Jejak-Jejak Kaki di Atas Pasir Pantai

in Cerita Pendek by
shwanda.com

“Aku mencintaimu,” katamu perlahan. Sambil melempar batu karang ke bibir pantai, kau menoleh kepadaku, yang pura-pura khusyuk dengan buku fitogeografi setebal 1,5 inci. Konsentrasiku buyar, dadaku bergetar.

“Aku mencintaimu, Ren,” katamu tak cukup. Kau mengatakannya tanpa terbata, apalagi salah mengucap kata. Kau sudah berlatih, apa sudah terlatih?

“Aku dengar, kok.” Aku melepas kacamata, “kau mengajakku terbang melintasi lautan hanya untuk bilang itu?” kemudian menutup buku, mencoba memberimu perhatian penuh. Rasanya aku ingin berlari dan sembunyi di balik pohon ketapang yang tumbuh di sepanjang pantai ini. Namun sepertinya kau menangkap rona merah di wajahku yang tak bisa menepis segala lonjakan, letupan, dan gumulan rasa senang bercampur haru. Kau pun tersenyum, memandangi langit kemuning yang sebentar lagi akan tersemburat oranye.

Aku terdiam beberapa jenak. Aku pikir pertemuan ini hanya seperti sebelum-sebelumnya, mengamati sebaran vegetasi, lalu kita berkemas dan pulang ke pelukan orang lain. Beberapa detik yang lalu, aku pun masih ingin perasaanku padamu hanya seperti jejak-jejak kaki di atas pasir pantai, yang kita tinggalkan lalu hilang saat gelombang datang. Namun aku tak yakin apakah aku masih menginginkan itu. Sebuah percakapan imajiner yang selama ini hanya terjadi di kepala tiba-tiba menjelma realita. Mengaduk-aduk perasaan yang sudah lama mengendap, mengerak.

“Aku mencintaimu sejak dulu, Ren. Sejak kita duduk sebangku saat kelas satu SMU.” Aku melihat mulutmu sedikit terbuka, mengembuskan napas begitu pelan. Perlahan.

Sebentar. Kelas satu SMU, katamu? Bukankah itu kali pertama kita bertemu? Bukankah sejak itu wajahmu tak pernah luput dari kepalaku? Beberapa kali kucoba mengabaikan, tapi kau tetap berhasil mencuri waktuku barang semenit-dua menit saat bangun pagi, saat berak di kamar mandi, hingga sebelum tidur di malam hari. Belum lagi jika kau muncul dalam mimpi. Kurang ajar sekali!

“Aku tak pernah berani mengatakannya padamu. Waktu kita memang tak pernah pas dan aku takut cintaku tak terbalas,” katamu dengan pandang nyalang ke seberang.

Lalu kau beranjak dari tempatmu duduk. Kau ulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Kita berjalan menyusuri garis pantai, seperti sepasang kekasih pada umumnya, yang suka sekali menikmati senja bersama-sama.

*

Barangkali memang tak banyak yang berkunjung ke pantai ini. Sesore ini, hanya terlihat beberapa orang yang sepertinya penduduk setempat, sepasang muda-mudi dan sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia, yang sepanjang siang berteduh di bawah rindang pohon ketapang dan menghabiskan bekal makanan. Aku tak tahu apakah sedari tadi aku terlihat memperhatikan keluarga kecil itu, tapi aku tahu saat ini tanganmu mendarat di lengan kananku.

“Aku ingin kita bersama, Ren…,” katamu sembari mendekat, meniadakan sekat. Inikah rasanya kau dekap?

Memang sudah bertahun-tahun aku memimpikannya. Kurang lebih seperti ini. Kau dekap seperti ini, dengan degup jantung sekencang ini, dengan perasaan yang sama seperti sekarang ini. Tiap pekan kusiapkan kuaci dan telur puyuh rebus, camilan kesukaanmu, siapa tahu kau mampir waktu malam Minggu. Kemudian kubayangkan tiba-tiba kau bilang ‘aku mencintaimu’. Namun tentu saja aku buru-buru menghapus angan-angan itu, takut bila suamiku tiba-tiba bisa membaca pikiranku.

Tapi angan-angan itu memang tak pernah terjadi. Kau tak pernah mampir waktu malam Minggu. Tak pernah tiba-tiba bilang ‘aku mencintaimu’. Kau hanya sesekali menelepon untuk menawarkan joint project pemetaan vegetasi langka dan terancam punah di gunung, di pesisir, dan di tempat-tempat lainnya. Lalu saat kita bertemu, aku akan pura-pura sibuk mengamati macam-macam tanaman dan kau benar-benar fokus dengan software-software pembuat peta digital. Tapi beberapa menit yang lalu, waktu kau bilang kau mencintaiku, lalu kau bilang kau ingin kita bersama, aku masih tak bisa membedakan, mana yang angan, mana yang kenyataan.

Tunggu. Apa maksudmu kau ingin kita bersama? Kau ingin aku meninggalkan suamiku?

*

Angin berdesir dingin, menggoyangkan daun-daun ketapang yang mulai memerah seiring dengan datangnya bulan-bulan kering. Kau pun semakin erat mendekapku, lalu memandangiku dengan mata itu. Mata yang selalu bisa membuat hatiku jatuh sewaktu-waktu. Masih kuingat bagaimana dulu aku sering memperhatikan matamu, yang membentuk tiga garis halus setiap kali kau tertawa.

“Benar, kau mencintaiku?” aku meragu.

Kau tak langsung menjawab, tapi malah menatapku lekat. Sempat kulihat pemandangan indah pantai dan senja berukuran mikro di matamu. Tapi sepertinya aku ingin menjelajah lebih dalam, mencoba menemukan seberkas cahaya dari matamu. Kata orang dari mata kita bisa melihat kebenaran. Barangkali aku bisa menemukan seberkas cahaya yang memancarkan kejujuran, ketulusan, kesungguhan.

Tapi ternyata aku tak bisa. Aku tak bisa membedakan apakah seberkas cahaya di matamu itu memancarkan kejujuran, ketulusan, kesungguhan, ataukah hanya pantulan sinar matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.

“Perlukah aku mengulanginya?” tanyamu dengan masih lekat menatapku.

Aku hanya angkat bahu.

*

Kau menggenggam tanganku. Mengisi ruang-ruang di antara jemariku dengan jemarimu. Kau tahu, tanganmu selalu bisa membuatku gemetaran ketika sengaja atau tak sengaja menyentuhnya. Tapi pasti aku tak pernah lupa bahwa tanganmu juga yang biasa menyeka air mata Kadek, mengelus kepala Wanda, menggandeng mesra Ulfah, dan yang melingkarkan cincin pada jari manis Mutia, yang kemudian kau tinggalkan usai mengucap janji sehidup semati. Oh, sungguh mengesankan aku mengingat nama-nama mantan kekasihmu.

“Tia apa kabar? Masih sibuk sama Amorphophallus titanum?” tanyaku mengejek sambil terheran-heran sendiri mengapa aku menanyakannya.

“Oh, aku tahu sekarang,” kau tersenyum menyeringai, “semua keraguanmu bukan karena kau takut menyakiti suamimu karena meninggalkannya demi aku. Tapi karena Mutia, kan? Dia dan mungkin juga beberapa perempuan lain yang pernah dekat denganku.”

Lagi-lagi kau menatapku lekat dan aku tak tahu mengapa kau begitu percaya diri bahwa aku sedang mempertimbangkan sebuah keputusan untuk meninggalkan suamiku demi dirimu.

“Dengarkan aku. Laki-laki memang sulit hidup sendiri. Mereka, perempuan-perempuan itu, dan juga kau adalah teman bagiku. Tapi percayalah, bagi laki-laki selalu ada seorang teman yang benar-benar ia harap untuk terus menemani hidupnya. Satu orang yang sungguh ia cintai.”

Apa? Teman, katamu?

“Lihatlah ke sana,” kau menunjuk sesuatu yang jauh di seberang. Entah samudra yang begitu luas, entah matahari senja yang berkilau keemasan.

“Di titik paling ujung,” ternyata kau menunjuk satu titik cakrawala, “di sana, kita melihat langit dan laut bagai bertemu. Bahkan kita lihat matahari senja ini seperti hendak tenggelam ke lautan.

Anak kecil mungkin menganggap itu sungguhan, tapi orang yang tahu kebenarannya tak mungkin menganggap langit dan laut benar-benar bertemu di ujung sana. Juga matahari senja ini. Ia tak benar-benar tenggelam dan bersembunyi di dalam laut,” kau mengembuskan napas dengan perlahan.

“Kau boleh saja percaya penglihatanmu. Tapi kebenaran tak selamanya sama dengan kelihatannya, kan…,” kau tersenyum lagi, kali ini tanpa menyeringai.

*

Kita masih berjalan bergandengan tangan. Hatiku tentu saja gamang, seperti air laut yang mulai pasang. Seperti gelombang besar yang menampar bebatuan karang.

“Kau masih belum percaya aku mencintaimu?”

Aku menghela pelan. Diam-diam aku juga menanyakan pertanyaan itu pada diriku sendiri. Lalu apa kemudian jika memang kau mencintaiku?

Hatiku, atau mungkin hanya nafsu dan berahiku, benar-benar membuatku ingin bersamamu. Kata-kata cintamu seakan telah merampungkan romansa yang berlarat-larat, seakan menjawab segala keluh yang selama ini tak kau acuh. Membalas cinta yang selama ini aku derma. Memberi perjumpaan pada setiap penantian, yang demikian panjang dan melelahkan.

Tapi sepertinya lebih waras jika aku ingin memaki-makimu. Menyebutmu bangsat, keparat, buaya darat. Mengumpatmu sedemikian rupa sampai kau tiada berupa. Jika memang sejak dulu kau mencintaiku, mengapa harus kau habiskan waktu dengan perempuan-perempuan itu?

*

Senja mulai menghilang dipeluk alam. Gelap datang bersama dengan berbagai ketakutan. Takut kau bohongi, kau selingkuhi, kau khianati, kau abaikan dan kau tinggalkan, kemudian akhirnya aku sendiri dan tersakiti. Takut membohongi, menyelingkuhi, mengkhianati, mengabaikan dan meninggalkan suamiku, kemudian akhirnya ia sendiri, tersakiti, lalu bunuh diri. Aku pun tahu, masalah cintamu itu tak lagi nomor satu.

Kutatap matamu lekat sembari tersenyum. “Senja telah hilang, laut telah pasang. Sepanjang sore ini, cukupkanlah bagi kita untuk hanya menjadi kenangan.”

Pelan-pelan kulepas genggamanmu. Kuambil sebuah buku dari dalam tasku dan memindahkannya ke tanganmu. “Ini menjelaskan panjang lebar tentang formasi flora hutan pantai, kau pasti bisa memahaminya sendiri.”

Matahari tenggelam mengiringi langkahmu yang gontai. Lamat-lamat aku mendengar debur ombak yang sedang menghapus jejak-jejak kaki kita di atas pasir pantai. **

Yusnita Silsilia Warda
Yusnita Silsilia Warda

Latest posts by Yusnita Silsilia Warda (see all)

  • Ifanuddin Wira Kusuma

    Ceritanya Bagus. Romansanya kuat. Saya suka. 😃