Kecerdasan Rabbani

in Tajalli by
pinterest.com

Kecerdasan rabbani yang dapat dipastikan bermuara sekaligus berasal-usul dari Nabi Muhammad Saw. yang merupakan a’qal an-nas (paling cerdasnya umat manusia) terutama berkaitan dengan nilai-nilai transenden yang bersemayam dalam setiap tindakan orang-orang beriman. Bahkan nilai-nilai transenden itu merupakan roh yang sanggup menerbangkan perbuatan mereka yang beriman menuju kepada hadiratNya dengan mulus dan sangat menyenangkan.

Nilai-nilai transenden itu tentu saja tidak satu frekuensi. Ada banyak jenjang atau hierarki. Sesuai dengan kapasitas dan kekuatan spiritual seseorang ketika sedang mempersembahkan suatu amal kepada Allah Ta’ala. Semakin tinggi frekuensi kecerdasan rabbani seseorang, tentu semakin tinggi pula tingkatan kualitas nilai transenden yang dikandung oleh amalnya.

Pastilah sudah dimaklumi oleh orang-orang beriman bahwa kecerdasan rabbani itu sama sekali bukanlah merupakan hal yang gratisan. Wajib diupayakan dengan penuh kesungguhan untuk menyongsong dan mendapatkannya. Tidak boleh hanya menunggu dengan berpangku tangan. Sebab, hal yang demikian sama saja dengan tidak menghargai karunia spiritual yang akan diterima.

Untuk menumbuhkan semangat umatnya di dalam ikhtiar itu, pada suatu hari Iman al-Anbiya wa al-Mursalin, Nabi Muhammad Saw. melontarkan sabdanya bahwa orang yang cerdas adalah dia yang beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sementara orang yang bodoh adalah dia yang mengikuti rayuan bobrok hawa nafsunya sembari berangan-angan mendapatkan segala yang diinginkan.

Secara tidak langsung, sabda di atas itu juga menunjuk kepada adanya kemungkinan seseorang memilih kecerdasan rabbani, sementara yang lainnya lebih tertarik untuk memilih kebodohan. Dan contoh konkret dari dua golongan yang berseberangan itu, dari dulu hingga sekarang, sangatlah terlampau banyak sehingga tak bisa dijangkau oleh kalkulasi statistik.

Kecerdasan rabbani adalah cahaya sakral yang menjadikan seseorang memiliki mata batin yang senantiasa nyalang untuk menyaksikan beraneka ragam akibat dari setiap perbuatan yang dipentaskan di dalam kehidupan yang fana ini. Sehingga tidak mungkin dia sembrono dalam mengambil keputusan dan melakukan perbuatan apa pun. Malah sebaliknya. Pada setiap keputusan yang diambil dan perbuatan yang dilakukannya pastilah sudah dipegang sebuah tali sakral yang tersambung dengan berbagai macam akibat yang terpuji dan teramat menyenangkan. Aduhai nikmatnya.

Sedang kebodohan menjadikan seseorang memandang dunia dan kehidupan yang fana ini sebagai segalanya. Tidak ada yang lain. Eskatologi telah lenyap dari dalam dirinya. Yang ada hanyalah halimun dan aneka ragam rayuan yang sangat kelam dan jauh lebih mengerikan akibatnya dibandingkan dengan ular yang paling berbisa sekalipun. Sehingga nyaris tidak ada celah dan peluang baginya untuk menerobos penjara dunia yang bacin ini agar sampai pada perkampungan cahaya dan petunjuk Ilahi.

Baik akibat kecerdasan rabbani maupun kebodohan, keduanya sudah dibeberkan kepada umat manusia atas nama kasih-sayang dengan sedemikian gamblang dan detail oleh Nabi Pungkasan Saw. yang mutlak diutus oleh hadiratNya sebagai rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya sanggup menjelaskan, tapi juga beliau sendiri merupakan bukti konkret dan tidak terbantahkan tentang puncak kecerdasan rabbani tersebut.

Sehingga tidak tanggung-tanggung, bahkan Allah Ta’ala sekali pun merasa perlu turun tangan untuk memberikan predikat paling prestisius, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, kepada utusanNya itu dengan sebutan Teladan Terindah. Maka, siapa pun kita oh kawan, dari golongan mana pun, dari latar belakang budaya apa pun, di dunia yang hanya sejenak ini, kita mesti bersungguh-sungguh untuk sebanyak mungkin memungut kecerdasan rabbani beliau yang selalu melimpah dan penuh barakah.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.