Kalender, Undangan Nikah, dan Puisi

in Cerita Pendek by
cerpen Kalender, Undangan Nikah, dan Puisi
Sumber Gambar: kingsmillshotel.com

Model kalendernya kurang merangsang. Harusnya pula di sebelah kanan bawah model, di bidang yang masih tampak kosong itu dibubuhi doa sebelum renang.

Tentu saja tak ada yang mendengar kritikku ini karena memang hanya kusuarakan dalam batin. Bila pun kuperdengarkan juga tetap akan sia-sia. Desain kalender pesanan salah satu produsen obat pelangsing ini sudah final. Kemungkinan untuk diedit lagi sudah tertutup. Dan, memang lebih baik jika kupendam saja kritikku ini untuk mencegah kemungkinan pemesan itu sakit hati yang berujung pada urungnya pesanan. Aku hanya dapat menilai dalam hati bahwa desainer grafis perusahaan itu memiliki kreativitas dan nilai estetika yang rendah. Tugasku sebagai pemilik percetakan hanyalah memastikan cetakan kalendernya sempurna. Aku tinggal mengatur ukuran kertas dan komposisi warna idealnya, lalu dua pegawai harianku akan mencetaknya sebanyak dua ratus eksemplar sebagaimana pesanannya.

Pada bulan November ini aku mencatat ada tiga belas pesanan kalender. Sepuluh pemesan sudah membawa desain jadi sedangkan sisanya adalah tipikal terima jadi. Ketiga pemesan itu cuma datang dengan uang muka beserta beberapa instruksi yang mesti kueksekusi sendiri. Aku senang dengan pemesan semacam ini karena menantang naluri seni dan kreasiku. Aku bakalan mendesain kalender pesanan itu sebaik mungkin karena nama baikku adalah taruhannya. Kepuasan pemesan adalah puncak apresiasi bagi karyaku.

Siklus tahunan semacam ini hampir bisa dipastikan. Setiap mendekati pergantian tahun aku selalu kebanjiran order cetak kalender. Kebanyakan pemesan itu datang dari perusahaan-perusahaan kecil, semacam dealer motor, produsen jamu, rumah makan, dan sebagainya. Aku pun sudah mengantisipasinya sejak jauh-jauh hari dengan menyiapkan kertas dan perlengkapan lainnya. Jumlah pemesan kali ini lebih banyak dibanding tahun lalu. Hal ini cukup melegakanku karena meski hampir tiap orang telah punya ponsel yang terdapat kalender di dalamnya, penggemar kalender manual masih banyak. Masa depan kalender kertas masih cerah. Kebiasaan melingkari angka dan mencoret-coretnya belum akan punah.

Selain kalender, aku juga menerima order cetak buku kecil-kecilan, semacam buku Surah Yasin dan aneka undangan. Yang terlaris tentu saja undangan nikah, apalagi di Solo ini pantangan nikah hanya terjadi di bulan Sura. Aku senantiasa kebanjiran order desain dan cetak undangan nikah mulai dari yang sederhana hingga yang istimewa. Sebagaimana kalender dan yang lainnya, sebelum undangan nikah itu dicetak pasti kukonsultasikan terlebih dahulu hasil desainnya dengan pelanggan. Untuk undangan nikah biasanya pemesan lebih rewel. Tentu mereka ingin undangan nikah yang diniatkan hanya dicetak sekali seumur hidup itu secantik mungkin. Undangan nikah bagi mereka adalah prasasti doa agar pernikahan mereka langgeng dan bahagia selama-lamanya. Meski belum beristri aku tahu pasti perasaan itu karena diam-diam aku telah mendesain undangan pernikahanku sendiri walau kini aku belum punya pacar dan mungkin jodohku sedang berdakwah mencerahkan batin lelaki lain. Dengan perasaan yang kurang lebih sama, aku mendesainkan undangan mereka. Kerap sekali ketika pemeriksaan akhir desain sebelum dicetak aku mendengar komentar bernada kepuasan dari pasangan mempelai. Saban kali begitu kebahagiaan dan kebanggaan juga membuncah dalam diriku. Selain potongan ayat suci, aku juga menyertakan beberapa larik puisi cinta dalam undangan nikah tersebut. Biasanya mereka akan memuji-muji puisi cinta itu. Barangkali mereka akan menjadikannya kata-kata mutiara andalan atau mantra favorit yang akan mendamaikan mereka kelak ketika terjadi prahara rumah tangga. Ketika mendengar pujian dari mereka jiwaku rasanya melambung kian tinggi, karena puisi cinta yang kububuhkan dalam undangan nikah mereka adalah puisi karanganku sendiri.

Aku tak keberatan jika puisiku itu dikira puisi Kahlil Gibran, WS Rendra, atau bahkan Chairil Anwar, para penyair yang dikenal masyarakat umum. Aku tak lagi menyertakan namaku dalam potongan puisi cinta itu karena aku pernah melakukannya dan imbasnya malah melukai hatiku. Di masa percobaan, sepasang pemesan memintaku menghapus namaku sendiri dari puisiku sementara mereka bersikeras menyertakan puisinya. Mereka suka pada puisinya tapi tak suka pada nama penyairnya yang tak terkenal. Untung saja mereka tak menanyakan perihal penyairnya dan tak minta mengganti nama penyairnya dengan penyair lain yang telah kondang namanya. Hatiku terselamatkan dari nestapa yang lebih bahaya. Akhirnya aku mengalah karena kepuasan konsumen adalah segalanya. Dari peristiwa itu aku berpendapat bahwa kualitas dan nilai estetika puisi itu terkait erat dengan nama besar penyairnya. Keindahan sebuah puisi bisa turun drastis jika ketahuan ditulis oleh seorang pengusaha percetakan rumahan sepertiku. Puisi dalam undangan nikah terlampau suci untuk ditulis sembarang orang. Aku belajar dari pengalaman pahit itu. Biarlah puisiku mengembara sendirian dalam tiap undangan nikah tanpa namaku. Setidaknya dalam undangan-undangan pernikahan itu puisiku abadi.

Bisa dibilang aku adalah penyair gagal. Dahulu ketika masih kuliah aku menyuntuki puisi. Di awal-awal proses kreatifku beberapa puisiku memang sempat dimuat di koran lokal sebanyak dua kali. Tapi setelah itu tak ada lagi puisiku yang dimuat meski aku telah ratusan kali mengirimkannya ke berbagai media massa. Padahal aku merasa kualitas puisiku makin bagus. Hal inilah yang melemahkan semangatku. Puisiku hanya beredar di komunitas teman-teman kuliahku di fakultas sastra. Aku hanya menjadi penyair untuk kalangan sendiri. Di luar semesta itu namaku tak dikenal sebagai penyair. Tapi aku senantiasa mengikuti perkembangan puisi di negeri ini dan di pengujung masa kuliah tibalah aku pada kesimpulan bahwa dunia kepenyairan di Indonesia sangatlah ketat dan kejam. Banyak nama baru bermunculan. Setiap orang seperti bisa menulis puisi dan dengan kesimpulan itu pulalah niatku menjadi penyair besar di negeri ini resmi kupupus dengan sukarela. Sebagai gantinya─setelah wisuda dan gagal menemukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat, minat, dan pendidikan─aku meminta modal pada kakakku yang kaya raya dan pernah kuliah di Amerika dengan beasiswa. Setelah mendengarkan ceramah halusnya tentang kengeyelanku dulu yang nekat kuliah di jurusan sastra Indonesia yang berujung pada status pengangguran terselubungku, akhirnya beliau memodaliku juga, yang kugunakan untuk membeli seperangkat mesin cetak kecil dan membuka usaha percetakan rumahan.

Pilihan usaha ini sudah kuperhitungkan dengan matang. Sebelumnya aku sudah belajar desain pada kawanku selama tiga bulan. Kursus gratis itu kumanfaatkan sebaik-baiknya, maklum, gurunya adalah kawan sekuliahku. Dia juga adalah prosais gagal. Kegagalannya lebih parah dibandingkan aku. Semasa kuliah dulu, dia telah menulis puluhan cerpen tapi tak satu pun yang berhasil dimuat koran meski telah berulang kali dikirimkannya. Dua novelnya juga tak ada yang menerbitkan dan hingga kini masih teronggok sebagai manuskrip. Perihal novel ini dia bercita-cita akan menerbitkannya sendiri dan akan dibagi-bagikannya secara gratis kepada para tamu kelak pada hajatan khitan anaknya. Kedua novelnya itu sama-sama bercerita tentang bong supit dan selaras dengan cita-citanya memiliki dua anak laki-laki. Nasibnya serupa denganku, setelah tak mendapat pekerjaan yang cocok dia pun banting setir membuka usaha sablon kaus. Sebelumnya dia sempat kursus desain secara resmi selama satu tahun. Dia bersedia mengajariku setelah aku bersumpah tak akan membuka usaha sablon kaus yang akan menyaingi usahanya.

Tak terasa kini usaha percetakanku sudah menapaki tahun ketiga. Memang belum ada kemajuan usaha yang berarti tapi hasilnya cukup untuk menghidupiku dan dua orang pekerja harianku. Aku kian percaya pada kata-kata mutiara yang tertempel di kaca lemariku: selama ada usaha di situ ada jalan & putus asa adalah kawannya setan. Sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih, aku mendesain kalimat itu seindah-indahnya kemudian mencetaknya dalam kertas ukuran 40×200 sentimeter lalu membingkainya dan menjadikannya hiasan dinding kantor.

Selain dengan doa, Ibu mendukung usahaku dengan tindakan nyata. Memang beliau tidak urun modal tapi di masa menjelang tutup tahun seperti ini, beliau senantiasa memasokku kalender yang diperolehnya dari toko emas langganannya. Ibuku adalah penggemar sejati perhiasan emas. Aku mendengar sendiri cita-cita beliau tentang logam mulia itu yakni bahwa beliau tak akan meninggal dunia sebelum mengoleksi emas seberat 5 ons. Aku terharu mendengar cita-cita sederhananya itu tapi tak ikut membelikan beliau perhiasan emas. Aku takut bila koleksi emas beliau kian berat maka saat berpulangnya juga kian dekat. Ibu yang mendapat pasokan dana dari kakakku yang kaya raya seakan mewujudkan sendiri cita-citanya itu sementara Bapak hanya dapat ikut merasa memiliki. Penghasilan Bapak sebagai pembuat sambal pecel sudah ludes untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ibu sering menghadiahi dirinya sendiri dengan perhiasan emas. Tahun lalu ketika Hari Ibu, beliau membeli kalung seberat 25 gram. Kalung itu dipakainya sendiri sedangkan bonus kalendernya diberikan padaku. Katanya, kalung emas dalam bentuk panjang itu cocok digunakan saat Ibu berhijab. Dan, kalung itu memang tampak kian berkilau ketika dipakai Ibu di luar kerudung. Aku ikut senang dengan pembelian itu dan teringat pesan Ibu ketika memberikan kalendernya, “Untuk studi banding.”

Perkara studi banding ini sebenarnya adalah balas jasa dari Ibu. Beberapa tahun lalu semasa fisiknya masih kuat, Ibu membuka usaha berjualan lemper. Lemper itu adalah buatan Ibu sendiri yang dititipkan ke warung-warung dan terkadang juga menerima pesanan. Di masa itu aku berkecukupan asupan lemper dan telah mencapai titik bosan. Setiap ada acara dan aku mendapat hidangan lemper maka lemper itu akan kubawa pulang dan kuberikan kepada Ibu untuk studi banding. Ibu akan memakan lemper itu sembari menganalisisnya, membandingkan dengan lemper buatannya sendiri. Biasanya pula di akhir santap lemper ibu akan memberikan penilaian yang sudah bisa diduga. Ibu akan menghujat lemper yang barusan dimakannya dan mengatakan bahwa lemper buatannya jauh lebih enak. Kurasa hal itu manusiawi dan itu baik bagi perkembangan mental dan kepercayaan diri Ibu sebagai produsen lemper.

Kurasa dalam hal apa pun studi banding itu perlu. Hal ini sesuai dengan buku yang sedang kubaca yakni salah satu buku motivasi usaha karya Sugih Seko Lair berjudul Mengaspal Jalan Rezeki. Aku beberapa kali mengikuti seminarnya. Beliau adalah motivator, pengusaha sukses, merangkap ustaz kondang. Saran beliau yang kucatat baik-baik adalah kemauan untuk senantiasa belajar hal baru dan belajar dari para pesaing. Kurasa studi banding adalah hal yang harus disikapi dengan serius. Kucermati baik-baik kalender pemberian Ibu. Kalender itu terdiri dari tiga lembar. Masing-masing lembar memuat empat bulan dengan gambar tiga artis yakni Nela Karisma, Wiwik Sagita, dan Yuni Ayunda yang lebih dominan. Ketiga artis dangdut lokal itu berpose sopan dan tampak lebih jelita gambarnya setelah tersentuh aplikasi permak foto. Aku berusaha mencari-cari kelebihan dari kalender tersebut. Kucermati tiap item dengan teliti. Setelah setengah jam menelitinya aku berkesimpulan bahwa kelebihan kalender itu adalah tidak ada.

Selagi menunggu utusan dari Warung Sate Jamu Kambing Balap mengambil tiga ratus eksemplar pesanan kalendernya, kugunakan waktu untuk meneruskan baca buku Mengaspal Jalan Rezeki. Di bab yang kubaca, Sugih Seko Lair menggarisbawahi perkara rekreasi usaha dari usaha yang sama. Aku merenungkan uraian beliau itu dan terlintas untuk membikin kalender meja dengan gambar diriku sendiri beserta puisi-puisi cintaku. Aku berangan-angan akan mencetaknya secara spesial sebanyak seratus eksemplar. Jika memungkinkan aku akan menjualnya tapi jika pun nanti kalender itu tak laku, aku akan mengantisipasinya dengan memberikannya kepada saudara dan kawan-kawan terdekat. Kurasa itu akan menjadi koleksi berharga bagi mereka dan bagiku akan menjadi sebuah monumen mahakarya. Aku akan menciptakan kombinasi sempurna antara panggilan jiwa dan usaha. Aku tinggal menyeleksi dua belas puisi terbaikku dari sekitar tiga ratusan puisi yang telah kutulis, juga dua belas foto terbaikku dari sekian ratus foto di galeri ponselku. Kukira ini akan menjadi pekerjaan cukup berat dan melibatkan pertentangan batin karena hampir semua puisiku berkualitas setara baiknya dan foto-fotoku juga memiliki kadar ketampanan yang berimbang.

Aku sudah akan memulai proses kurasi ini dengan menghidupkan komputer ketika ponselku berdering. Kulihat dari nomor tak dikenal tapi tetap kuangkat.

“Iya.”

“Ya, dengan siapa ini?”

“Harusnya saya yang bertanya karena Bapak yang menelepon saya. Dengan siapa ini, Pak?”

“Saya Sapardi.”

“Iya, Pak Sapardi, ada yang bisa saya bantu?”

“Saya sedang di Solo dan baca undangan nikah kawan saya. Sampean yang mencetak undangannya?”

“Benar, Pak, saya yang mencetaknya.”

“Ada penggalan puisi di undangan ini tapi tak dicantumkan nama penyairnya. Ini puisi siapa?”

“Itu puisi saya sendiri Pak.”

“Sampean tidak sedang bercanda, kan?”

“Benar, Pak, itu puisi saya sendiri.”

“Wah….”

“Ada apa memangnya, Pak?”

“Puisi sampean bagus. Saya suka.”

“Terima kasih, Pak.”

Lalu percakapan diakhirinya. Di benakku langsung membayang sosok penyair legendaris dari Solo, Sapardi Djoko Damono, si Hujan Bulan Juni. Pujiannya barusan seakan menumbuhkan kembali gairah kepenyairanku yang layu. Kurasa ini bukan pujian sembarangan. Perkataan seorang Sapardi pastilah tidak main-main. Aku mencium peluang untuk membukukan puisi-puisiku. Siapa tahu Sapardi bisa membukakan jalannya dan cita-cita lawasku menjadi seorang penyair bisa jadi kenyataan. Syukur-syukur juga jika beliau berkenan menulis kata pengantarnya. Segera saja kutelepon balik nomor tadi.

“Pak Sapardi?”

“Iya, siapa ini?”

“Saya yang Bapak telepon tadi. Benarkah ini Pak Sapardi Djoko Damono?”

“Oh, bukan Mas. Saya Sapardi Mulia Jaya pemilik CV Mulia Offset di Jakarta. Perusahaan saya juga melayani cetak undangan nikah. Desain undangan sampean bagus. Saya suka, apalagi bagian puisinya. Tadi langsung saya hubungi nomor telepon percetakan yang tertera di undangan karena sangat penasaran. Sudah lama sampean bisnis cetak undangan?”

Aku tak menjawab pertanyaannya itu. Langsung kumatikan ponselku. Aku merasa ada sesuatu yang tercerabut dari dalam diriku. Gairah kepenyairanku pudar seketika.

Solo, 2015

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)

  • Feby Fatmasari (Feby or Atma)

    Aku merasa terinpirasi karena ini, keren Kak 😀

Partners Section:

best thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appbest thai dating appfree iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8free iphone 8
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co