Karya Sastra Sebagai Mimesis yang Bebas (Catatan Panjang Melawan Belenggu-Belenggu Berkarya) Bagian 3

in Celoteh by
hbr.org

Tema dan Imajinasi

Bahwa kegiatan menulis merupakan kegiatan berpikir, tentu semua kita telah mafhum. Tetapi, ini hanya pandangan legal-formalnya, fiqh-nya. Artifisialnya, ritualnya, permukaannya, lahiriahnya. Di atasnya lagi, ada slogan yang vital sekali untuk kita wedarkan, yakni “menulis dengan hati”. Menghadirkan imajinasi, sebutlah dalam aspek tema dan kontemplasinya. Ini ranah tasawuf-nya, mistisnya, sophia perennis-nya, substansinya, ruhaninya. Seyogianya, penulis sastra yang serius sudah berhasil melingkarkan dua ranah itu dengan sebaik-baiknya.

Sayangnya, banyak sekali di antara kita yang sampai detik ini kesulitan untuk membedakan aktivitas berpikir dengan aktivitas berimajinasi. Seolah keduanya sama. Seolah keduanya lalu berhenti pada senarai: berangan-angan, berkhayal, atau melamun-lamun. Dengan pengertian begini, walhasil, kegiatan berkarya kemudian tak lebih dari “kegiatan mikir-mikir berdasar khayalan-khayalan” semata. Imajinasi terlipat hanya sebagai “sarana” untuk berangan-angan. Dapat diterka, karyanya akan sekadar serupa apa. Maaf.

Jika menukil Jean-Paul Sartre dalam Psikologi dan Imajinasi, kegiatan berimajinasi adalah “memproyeksikan suatu dunia, suatu ideal, suatu ketiadaan, menjadi ada, meyakinkan ada.” Tegasnya, imajinasi adalah “kemampuan mengadakan suatu hal dari ketiadaannya”.

Ada satu kata kunci yang lantas membedakan maksud epistemologi Sartre ini dengan sekadar berkhayal-khayal—yang notabene juga bisa mengadakan sesuatu dari ketiadaannya, yakni “kreatif”. Jika digabung, hasilnya adalah imajinasi kreatif. Dalam istilah Imam Ghazali disebut intuisi (dzauq); dalam istilah Jean Baudrillard disebut “hiperrealitas”. Dalam istilah Jacques Lacan disebut “lack”. Derrida menyebutnya “ada dalam tiada”.

Agar lebih benderang, mari sisir bersama titik perbedaan berpikir dan berimajinasi ini melalui apa yang oleh Positivisme, termasuk Logosentrisme Aristoteles, dihukumkan sebagai “sistematika berpikir”. Musuh dari istilah ini ialah “logical fallacy”.

Sistematika berpikir yang notabene merupakan warisan Logosentrisme, kemudian Positivisme, mensyaratkan alur yang metodologis, mekanis, dan sistemis. Boleh disebut saintifik.

Jika Anda sedang berpikir tentang “omset”, misal, maka sistematika berpikir logis yang harus Anda urutkan di dalamnya begini: produk, pasar, dan omset. Kualitas produk, misal, akan berkorelasi dengan jangkauan pasar, dan dengannya omset terkeduk, besar atau kecil. Tidak ada imajinasi apa pun di dalamnya. Serba linier, analitis, mekanis, dan begitu sajalah ruangnya.

Tetapi bila Anda melibatkan sentuhan imajinasi kreatif di dalam perkara omset ini, boleh jadi Anda akan menghasilkan “citraan-citraan”—istilah yang saya pinjam dari Afthonul Afif dalam buku Mengendalikan Masa Depan (2015)—yang tak biasa, tak linier, beyond, dan bahkan liar-unbelievable. Jika Anda berdagang buku, umpama, imajinasi kreatif bisa saja mendorong Anda untuk memikirkan ceruk-ceruk pangsa buku di luar toko buku, misal di Sunmor, Pasar Tiban, roadshow, bundling buku dengan tiket musik atau pameran lukisan, dan sebagainya, dan sebagainya. Mengapa tidak? Kreasi tidak linier begini hanya bisa dianugerahkan oleh keluasan jagat imajinasi.

Imajinasi karenanya merupakan suatu pencapaian yang sangat personal. Tidak boleh sama dengan pencapaian orang lain. Bila konstruksi opini Anda sama belaka dengan orang lain, ia sepenuhnya hadiah dari aktivitas berpikir, bukan aktivitas berimajinasi. Berpikir meniscayakan keselarasan dengan opini publik, sebagian atau keseluruhan, sementara berimajinasi adalah personal yang muskil seragam. Begitu batas tegasnya.

Titik-titik pembeda kegiatan berpikir dan berimajinasi karenanya ada pada “citraan” privat-personal itu—boleh jadi berbasis pada kualitas pengetahuan atau jelajah pengalaman. Ketika Anda mencitrakan sesuatu pada sebuah insiden kecelakaan, misal,—yang tentunya citra itu masih sangat ambyar, samar, serupa bayang-bayang—itulah akar muasal imajinasi Anda berdenyut. Menurut Imanuel Kant, “pengalaman estetis” ini sepenuhnya otonom dan tidak terikat pada apa pun. Mutlak milik Anda. Pada derajat inilah relevansi slogan “menulis dengan hati” mendapatkan tashihnya: bahwa perkara-perkara kebatinan (intuisi, dzauq)—bisa juga disebut afeksi sebagai antitesis kognisi—merupakan sumber utama kreativitas (dan pengetahuan) yang sanggup memproduksi pencapaian-pencapaian apa pun, termasuk prosa.

Pada level eksekusinya kemudian, konstruksi citraan itu jelas membutuhkan pertolongan proses berpikir. Di sinilah mekanisme berpikir yang sistematis dan metodologis itu menghasilkan opini-opini atau arah-arah perseptual yang terang. Jadi, dapat dinyatakan bahwa kegiatan berimajinasi merupakan “ruh” dari kegiatan berpikir, “nyawanya”, yang berhierarki secara relasi atas bawah: berimajinasi lebih utama daripada berpikir. Tanpa ragu, Albert Einstein menegaskan bahwa “imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan”.

Epistemologi ini bila dioperasikan kepada kreasi teks sastra akan menghasilkan pengertian-pengertian dekonstruksionis pada warisan sastra yang telah kita miliki. Kita akan selalu tertantang untuk menghasilkan lompatan-lompatan dari mainstream sastra, rezim estetika, baik secara tematik maupun struktural. Apa yang dinarasikan mainstream sastra bahwa cerpen adalah cerita pendek, misal, bisa saja dibongkar sedemikian rupa menjadi, misal, cerita yang tidak memiliki plot, atau cerita yang tidak sepenuhnya pendek, atau cerita yang sebenar-benarnya pendek, atau cerita yang tidak menceritakan apa-apa, atau cerita yang tidak menuntut pembacanya mengikuti jelajah kisah yang dituliskan penulisnya, dan sebagainya, sebagainya.

Mo Yan, misal, peraih nobel sastra asal Tiongkok, mempostulasikan kredo bahwa ia hanya akan menuliskan orang-orang terdekatnya dengan keliaran imajinasinya yang impresif. Ia bahkan sampai pernah membuat bibinya kelimpungan diuber-uber wartawan ketika menuliskan Big Breasts, hanya karena publik ingin tahu perkara besarnya payudara itu. Ia pun pernah menuliskan cerita dengan prolog yang menghentak-hentak dengan menyebut ayahnya seorang bajingan.

Lain lagi dengan Orhan Pamuk dalam Istanbul. Bacaan Pamuk tentang Dunia Paralel telah menghantarnya pada imajinasi bahwa sangatlah mungkin di detik yang sama ada Pamuk-Pamuk lain di dunia ini yang juga memiliki aktivitas yang sama dengan “Pamuk asli” atau pun tak sama. Ada berapa Pamuk? Bagaimana bila Pamuk itu ada yang berjenis kelamin perempuan? Bagaimana bila Pamuk-Pamuk itu lalu bertemu suatu hari?

Pada cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Misteri Kota Ningi”, misal, kita bisa menemukan keluasan jelajah imajinasi itu. Sebuah kota tanpa lahiriah-fisikal, hanya ada aktivitas batiniah, dan sejenisnya; bukankah hal demikian sangatlah terbuka untuk dicapai hanya oleh imajinasi, tidak oleh pikiran strukturalistik?

Anda juga bisa mendapatkan nuansa imajinasi yang kental pada tokoh bernama Mersault pada karya Albert Camus. Dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Inilah kiranya prinsip-prinsip epistemologis yang seyogianya berdenyar kuat di kedalaman batin dan kepala kita dalam upaya menghasilkan karya-karya sastra yang bergerak ke depan (beyond), bukan sekadar jumud, stagnan, template, atau repitisi. Pergerakan wacana ke arah ini niscaya akan sangat signifikan mempengaruhi pilihan-pilihan tematik dan premis kita dalam berkarya. Ini bukan lagi tentang berapa banyak cerpen yang dihasilkan, yang tentunya pandangan demikian hanya bedenyar di kepala pemula, tetapi telah melenggang kepada pencapaian apa gerangan yang telah saya “adakan dari ketiadaannya” ke tubuh sastra kita.

Bila saya menyebutkan nama cerpenis muda yang intensif melakukan dobrakan-dobrakan filosofis dan sekaligus teknik, misalnya Eko Triono dan Dea Anugerah, sejatinya apa yang saya bayangkan adalah tentang cakrawala imajinasi yang dijelajahi oleh mereka. Dalam suatu perjumpaan di warung kopi, saya merangsang Eko untuk menuliskan novel tentang pengalaman personalnya di masa kecil yang “terlibat” dalam konflik Aceh beberapa tahun silam. Saya pikir, modal pengalaman yang menorehkan suasana batin tertentu itu, yang unik dan personal, bila dieksplor dengan jelajah imajinasi kreatif, niscaya akan menghasilkan karya yang tidak biasa saja. Bekal kekuatan teknik Eko akan memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi kekuatan karyanya kelak.

Arafat Nur, misal, dengan gaya bercerita yang linier, dalam novel terbarunya, Surga Tanah Merah, yang mengangkat konflik Aceh, telah memberikan suatu perspektif historis dan filosofis yang mendalam tentang konstelasi konflik itu di mata kita. Saya sebagai pembaca novel itu tak terperikan mengeduk senarai-senarai world view baru yang memperkaya perspektif saya tentang sejarah konflik itu. Imajinasi saya pun tak terbendung berkelejar ke mana-mana. Terus hidup di kepala saya, di kedalaman batin saya—sebutlah misal pada bagian “letusan pistol yang menyalak keras beberapa detik usai kumandang adzan Maghrib”. Setiap Maghrib menerjang, kerap sekali saya mendengar suara letusan pistol itu di kepala saya. Terasa sangat hidup di telinga saya, terang sekali—lalu imajinasi saya melesat ke mana-dibekap susana mencekam itu.

Begitulah.

Penutup

Sekali lagi, layaknya seorang pemahat, jelas sangat penting bagi seorang seniman pahat untuk bisa membedakan secara teknis—bahkan dengan memejamkan mata—antara gergaji dan palu. Perkara-perkara teknik yang mekanis-sistemis ini tak bisa dibuang, sebab semua itu adalah alat kerja praktis untuk menghasilkan karya seni.

Tetapi, berhenti di sekadar memahami perbedaan gergaji dan palu adalah sebuah kejumudan yang mengenaskan. Karya seni patung, misal, jelas hanya akan hidup bila ditiupkan “ruh” kepadanya. Dan ruh-ruh inilah yang hanya bisa diberikan oleh kedalaman batin yang memuncratkan imajinasi, berikutnya kemampuan berpikir yang menghibahkan pengkajian-pengkajian mendalam.

Segala apa yang saya senaraikan sejak tayangan pertama sampai ketiga ini sekadar rangsangan epistemologis buat semua kita, para kreator sastra. Adapun soal hasil kreatifnya serupa apa, biarlah sejarah yang mencatatnya kemudian: pencapaian atau pengulangan, kreatif atau stagnan, imajinasi atau khayalan belaka.

Tidak usah lantas ada di antara kita yang mengidap paranoia untuk berkarya. Bagaimanapun, Anda sahih saja untuk menyebut semua ini hanyalah igauan-igauan, angan-angan, kegelisahan-kegelisahan, atau bahkan impian yang sia-sia. Tidak ada yang salah dengan apa pun pilihan kreatif manusia—saya pikir satu-satunya kegagalan, bukan kesalahan, ialah ketika manusia gagal menjadi manusia.

Blandongan, Jogja, 3 Maret 2017

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu