Jejak Sentuhan Tanpa Sidik Jari; Puisi-Puisi Damhuri Muhammad (Jakarta)

in Puisi by
flight-of-fantasy-incredible-art-photography-by-ravshaniya-azulye-11
i0.wp.com

Janji Tukang Jahit

 

Undangan sudah lama tiba. Abdul Mustajab menanti sehelai kemeja idaman yang akan ia pakai guna menghadiri pernikahan mantan kekasihnya. Saban hari Abdul Mustajab mengetuk pintu kios si tukang jahit, yang berjanji dari besok ke besok, dari lusa ke lusa. Padahal, gulungan kain yang telah diantarkan berminggu-minggu lalu, alih-alih dipola dan digunting, lantaran pesanan yang melimpah, malah belum disentuh sama sekali. Abdul Mustajab tetap tabah menunggu, dan terus saja menunggu, hingga umur penantiannya telah melampaui usia pernikahan mantan kekasihnya.

 

2015

 

 

Residu Rindu

 

Di petang yang berkabut, Abdul Mustajab mengendus-endus tanah basah di punggung tanganku, lalu memungut residu rindu di halaman samping tubuh lapukku. Ada yang masih lunak, tapi lebih banyak yang tanak sebagai batu. Dengan tubuh separuh bungkuk, Abdul Mustajab menghela batu-batu itu menuju seberang waktu, sementara aku terus memandangnya dari balik daun pintu. Aku berharap batu-batu itu tak menggelinding ke jurang dalam, lantaran medan gawat dan berliku-liku. Sampai juga hendaknya ia di singgasana tubuh masa kinimu.

 

2015

 

Jejak Sentuhan Tanpa Sidik Jari

 

Aku melihat jejak tak berupa di tebing curam urat lehermu. Kadang tampak seperti sisa napas yang tergesa pergi, sesekali terlihat bagai sisa sentuhan tanpa sidik-jari. Kukabarkan jejak itu pada Abdul Mustajab. Tak semua sisa napas mesti dipastikan tuan rumahnya. Tak semua sentuhan harus diungkap pelakunya, kata Abdul Mustajab, sambil mengasah ikat cincin suasanya. Lalu, aku teringat pada senja yang jatuh di sebuah pulau yang belum sempat kita beri nama. Sesekali kita harus menjenguknya, agar kerinduan yang menjalar di sana, tak binasa seperti jejak tak berupa di tebing curam urat lehermu.

 

2015

 

 

Yang Mengail di Remang Senja Penghabisan

 

Aroma umpan di ujung mata kail Abdul Mustajab akhirnya berhasil membujukmu. Tengoklah, insangmu berlumur darah. Sirip dan sisikmu telah beralihrupa menjadi prasasti di dapur Abdul Mustajab. “Inilah bukti nyata tentang keliaran yang tak jinak-jinak selama bertahun-tahun, tapi kini sudah takluk dan bertekuk-lutut, hanya lantaran kedipan ringan di remang senja penghabisan,” begitu Abdul Mustajab menyiarkan maklumat, sebelum malam sempurna kelam.

 

2016

  • Nayla Moe

    Ini gila!!! Bahasanya sukses menyihir imajinasi pembaca, dengan simbol-simbol yang digunakan.