Jokowi, Suku Anak Dalam, dan Medusa

in Esai by
Sumber gambar
Sumber gambar kaskus.id

Jika Anda hidup di masa Kaisar Nero, di Antiochia, Anda akan sangat menghormati Medusa dari mitologi Yunani Kuno: wanita berambut ribuan ular dengan mata lebar dan mulut menganga yang sanggup mengubah manusia menjadi batu dengan tatapannya. Patung Medusa dipuja sebagai apotropaic, sejenis jimat “tolak bala”.

Sayangnya, saya dan Anda hidup di masa Jokowi, yang oleh sebagian Anda ditahbiskan sebagai “biang segala bala”. Umpama saja Medusa masih kita puja, niscaya hari ini kita akan tekun memahat batu-batu segede gaban di Gunung Kidul menjadi Medusa. Demi meraih fadhilah apotropaic.

Kurang bukti apa untuk meyakini sepenuh jiwa dan pikiran somplak bahwa Jokowi adalah penyebab segala masalah di negeri ini, bahkan di seantero dunia?

Rupiah bersimpuh takzim di hadapan dolar karena salah Jokowi.

Andai Jokowi tidak jadi presiden, itu berarti Pak Prab-lah yang bertahta, dapat dipastikan dolar akan gemetar pada rupiah. Lha, Pak Prab, Sis. Baca sendirilah sejarah kemandragunaannya untuk meyakini klaim ini. Jika kurang terang, coba baca buku Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma yang mencatat berapa kuping yang tanggal di Timor Leste.

Karena Jokowi, bukan Pak Prab, jadilah dolar tegak lurus pada rupiah. Sebagai anak bangsa yang senasionalis Tan Malaka, meski gemar belanja Guess, Chanel, dan Bvlgari, bukan tas benang rajut dan parfum refill, gigi saya gemeletak maha murka melihat harga diri rupiah dipecundangi sedemikian hina.

Sungguh biang bala Jokowi, ya. Apes bangsa ini di tangannya! Inilah alasannya mengapa Medusa perlu segera dibangun di sini. Di setiap pagar rumah jika perlu. Seperlu stempel halal di setiap plastik camilan paling proletar sekalipun, meski jelas dibuat dari telo dan singkong yang sejak dari dalam rahim tanah mutlak halal. Telo dan singkong tampaknya telah sangat mendesak untuk ditashih oleh pemangku halal agar pikiran dan tindakan kita pun selalu halalan thayyiban. Seperti lantang menghujat Jokowi, di antaranya. Baiklah, lanjutkan, Sis.

Lalu insiden ambruknya crane di Mekkah yang menewaskan lebih dari 100 jamaah haji. Kenapa coba harus ada Jokowi di Jeddah waktu itu? Andai tak ada Jokowi, pastilah Mekkah akan selalu terawat keberkahannya. Jarak Jeddah dan Mekkah yang sekitaran 100 kilometer ternyata tak mampu ngumpet dari aura bala Jokowi: merangsak ke Masjidil Haram, menggoyang crane melalui badai koplo Pantura, lalu ambruklah menelan tumbal.

Andai umat Islam mempercayai Medusa, tragedi crane itu takkan terjadi. Ayo, usulkan kepada Raja Salman untuk segera membangun patung Medusa. Jika beliau melihat niat baik anjuran ini, semata untuk melindungi Mekkah dari aura buruk Jokowi, insya Allah kali ini takkan divonis bid’ah. Ya, serupa kali ini (lagi) sang pangeran takkan dipancung bersama dua ton narkobanya. Hoh!

Dan yang terbaru, dengan nyekip jatuhnya Marc Marquez di Sepang akibat salah Jokowi pula, kunjungan Jokowi ke desa Bukti Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, 30 Oktober 2015 lalu, menemui suku Anak Dalam. Atau suku Kubu. Atau Orang Rimba.

Dengan mencatat sejarah petaka demi petaka yang mendera akibat ulah Jokowi, seminimnya kita akan selalu tangkas bercuriga bahwa tidak kunjung turunnya hujan dan bertebarannya asap di seantero Sumatera hingga tumpah ke Singapura dan Malaysia, jelas merupakan bagian tak terpisahkan dari kesalahan Jokowi.

Sebagai penghuni wilayah pedalaman, suku Anak Dalam adalah korban pertama asap-asap deforestasi demi kelapa sawit itu. Hutan sebagai kosmologinya jadi berantakan. Jagat kehidupannya remuk. Cari makan menjadi berat. Sungguh terlalu, orang pedalaman saja ditumbalkan. Masya Allah….

Coba pikir, apa sebenarnya sih tujuan Jokowi berbincang, menyalami, dan duduk sejajar dengan orang suku Anak Dalam?

Jawabannya cuma satu: pencitraan!

Ini bukti-buktinya.

Pertama, asap terus membubung merusak jagat suku Anak Dalam. Jokowi jago banget pura-pura berempati, supaya tak terlalu dituding sebagai pihak yang bersalah. Semacam ritual suci menebus kegelisahan nurani akibat deraan dosa; atau malah drama politik meraih suara di pemilu berikutnya. Cih!

Kedua, penguat atas poin pertama, lihatlah bukti dan analisis foto di dunia viral yang menonjok pertemuan itu sebagai rekayasa belaka. Sekaliber Pipit Senja yang novel-novelnya sangat religius dan saya koleksi sembari berharap suatu kelak bisa selfie bareng turut berbahagia menyebarkan dua foto terkenal itu sebagai bukti empiris kedustaan kunjungan itu.

Anda lihat sendirilah foto dimaksud. Foto yang atas memperlihatkan Jokowi sedang konsolidasi memantapkan skenario dusta itu. Foto yang bawah memperlihatkan Jokowi sedang berbincang karib dengan “orang-orang asli” suku Anak Dalam.

Benar-benar acting yang luar biasa matang dipersiapkan untuk menipu rakyat. Dasar!

Soal belakangan media-media utama yang lazim kita baca dan percayai otoritasnya memberitakan bahwa kunjungan Jokowi ke pelosok suku Anak Dalam itu benar adanya, disaksikan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, para jurnalis dari berbagai media nasional, plus Husni Thamrin (berbaju batik) yang menjadi penerjemah, apakah Anda akan goyah iman begitu saja?

Wooo, jangan! Anda harus tetap konsisten menghujat Jokowi, sekalipun beliau adalah satu-satunya presiden yang peduli tol laut. Bukankah sangat kecil bagi Jokowi untuk menekan media-media itu agar membelanya? Pokoknya ingat selalu iman Anda: Jokowi selalu salah, apa pun itu!

Soal di dalam kamar, Anda kini membaca dengan mata memicing bahwa foto pertama (adegan Jokowi berbincang dengan orang-orang suku Anak Dalam yang berbaju lengkap) yang beredar di sosial media itu faktanya terjadi lebih belakangan dibanding foto kedua (adegan Jokowi berbincang dengan orang suku Anak Dalam yang belum berbaju lengkap), yang itu secara logis memustahilkan adanya briefing sebelum take foto, Anda pokoknya harus tetap kukuh memperlihatkan satu-satunya skill Anda. Ya, skill ngeyel sepanjang masa, dengan segala cara. Segendeng apa pun itu.

Jangan pernah lupakan jurus sakti tiada tanding warisan Paduka Jonru, lho. Pipit Senja yang religius saja tanpa ragu menyebarkannya kok, kenapa Anda tidak, sih? Demi kebenaran, kemuliaan, Islam, dan surga!

Ayo, segera share postingan cerdas pembongkar rekayasa kunjungan Jokowi itu melalui akun-akun Anda. Gratis, kan, tak dipenjara pula, sebab Jokowi sudah mengatakan takkan mempidanakan tudingan itu meski Kapolri menyatakan akan memanggil para pelakunya. Lagian, siapa tahu benar, tho, kan berpahala. Kalau salah ya nggak apa-apa. Namanya juga berijtihad, salah pun dapat satu pahala, tho. Siapa tahu pula berkat ngeshare itu surga menanti Anda? Siapa tahu, kan? Wong shalat jempalitan saja belum tentu menghantar Anda ke surga, lantas kenapa Anda telat menyebarkan analisis dua foto itu, seperti biasanya, lah?

Jika Anda sudah menyebarkannya, saya ucapkan selamat! Jika belum, saya anjurkan cepat raih ucapan selamat saya.

Hooo, jangan remehkan ucapan selamat saya, sebab saya adalah Medusa. Ingat, sebagai Medusa, saya sanggup menjadikan batu siapa pun yang saya tatap. Dan dengan senang hati saya akan menatap Anda agar segera menjadi batu, sebab saya sedang butuh banyak batu untuk membangun istana.

Bukan, ini bukan saya tak mampu beli batu, wong beli Guess dan Chanel setiap ke Singapura saja saya mampu. Saya cuma merasa betapa negeri ini telah terlalu sesak oleh orang-orang yang punya otak tapi bodohnya setebal batu; orang-orang yang gemar mengutip ayat dan hadits di akunnya tetapi akhlaknya sehitam batu; orang-orang yang mengaku merindukan surga tetapi nuraninya sekasar batu berkat skill memfitnahnya yang sangat luar biasa.

Sebagai Medusa kekinian, saya penyuka heels. Sebagiannya memiliki tanduk yang sangat lancip. Cukup untuk melubangi dahi Anda dengan sekali getok. Siapa tahu setelah digetok, otak Anda akan kembali bekerja normal selayaknya manusia, bukan batu. Jikapun gagal, seperti saya katakan tadi, saya bisa menjadikan Anda batu-batu hitam untuk bangunan istana saya.

Bukankah menjadi batu bisa membuat Anda lebih bermanfaat, kan?

Latest posts by Admin (see all)

  • Edward William White

    Menyayat, jika di hadapan penulisnya, saya pun tidak akan sanggup menatap matanya… takut dijadikan candi penggenap yang ke seribu

    • EDI AH IYUBENU

      Inget nasihat Aa Gym…