Jogja Volkswagen Festival 2017; From Jogja to The World

in Hibernasi by

 

Jogja Volkswagen Festival 2017; From Jogja to The World
Jogja Volkswagen Festival 2017; From Jogja to The World

 

Mari kembali lagi ke lantai dansa

Menyanyikan lagi lagu yang sama

Sudah kunantikan kau begitu lama

Dan kujaga api tetap menyala.”

Sosok laki-laki berambut gimbal berdiri di depan saya menggoyangkan badannya perlahan, mengikuti alunan musik sambil sesekali memainkan asap rokok di mulutnya. Tanpa saya sadari, badan saya pun turut meliuk-liuk. Jari-jemari saya bahkan mengetuk-ngetuk, mengikuti ritme yang mengalun.

Perpaduan beberapa unsur musik, seperti ska, reggae, jazz, swing, dan rock n’ roll yang diaransemen apik oleh grup musik asal Jogja itu memang mampu menghasilkan musik yang ceria. Apalagi dibalut dengan lirik yang nakal, membuat seluruh penonton yang hadir di Jogja Expo Center (JEC) malam itu terlarut di dalamnya. Tua, muda, bahkan anak-anak tumpah ruah di sisi barat area outdoor JEC, melewati Sabtu malam yang cerah ditemani hentakan musik penuh semangat dari Shaggy Dog, setelah malam sebelumnya Jogja diguyur hujan sangat deras.

***

Konser musik Shaggy Dog malam itu merupakan bagian dari rangkaian acara Jogja Volkswagen Festival yang diselenggarakan pada 17–19 November 2017 yang lalu. Saya bersama komunitas crafter yang saya ikuti menjadi salah satu pengisi booth dalam event internasional bertajuk “From Jogja to The World” tersebut.

Awalnya saya tidak tahu sama sekali tentang Jogja Volkswagen Festival. Seorang teman crafter membagikan brosur mengenai event ini di sebuah grup WhatsApp yang saya ikuti. Event-nya sih masih bulan November, namun publikasinya sudah mulai digencarkan sejak bulan Juli, terutama untuk pendaftaran booth atau tenant. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengiyakan ajakan teman saya tersebut untuk mengisi booth dalam Jogja Volkswagen Festival bersama teman-teman crafter yang lain. Padahal, saya belum ada bayangan sama sekali, karya apa yang akan saya ciptakan untuk event tersebut. Ah, gampang, masih lama juga. Toh, ini masih bulan Juli, pikir saya ketika itu.

Kesibukan sehari-hari yang saya jalani sebagai pekerja kantoran, ditambah aktivitas baru sebagai blogger, dan belakangan mulai merambah dunia citizen journalist, membuat waktu yang saya lalui berjalan begitu cepat. Hingga tak terasa sudah masuk bulan November. What?? Panik dong, pastinya! Bagaimana tidak? Lukisan yang saya buat di atas kain dengan penuh cinta baru setengah jadi. Ibarat serpihan-serpihan hati yang tercerai-berai usai diselingkuhi, potongan-potongan kain kanvas saya pun masih terpisah-pisah dan belum sepenuhnya tersatukan oleh benang cinta mesin jahit. Hasil sulaman tangan saya pun masih belum maksimal. Tenang, satu per satu, pasti kelar.

Sehari menjelang pameran, baru sekitar tujuh puluh persen yang dapat saya selesaikan. Saya menyerah. Dengan barang sejadinya ditambah sisa barang pameran sebelumnya, Kamis petang di tengah guyuran hujan, saya membawa barang-barang hasil kerajinan tangan saya ke JEC untuk di-display.

Aneka mobil Volkswagen dengan pelat nomor Jogja maupun luar Jogja sudah tumpah ruah memenuhi halaman parkir JEC. Saya langsung menuju booth H-17, tempat saya dan teman-teman memamerkan produk, dan tentu saja sekaligus menjualnya. Sebagian booth kerajinan sudah selesai menata barang mereka. Sementara, beberapa food truck terlihat mulai berbenah diri untuk bersiap-siap membuka gerainya esok pagi. Booth kerajinan dan kuliner memang di-setting berdekatan, bersebelahan dengan panggung outdoor. Yes, sambil jaga booth, saya bisa lihat konser Shaggy Dog Sabtu malam nanti.

Meski antara batas terluar booth dan pinggiran tenda dibuat berjarak untuk area berjalan bagi para pengunjung, tempias-tempias air hujan yang terbawa angin tetap bisa kami rasakan. Dingin dan sedikit basah. Apa boleh buat, kantong kami hanya cukup untuk menyewa booth di area outdoor.

***

Jogja Volkswagen Festival (JVWF) adalah event dua tahunan yang diselenggarakan oleh Volkswagen Club Yogyakarta (VCY). Tahun ini merupakan perhelatan yang ketiga setelah sukses menyelenggarakan JVWF pada tahun 2013 dan 2015. Tidak kurang dari 2.000 mobil Volkswagen, dari yang masih orisinal hingga yang sudah di-custom, meramaikan pameran Volkswagen indoor terbesar di dunia ini.

Hari pertama, kawasan JEC diguyur hujan yang tak henti-hentinya, dari pagi hingga malam. Jumlah pengunjung pun belum begitu banyak. Meski demikian, acara ini telah sukses dibuka pada hari Jum’at pukul 16.00 oleh Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam X yang datang langsung ke acara.

Hari kedua, cuaca sangat cerah, dan ini adalah jadwal saya menjaga booth. Rupanya, semesta tengah berpihak pada saya. Berbeda dengan hari pertama, jumlah pengunjung di hari kedua jauh lebih banyak. Meski tema acara ini sengaja dikemas untuk keluarga, tak sedikit anak-anak muda yang berduyun-duyun mengunjungi pameran. Rundown acara yang menarik telah berhasil menjadi magnet bagi semua kalangan.

Keuntungan dari membuka booth di event-event semacam ini adalah bisa mendapatkan free access, menjelajah hingga sudut-sudut ruang pameran dengan leluasa. Kesempatan dalam event kali ini pun tak ingin saya lewatkan begitu saja. Setelah menitipkan booth pada rekan satu tim, saya pun mulai menjelajah ke venue utama, tempat mobil-mobil Volkswagen dipamerkan.

Klasik, rustic, dan elegan. Itulah kesan pertama begitu saya melihat ratusan mobil Volkswagen dari berbagai tipe yang berjajar anggun di dalam ruang pameran. Dengan sentuhan tangan-tangan terampil, mobil-mobil Volkswagen klasik maupun modern disulap menjadi mobil mewah yang sangat elegan. Satu kata untuk mobil-mobil buatan Jerman tersebut, WOW!

Jogja Volkswagen Festival 2017 diikuti oleh 82 klub Volkswagen yang berasal dari berbagai kota di seluruh Indonesia, yang semuanya berada di bawah naungan Volkswagen Indonesia Association. Berbagai tipe mobil Volkswagen hadir memeriahkan perhelatan otomotif yang diselenggarakan di JEC ini. Dari sekitar 2.000 mobil Volkswagen yang mendaftar, hanya sekitar 130 mobil yang lolos tim kurator dan dipamerkan di area indoor gedung JEC. Tidak hanya dari Indonesia, peserta kegiatan ini juga datang dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Brazil, dan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Bukan hanya pameran mobil-mobil Volkswagen saja, berbagai rangkaian kegiatan seru digelar selama perhelatan ini berlangsung. Di antaranya, ajang kontes mobil Volkswagen dari berbagai tipe dengan memperebutkan kejuaraan, jual beli spare part dan merchandise, serta ajang kompetisi diecast custom. Selain itu, ada juga volks art exhibition, ajang pameran seni rupa bagi seniman muda di Yogyakarta. Supaya pengunjung tidak bosan, disediakan pula game interaktif atau gimmick serta berbagai hiburan musik. Tak tanggung-tanggung, grup musik papan atas, Shaggy Dog, turut meramaikan perhelatan ini.

Yang dicari-cari para pengunjung usai lelah berkeliling melihat pameran, yaitu area kuliner, sudah pasti ada. Dikemas dengan nuansa food truck Volkswagen, menyantap aneka kuliner di sini selama perhelatan ini berlangsung mampu memberikan pengalaman makan dan minum dengan sensasi yang berbeda.

Puas mengagumi mobil-mobil Volkswagen, saya kembali ke booth. Dari atas panggung, sang host mengumumkan kalau Shaggy Dog sebentar lagi bakalan tampil. Buru-buru saya mendekat ke arah panggung, melebur bersama para penonton lainnya. Malam yang dingin bertabur bintang, alunan musik yang ceria, dan guyuran lampu panggung yang berwarna-warni menjadi perpaduan yang sempurna untuk melewati Sabtu malam penuh kesyahduan kala itu, meski tanpa kehadiran pasangan.

***

Hari ketiga, antusiasme pengunjung semakin meningkat. Para pengisi booth pun memancarkan rona bahagia. Dagangan mereka laris manis diserbu pengunjung. Tak sia-sia mereka datang jauh-jauh dari luar Jogja. Berbagai pemenang kompetisi juga diumumkan di hari ini.

Jika hari pertama dibuka dengan guyuran hujan, maka di hari terakhir pun, Jogja Volkswagen Festival ditutup dengan rinai hujan pada Minggu sore. Dan, selesai sudah rangkaian acara Jogja Volkswagen Festival 2017.

Bagi kamu yang ketinggalan event ini kemarin, kamu harus cukup bersabar. Sebab, event ini rencananya baru akan digelar kembali pada 8–10 November 2019. So, siapkan diri sebaik-baiknya, ya? Semoga dua tahun mendatang kamu bisa mendatangi event ini bersama keluarga kecilmu. Ingat ya, jangan datang sendirian, tapi bersama keluarga kecilmu. Atau, setidaknya bersama pasanganmu.

Desy Wijaya

Desy Wijaya

| amateur writer || editor || crafter || art lover || in keep going a way to the west ||
Desy Wijaya

Latest posts by Desy Wijaya (see all)