Keberagaman Tak Pernah Seragam

in Rehal by

cover buku

Judul               : Kekerasan dan Identitas

Pengarang      : Amartya Sen

Penerbit         : Marjin Kiri

Cetakan II       : Februari 2016

Tebal              : xxii + 242 hlm, 14 x 20,3 cm

ISBN                : 978-979-1260-54-1

Manusia selalu dibayang-bayangi hantu tentang dirinya: siapa kita, agama kita, suku apa, kewarganegaran, pekerjaan, hingga hal-hal kesukaan. Buntut-buntutnya, “ilusi” tentang keberagaman itu sering memicu munculnya kekerasan dalam peradaban. Buku ini menelusuri praktik-praktik kekerasan yang berlandaskan identitas.

Kebetulan saya lahir dan tumbuh kembang di pinggiran kota Jakarta. Kota yang sesak dipenuhi oleh para pendatang dari berbagai etnis dan daerah. Ada yang dari Jawa, Sunda, Sumatera, sampai Nusa Tenggara. Pengalaman masa kecil yang sulit saya lupakan adalah pengalaman saling sindir. Bukan saling sindir tentang sifat atau karakter satu sama lain. Lebih jauh lagi. Saling sindir perkara etnis.

Orang Padang itu pelit!” adalah salah satu sindiran familiar untuk orang-orang keturunan Sumatera Barat atau yang berdarah Minang. Entah berasal dari mana tafsiran demikian, ungkapan itu masih melekat di benak saya sampai sekarang. Meski saat ini sangat saya pahami ungkapan itu tidak sepenuhnya benar. Ada lagi misalnya “Batak banget lu!” merupakan sindiran bagi orang-orang yang keras kepala. Seperti kita ketahui, Batak merupakan salah satu suku dari Sumatera Utara.

Dari pengalaman etnisitas masa kecil saya—terlepas apakah ini sebatas guyonan atau bukan—bisa kita bayangkan betapa etnis atau suku bisa menjadi alat ukur untuk menilai bahkan menghakimi seseorang. Pokok bernama “identitas” ini begitu rentan, cair, dan mudah goyah. Parah.

Jika tak boleh dikatakan kegalauan, sekujur buku yang ditulis oleh sang peraih hadiah nobel ekonomi ini berisikan tentang amatan sekaligus kegelisahaan penulis, Amartya Sen, terhadap identitas. Tokoh intelektual keturunan India ini memandang, kita sebagai manusia, dalam kehidupan normal terdiri dari berbagai macam kelompok (identitas) seperti negara, agama, jenis kelamin, profesi, keturunan, komunitas, ketertarikan hingga orientasi seksual.

Dalam kacamata Sen, berbagai masalah sosial-politik kontemporer berkisar di seputar perseteruan akibat penegasan identitas yang berlainan di antara kelompok yang berbeda-beda, sebab persepsi tentang identitas ini memang mempengaruhi pikiran dan tindakan melalui berbagai cara.

Kekerasan Berbasis Identitas

Manusia terdiri atas beberapa kerangka yang berfungsi berbeda-beda. Kerangka tengkorak, pembuluh darah, jantung, paru-paru, dan lain sebagainya yang mempunyai perannya masing-masing untuk menjalankan sistem tubuh. Begitu juga dengan identitas. Kita pasti memiliki lebih dari satu afiliasi identitas.

Misalnya saya adalah warga negara Indonesia, keturunan Jawa, seorang laki-laki, beragama muslim, dan menyukai musik rock. Dalam rangka kemajemukan identitas itu, Sen beranggapan dalam identitas keagamaan misalnya­—memandang perorangan berdasarkan afiliasi agama telah cukup umum dalam analisis budaya dewasa ini.

Artinya, Sen menilai dunia sedang kelimpungan pada meluasnya identitas agama sebagai prinsip klasifikasi utama, bahkan satu-satunya. Ia mencontohkan misalnya, fundamentalisme atau militansi islam mempunyai kekuatan besar. Dan repotnya, penentangan Barat terhadapnya kerap kali dipadu dengan kecurigaan kuat. Islamophobia muncul sebagai anti-tesis.

Padahal jika kita perhatikan lagi, terorisme dan Islam merupakan dua wajah yang berbeda. Sen menelaah, identitas sebagai teroris misalnya seseorang atau kelompok yang membaktikan diri kepada apa yang mereka pandang sebagai cita-cita Islam. Sedangkan identitas keislaman itu sendiri tidak serta merta membenarkan aksi teroris sebagai Islam yang dicita-citakan. Satu analisis menarik untuk kita yang masih beranggapan bahwa Islam adalah teroris.

Lebih jauh lagi Sen memandang tidak hanya Islam politik saja yang sedang hits. Maraknya politisasi agama misalnya pencapaian politik kelompok Kristen fanatik yang “terlahir kembali”, ekstremis Yahudi atau gerakan Hindutva juga sedanag berkembang pesat. Dari cara pandang Sen kita bisa lihat, kondisi sosial-politik sangat mungkin diintervensi oleh identitas tertentu. Agama misalnya.

Tesis Sen berikutnya dalam buku setebal 242 halaman ini adalah menyoal globalisasi. Kemajuan intelektual, kedigdayaan teknologi dan transformasi informasi telah mengubah dunia dalam tatanan yang akan sulit dibayangkan oleh para leluhur kita. Bagi kita tentunya hal biasa. Kita sudah terbiasa berinteraksi, komunikasi, bahkan transaksi di alam maya (internet). Itu semua berkat kejeniusan akal manusia yang dibawa oleh globalisasi.

Namun di sisi lain, Sen membeberkan dunia yang spektakuler ini juga menyimpan kepapaan yang mengenaskan. Misalnya anak-anak dalam jumlah yang tidak sedikit kini didera kurang pangan, kurang sandang, bahkan mengalami hal yang paling tidak enak di muka bumi ini: kurang kasih sayang. Jutaan orang meninggal setiap minggunya karena terjangkit penyakit. Semua itu bisa terjadi tergantung di mana mereka dilahirkan. Ketimpangan di mana-mana.

Hal itu memicu tumbuhnya skeptisisme atau ketidakpercayaan terhadap kemampuan globalisasi untuk melayani kepentingan rakyat bawah. Imbasnya, kritik terhadap globalisasi ini digalakkan oleh para aktivis “anti-globalisasi” di penjuru dunia. Setidaknya aksi demonstrasi anti-globalisasi pernah digelar di kota-kota besar seperti Seattle, Washington, Madrid, London, Quebec dan lain sebagainya. Lantas, apakah ini kegagalan dari cita-cita identitas global?

Lagi-lagi Sen menjadi juru penengah dalam memandang globalisasi sebagai identitas global. Menurut Sen, keterampasan hak dan keterbelahan hidup bukan hukuman maut dari globalisasi. Ia lebih menilai kengerian-kengerian hidup itu akibat dari kegagalan tatanan sosial, politik dan ekonomi yang sepenuhnya terkait dan tak terpisahkan dari ketertutupan global. Meskipun Sen menganggap gerakan anti-globalisasi itu menjadi sumbangan positif dalam mengangkat sejumlah gugatan serius yang mesti ditimbang dalam wacana publik.

Buku ini membawa kita pada angan-angan mengenai identitas dan hubungannya dengan kekerasan di dunia. Baik secara simbolik maupun fisik. Amartya Sen sangat jeli melihat perkara ini. Hubungan sebab-akibat antara identitas dan kekerasan juga kerap kali hadir dalam keseharian kita. Mungkin saat kita berkunjung ke mall, ke kampus, ke pusat hiburan, bahkan ke tempat ibadah sekalipun kita selalu memikul beban identitas yang kita punya. Tentu saja.

Gunawan Wibisono

Gunawan Wibisono

Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak maupun online seperti Harian Kompas, Majalah Jasmerah, Midjournal, Sorgemagz, Warning Magazine, dan Geschieporia Magazine. Beberapa puisi dan esainya diikutkan dalam buku antologi TentangLangit (2012) terbitan Balai Soedjatmoko Solo dan Hajatan Aksara (2012) terbitan Taman Budaya Jawa Tengah. Pernah menulis skenario film pendek W.A.R (2012). Saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di Lab Sosio FISIP UNS sembari merampungkan buku perdananya bertajuk Musik dan Gerakan Sosial.
Gunawan Wibisono