Jalur Instan Itu Bernama Kedodolan

in Esai by

desparate-writer

Bermula dari sebuah status yang diposting redaktur fiksi majalah GADIS, Farick Ziat, di grup Facebook Taman Fiksi tentang event lomba penerbit indie yang hadiahnya “biasah ajah”, maka pro dan kontra bin perkasak-kusukan pun dimulai dengan biadab. Farick Ziat mengkritik nominal hadiah dari penerbit indie tersebut sebagai sebuah pelecehan pada kinerja intelektual penulis. Suer! Itu pernyataan yang saya dukung pol. Saya setuju! Namun tentu saja ada yang juga tidak setuju, dong. Ya iyalah namanya juga hipotesa.

Pernyataan tidak setuju pada status tersebut kebanyakan datang dari para penulis yang memang rata-rata dibesarkan oleh event seperti itu—percayalah, mereka sangar dan siap tarung demi argumentasi mereka. Mereka menganggap kata “pelecehan” yang digunakan Farick Ziat lebay bingitss, mengingat event seperti itu tak melulu membawa dampak negatif pada para penulis.  Justru apa yang dilakukan penerbit indie dengan mengadakan event seperti itu sesungguhnya sangat bagus untuk dedek-dedek gemes dunia kepenulisan (baca: penulis pemula). Event ini membuat mereka mendapat pengakuan secara konkret dalam bentuk sertifikat dan buku terbit (walau harus ditebus/dibeli dengan duit sendiri), dan tentu saja; dengan cara mudah dan tidak butuh proses panjang.

Layaknya terkena sentuhan tongkat sihir Harry Potter, dalam waktu singkat mereka bisa mendaku diri sebagai penulis. Ya, dengan sertifikat dan bukti buku yang terbit! Sekilas apa yang disampaikan dedek-dedek gemes itu benar belaka. Dengan keyakinan membara dalam dada dan gelora berapi-api, mereka mengamini bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang tepat. Baiklah, pada titik ini saya menyerah. Saya jadi teringat kata-kata Adolf Hitler; Melawan iman jauh lebih sulit daripada melawan ilmu pengetahuan. Dan para dedek-dedek gemes ini sudah mencapai level mengimani apa yang mereka lakukan. Karenanya jadi pusing-pusing tampanlah saya, namun sebelum pusing-pusing ini menjadi muntah-muntah, izinkan saya menyenaraikan pemikiran saya.

Sungguh tidak ada bedanya event lomba kepenulisan berhadiah kecil atau besar. Besar atau kecil hanya sebutan, kata Iwan Fals—tentu tak semua begitu memang sebab beberapa ukuran katanya memang harus dikecualikan meski saya belum mengalaminya langsung. Tidak ada bedanya pula penyelenggara dari indie yang mewajibkan membayar dan membeli karya sendiri atau penerbit mayor yang mencetak karya cuma-cuma dan dihadiahi pula. Tidak ada bedanya pada titik ini.

Pada titik lain, bedanya ada pada “marwah” karya itu sendiri, buah pikir, anak batin, kekayaan intelektual yang akan diperjuangkan lewat jalan apa, sampai ke mana dan setinggi apa. Di sanalah orang-orang akan menghargai dan mengakui sebuah pencapaian.

Bermimpi menjadi penulis dengan cara-cara instan semacam mengikuti lomba berbayar, nyaris tanpa seleksi dan penjurian, bayar pula situ sini, diterbitkan meski kudu bayar lagi, memang tidak salah. Silakan memilih jalan masing-masing. Jalan pintas pun adalah pilihan. Tapi kalau mau, coba sesekali pertimbangkan lagi. Berbekal buku bikinan sendiri yang dicetak 10–20 biji, cuma dengan model print file to book dan dikhatamin sama temen-temen sendiri, terus sudah pede sekali mengaku sebagai penulis sejati?

Ini masalahnya. Hal-hal begini sangat mengerikan dan banyak terjadi pada dedek-dedek gemes pemburu sertifikat dan lomba abal-abal yang kemungkinan besar dipicu oleh keterbatasan jelajah pengalaman dan pemahaman mereka. Cobalah dedek-dedek gemes itu bergaul sama saya, dijamin setahap demi setahap akan bisa buka-bukaan.

Mereka begitu terobsesi untuk jadi penulis dengan cara cepat, kemudian “dimanfaatkan” oleh sekumpulan oknum kampret yang bikin penerbitan indie abal-abal. Tolong cermati kalimat saya, yak! Oknum penerbitan indie abal-abal. Catat pula bagian berikutnya ini: tentu tidak semua penerbit indie memanfaatkan semangat dedek-dedek gemes itu, toh juga ada banyak penerbit indie yang betul-betul profesional dan bonafide dalam menerbitkan buku-bukunya. Dua kalimat berseberangan saya itu tak perlu diperdebatkan lagi validitasnya.

Ironisnya, jika sudah telanjur pewe dengan jalan-jalan yang serba mudah dan serba instan, biasanya orang akan malas untuk keluar dari jalan itu. Mereka akan alergi dengan  jalan terjal dan berliku, hingga ngibrit sejauh-jauhnya kayak setan dibacain ayat kursi. Padahal kata orang-orang suci; jalan terjal dan berliku itu akan membuatmu lebih mulia dan lebih mendalam menghargai sebuah pencapaian. Serta akan dikenang dalam rentang masa yang panjang. Kata psikolog humanistis keturunan Yahudi, Victor Frankl dalam The Doctor dan the Soul (1968), “penderitaan adalah petunjuk bagi penggalian makna hidup; penderitaan dan kesulitan hidup adalah milik kehidupan, seperti halnya takdir dan kematian.”

Finally (baca: jangan merokok di sini), saya hanya bisa berdoa semoga dedek-dedek gemes itu lebih sabar menjalani sebuah proses. Agar hidupnya lebih bermakna; dan saya siap menjadi guide-mu, dunia akhirat. Bayangkan, Dek, capung saja harus berendam dulu dalam air sungai yang deras dan penuh batu berbulan-bulan agar bisa menjadi penerbang yang tangguh, masak kamu kalah sama capung. Kalau kata Pele (pemain sepak bola legendaris dari Brasil), semakin sulit kamu meraih kemenangan, semakin besar pula kebahagiaan yang akan kamu dapatkan.

Kalau kata Edi AH Iyubenu dalam bukunya CEO Koplak!!!,Merasa pintar dan merasa sudah jadi penulis adalah efek memuakkan dari pembunuhan terhadap masa depan mereka sendiri.” Saya kira kata-kata tersebut cukup efektif untuk menampar para penerbit indie yang memanfaatkan kepolosan dedek-dedek gemes tercinta itu.

Ya sudah, sekarang terserah Anda, mau lanjut debat soal “jalan kedodolan” itu atau mau ngopi dan dibayarin CEO basabasi.co.

Adam Yudhistira

Adam Yudhistira

penulis kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan. Beberapa karya cerpen dan puisinya telah dimuat di media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Media Indonesia, Majalah GADIS, Tabloid Cempaka, Lampung Post, Sumatera Ekspress, Berita Kota Kendari, Besemah Independent, dan lain-lain. Ia penyuka musik underground dan peminum kopi yang taat.
Adam Yudhistira

Latest posts by Adam Yudhistira (see all)

  • Araska Mada

    Abang senior menuding si dedek
    Si dedek memperjuangkan mimpi
    Mimpi dijual sang pencari nafkah
    nafkah datang siapa yang duga…

    si bodoh berjuang, sebodoh terjatuh,
    jalan manapun boleh
    mati pun boleh
    asallah jangan berhenti bermimpi…

  • Pingback: Catatan Kedodolan | melankoliafrasa()