Joker Simbol Manusia Post-Modern

in Rehal by

misteri soliter-cover

Identitas Buku

Judul                     : Misteri Soliter

Penulis                 : Jostein Gaarder

Penerbit              : Mizan Pustaka

Cetakan               : I/ Februari 2016

Halaman              : 484 halaman

ISBN                      : 9789794339039

Filsafat sebagai ilmu olah pikir yang tidak sekadar menemukan rumusan teori, tetapi membangun sebuah kerangka berpikir. Bambang Sugiharto dalam pengantar buku Dunia Sophie menyampaikan bahwa melalui tulisan Jostein Gaarder pembelajaran filsafat dapat diterima semua pembaca sesuai pengalaman masing-masing. Jostein Gaarder menggabungkan pelajaran filsafat dengan alur dan cerita dongeng yang memikat. Hingga tak perlu duduk berjam-jam di kelas filsafat untuk menerima pelajaran tersebut.

Misteri Soliter yang terbit lebih dulu sebelum Dunia Sophie, membedah nalar manusia untuk kembali berpikir akan kehadiran dan eksistensi manusia di muka bumi. Jostein Gaarder mempergunakan analogi kartu remi, kurcaci, dan perjalanan Hans Thomas dan Pa mencari Ma yang kabur ke Athena dan tidak pulang.

Hans Thomas dan Pa memutuskan pergi ke Athena dari Norwegia setelah yakin bahwa Ma sedang menjadi model di kota tersebut. Perjalanan darat dengan memakai Fiat merah, menyusuri daratan-daratan, membuat bapak-anak itu sering terlibat pembicaraan serius. Terutama soal filsafat, manusia, dan alam semesta.

Menurut Jostein Gaarder, ada dua pertanyaan serius yang tak bisa dijawab oleh orang-orang Barat, yaitu siapa yang menciptakan manusia dan mengapa manusia diciptakan. Dua pertanyaan yang sejadinya menghubungkan mikrokosmos dengan makrokosmos ini tidak menjadi perhatian serius orang Barat. Kita sungguh sangat pintar membuat bom atom, dan mengirim roket ke bulan. Tapi, tak seorang pun di antara kita bertanya dari mana kita berasal. (hal. 41)

Pa adalah anak di luar nikah seorang pejuang Jerman, Ludwig Messner, yang jatuh cinta kepada Nenek Line, ketika Jerman menginvasi Norwegia saat Perang Dunia II. Namun Ludwig harus kembali ke negara asal, saat Jerman kalah perang. Perpisahan ini membuat Pa harus kehilangan sebuah jawaban untuk mencari dari mana dirinya berasal.  Sedangkan bagi Hans Thomas, identitas terbesarnya yang menghilang adalah Ma kabur ke Athena demi karier di dunia mode. Pa dan aku kehilangan seorang ayah dan seorang kakek, seorang istri dan seorang nenek. (hal. 35)

Kekosongan identitas inilah yang terus menghantui mereka dalam perjalanan. Dalam sebuah pemberhentian istirahat, Hans Thomas mendapatkan sekantung roti kadet dan di dalam salah satu roti itulah ditemukan buku cerita Soda Pelangi dan Pulau Ajaib, serta sebuah kaca pembesar untuk membacanya. Dari cerita buku roti kadet itu kisah pencarian identitas bermula.

Di dalam buku cerita roti kadet, Hans menemukan kisah misterius perihal seorang pelaut yang terjebak dalam pulau rahasia penuh keajaiban. Dalam pulau itu hidup banyak kurcaci dengan label nomor dan lambang dari setiap kartu remi. Di balik cerita itu, Hans Thomas akan menemukan identitas leluhur, termasuk siapa Ludwig Messner.

Jostein Gaarder mempergunakan satu set kartu remi untuk menjelaskan bagaimana manusia itu ada. Keempat simbol sekop, keriting, wajik, dan hati mewakili individu-individu yang memiliki karakter tertentu. Dalam buku roti kadet, Hans Thomas menemukan bahwa setiap kartu dengan simbol tertentu memiliki kekhasan dari sikap dan keahlian.

Keriting bekerja di ladang dan mengurus binatang-binatang. Wajik membuat barang dari kaca. Dan hati memanggang roti. (hal. 198) Sedangkan sekop berperawakan berotot dan gampang emosi.

Kehadiran satu set kartu remi juga dimaknai sebagai wakil dari keteraturan makrokosmos. Dalam satu set kartu dengan empat simbol mewakili empat musim yang terjadi di dunia. Wajik selama musim semi, keriting dalam musim panas, hati dalam musim gugur, dan sekop dalam musim dingin. (hal. 298) Setiap nomor mewakili setiap minggu dalam tahun, sehingga ada 52 minggu dalam setahun.

Makrokosmos, tatatan hari dan perbintangan selalu berkaitan dengan kehidupan manusia. Jumlah kartu remi yang memiliki simbol dan angka khusus menjadi ejawantah dari setiap diri manusia yang selalu menyimpan potensi dan keunikan tersendiri.

Namun, Hans Thomas menemukan bahwa ada satu kartu yang berbeda dari kebanyakan kartu dalam set tersebut. Ialah kartu joker. Joker bukan termasuk sekop, wajik, keriting, ataupun hati. Joker adalah anomali dari sehimpun kartu remi.

Di sinilah, misteri asal muasal Hans Thomas dan Pa terkuak. Seperti dalam hitungan hari dalam tahun, maka akan ada penambahan satu hari dalam tahun kabisat. Setiap empat tahun, akan ada tambahan satu hari yang bukan termasuk bagian dari hari-hari biasa. Dan bahwa Hans Thomas yang lahir tepat pada 29 Februari 1972 dan Pa yang hanya menggemari kartu joker semakin menandaskan bahwa keduanya adalah kartu joker sejatinya.

Joker hadir sebagai sosok yang empty eggshell, tidak beridentitas pasti seperti halnya empat simbol lain. Ini membuat kita merenungi bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang harusnya berdiri sesuai gagasan tidak melulu hanyut oleh kejamakan. Karena semua gambaran di dalam pikiran berasal dari dunia gagasan. Di sanalah sebenarnya tempat kita. (hal. 346)

Sosok Joker, Hans Thomas, Pa, dan Ma yang tidak beridentitas jelas menjadi simbol akan bentuk manusia post-modern. Pada tataran ini, manusia sudah enggan tampil sebagai komunal yang seragam kompak. Manusia post-modern lebih gemar hadir sebagai dirinya sendiri yang beridentitas berbeda. Seperti Joker yang tidak mau masuk dalam kelompok keriting, joker, sekop, maupun hati.

Jostein Gaarder membuat sosok Joker sebagai tanpa identitas juga bermaksud agar tokoh itu menjadi “aku” dari setiap pembaca, yang terus ada di lingkungan tanpa harus mengekor pada kondisi pada umumnya. Karena bisa jadi kita adalah joker-joker dalam rimbun kartu remi, yang terus bergerak di dunia khayalan dan gagasan manusia. (*)

Teguh Afandi

Teguh Afandi

Penggiat Klub Baca Yogyakarta.
Teguh Afandi

Latest posts by Teguh Afandi (see all)