Kata-Kata yang Berkata Dalam Kepala

in Celoteh by
behance.net

“Kata-kata memiliki spasi sebagai jeda, dan kopi menjadi perekat keduanya. Seperti kita yang terhalang jarak, dan cerita menjadi pengikat di dalamnya. ”

Seseorang menjadi pendiam, bukan semata-mata karena dia tidak bisa berkata-kata. Ada banyak hal yang berkecamuk dalam kepala, hanya saja yang dipilihnya sebagai ruang bawah aman mencurahkan titik-titik rahasia. Seperti otak kira-kira caraku melihat kebisuan. Kuseruput kopi hangat yang baru saja tiba, sambil menikmati penggalan-penggalan syair yang mengalun pelan, kenangku terbang menghampirimu. Menyesap seluruh kata yang pernah berenang di antara kedua bibir, dan senyuman manis itu. Sungguh, rinduku sudah terlalu kusut untuk diurai dalam kalimat-kalimat nostalgia.

Kuamati sekeliling yang bising akan tawa, aku bergeming. Seperti katamu, kopi ini sudah membungkam banyak kata yang ingin tumpah. Bahkan memerintah mengumpat pahitnya yang keterlaluan, kata umpatan tadi memilih membelokbalikkan terucap dalam kalimat. Lalu pelan-pelan, tanpa usaha keras kenikmatan dari rasa pahit menjalar. Ramailah di sana dengan sejuta kata tanya, dan umpatan tadi bersembunyi entah di mana.

Aku memang tidak pandai menuang kata, dan aku bersyukur. Sebab liur yang keluar percuma tanpa tujuan, tak pernah mewujudkan apa-apa selain sebagai sampah kata-kata. Aku jadi teringat Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku.

“Kata-kata tidak ada gunanya, dan selalu sia-sia. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain, mereka mengatakan-kata tanpa peduli apakah orang lain mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah diisi kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak diperintah lagi. Setiap kata bisa diganti artinya, setiap arti bisa diubah maknanya. ”

Dalam diam aku mengangguk setuju, sudah terlalu banyak kata-kata yang berasal dari susunan huruf-huruf vokal dan konsonan. Terlalu banyak sampai tidak lagi sadar bahwa lidah tidak bertulang, ia bisa digelincir dengan atau tanpa sengaja. Hanya saja, kata-kata yang meluap bak udara tidak bisa menerjemahkan huruf, di dalamnya ada yang ingin diraih seperti tujuan terselubung, pengakuan, dan tepukan tangan. Mereka bahkan tidak memedulikan aturan dalam kata-kata, sebaliknya yang ditonjolkan hanya kata permainan. Tidak jarang kebohongan, propaganda, manipulasi, dan segala hal yang mereka lakukan untuk Hadiah hari ini.

Sebelum berbicara kata kata perlu ditimbang dalam-dalam. Karena ada energi yang bisa mengubah banyak hal. Taufik Pasiak dalam bukunya pernah berkata, kita hidup dalam dunia kata-kata, diri dan kepribadian kita lebih banyak dari kata-kata. Baca karya batu bata kata-kata. Juga karena kekuatan kata-kata Sigmund Freud seorang dokter dan perintis psikoanalisa, menggunakan kata-kata sebagai terapi yang disebutnya berbicara menyembuhkan untuk mengobati pasien yang neorosis atau cemas. Yah, perlu kehati-hatian menggunakan, mengolah dan mencerna kata-kata, sebab satu kata mendasar satu konsekuensi.

Demikianlah mengapa aku menyimpan kata-kata dalam kepala, merawatnya sampai tiba di hadapanku dengan bahasa yang kumengerti. Sebelum waktu tiba, saya memilih kata-kata di kepala untuk menemukan logika dan rasa — sebelum akhirnya bertukar dengan kata yang lain — tersebab hanya ingin kulepaskan lewat ketulusan dan kebermaknaan. Jika benar-benar ia terpenjara dalam diam, meronta-ronta di kepala dan orang-orang yang ingin dituang dalam cawan-cawan. Tapi bukankah kemewahan kata akan tampak dari struktur kalimat dan jalan tercetus. Jauh akan jauh kata-kata yang berbeda yang diolah lebih dulu, dengan kata-kata yang diucap serampangan.

Aku tersentak, riuh kata dalam kepaliba tiba-tiba muncul dengan sosok yang mirip denganmu, tidak kuketahui warna gelap, tapi punggung itu mengingatkan pada punggungmu. Kulihat dia tidak memesan kopi seperti kawannya. Hanya segelas jus alpukat dengan lelehan cokelat, tepatnya kesukaanmu. Tapi dari banyak pembahasan yang tercipta dalam obrolan mereka, kudengar hanya tawa-tawa kecil saja yang keluar darinya. Aku salah, dia tidak ahli mencipta kata sepertimu, rupanya dia lebih suka meniruku dalam hal perbincangan. Aku kecewa, dan kubiarkan mereka dengan kata-kata.

Kopiku hampir habis, tapi duniaku masih belum usai, bahkan cerita-cerita yang terajut dalam kepala masih bekerja sempuna, dan kau belum juga sampai. Sebenarnya, kesendirian ini membuatku merindukan kata-kata, dan hanya denganmu semuanya akan tumpah tanpa percuma, yang membuatku mampu merangkai setiap-tiap huruf dengan nikmat. Serupa minuman kopi yang masuk dalam kerongkongan.

Aku masih terus menunggumu untuk menyiapkan tanya yang kembali melangit; kenapakah masih ada yang rela menukar kepercayaan demi sebuah ambisi, bahkan sampai harus menjual Penghargaan dengan kata-kata bohong yang diumbar-umbar pada khalayak? Padahal, harga tertinggi yang diberikan orang lain adalah rasa percaya, dan rasa, hanya akan jatuh sekali, tetapi tidak akan sama lagi. Pertanyaan tadi masih di kepala. Menantimu untuk tumpah, karena bagiku kau adalah kata-kata penuh makna, senyumanmu adalah tanda baca, dan aku masih percaya.

 

(2018)

 

Itaa Azzahra

Itaa Azzahra

Penulis bernama lengkap Itasmawati, biasa menggunakan nama pena Itaa Azzahra lulusan Ilmu Administasi Negara di STISIPM Sinjai, beberapa tulisannya pernah di muat di media cetak dan daring.
Itaa Azzahra

Latest posts by Itaa Azzahra (see all)