupakan unsur primordial dalam hidupnya. Jais hanya akan menjadi seorang Jais; seorang yang berkedirian, ketika ia membuat sebuah keputusan di suatu masa. Keputusannya itu dipengaruhi oleh masa lalu dan pertimbangan-pertimbangan yang kelak berpengaruh pada masa depan.

Ketika Jais sepakat menikah dengan Toni Herlambang, seorang pemilik galeri barang antik, kakak Jais bertanya, “Ia Cina?” Menanggapi itu, Jais digambarkan menanggapi secara positif. Ia tunduk pada keyakinan keluarganya: “kau bisa menikah dengan orang Eskimo sekalipun, tapi ia tak boleh beragama lain selain Islam.” Setelah sekian lama bercerai dari Toni dan memutuskan bersama dengan Didier Hamel, seorang lelaki Eropa, Jais mengandung apa yang disebutnya sebagai the fruit of love—kehamilan yang sebetulnya tak ia inginkan berujung di pernikahan.

Pertimbangan itu tak lain adalah cerminan dari pengalaman masa lalu yang menyaksikan perkawinan penuh perselingkuhan dan perceraian. Sang tokoh utama dibuat terikat dan tak pernah lepas dari masa lalunya. Masa lalu itu sendiri bukanlah masa lalu dalam arti sesungguhnya; yang berada di belakang masa kini dalam lini masa, melainkan sesuatu yang melekat dalam dirinya. Boleh jadi, keberadaan Jais adalah masa itu sendiri.

Dalam pembacaan Carol Gilligan mengenai pembacaan Freud tentang perkembangan perempuan, terdapat masalah yang membayang-bayangi pemahaman mengenai perkembangan perempuan. Pertama, hubungan yang dijalin perempuan tampaknya semakin misterius, sulit dicerna, dan sulit dijelaskan. Namun di satu pihak, misteri tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan dalam diri perempuan ditutupi oleh suatu konsep khusus mengenai relasi antar-manusia. Citra tentang relasi manusia, pelibatan perempuan, perubahan citra tentang (konsep) perempuan, membawa perubahan dalam seluruh pemikiran.

Perkembangan Jais seperti layaknya manusia lain tak dapat dituntut konsistensinya—secara logis maupun moral—sebab relasi antar-manusia sangat berpengaruh dalam pengambilan-pengambilan keputusan di hidupnya. Keragaman kengkawan sangat memungkinkan perubahan cara pandang tokoh utama kita. Kemenjadian manusia tak bisa dilepaskan dari dengan siapa dan sejauh apa ia berhubungan. Jais slebor dengan kejahilan anak remaja terancam skorsing, hingga menjadi Madam Darga sang perempuan glamor dengan pergaulan kaum jetset adalah perubahan yang dipengaruhi oleh relasi-relasi itu.

Pembaca boleh saja tak sepakat pada setiap keputusan Jais—bahkan bukan tak mungkin menjadi sinis dan nyinyir. Termasuk pilihan untuk tinggal dengan siapa setelah perceraian, sikap pada Toni, keputusan tunduk pada perintah keluarga untuk menikahi Didier, dan hal-hal semacam itu. Pembaca selalu berada di pihak Jais, sebab bisa mengetahui pilihan serta pertimbangan-pertimbangan dalam hidupnya. Pembaca adalah pula seorang oponen, sebab tak mungkin melulu sepakat pada keputusan sang tokoh utama.

Keseluruhan novel Jais Darga Namaku adalah mengenai kekembalian; mengenai kumparan masa yang berkumpul dalam diri manusia—kebetulan saja ia seorang Jais Darga, sang art dealer sukses. Novel ini meletakkan tokoh di muka pembaca. Bagi saya, tepat di situ keberhasilan penulis: menjadikan Jais kawan, sekaligus lawan.***

Aura Asmaradana

Aura Asmaradana

Mahasiswa tingkat akhir di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Suka menulis cerita pendek dan esai. Bukunya yang telah terbit adalah “Solo Eksibisi” (kumcer, 2015) dan “Solilokui” (novel, 2018).
Aura Asmaradana

Latest posts by Aura Asmaradana (see all)