Ustadz, Jangan Keburu Terkenal, dong…

in Esai by
mendadak ustadz
Sumber gambar abangdani.wordpress.com

Judul di atas sebenarnya terinspirasi dari dawuh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Kiai yang juga penyair itu pernah bilang, “Sekarang banyak ustadz yang keburu terkenal sebelum ngajinya tuntas. Akibatnya, ia suka marah-marah, merusak, serta menghakimi orang lain dengan dalil yang dia sendiri belum paham benar.”

Gus Mus patut resah dengan fenomena “ustadz setengah matang” yang hingga kini dan—entah sampai kapan—akan terus mengalami peningkatan; semakin banyak peminatnya. Di era super canggih sekaligus super instan seperti saat ini, untuk menjadi terkenal sangat mudah; untuk disebut ahli agama tak perlu belajar lama-lama. Itulah sebabnya, Gus Mus dengan bijak berpesan, “Ngaji dulu baru terkenal, bukan sebaliknya, terkenal dulu baru ngaji.”

Di pesantren-pesantren yang masih berpegang pada tradisi belajar ulama-ulama dahulu, kita sering kali disuguhkan petuah-petuah bijak yang sarat makna. Misalnya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin runduklah ia seperti padi; semakin banyak ilmu yang dikuasai, semakin ia merasa tak mengetahui; dan seterusnya. Ketika orang-orang membicarakannya dengan puja-puji yang tiada habisnya, semakin ia merendah dan tak jemawa karenanya.

Tapi tradisi belajar yang sedemikian agungnya itu kini nyaris tak lagi diminati. Alasannya sederhana: keburu pengen terkenal! Baru tahu sedikit tentang al-Qur’an dan hadits, sudah ngerasa segala-galanya; baru sebulan mendalami ilmu-ilmu agama sudah ngerasa singa. Lalu, jadilah ia penceramah amatir dari mimbar ke mimbar, dari panggung ke panggung. Ketika orang-orang membicarakannya dengan penuh puja-puji, semakin merasalah ia sebagai satu-satunya pejuang agama yang layak disebut “Ustadz!”

Dulu, orang-orang yang benar-benar serius belajar, pergi nyantri ke mana-mana, berguru dalam waktu yang lama. Tujuannya bukan untuk terkenal, lalu berharap bisa nyeramahin jutaan orang. Bukan. Mereka belajar untuk mengerti, kemudian mengamalkannya, karena memang perintahnya ibda’ bi nafsika (mulailah dari dirimu sendiri).

Karena begitu mulianya tujuan yang dipancang, samudera ilmu yang mereka selami memantulkan cahaya kearifan dan ketulusan. Perilakunya menyejukkan. Ilmunya nggak habis dibagi-bagikan.

Nah, bisa dibayangin kalau cuma beberapa bulan belajar ilmu agama, lalu mentang-mentang jadi ustadz dengan tarif yang nyaris tak terjangkau: pasti yang memantul dari hatinya tak lain dan tak bukan adalah cahaya redup karena miskinnya ilmu dan keringnya keteladanan.

Dulu, tokoh-tokoh macam Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan (untuk menyebut beberapa contoh), nggak pernah mengimpikan jadi ustadz yang terkenal di dunia dan akhirat. Beliau-beliau yang terhormat itu impiannya hanya sederhana: menjadi ustadz bagi diri mereka sendiri, yang setiap saat menceramahi diri sendiri, menasihati diri sendiri. Itu saja.

Karena orang-orang dulu begitu jelas tujuan dan kesungguhannya dalam belajar ilmu-ilmu agama, maka nggak heran toh jika mereka selalu merunduk kayak padi, hormat kepada guru, menghargai yang berbeda, dan nggak mudah kaget dengan isme-isme baru. Seluruh hidupnya penuh kegembiraan.

Kalau lagi ngebahas bab hormat guru ini, saya teringat dengan kisah Mbah Hasyim Asy’ari. Sebelum nyantri ke Mbah Kholil di Bangkalan, Madura, Mbah Hasyim sudah kenyang dengan ilmu karena selama empat belas tahun dididik langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Tapi Mbah Hasyim tetap merasa lapar. Godaan untuk cepat terkenal pun dibuangnya jauh-jauh.

Sebagai seorang santri, Mbah Hasyim tahu betul apa arti belajar dan berguru. Sebagaimana dikisahkan oleh KH. MA. Sahal Mahfudz dalam pengantar buku Sang Kiai karya KH. M. Hasyim Asy’ari yang diterbitkan Qalam (2002), pernah suatu ketika Mbah Hasyim melihat gurunya, Mbah Kholil Bangkalan, duduk sedih seakan memikirkan sesuatu. Saat itu, Mbah Hasyim masih nyantri di pesantren milik Mbah Kholil. Lalu, setelah Mbah Hasyim bertanya ihwal kesedihannya, Mbah Kholil menjelaskan bahwa ia sedang sedih memikirkan cincin kesayangan istrinya yang jatuh di WC.

Kemudian Mbah Hasyim mengusulkan agar gurunya itu membelinya lagi. Tetapi Mbah Kholil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istimewa bagi istrinya. Dengan ketawadhu’an yang sangat tinggi, Mbah Hasyim tidak kehilangan akal. Ia memberanikan diri untuk mencarinya di WC. Mbah Kholil sangat gembira mendengar usulan santri kesayangannya itu. Setelah berhasil ditemukan, Mbah Kholil benar-benar gembira dan segera memberitahukannya kepada istrinya.

Cerita-cerita sejenis itu, di kalangan pesantren sudah biasa. Sudah menjadi cerita setiap hari. Bukti dari ketakziman dan akhlakul karimah. Demikianlah para santri menyebutnya. Kedalaman ilmu yang dihiasi dengan kemuliaan akhlak membuat Mbah Hasyim menjadi sosok yang dihormati di masanya, bahkan hingga kini. Tak heran jika suatu ketika Mbah Kholil yang merupakan maha guru tanpa ragu menyatakan bahwa ia berguru kepada Mbah Hasyim.

Anda pasti terkejut, kan?

Bagaimana mungkin seorang murid yang dulu pernah belajar, mengabdi, dan bahkan sampai rela masuk WC hanya untuk mendapatkan barokah sang guru, tiba-tiba tanpa diduga sang guru yang karismatik itu rela mengabdikan dirinya belajar kepada sang murid. Kisah ini bisa disimak dari dialog yang cukup mengesankan antara dua ulama besar itu pada tahun 1933.

“Dulu saya memang mengajar Tuan. Tapi hari ini, saya nyatakan bahwa saya adalah murid Tuan,” kata Mbah Kholil dengan penuh takzim.

“Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru akan mengucapkan kata-kata yang demikian. Tidakkah Tuan Guru salah raba berguru pada saya, seorang murid Tuan sendiri, murid Tuan Guru dulu, dan juga sekarang. Bahkan, akan tetap menjadi murid Tuan Guru selama-lamanya,” jawab Mbah Hasyim, tak kalah takzim.

“Keputusan dan kepastian hati saya sudah tetap, tiada dapat ditawar dan diubah lagi, bahwa saya akan turut belajar di sini, menampung ilmu-ilmu Tuan, dan berguru kepada Tuan,” ujar Mbah Kholil.

Tapi sepertinya Mbah Hasyim sudah hafal betul dengan watak gurunya. Mbah Hasyim tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya sebagai santri, sebagaimana dulu Mbah Kholil juga menerimanya sebagai santri di Bangkalan. Dan, lucunya, ketika turun dari masjid usai shalat berjamaah, mereka cepat-cepat menuju tempat sandal, bahkan kadang saling mendahului, karena hendak memasangkan ke kaki gurunya.

Kisah Mbah Kholil dan Mbah Hasyim yang populer di kalangan santri itu menunjukkan pentingnya sikap yang mencerminkan ketawadhu’an dan akhlakul karimah. Itulah sebabnya, setelah baca tulisan ini, bagi para ustadz yang sudah telanjur terkenal padahal ngaji-nya belum tuntas, atau calon-calon ustadz yang masih menyusun rencana untuk secepat kilat dapat terkenal, bukalah facebook dan tulis segera status penyesalan sebesar-besarnya. Wallahu a’lamu bis-shawab!

A. Yusrianto Elga

A. Yusrianto Elga

Tinggal di kedai-kedai kopi di Jogjakarta. Twitter @yusrielga
A. Yusrianto Elga

Latest posts by A. Yusrianto Elga (see all)