Kanjeng Nabi, Mengapa Engkau Diprivatisasi?

in Celoteh by
pinterest.com

Saya kira hanya mata air yang bisa diprivatisasi sebagaimana dilakukan perusahaan-perusahaan air minum dalam kemasan. Saya duga cuma pantai yang dapat diprivatisasi seperti yang dilakukan hotel-hotel hingga siapa pun dilarang masuk ke kawasan pantai itu.

Perkiraan saya, dugaan saya, ternyata salah. Nabi Muhammad ternyata juga bisa diprivatisasi. Nabi, ternyata, juga bisa dimiliki secara eksklusif oleh kelompok tertentu. Privatisasi ini dilakukan oleh kerumunan yang tidak terima apabila Nabi juga dimiliki oleh siapa pun di luar kerumunannya. Ironisnya, kerumunan ini mengaku sebagai pencinta Nabi, karena itu mereka merasa berhak “mengatur” Nabi, dan mendaku dirinya sebagai “pemilik” Nabi.

Inilah yang terjadi ketika seorang dai menggelar shalawatan di sebuah diskotek terkenal, di Bali, 6 September 2018 lalu. “Semaksiat apa pun kita di hadapan manusia, kita masih diberkahi oleh Dia Yang Mahakuasa,” ucap sang dai di hadapan perempuan-perempuan berbaju seksi. Setelah itu, ia membimbing mereka melantunkan Shalawat Badar bersama-sama.

Bumi gonjang-ganjing. Negeri yang sedang riuh copras-capres ini mendapat keriuhan baru. Dai tersebut dianggap merendahkan Nabi karena shalawatan di klub malam. Dia dicibir karena puisi berisi pujian-pujian untuk Nabi itu tidak pantas dilantunkan bersama mereka yang suka berdisko, minum minuman beralkohol, gonta-ganti pasangan, memakai rok mini dan pakaian-pakaian mini lainnya.

“Sensasi murahan. Tidak bisa menempatkan kemuliaan agama dan Rasulullah,” tulis seorang warganet di Facebook. “Tausiah sambil cuci mata,” sambar yang lain. Atau komentar yang tak kalah pedas, “Kalau mau ceramah dan shalawatan, lihat-lihat tempat, dong. Dasar iblis!”

“Yang salah dari dai itu karena dia datang dan melihat langsung aurat-aurat yang terbuka,” salah satu pengurus lembaga keulamaan milik negara berkomentar. Ulama produk negara ini kemudian menyarankan agar dalam berdakwah, sang dai tidak perlu datang ke klub malam itu, tapi menggunakan video atau reklame iklan dan tulisan. “Karena ini bukan zaman wali-wali dulu,” tambahnya, sebagaimana ia tuturkan kepada wartawan (Tempo.co, Kamis, 13 September 2018).

Kepada mereka, kita bisa bertanya: Kenapa mereka merasa terhina ketika wanita penghibur dan orang-orang di klub malam itu bershalawat, tapi tidak merasa terhina ketika shalawat dibaca para koruptor dan calon-calon maling uang negara demi meraih suara umat Islam saat Pemilihan Umum? Di bagian manakah letak perendahan atau penghinaan terhadap Nabi ketika shalawat dilantunkan di klub malam? Bukankah di masa hidupnya, Nabi gemar mengajak mereka yang berada dalam kegelapan untuk bersama-sama menyongsong cahaya? Tidakkah untuk menemani siapa pun yang jauh dari jalan Tuhan yang menjadi sebab diutusnya Nabi ke dunia ini? Dan bukankah Nabi pula yang bersabda, innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq, “Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Maka salahkah bila kemudian Nabi dihadirkan kepada mereka yang akhlaknya salah di mata sosial, tapi sedang ingin memperbaikinya dengan bershalawat kepadanya, seraya mengharap percikan keindahan akhlaknya? Pertanyaan terakhir, apakah para pencibir itu benar-benar mencintai Nabi?

Ah, jangan-jangan, kenal pun tidak.

Tiba-tiba saya teringat Gus Miek. Putra pendiri Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri, yang bernama lengkap Kiai Hamim Jazuli itu berdakwah dengan cara yang tidak lazim. Gus Miek berdakwah di klub-klub malam, diskotek, rumah-rumah bordil, juga di tempat-tempat judi; dari yang kelas kampung sampai yang kelas internasional.

Gus Miek mendatangi, menemani, dan mengajak orang-orang di tempat itu untuk sadar pada asal-usulnya serta kembali kepada siapa yang sebenarnya mengatur kehidupan ini. Dengan dakwahnya itu, Gus Miek menunjukkan kepada kita, bahwa setiap manusia memiliki potensi kebaikan. Sehina apa pun manusia, sebesar apa pun maksiat yang dilakukannya, Allah Ta’ala selalu membuka gerbang-gerbang cinta-Nya bagi kedatangan mereka.

Saya juga terkenang Gus Jakfar, tokoh dalam cerita pendek karya A. Mustofa Bisri, dalam buku kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi (Penerbit Buku Kompas, 2008). Di dalam hikayat itu, Gus Jakfar adalah seorang putra kiai yang memiliki keistimewaan mampu melihat yang tersembunyi dalam diri manusia, baik yang terjadi di masa lalu maupun di masa depan. Orang pesantren menyebutnya mukasyafah. Atau weruh sakdurunge winarah, kata orang Jawa.

Namun, Gus Jakfar akhirnya takluk kepada Kiai Tawakal, wali Allah yang tertulis “Ahli Neraka” di keningnya, dalam penglihatan Gus Jakfar. Untuk meyakinkan dirinya, suatu malam Gus Jakfar membuntuti sang kiai keluar dari pesantrennya. Saat ia buntuti, ternyata Kiai Tawakal menuju warung remang-remang tempat perempuan-perempuan penghibur sedang bercumbu dengan para pelanggannya. Sebuah dunia yang, bagi Gus Jakfar, sungguh tak layak didatangi seorang wali seperti Kiai Tawakal.

Gus Jakfar bernasib malang. Persembunyiannya ketahuan. Kiai Tawakal memanggil Gus Jakfar dari warung itu, mengajaknya masuk, lalu meminta pelayan untuk menghidangkan kopi untuknya. Singkat cerita, Kiai Tawakal mengajaknya pulang, dan di tengah perjalanan, di pinggir sungai, wali itu menyuruh Gus Jakfar duduk lalu mengajaknya bicara.

“Anak muda,” kata Kiai Tawakal, “kau tidak perlu mencemaskanku hanya karena kau melihat tanda “Ahli Neraka” di keningku. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kaulihat belum tentu hasil pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana sorga dan neraka, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnya ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kaupandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengannya, tapi kita tidak berhak menuntuk balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya.”

Andai para pencibir dai yang shalawatan di klub malam itu mengenal Gus Miek, atau membaca cerpen berjudul Gus Jakfar ini, mungkin mereka akan malu pada dirinya sendiri. Malu pada keterburu-buruannya dalam menghakimi orang lain. Malu karena menganggap dirinya lebih baik di hadapan Allah dibanding orang-orang yang mereka hina, padahal orang-orang itu sedang berusaha kembali ke jalan-Nya, dengan cara membaca shalawat untuk Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad adalah kekasih Allah. Dia “orang dalam” yang dengan kasih sayangnya dapat mengantar siapa pun ke hadapan Allah. Dia bisa memohonkan ampun kepada Allah, untuk siapa pun yang ingin memohon ampun, tapi malu karena merasa dirinya tidak pantas mendapat ampunan Allah.

Nabi Muhammad adalah rahmatan lil-‘alamin, karunia bagi alam semesta. Nabi adalah milik kehidupan ini, milik seluruh ciptaan yang ada di alam dan kehidupan ini. Nabi tidak hanya milik orang Islam, tapi juga milik orang Nasrani, milik orang Yahudi, milik orang Majusi, bahkan milik apa dan siapa pun yang tak beragama atau tak ingin beragama.

Nabi tidak hanya milik umat manusia, tapi juga milik bangsa jin, milik merpati dan binatang-binatang lainnya, milik pohon kurma, milik padang pasir dan padang rumput, milik gunung dan lautan, milik daratan dan lautan, juga milik langit dan bumi. Nabi tidak hanya milik mereka yang berkerudung dan berpeci, tapi juga milik mereka yang berpakain minim, bahkan milik mereka yang tidak berpakaian karena tidak mampu membeli pakaian.

Sampai di sini, tiba-tiba saya ingin mendatangi makam Nabi di Masjid Nabawi nun di Madinah sana. Atau, saya ingin bertemu dengan manusia yang tidak pernah mengecewakan siapa pun yang datang kepadanya itu meski sekadar dalam mimpi. Bila keinginan ini terkabul, di hadapan putra tercinta Sayyidah Aminah dan Sayyid Abdullah itu saya akan bershalawat, mendekatinya, kemudian berbisik, “Kanjeng Nabi, mengapa engkau diprivatisasi?”

Ahmadul Faqih Mahfudz

Penulis, tinggal di Bali.

Latest posts by Ahmadul Faqih Mahfudz (see all)