Kain Dalam Perayaan Kebimbangan Umat Manusia

in Rehal by

Judul Buku       : Kain: Perjalanan Sang Pembunuh Pertama

Penulis             : Jose Saramago

Penerjemah      : An Ismanto

Tebal                :  190 halaman

Terbit               : Cetakan Pertama, Desember 2017

Penerbit            : Penerbit Basabasi, Yogyakarta

Apakah kelak, kita akan mengenal Tuhan? Sebuah pencarian panjang yang dimulai sejak lampau hingga masa kini. Tak jarang para penulis mencoba mendeskripsikan keberadaan Tuhan lewat karya-karya mereka. Seperti halnya hidup, novel menjadi ruang lain untuk mencari jawaban dari sejumlah pertanyaan. Misalnya saja, dari novel Fyodor Dostoyevsky yang berjudul The Brothers Kamazov. Perbicangan antara Ivan Kamazov dan juga Aloysha menjadi adegan dua orang manusia yang saling mencoba menjelaskan keberadaan Tuhan. Semua kembali ke pembaca, respons tersebut akan ditanggapi berbeda. Lain halnya dengan salah satu novel Jose Saramago yang berjudul Kain: Perjalanan Sang Pembunuh Pertama.

Novel ini menjadi karya terakhir dari Jose Saramago. Sebagai novel, Kain mungkin juga menjadi semacam gugatan secara langsung sebelum Jose Saramago bertemu dengan Tuhan di alam yang lain. Seperti halnya tokoh utama dalam novel ini, kita mungkin sering kali bertanya—mengapa Tuhan melakukan ini dan itu kepada kita—dan mengutuk kemungkinan yang sulit diterima. Kebimbangan yang kita alami lahir dari ketidaktahuan yang dari hari ke hari berkembang. Celakanya, kebimbangan itu kadang tak diselamatkan oleh jawaban yang menyenangkan. Yang ada hanyalah pertanyaan baru, yang di kemudian hari malah memperkeruh semuanya.

Sebagai orang pertama yang dapat disebut sebagai pembunuh, Kain melewati hari dan waktu yang begitu berbeda. Apakah Kain merasa bersalah atas apa yang dilakukannya pada saudara kandungnya sendiri? Hidup mungkin memperlakukan Kain dengan tidak baik. Betapa tersiksanya Kain dengan kebimbangan yang ada di kepala dan tiap waktu perasaan itu muncul menusuk dirinya tanpa henti. Apakah Kain menerima takdir itu begitu saja? Jose Saramago pun ikut menjadi Tuhan bagi tokoh Kain dengan membawa tokoh utama ini melintasi dimensi tempat dan waktu yang berbeda.

Perpindahan dari masa ke masa itu menjadi salah satu kekuatan dari dalam novel ini. Namun di sisi lain akan menjadi kelemahan bagi pembaca yang belum memahami siksaan yang merasuki diri seorang Kain. Yang ada, perpindahan itu hanya akan dianggap sebagai cara bercerita yang merusak alur dan cerita yang semestinya lebih jernih dan tenang. Tapi tidak, Jose Saramago sengaja memilih waktu dan tempat yang benar-benar tepat. Dengan cara seperti itulah, tokoh utama kita akan memperlihatkan kedirian yang mencoba melawan atau menghadapi Tuhan dengan caranya yang khas.

Berbeda dengan novel The Brothers Kamazov, percakapan tentang Tuhan dalam Kain ini bisa terjadi secara langsung. Meskipun keduanya boleh saya sebut sebagai usaha mencari dan menemukan Tuhan, Jose Saramago secara tegas memperlihatkan dirinya sebagai pencari dan sekaligus orang yang berani melemparkan cara pandang baru terhadap bagaimana kita melihat Tuhan. Semacam perayaan atas gugatan manusia terhadap tuhannya. Jika Jose Saramago menjadi tuhan untuk karya-karyanya, maka pembaca sendiri dapat menjadi tuhan dalam menentukan berhasil atau gagalnya gugatan tersebut.

Novel ini telah memindahkan kisah-kisah Adam dan Hawa, Abraham, kehancuran kaum Sodom, Job, Musa, serta Nuh dan bahteranya. Seperti yang sebelumnya dijelaskan, rentetan peristiwa di novel ini melompat dari satu masa ke masa yang berbeda. Tokoh utama dapat berpindah ke masa lalu, lalu ke masa depan, kemudian kembali lagi ke masa sebelumnya. Di tiap masa, Kain menemukan keganjilan yang serupa dengan takdir yang dialami sebagai seorang pembunuh pertama. Melalui kisah pilihan ini pula, tampak Jose Saramago yang dengan serius menggarap kisah Kain untuk memasuki kebimbangan yang lebih serta siksa atas pertanyaan-pertanyaan bebas tentang keberadaan Tuhan.

“Lalu kata Kain, kalau aku benar memahaminya, berarti tuhan dan setan bertaruh, tetapi orang bernama Job ini tidak tahu bahwa dia adalah objek dalam perjanjian perjudian antara tuhan dan setan.” (Hal. 146) Penggalan pernyataan itu merupakan salah satu bentuk protes Kain sewaktu melihat kondisi Job yang harus mengalami ujian dengan kehilangan harta dan keluarga. Ditambah dengan protesnya sewaktu Abraham diuji untuk menyembelih anaknya. Kain berharap—atau mungkin juga kita—bahwa keadilan Tuhan semestinya memiliki kejernihan dan setransparan sebidang kaca. Bukannya menciptakan atmosfer yang penuh ketakutan.

Di luar segi cerita dari novel Kain ini, para pembaca dapat menemukan teknik menulis yang lain dari Jose Saramago. Kita akan menemukan penggunaan tanda baca yang acak, seperti koma, titik, dan huruf kapital. Ada kalanya kita tak mampu melihat di mana suara tokoh utama saat memulai percakapan. Percakapan yang tak lagi dibubuhi dengan tanda yang seperti pada umumnya. Perpindahan percakapan menjadi hal lain yang mungkin pada mulanya akan memusingkan pembaca. Namun sekali lagi, Jose Saramago mencoba menjadi tuhan atas karya-karyanya. Selain melakukan kritik atas takdir Tuhan, Jose Saramago pun mencoba mendobrak tata aturan penulisan yang pada umumnya kita ketahui. Bisa jadi ini sebentuk gambaran atau cerminan terhadap kritik atas nasib segala tanda yang ada dalam tulisan atau kehidupan yang sebenarnya. Sebagai seorang manusia, kebimbangan serta pertanyaan akan menjadi teman setia dalam perjalanan panjang kita menuju pulang pada asal tempat kita menjadi tiada dan ada. Terakhir saya menutup catatan ini dengan salah satu kutipan dalam buku ini; “Sejarah umat manusia adalah kesalahpahaman antara kita dengan tuhan, karena ia tidak memahami kita, dan kita tidak memahaminya.” (Hal.94)

Wawan Kurn

Wawan Kurn

Sering menggunakan nama Wawan Kurn, lahir di Pinrang, namun kini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya di antaranya pernah dimuat Koran Tempo Makassar, Harian Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Tribun Timur Makassar, Republika, Serambi Indonesia.
Wawan Kurn