Kampung Pelangi di Desa Bejalen Semarang, Spot Selfie Baru Generasi Milennial

in Hibernasi by
Kampung Pelangi di Desa Bejalen Semarang, Spot Selfie Baru Generasi Milennial
Desa Bejalen. Sumber gambar: Dok. Pribadi

Desa Bejalen terletak di bagian Tenggara Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Berada di sebelah Selatan Jalan Lingkar Ambarawa, menjadikannya sebagai spot yang sangat mudah dicapai.

Bagi Anda yang datang dari arah Semarang, sesampainya di pertigaan Bawen, ambil arah kanan menuju Ambarawa. Jika datang dari arah Solo, di pertigaan Bawen ambil kiri menuju Ambarawa. Dari pertigaan Bawen, maju sekitar 1 kilometer hingga pertigaan Jalan Lingkar Ambarawa. Tinggal menyusuri jalan tersebut hingga menemukan gerbang Desa Wisata Bejalen di sisi kiri. Bagi pengunjung yang datang dari arah Yogya, gerbangnya terletak di kanan jalan lingkar setelah traffic light Pojoksari.

Pencanangan Bejalen sebagai Desa Wisata sesungguhnya telah berlangsung sekitar sepuluh tahun lalu. Namun baru pada tahun ini digarap dengan sungguh-sungguh. Dan yang mengagumkan, program ini didukung oleh para pemuda yang bergotong royong demi memajukan desa.

Desa Bejalen menyuguhkan wisata alam nan memikat, perpaduan pemandangan pegunungan, persawahan, dan Danau Rawa Pening yang sangat indah. Selain itu, Bejalen memiliki sejumlah kuliner potensial untuk dikembangkan. Anda bisa menikmati salak Bejalen yang terasa manis, sepet, namun masir. Ada juga jenang cikru. Tepung cikru itu diolah dari biji bunga teratai. Anda juga bisa menikmati telur asin Bejalen yang menggunakan telur bebek angon sehingga warna kuning telurnya cenderung oranye. Ada juga wader atau cetol goreng yang krispi dan gurih. Wader atau cetol adalah sejenis teri tawar yang merupakan “penghuni” asli Danau Rawa Pening.

Belakangan ini, bukan cuma panorama alam dan kuliner yang membuat Bejalen semakin dikenal. Jembatan di tengah desa menjadikan Bejalen semakin berkibar sebagai Desa Wisata. Lokasinya dapat dicapai dengan mudah. Dari gerbang desa, Anda cukup berjalan lurus. Untuk memasuki wilayah Kampung Pelangi, dikenai biaya Sumbangan Pengembangan Desa sebesar Rp2000,- per orang, dan parkir Rp1000,- per orang. Cukup murah ya.

Semangat dan kreativitas warga telah mengubah jembatan menjadi ikon yang memukau. Dicat berwarna-warni bagai pelangi. Rumah-rumah di sisi kiri dan kanan sungai juga turut berbenah diri. Penduduk mengecat dinding-dinding rumah mereka yang menghadap ke sungai dengan berbagai pola warna-warni. Polkadot, horisontal, vertikal, waving, hingga heart.

Selain itu, berbagai ornamen penuh warna turut menghiasi desa. Sebuah warung menggunakan tirai bola warna-warni sebagai pembatas. Salah satu rumah menggunakan tirai tutup botol warna-warni sebagai penghias teras. Perahu-perahu penduduk juga mulai didandani, dipoles diri dengan aneka warna dan desain. Dengan warna-warni unik pelangi, didukung sarana jalan yang memadai, lokasi tersebut menjadi spot selfie favorit fotografer amatir dan profesional.

Kampung Pelangi yang diresmikan tanggal 26 April 2016 mendadak viral. Lokasi ini menambah jajaran spot selfie di wilayah Kabupaten Semarang selain Jembatan Biru di Tuntang, Gardu Pandang Lereng Kelir di Desa Brongkol Jambu, dan Gardu Pandang Cemara Sewu di Desa Sepakung Banyubiru.

Semoga saja pesona Kampung Pelangi tidak segera memudar seiring dengan memudarnya cat yang melapisi dinding rumah di sepanjang sungai. Dan semoga saja para pemuda penggiat Desa Wisata Bejalen rutin mengecat ulang “potensi” yang tersimpan di sana seiring dengan rutinnya mereka mengecat ulang warna-warni yang memudar tergerus cuaca, sehingga pesona Desa Wisata Bejalen dengan Kampung Pelangi-nya terus berkibar, tidak hanya menjadi spot selfie fenomenal sesaat. Semoga….

Rohani Panjaitan

Rohani Panjaitan

lahir di Medan, 07 November 1970. Menyelesaikan pendidikan S1 nya di Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Inggris, Universitas Sumatera Utara. Saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga merangkap tukang kue yang mengisi waktu luang dengan menulis dan berkebun.
Rohani Panjaitan