Jaket dengan Lubang Bekas Peluru

in Cerita Pendek by

DULU dia tukang demo. Sekarang dia anggota parlemen. Dulu dia turun ke jalan mengkritik pemerintah dan terutama anggota parlemen yang hanya jadi tukang stempel pemerintah. Dia bersama kawan-kawan aktivitisnya berhasil menumbangkan pemerintah lama dan membubarkan parlemen yang berisi boneka rezim korup, dan mereka—anggota perlemen itu—sama saja korupnya.

Dia bergabung dengan sebuah partai politik yang dekat dengan rakyat kecil. Pada pemilu pertama yang digelar oleh pemerintah transisi, dia terpilih menjadi wakil rakyat.

Pada hari dia dilantik dia teringat sahabatnya, rekan aktivis yang tertembak dan tewas setelah beberapa hari sempat dirawat di rumah sakit. Dia sempat menunggu rekannya itu di rumah sakit. Bergantian dengan rekan-rekan lain. Malam itu, tugas korlap demonstrasi diserahkan kepada rekan yang lain. Aksi turun ke jalan mereka teruskan. Tindakan pihak militer yang menembaki beberapa aktivis malah membuat demonstasi antipemerintah semakin besar, semakin liar, dan semakin berani.

 Setelah peluru dikeluarkan, malam itu rekannya sempat sebentar sadar.

“Kawan, mana kawan-kawan yang lain?”

“Mereka sedang menduduki gedung parlemen. Sudah, kau istirahat saja. Kau banyak kehilangan darah.”

“Justru itu. Aku kira aku tak akan bisa bertahan….”

“Jangan kau pikirkan itu. Kau pasti selamat. Aksi kita pasti berhasil. Rezim korup ini pasti tumbang.”

Rekannya terdiam. Memejamkan mata. Lalu tersenyum. Damai sekali, seperti bendera di pucuk tiang ketika hari tak berangin. Selang beberapa lama, rekannya membuka mata lagi. Sangat perlahan. “Kawan, maukah kau berjanji?”

“Sudahlah. Tidur saja. Kau tak usah banyak berpikir dulu.”

“…Kalau nanti situasi politik berganti, maukah kau masuk ke salah satu partai yang kita percaya bisa memperbaiki bangsa ini? Atau kau dan kawan-kawan dirikanlah partai seperti sering kita bicarakan dalam diskusi-diskiusi kita. Lalu berjuanglah untuk jadi wakil rakyat lewat partai itu.”

“Kau ini bicara apa?”

“…Maukah kau berjanji kalau kau terpilih, dan kau dilantik, kau jangan memakai jas baru yang mahal. Kita pernah mengkritik itu. Kita benci sekali melihat para wakil rakyat itu pamer kemewahan. Kau nanti dilantik dengan jas almamater saya yang berlubang karena peluru yang menembus perutku ini.”

Dia diam saja.

Rekannya memejamkan mata. Dari celah mata yang memejam itu mengalir perlahan air mata.

“Kawan…”

“Berjanjilah. Rasanya kalau aku harus mati malam ini, aku akan mati dengan tenang.”

“Ya, saya berjanji. Tapi, percayalah kau tidak akan mati malam ini. Kau tidak akan mati karena kita harus melihat negeri ini dipimpin oleh pemerintah yang tidak korup.”

***

Ia memenuhi janjinya kepada rekannya yang gugur karena menumbangkan rezim korup negerinya. Pada hari pelantikannya sebagai wakil rakyat ia mengenakan jas almamater milik temannya yang ada lubang bekas tembusan peluru di bagian perutnya. Ia tidak pernah mau menjahit atau menambal lubang itu. Tentu saja di tengah anggota parlemen lain dia dengan jas almamater itu jadi menarik perhatian wartawan. Kepada para wartawan yang meriunginya ia menjelaskan alasannya. Para wartawan foto dan kameraman berebut memotret dan mengambil gambarnya. Ia sudah membayangkan fotonya terpampang di halaman satu koran-koran besar ibukota. Ia sudah membayangkan beritanya disiarkan pertama di siaran berita pada jam tayang utama. Dulu, fotonya dan rekannya yang tertembak pernah terpajang menjadi foto utama. Dulu ia tak merasakan apa-apa. Tapi, karena foto itulah perjalanannya ke gedung parlemen mulus. Ia menjadi pahlawan. Ia terpilih dengan suara tertinggi dari seluruh anggota perlemen yang terpilih dan pada hari itu dilantik bersamanya.

Tapi ia kecewa. Tak ada berita tentang dia di televisi sepanjang siang hingga malam harinya. Koran-koran keesokan paginya juga tak ada memajang fotonya. Hanya ada beberapa berita pendek dan foto dalam ukuran kecil di situs berita daring.

Sepanjang siang dan malam hari, hingga pagi itu, yang disiarkan justru berita artis dan selebritis yang dimanfaatkan oleh partai warisan rezim lama untuk melenggang mulus ke parlemen. Artis-artis itu terutama mengandalkan popularitas, dan sepertinya hanya itu yang mereka punya. Merekalah yang kini bersamanya duduk dalam parlemen. Ia makin kecewa.

Hari pertama masuk kantor di kompleks parlemen, ia membawa guntingan halaman pertama surat kabar yang dulu memajang fotonya memeluk sahabatnya yang tewas di ranjang rumah sakit. Sahabatnya yang menjadi tumbal dari perjuangan aktivis mahasiswa menumbangkan rezim bobrok, yang tak lagi bisa diperbaiki kecuali dengan menumbangkannya. Potongan surat kabar itu ia bingkai. Lalu dia pasang di belakang mejanya.

“Kawan, harusnya kau melihat dan menikmati hasil perjuangan kita,” ujarnya bergumam, seakan berbicara dengan sahabatnya dalam bingkai itu.

“Seharusnya, Kawan, kau juga kecewa dengan parlemen di mana aku duduk menjadi bagiannya. Rasanya terlalu banyak penumpang gelap. Pemerintah zalim itu memang tumbang. Tapi orang-orang partai lama itu dengan lihai berganti wajah. Mereka seakan-akan lebih bersih dari kita. Mereka dengan cepat mandi dan cuci tangan, membersihkan tangan dari darah rakyat, dan menghilangkan bau busuk dari apa yang mereka makan dari merampok uang negara.

“Kalau bukan karena janji denganmu, Kawan, aku tak akan pernah mau duduk di parlemen yang tak sepenuhnya bersih, seperti yang dulu kita cita-citakan. Partai penguasa lama itu hanya berganti nama. Orang-orangnya adalah mereka yang dulu menjilat presiden yang kita tumbangkan. Orang-orang itulah yang juga duduk di parlemen yang sekarang aku ada di dalamnya.

“Sesungguhnya, Kawan. Aku lebih memilih turun ke jalan lagi seperti dulu.”

***

Hari itu, dengan jaket almamater yang bolong ditembus peluru, dia menghadiri sidang paripurna pertama. Hari itu, tak ada lagi wartawan yang bertanya tentang jaket itu. Tak ada lagi fotografer yang menjepretkan kamera ke arahnya. Tak ada kamera televisi yang menyorot dia. Rekan-rekan anggota parlemen pun memandang kepadanya dengan tatapan mengejek.

“Bung, kita ini mau sidang bukan mau unjuk rasa.”

“Mau ke kampus? Oh, belum lulus ya? Makanya, selesaikan dulu kuliahmu, Bung. Banyak tuh anggota partai Bung yang siap jadi anggota parlemen menggantikan, Bung.”

“Jual saja, Bung, kursi Anda. Lumayan harga kursi itu, Bung. Tanggung kalau cuma menghemat uang dari ongkos bikin jas baru.”

Dia memasuki ruang sidang dengan perasaan yang kosong. Ejekan-ejekan anggota parlemen lain bergaung, berulang-ulang, dan justru gaung itu semakin nyaring menumbuk-numbuk telinganya. Apa yang dia lihat kini tampak berputar. Ia mulai berkeringat. Ia kesulitan mencari-cari namanya, sebelum akhirnya menemukannya. Ia menduduki kursinya yang sangat nyaman sebenarnya, tapi dia justru merasa tersiksa. Ia panas dingin. Ia diam saja mencoba menyerap keriuhan basa-basi. Ia teringat rapat-rapatnya dulu bersama sahabat-sahabat aktivisnya. Sahabat-sahabat yang juga berjuang mendudukkannya ke parlemen, karena janji dengan sahabatnya yang tewas tertembak. Sahabat-sahabatnya yang mengumpulkan uang untuk sekadar biaya kampanye.

Ia tak terlalu sempat menyimak apa yang sebenarnya terjadi di kursi pemimpin sidang. Seorang anggota parlemen perempuan yang sudah entah empat atau lima kali menjadi anggota parlemen. Ia tak terlalu tahu kenapa palu sidang itu tiba-tiba hilang, hujan interupsi, meja yang ditumbangkan, mikrofon yang mati, dan rekan-rekannya yang entah kenapa tiba-tiba meninggalkan ruang sidang.

Ia kini duduk sendiri. Kursi-kursi di sekitarnya kosong. Ia memejamkan mata. Ia menautkan jari-jari kedua tangannya di depan wajahnya. Ia tampak seperti tertidur. Ia tak tahu, dari arah balkon para wartawan memotretnya, televisi menyiarkan langsung gambarnya yang sedang tertidur di sidang paripurna pertama yang dia ikuti. Juga situs berita daring. Foto dia yang tertidur itu menyebar di media sosial.

***

            Pagi itu, semua suratkabar ibukota memuat fotonya di halaman pertama. Tapi, dia tak pernah melihat dan membaca berita itu: Mantan Aktivis Tewas di Sidang Paripurna.

Jakarta, November 2014–Juni 2017

Hasan Aspahani

Penyair, buku puisinya, Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Terbaik Anugerah Hari Puisi Indonesia 2016.

Latest posts by Hasan Aspahani (see all)