Jaring-Jaring Kami

in Cerita Pendek by
pinterest.com

Perempuan itu bagai sebatang aur ranggas di pekarangan belakang. Raut wajahnya begitu tirus. Tulang rahangnya mencuat dan dua kelopak matanya bagai tenggelam dalam lubang hitam. Rambutnya putih, kusam, dan tipis, digelung kecil di belakang. Kulitnya bagai lembaran perkamen yang membungkus tulang-tulang di sekujur tubuhnya. Dan otot-otot mengular membentuk reranting yang nyata di pelipis dan kedua tangannya. Kuku-kuku kakinya panjang-panjang, buram, menghitam, bagai seumur hidup tak pernah dipotong.

Perempuan itu kini terbujur kaku di sebuah dipan, tak reot, hanya kelewat sederhana. Dan seorang balita yang baru bisa merangkak, menangis di tepi dipan itu sejak pukul lima pagi hingga pukul lima petang. Seekor laba-laba dan kawan-kawannya menyaksikan itu semua. Tangis balita itu telah membuat salah satu rumah laba-laba di langit-langit berguncang dan menyebabkan beberapa benang pada jaring itu tanggal dari kayu lapuk di langit-langit. Rumah laba-laba itu kini menggantung, dan mulai dimumurkan angin. Seekor laba-laba besar beranjak beberapa senti meninggalkan rumah remuk itu untuk menyulam rumah yang baru.

***

Rumah tempat perempuan itu terbujur diiringi tangis bayi dan rumah laba-laba yang koyak, teronggok di tengah sebuah ladang yang dikelilingi rumpun aur. Jauh dari pemukiman warga lain. Sebab itu, tak seorang pun mendengar tangisan bayi malang itu. Dan bagaimana mungkin seorang bayi menangis sejak pukul lima pagi hingga pukul lima petang yang seakan-akan tiada henti, tentu itu hanya sebuah ungkapan yang sedikit berlebihan. Tentu saja bayi itu tidak menangis tanpa henti. Hanya seakan-akan menangis tanpa henti.

Beginilah urutan sejumlah kejadian perihal bagaimana bayi itu menangis sejak pukul lima pagi sampai pukul lima petang….

Balita itu kerap terbangun sekitar pukul lima pagi. Biasanya, begitu bayi itu terbangun, perempuan nyaris tua itu gegas ikut terbangun. Lantas menyusuinya. Sebut saja begitu, meski payudara perempuan itu terlampau layu dan tak mungkin lagi merembeskan air susu. Bayi itu mungkin hanya merasa nyaman saat mengempeng dan menghidu aroma keringat perempuan itu, hingga ia menghentikan tangisnya dan kembali tidur. Namun pagi itu berbeda. Bayi itu memang terbangun seperti biasa: menangis dan minta mengempeng. Namun, yang membuat berbeda adalah, perempuan itu tak ikut bangun, hanya bergeming. Bahkan, ketika bayinya menangis lebih kencang dari biasanya, perempuan itu tetap saja membeku dalam baringnya. Bayi itu lantas melata mendekati perempuan itu. Menaiki tubuh yang kaku dan tak peduli. Sambil terus menangis, bayi itu mencakari wajah perempuan itu dengan cakaran khas seorang bayi.

Karena perempuan itu tak kunjung bangun, bayi itu pun terus menangis. Dan entah siapa yang membisikinya, ia mulai mencari-cari letak payudara tua yang biasanya memberinya kenyamanan. Dengan bersusah payah dan sambil menangis, bayi itu terus menyingkap baju perempuan itu hingga ia mendapatkan apa yang ia cari. Bayi itu segera mengempeng mirip seekor anak kucing dengan induk yang tak lagi peduli. Dan bayi itu pun tertidur pukul delapan pagi lebih lima belas menit dan terbangun dua jam kemudian. Popoknya telah kuyup.

Melihat perempuan yang biasanya bernyanyi dan menimang-nimangnya penuh bungah hanya diam, bayi itu pun menangis lagi. Sebab tak digubris, ia menangis lebih keras lagi. Menjerit-jerit. Menggoyangkan tubuh kaku itu. Merangkak ke sana kemari. Berusaha merambat ke meja. Menumpahkan air dalam teko. Berak di celana. Sambil terus menangis. Sampai ia kelelahan dan kembali tertidur lalu terbangun lagi untuk menangis lagi. Kurang lebih seperti itulah narasinya, bagaimana bayi yang baru bisa merangkak itu menangis dari pukul lima pagi sampai pukul lima petang.

Dan satu lagi narasi penting yang barangkali ingin kalian dengar. Ya, tentang perempuan jelek dan nyaris tua yang kugambarkan di awal, yang terbujur kaku di atas dipan. Tentu saja perempuan itu bukanlah ibu kandung si bayi. Lalu bagaimana ia mendapatkan bayi itu, atau bayi itu mendapatkannya?

Begini, sekitar setahun silam, anak gadis semata wayang perempuan nyaris tua itu datang dari kota dalam keadaan hamil. Siapa ayah bayi itu, hanya Tuhan dan gadis itu yang tahu. Tampaknya, gadis itu telah mengalami hari-hari yang berat di kota. Ia bersikeras ingin membunuh janin dalam perutnya, namun, ibunya melarang.

“Jangan melakukan kesalahan kedua dengan membunuh jejak dari kesalahan pertama,” begitulah gumam sang ibu.

Ibu yang nyaris tua itu berjanji, kelak akan merawat bayi itu dengan segenap ketuaannya. Dengan segenap rasa malu yang tak banyak diketahui orang lantaran rumahnya yang terpenggal dari pemukiman khalayak. Perempuan itu pun lantas merawat anak gadisnya dengan ketelatenan yang hanya bisa didapat dari seorang ibu sejati. Perut gadis itu terus mengembung, hingga perempuan tua itu kadang kala merasa seperti tengah memelihara seekor babi.

Semuanya mengalir dengan tenang, di bawah naungan aur, hingga bayi itu lahir di atas dipan yang hanya satu-satunya. Tanpa bantuan bidan apalagi dokter. Gadis itu mencengkeram kuat-kuat bibir dipan, sementara ibunya membimbingnya untuk mengejan. Dan begitulah, bayi itu pun keluar dari liang rahim mirip biji sawo yang tergencet dan terpisah dari dagingnya. Kelahiran yang begitu sunyi. Tak seorang pun menjenguk atau mengutarakan ucapan selamat. Hanya gadis itu, sang ibu, dan sang bayi. Tiga anak manusia di bawah taring sang takdir. Serta beberapa ekor laba-laba di langit-langit yang mengawasi dengan tindak-tanduk cemas.

Sekitar satu pekan setelah berhasil meloloskan bayi itu dari tubuhnya, dan perutnya yang membalon kembali mengempis menyisakan sisa-sisa bengkak di sana-sini, gadis itu segera pamit berangkat ke kota. Tak peduli pada dua anak manusia yang melahirkannya dan dilahirkannya. Bayi itu tak pernah menyesap air susu ibunya, alih-alih air tajin sebagai gantinya. Hanya ada sedikit air mata pada adegan perpisahan itu. Tampaknya dua perempuan itu telah kehilangan begitu banyak air mata pada kisah lain, hingga pada kisah ini air mata mereka kurang melimpah.

Di bawah asuhan seorang ibu sejati—yang telah menjadi nenek, dari bulan ke bulan bayi itu pun mulai tumbuh. Beberapa kenalan dan kerabat jauh yang kebetulan sambang setelah sekian lama, lumayan kaget melihat janda jelek nyaris tua memiliki seorang bayi mungil putih lucu. Dan hanya para laba-laba di rumah itu, serta beberapa ekor tokek, cecak, tikus, semut, kecoak, serta ulat bulu dan ular kayu yang kadang datang diam-diam yang menyadari, betapa wajah jelek itu menjadi sedikit berbinar semenjak kelahiran jabang bayi putih mungil itu. Sepanjang hari, sepanjang tahun perempuan itu mengunyah sepi, sampai ia muntah kata-kata dan kerap berbicara pada laba-laba, tokek, cecak, tikus, dan kawan-kawannya. Anak gadisnya pergi tanpa bisa ditutur. Katanya ingin mencari penghidupan layak di kota. Berbilang tahun tiada kabar dan pulang-pulang telah berbadan dua.

Perempuan nyaris tua itu kerap merenung lama hingga malam-malam menjadi tua di langit-langit rumahnya. Ia selalu mencoba mengambil segala hal baik dari yang paling buruk. Bahwa segala perkara yang menimpanya itu adalah sebuah kesengajaan yang dibawa nasib. Dan kini berwujud seorang bayi, yang akan membuat hari-harinya yang senyap menjadi gemerlap dan penuh tawa. Sebab itu, ia musti tangguh mewanti-wanti anak gadisnya agar tetap bersabar untuk tidak menjadi seorang pembunuh. Kurang bijak apa perangai perempuan jelek dan nyaris tua itu? Seekor laba-laba bahkan diam-diam mengaguminya.

Namun, ada satu hal yang paling dekat dari setiap kisah namun tak pernah disadari oleh tokoh mana pun: sang maut. Menilik umur, perempuan itu memang belum pantas mati. Tapi sang maut bekerja tanpa mencatat umur seseorang, bukan? Ia datang seperti angin di belakang tengkuk. Seperti debu yang menyapa bulu mata. Dan kadang, seperti keringat yang merembes dari pori-pori sendiri. Petang itu, sang maut datang dalam wujud seekor ular berwarna hitam pekat. Melata dari rumpun aur di belakang rumah, ia menelusup ke dinding bengkah dan berkelana ke kolong dipan, mendesis dan berjelanak ke bawah meja. Dan sebuah skenario menuliskan, karena cahaya lampu yang redup, dan bayangan meja yang rebah menghitam, perempuan itu tak sengaja menginjak ekornya. Dan kepala mungil hitam dengan taring menganga berlapis bisa itu pun menyabet betis bagian bawah perempuan itu.

Perempuan itu memekik. Sepasang jarum menghunjam kakinya. Dan sesosok hitam panjang bagai ikat pinggang, berkelebat menghilang di kolong dipan. Nyeri itu mulai menggerogoti kakinya yang perlahan membengkak dan menghitam. Balita yang semula lengkur tertidur mendadak terbangun, seakan ikut merasakan tanda-tanda. Dengan sigap—sambil menahan rasa sakit di kakinya, perempuan itu mengempengi si bayi hingga bayi itu kembali tertidur. Dan pada detik-detik yang samar, perempuan nyaris tua itu pun merasa begitu lelah, begitu mengantuk, hingga ia harus tertidur. Tidur yang panjang. Bahkan, sampai bayi itu merengek pukul lima pagi, tidur panjang itu belum juga menemukan ujung. Hingga bayi itu terus menangis. Tangisan yang baru berhenti pukul lima petang.

***

Pukul lima petang, jam dinding usang masih terus bekerja dengan baik—meski ia tak tergantung di dinding, melainkan tersandar lesu di atas lemari rongsok. Pukul lima petang lebih beberapa menit, seekor lalat pertama datang. Menguing di sekujur tubuh perempuan itu. Tak peduli pada bayi yang tersungkur lesu di antara dada perempuan itu. Bayi itu tampaknya sudah kehabisan daya, tak kuat lagi menangis. Matanya sedikit terbuka, dan napasnya berembus sedemikian pelan. Hingga tak mengusik lalat kedua yang datang, yang disusul lalat ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya.

Kami tak mampu melakukan apa pun, kecuali menyaksikan segalanya mengalir. Sembari menceritakan kisah ini pada kalian. Sembari terus bergerak di langit-langit, menyulam rumah baru yang lebih lebar. Agar lalat-lalat yang beterbangan ke sana kemari itu teringkus ke dalam jaring-jaring kami. Bertungkus lumus dalam tidur panjang dalam jaring-jaring kami.***

Malang, 2017

Mashdar Zainal

Mashdar Zainal

suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.
Mashdar Zainal

Latest posts by Mashdar Zainal (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.