Kawin

in Cerita Pendek by
illusion.scene360.com

Bab pertama

“Kawin, yuk,” katamu suatu kali.

Aku terperangah, terperanjat karena kata yang ringan begitu saja terlontar dari mulutmu.

“Kapan?” tanyaku.

Lalu kau yang terdiam, seakan terbangun dari mimpi.

Setelah beberapa saat terdiam, kau menarikku ke pelukanmu. Mencium keningku lalu berkata, “Tahun depan, ya.”

Aku yang sedang dimabuk asmara, hanyut dalam mimpi-mimpi indah. Membayangkan diriku berjalan di altar memakai gaun putih, mengucapkan ikrar perkawinan kemudian engkau memasangkan cincin perak (karena kita berdua sama-sama tidak menyukai emas) di jariku dan menciumku erat-erat di bibir.

Setahun berlalu, kau gagal meyakinkan Ayah mengizinkanmu mengawiniku.

“Kalian belum siap,” alasan ayahku.

Kemudian kau menceburkan diri dalam kesibukanmu. Berkutat dengan buku yang tak kunjung rampung, tenggelam dalam proyek-proyek yang kau kerjakan. Tak sekali dua kali kita bertengkar, karena kau tak pernah punya waktu yang cukup untukku, atau saat kau tak sabar menghadapi periode bulananku yang sering kali menjengkelkanmu.

Lalu kau datang membawa setangkai krisan, dan permohonan maaf. Lagi-lagi aku luluh, kemudian kita bercinta hingga berpeluh.

Aku tanyakan lagi kapan kau akan mengawiniku, kau marah menuduhku tak memercayai cintamu padaku. Tentu saja aku memercayai cintamu, laki-laki yang tiba-tiba datang menempuh ratusan kilometer tak memedulikan hujan saat aku terkapar tak berdaya karena sakit.

Mengenalmu selama bertahun-tahun membuatku semakin tak mengerti dirimu. Semakin terkuaknya perbedaan di antara kita menimbulkan pertanyaan besar dalam hatiku, “Benarkah laki-laki ini yang akan kukawini kelak?”

Perkawinan bukan hanya soal pertemuan dan pertukaran lendir dua kelamin, atau sekadar dua orang yang tinggal serumah tanpa mengkhawatirkan ocehan tetangga. Andai perkawinan segampang itu, mungkin tidak akan ada istilah bujang lapuk atau perawan tua.

Kusadari perkawinan adalah mengikat diri dengan orang lain yang mungkin saja berbeda dalam banyak hal selama-lamanya. Memaksa diri toleran terhadap sikap dan perilaku pasangan yang bertolak belakang. Memasukkan orang lain ke dalam kehidupan yang sudah lembam bukan hal yang mudah.

Kau adalah laki-laki yang bebas, hidup untuk hari ini, tak perlu kau pikirkan hari esok ataupun kemarin. Kau seperti seekor elang muda yang terbang bebas mengendarai angin menguasai angkasa. Sudah siapkah kau kurantai hingga hanya bisa berputar-putar di sekitar sarangmu saja?

Aku adalah wanita rumahan, menghabiskan waktu luang di rumah, tenggelam dalam buku, rajutan, atau kucing-kucing lucu yang menggemaskan. Rumah bagiku adalah benteng teraman, lepas dari tatapan dan penghakiman orang-orang.

Masih ada lagi dua keluarga yang harus kita satukan, dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda juga. Keluargamu hangat seperti api unggun perkemahan, menerangi dan memberikan rasa nyaman. Keluargaku dingin seakan kabin tua dan gelap di sudut terpencil hutan rimba. Tak ada percakapan basa-basi, jarang sekali ada tawa yang tersembur pecah di dalamnya. Dingin dan sepi.

Wanita dari zaman purbakala adalah makhluk yang kodratnya menunggu, lelakilah yang mendatangi. Di sinilah aku, menunggu kau datang lagi, dan dengan mantap berkata, “Maukah kau kawin denganku?”

***

Bab Kedua

“Kapan kau akan kawin dengannya?” pertanyaan seorang kawan menyentakku.

Pertanyaan yang sama pernah menggantung di benakku, mungkin juga di pikiranmu. “Kapan kita kawin?”

Sejak pertemuan pertama aku menyadari kau adalah pasangan idealku. Kita berbeda tapi saling mengisi, kau dan aku melengkapi satu sama lain, seperti jigsaw puzzle yang telah selesai, komplet.

Menjadi kekasihmu membuatku menemukan arah hidup. Dengan sabar kau menunjukkan arah ke masa depan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Sebagai gantinya, kuajak kau ke sisi dunia yang nyaris tak diketahui banyak orang.

Kawin?

Mungkin akan menyenangkan, tinggal serumah dengan seseorang yang kucintai, menikmati secangkir earl grey tea favorit kita berdua sambil berpelukan dan menyaksikan film kesayangan. Mungkin kita akan travelling berdua saja, lalu bercinta di tengah rimba diiringi orkestra jangkrik atau di tepi pantai dengan debur ombak sebagai lagu pengantar.

Kenapa masih belum?

Kusadari kita berdua belum sepenuhnya jujur satu sama lain. Masing-masing menyimpan masa lalu yang masih belum diceritakan. Masa lalu yang mungkin akan mengubah bahkan menghancurleburkan hubungan yang nyaris sempurna ini.

Aku dan kamu sadar akan hal itu, tapi belum siap membuka diri. Mungkin kita masih tidak bisa berdamai dengannya, menolak memaafkan diri sendiri dan apa yang pernah terjadi.

Tak akan mungkin kita melangkah lebih jauh jika masih ada kisah tersembunyi yang menghantui. Ibarat bom waktu, suatu saat akan pecah dan meledak menimbulkan kerusakan dahsyat.

Mustahil kita bersatu jika masih ada duri dalam hubungan kita. Karena yang akan menjaga perkawinan tetap langgeng adalah komitmen, bukan lagi cinta. Duri ini, rahasia yang masih terpendam akan merusak segalanya. Komitmen yang menjadi tiang perkawinan kita akan rapuh seperti tiang kayu lembap, lapuk penuh ulat.

Lalu kapan? Kapan masing-masing kita berdamai dan mencoba memaafkan masa lalu? Masa lalu bukanlah untuk dilupakan, tapi untuk dimaafkan. Tapi sampai saat ini aku belum mampu dan mau untuk memaafkan masa laluku, bahkan memaafkan diriku sendiri.

Mungkin ini tidak bisa kuhadapi sendiri. Kuambil telepon genggamku, kutekan nomor yang sudah sangat kuhafal.

“Sayang, kita harus bicara.”

***

Orang Ketiga

Mungkin aku akan menganggap diriku sebagai martir cinta. Orang yang berkorban dan teraniaya karena mempertahankan cintanya. Terusir dan terhina karena ingin memiliki gadis pilihanku seutuhnya.

Namanya Heidi, mungkin bukan cinta pertamaku, tapi kuingin dia menjadi cinta terakhirku. Usia kami mungkin terpaut agak jauh, tapi bukankah banyak pasangan yang perbedaan usianya jauh lebih besar, tapi tetap bisa hidup bahagia. Dia mungkin masih muda secara umur, tapi jauh lebih dewasa daripada wanita seusianya.

Perkenalan kami dimulai saat ia ditunjuk jadi asistenku, membantu menyelesaikan rancangan dan rencana pembangunan proyek-proyek yang kugarap. Kami sangat sering melewatkan waktu berdua, bahkan hingga larut malam, demi deadline yang tak kenal ampun. Perjalanan-perjalanan dinas mengakrabkan, dan membuat saling mengenal. Tanpa disadari, kami jatuh cinta.

Hari-hari kemudian kami lewati sebagai sepasang kekasih, tak terpisahkan. Heidi mungil dan lembut seperti porselen china yang rapuh. Kudatangi ia dengan perlahan, kupeluk dan kucumbui dengan lembut. Kuperlakukan ia dengan hati-hati, tak sedikit pun ingin melukai dan menyakitinya.

Kuminta ia mengenalkanku kepada ayahnya. Awalnya ia menolak, masih belum siap mengenalkanku kepada keluarganya. Ia takut, cemas. Kuyakinkan ia bahwa cepat atau lambat hal ini pasti harus terjadi.

Kami ingin melanjutkan hubungan ini secepatnya. Lalu tinggal serumah, bercinta dan bercumbu setiap malam. Apa lagi hal terindah yang bisa kau dapatkan selain memandang wajah kekasihmu setiap malam sebelum tidur, dan mencium keningnya di pagi hari.

Tapi ternyata kenyataan tak seindah mimpi yang dirangkai begitu sempurna. Ayahnya marah besar, dengan kasar menolak hubungan kami. Aku diusir, dicaci dan diludahi. Kalau saja tidak dicegah oleh ibunya, mungkin aku sudah babak belur dihajar.

Sejak itu, Heidi tidak pernah kembali bekerja denganku. Hanya surat pengunduran dirinya saja yang kuterima. Orang tuanya melarang kami berhubungan, bukan hanya bertemu, bahkan berkirim surat pun tidak diperbolehkan.

Aku frustrasi, apa yang salah dengan saling mencintai? Kami mencintai dari hati, tanpa basa-basi. Kami bukan pasangan selingkuh seperti kisah-kisah selebriti, kami setia. Apa yang berbeda antara diriku dan keluarganya? Bukankah aku dan mereka sama-sama manusia, diciptakan dari daging dan tulang yang berbentuk dan bernyawa? Lalu kenapa aku tidak diperbolehkan mencintai Heidi? Memiliki dan mengawininya?

Hanya karena tidak punya sebentuk barang lonjong bernama penis membuatku tidak diperkenankan mencintai Heidi. Aku dicaci, diludahi, dan diusir seakan-akan bukan manusia.

Putus asa, aku berteriak dalam hati, “Kenapa tidak boleh?”

***

Bab Keempat

“Kapan kawin?”

“Teman seumuranmu sudah menggendong anak, masa kamu masih terus menggendong kesendirianmu?”

“Kawinlah, burukeun. Ngeunah siah.

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui hari-hariku. Entah memang benar peduli, atau hanya sekadar basa-basi sambil membanggakan dirinya yang telah berkeluarga.

Kenapa harus kawin? Kenapa harus mengikat diri dengan orang lain?

Mencari kebahagiaan? Aku telah bahagia dengan hidupku saat ini. Bebas berkelana tanpa ada yang menanyakan kapan pulang. Bisa bergerak ke mana saja tanpa memikirkan buntut yang terus membayangi.

Hidupku sudah sangat menyenangkan, tanpa macam-macam tuntutan dan tanggung jawab yang membebani pundak. Tinggal di rumah yang walau kecil, tapi damai di suatu sudut yang sejuk kota ini. Rak-rak penuh buku berjejer rapi, selalu siap menemani hari-hari yang menyenangkan.

Kesepian? Tentu saja tidak. Aku punya banyak teman, duduk bersama-sama di warung kopi, bersenda gurau dan sesekali berdiskusi berdebat panas.

Tidakkah kau pernah jatuh cinta? Beberapa kali aku pernah (mungkin) jatuh cinta. Menjalin hubungan dengan wanita, lalu kandas. Berkali-kali aku memiliki kekasih, kusadari bahwa wanita adalah makhluk yang sulit untuk dipahami. Semakin lama malah membuatku semakin tidak mengerti.

Cinta ternyata adalah hal yang membingungkan, bahkan tidak masuk akal. Puluhan tahun perjalanan hidup mengajarkan bahwa cinta hanya menimbulkan kekacauan pada hidupku yang sudah sangat teratur. Pikiran dan energi yang sudah kuatur dan kupilah-pilah tiba-tiba chaos, bercampur-aduk menghancurkan semesta yang hampir sempurna. Lebih baik aku berhenti jatuh cinta.

Bagaimana dengan kebutuhan biologis?

Sebenarnya hasrat untuk melakukan hubungan seksual merupakan perpanjangan insting berkembang biak, sejak zaman purbakala. Binatang bersenggama karena mereka harus melestarikan sifat genetiknya. Hanya pada manusialah, seks menjadi sebuah kesenangan, tidak sekadar kebutuhan untuk melestarikan gen-gen terbaiknya.

Seks bisa diganti dengan berbagai macam alat yang dijual di toko-toko di pinggir jalan. Rasanya mungkin tidak akan sama dengan kelamin yang asli, tapi jika hanya untuk mencapai orgasme saja, mungkin sudah memadai. Atau jika memang tidak puas, cari saja manusia-manusia yang menyewakan alat kelaminnya untuk memuaskan orang-orang sepertiku. Banyak kok yang bersih, tentu saja bukan yang dijajakan di pinggiran stasiun, tapi melalui orang-orang tertentu dengan bayaran yang tidak sedikit.

Aku tidak perlu meninggalkan keturunan. Lima miliar manusia sudah cukup sesak menghuni bumi, tidak perlu kutambahkan satu atau dua lagi. Kehadiran makhluk kecil, manja, dan lemah itu hanya lagi-lagi merusak hidupku yang teratur.

Jadi, masih harus kawin?

***

Kuletakkan lembaran terakhir ini ke atas meja, sambil menghela napas panjang kualihkan pandangan keluar melewati jendela. Kamar ini terletak di lantai paling atas sebuah gedung tua, mungkin bisa disebut ini merupakan loteng yang diubah menjadi kamar. Sedikit pengap karena hanya jendelalah yang mengalirkan udara keluar masuk ruangan ini, tapi cukup nyaman dan tenang. Jauh dari keriuhan lalu lintas dan damai dari keributan tetangga dengan segala masalahnya.

Menjadi penulis fiksi berarti harus mampu bercerita. Menceritakan berbagai macam kisah dari berbagai tokoh. Terkadang penulis bercerita tentang dirinya, tapi tak jarang bercerita tentang orang lain. Dengan ujung penanya, penulis bertransformasi menjadi siapa saja yang ia inginkan: malaikat, pencuri, putri raja bahkan tetap menjadi penulis.

Beberapa kali mungkin ia akan larut dalam tokoh yang ia ciptakan, tenggelam di masalah yang dialami tokoh tersebut. Tanpa henti jari-jemarinya lincah bergerak riuh bercerita, menangis dan tertawa mengajak pembaca untuk berempati. Ketika selesai, ia tertidur lelah, dan terbangun dalam keadaan kosong, hampa, hingga kemudian menjelma menjadi tokoh yang lain.

Seseorang menepuk pundakku, petugas forensik. “Kapten, TKP sudah selesai kami proses. Menunggu perintah selanjutnya.”

Kutatap sesosok mayat yang meringkuk kaku di tengah ruangan. Penulis muda yang sedang merintis karier, mati bersenggama dengan kesendiriannya.

“Bawa mayatnya ke rumah sakit, hubungi pihak keluarganya dan minta kesediaan mereka mengizinkan korban diautopsi,” kataku ke petugas tadi.

Tiba-tiba suara ibuku terngiang-ngiang di telinga, menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali meneleponku.

“Kapan kawin?”

Bandung, April 2016

Dharma Poetra

Dharma Poetra

Lahir di Kapau, 18 Maret 1987. Asisten Editor MIC Publishing.
Dharma Poetra

Latest posts by Dharma Poetra (see all)

  • Kawin - August 11, 2017
  • mantap,, dari judul kawin bisa nulis begini bagus 😀