Jalan Pulang ke Rumah Laut

in Cerita Pendek by
 Jejak-kaki-menuju-laut
Sumber gambar; 4rdysama.wordpress.com

Aneh betul ketika hidungku mencium aroma laut dalam semesta gelap. Terdengar sayup ombak tiada henti. Riuh camar laut mengusir sepi yang berdenging dalam telinga. Perih dan linu di sekujur tubuh mendadak sirna.

“Laut…,” desisku, “…laut….”

Ajaib. Beberapa saat kemudian aku merasa terbebas dari belenggu yang menahan kedua tangan dan kakiku. Tiba-tiba aku telah berdiri di sebuah pantai….

***

Cahaya menyapa hangat tatkala kakiku melangkah ke sebuah speedboat di Pelabuhan Sadai. Setelah melihat laut lapang, penat perjalanan udara sedari Palembang ke Pangkalpinang dan perjalanan darat menuju Bangka Selatan musnah sudah.

Nak ke mana, Pak?”

“Antar saya ke Pulau Lepar. Kira-kira berapa lama?” aku balik bertanya ke lelaki paruh baya yang telah bersiap menghidupkan mesin.

“Kalau laut tenang begini, paling hanya satu jam.”

Kuanggukkan kepala. Menatap jauh ke ujung cakrawala, beberapa jong[1] terlihat berlayar di atas bentangan gelombang. Seperti kenangan yang bergerak lambat.

Tak ada keinginan mencari lebih. Asal sumpit[2] di pinggang telah penuh teripang, agar-agar, lokan, ataupun ikan-ikan, pulang dan menikmati nyamannya rumah adalah tujuan. Karena itulah hidup selalu terasa damai, tak pernah ada keinginan untuk menyakiti, apalagi merusak.

“Dasar Orang Sekak![3] Kau sembunyikan di mana ayamku yang kau curi itu!”

“Aku tidak mencurinya! Aku tidak pernah mencuri!” teriak bocah berkulit legam itu. Tendangan dan tempelengan bertubi-tubi datang dari empat bocah yang mengerumuninya dengan segala serapah.

Tapi tak pernah ada yang mempercayainya. Meski ia selalu berusaha membuktikan bahwa ia keturunan orang baik-baik.

“Kenapa mereka selalu berprasangka buruk terhadap kita, Pak?” tanyanya kepada seorang lelaki yang selalu mengajarinya tentang laut.

Jemari kokohnya menyisir lembut rambut ikal si bocah. Kemudian cerita itu pun terpapar runtut dari bibirnya, “Nenek moyang kita adalah para pelaut yang ulet dan tangguh. Bangka Belitong hanyalah dua daratan kecil yang pernah mereka singgahi. Mereka bersahabat dengan Gajah Manunggang[4]. Mereka dekat dengan dewa-dewi penguasa laut. Tersebab itulah mereka tak mau menyakiti laut. Namun berjalan masa, kehidupan daratan mulai terasa lebih memikat. Apalagi sejak mereka mulai mengenal uang. Gaji yang didapat dianggap sebagai pemberian alam yang mudah dipetik dan harus segera dimanfaatkan. Akibatnya, segala keburukan pun menguntit di belakang.”

Iya, bocah kecil itu pun melihat. Orang-orang sesukunya sering lupa diri saat menerima gaji mingguan selama mereka menjadi kuli di pelabuhan, galangan kapal, atau gudang timah. Mereka ramai-ramai beli bir, minum-minum, dan makan-makan memboroskan uang, tanpa pernah tahu bahwa pabrik tak semurah laut yang mereka tinggalkan. Tapi tak semuanya berkelakuan seperti itu.

“Apakah Bapak dibuntuti seseorang?” Suara lelaki paruh baya itu membangunkan kesadaranku.

Kunaikkan alis, lalu menoleh ke belakang.

“Sepertinya ada speedboat yang terus meneropong kita?” Berisyarat ke sebuah benda putih yang terapung-apung lumayan jauh di belakang.

“Mungkin kebetulan searah, Pak.”

Coba kubungkam pula riuh lain yang juga menguntitku sedari Palembang. Namun tak bisa….

“Ayolah, Sin. Apa susahnya? Hanya mengubah sedikit data, kan? Aku tahu kau bisa.” Kalimat itu menyembul dari hamparan gelombang.

“Jangan khawatir. Berikan saja nomor rekeningmu. Kalau kau takut, buatlah nomor rekening baru.” Tak pernah habis suara-suara itu.

“Apa kau lupa, siapa dulu yang memberimu jalan hingga derajatmu naik seperti sekarang? Ingatlah jasa-jasa ebak[5]-ku kepadamu, Sin. Dan sekarang anak beliau tengah membutuhkan pertolonganmu….”

Sepertinya perjalanan hidup ini selalu berulang. Empat belas tahun silam, aku pernah terlunta-lunta menjadi gelandangan di Pasar 16 Ilir Palembang. Selalu memandangi hamparan Sungai Musi tatkala rindu laut bertamu. Banyak kenangan yang tertampung di sungai itu. Banyak pula impian yang terapung di sana. Tentang pertemuanku dengan Tuan Muzaffar yang kemudian mengangkatku sebagai anak asuh, dari yang hanya seorang kuli pasar hingga menjadi seorang yang melek pendidikan. Dan kini, aku pun kembali terlunta-lunta demi mencari jalan pulang.

Ada banyak kebimbangan kubawa. Aku tak yakin apakah lelaki dan perempuan laut yang kini menjadi tujuanku akan bersedia ikut denganku. Sedangkan aku sendiri tengah gundah dengan kehidupanku di daratan sana. Banyak kekecewaan yang ingin kuceritakan kepada beliau berdua.

“Aku bukannya tak mau membalas budi ebakmu, Man. Tapi bukan dengan cara ini yang aku ingini.”

“Lantas dengan cara apa? Uang? Apakah uangmu lebih banyak dari uangku?”

“Kita sudah sampai, Pak. Saya menunggu ataukah Bapak nak cari orang lain saja nanti?” Suara lelaki paruh baya itu kembali menghentikan kembara lamunanku.

“Tunggu, sebentar saja,” jawabku setelah melompat turun ke hamparan pasir putih.

Pandanganku mencari-cari ke arah deretan rumah panggung yang berjejer tak jauh dari tempat speedboat menepi. Sepi. Tak terlihat denyut kehidupan di perkampungan itu. Menurut ingatanku, kampung ini hanya disinggahi kala angin mulai berubah arah menuju barat.

Kutemukan seorang lelaki bungkuk berkulit legam tengah memperbaiki jaringnya. Bahasa Melayunya terdengar cepat dan kadang seperti gumam. Baru kuingat perkampungan ini bernama Kumbung. Kutanyakan nama sepasang suami istri yang umurnya hampir mendekati tujuh puluh namun tak memiliki anak. Kurincikan semua ciri-ciri keduanya dengan saksama. Yakin betul aku bahwa lelaki dan perempuan laut itu tak beranak lagi selain diriku. Siapa tahu mereka pernah singgah lagi di tempat ini. Namun lelaki itu bilang tak pernah lagi melihat orang-orang yang sering mengembara dengan perahu itu.

Kuhampiri sebuah sapao[6] kosong yang telah ditinggalkan penghuninya. Sepertinya telah lama gubuk ini ditinggalkan. Debu dan sarang laba-laba mudah ditemukan di setiap sudutnya. Ada beberapa dinding kayu yang rapuh. Aku tahu, tempat ini akan kembali riuh jika penghuninya kembali pulang dari pengembaraan. Kupandangi pucuk-pucuk cemara yang melambai-lambai ke arah timur.

“Sebenarnya Bapak nak cari siapa?”

“Mau cari sanak, Pak.”

“Tinggalnya di mana?”

“Laut,” jawabku pendek.

“Orang Sekak, kah?”

“Orang Sawang. Jangan panggil kami Orang Sekak.”

Lelaki paruh baya itu lekat mengamatiku, seolah tak percaya bahwa yang berpenampilan perlente ini adalah salah satu dari orang-orang yang kerap dipandang buruk itu.

“Kita akan terus ke Belitong.”

“Sulit jika nak lacak mereka, Pak. Kecuali jika sanak Bapak itu sudah menetap.”

“Jangan khawatir, saya akan bayar sesuai tarif Bapak.”

“Lalu kenapa orang-orang itu sepertinya membuntuti Bapak?” Menunjuk ke pantai di sebalik rerimbunan bakau.

“Itu hanya perasaan Bapak saja. Mari kita teruskan perjalanan.”

“Bagaimana kalau seandainya sanak Bapak sudah menetap di daratan dan ikut betimah[7]?”

“Tak mungkin. Takkan mungkin.” Aku masih ingat betul ekspresi lelaki laut itu ketika melihat orang-orang yang membabi buta mengeruk tanah demi butiran-butiran timah.

Speedboat kembali melaju menyusuri kenangan. Cahaya telah semakin merangkak ke atas ketika Pulau Liat terlewati. Di sepanjang pesisir Pulau Pongok pun tak menuai hasil. Ombak Selat Gaspar kembali mengajak bicara.

“Mereka memanggil kita Sekak, mereka memanggil kita ilanun….”

“Nah, maka ingat-ingatlah ini sepanjang hayatmu. Jangan pernah melakukan perbuatan para Sekak dan ilanun. Sekali kau melakukannya, maka tepatlah ejekan mereka itu.”

“Maaf, Pak. Saya tak mungkin mengantar hingga pencarian Bapak selesai. Di Tanjung Pandan banyak sekali Orang Sawang yang telah menetap. Tentu Bapak bisa bertanya kepada mereka nanti. Dan kalaupun Bapak ingin menyusuri seluruh pantai pulau ini, pasti akan ada banyak orang yang bersedia mengantarkan.” Lelaki itu mengucapkan salam perpisahan ketika telah sampai di pelabuhan Tanjung Pandan.

Kuulurkan uang seraya mengucap terima kasih. Dalam kepalaku sudah terbayang beberapa tempat yang harus kusinggahi. Tanjung Siantan, Manggar, Gantong, Tanjung Kelumpang, Dendang….

Baru beberapa langkah ketika aku hendak mencari seorang nelayan yang kiranya bersedia menjadi juru antar dalam pencarian, tiga orang lelaki berbadan tegap menghadang langkah. Firasatku berbisik buruk. Tanpa banyak cakap, tiba-tiba saja mereka memukuliku hingga gelap menyergap.

***

Ombak…, ombak…, ke mana kini suaramu bersembunyi? Kenapa aromamu tak tercium lagi?

Terdengar pintu dibuka. Kemudian suara langkah-langkah kaki. Klethokklethokklethok…. Sepertinya berhenti di hadapanku.

“Sudah kau pikirkan masak-masak tawaranku?” Aku mengenal suara itu. Namun alangkah beratnya kepalaku.

Sebuah tangan mencengkeram daguku, menegakkannya dalam gelap.

“Hanya tinggal mengubah sedikit data, Sin. Apa susahnya?” Menepuk pipiku, dan lalu membiarkannya terkulai lagi dalam gelap.

“Juh!” Aku tak tahu, apakah ludah itu mengenai sasaran.

“Aku tahu, aku tahu sifatmu sedari kecil. Sayang sekali kau telah tahu segala sesuatu yang seharusnya tak boleh diketahui. Sayang sekali Ebak telah tiada dan tak bisa lagi membelamu….” Suara itu menjauh bersama langkah kakinya.

Tapi aku merasa masih tertinggal seorang yang berdiri di hadapanku.

Dorr!!

Ada yang berderak. Bagai dikuliti. Semua sakit itu kembali berkelebatan dalam gelap. Mereka memanggil kami Sekak, mereka mengalamatkan semua keburukan kepada kami, laut yang menangis, tatapan terakhir lelaki dan perempuan laut ketika melepasku menantang masa depan ke daratan, Pasar 16 Ilir, suara teduh Tuan Muzaffar yang menyuruhku memanggilnya ebak dan melupakan laut, Sungai Musi, ijazah Kejar Paket, foto sarjana, mulut-mulut yang selalu menanyakan asal-usulku, tatapan iri Hariman, mulut tajam Hariman, baju-baju bekas pemberian Hariman, kantor perpajakan yang berhawa gerah, amplop-amplop liar yang terus mengejar dan mengejekku sok suci, permainan nakal perusahaan Hariman dalam menjalankan proyek-proyek pemerintah, lelaki dan perempuan laut yang jejaknya tak lagi bisa kutemukan, rumah laut, segala impian, gelap, gelap….

Belum sempat aku menjerit, cahaya tiba-tiba menyeruak dan menerangi segala. Heran aku. Lautan luas telah terbentang di hadapanku. Sepasang manusia di atas perahu senja terlihat melambai-lambai memanggilku!

“Mari, Nak, pulanglah ke laut….”

Nak ke mana?!!” teriakku. Tahukah ia bahwa selama ini aku amat merindukannya?

Perahu itu mendekat. Aku berlari menyambut jingga. Sosok perempuan di sampingnya yang semakin jelas terlihat membuat air mataku meleleh.

Ah, ternyata selama ini mereka tak ke mana-mana. Mereka masih berumah di laut. Buncahnya hatiku. Alangkah senangnya dijemput pulang ke rumah….

_________________

[1]  Perahu.

[2]  Kantong untuk tempat hasil tangkapan yang diikatkan di pinggang.

[3]  Panggilan berkonotasi negatif yang dialamatkan ke orang-orang Suku Laut.

[4]  Ikan besar berbelalai dan bertaring, menyerupai gajah.

[5]  Ayah.

[6] Semacam gubuk, tempat tinggal sementara para pengembara Suku Laut.

[7]  Menambang timah.

Adi Zamzam

Adi Zamzam

lahir di Jepara, Januari 1982. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai media massa dan beberapa antologi bersama. Saat ini, bersama kawan-kawan sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan Akademi Menulis Jepara.
Adi Zamzam

Latest posts by Adi Zamzam (see all)

  • selamat mas adi zamzam 🙂

    • Adi Zamzam

      Terima kasih atas apresiasinya, Mbak Nisrina 🙂