Kejenakaan dalam Kemiskinan pada Cerpen-Cerpen Hamsad Rangkuti

in Rehal by

wanita-muda-di-sebuah-hotel-mewah-fb

Judul: Wanita Muda di Sebuah Hotel Mewah

Pengarang: Hamsad Rangkuti

Cetakan: Pertama, Mei 2016

Tebal: 224 hlm

Penerbit: Senja (DIVA Press Group)

“Orang lupa kepada bahaya karena ia menginginkan sesuatu. Bahaya tidak tampak, bila nafsu untuk memiliki sesuatu telah menguasai seseorang …. Apakah ia bisa mengingat kekurangan-kekurangannya sendiri pada saat nafsu hendak memiliki itu telah menguasai dirinya? Orang lupa pada kesanggupannya. …. Nafsu mengalahkan segalanya.” (hlm. 43)

Membaca kumpulan cerpen di buku ini langsung menyita perhatian saya. Tidak heran jika Sapardi Djoko Damono dalam pengantarnya untuk buku ini menyebut kepiawaian Hamsad Rangkuti dalam menarik perhatian pembaca surat kabar di antara jejalan berita dan iklan yang ganas-ganas itu. Sebelumnya, seluruh cerita-cerita dalam buku memang pernah dimuat di surat kabar (termasuk di majalah sastra Horison) dan hanya satu cerita yang belum pernah dipublikasikan. Cerita-cerita beliau memang memiliki nada yang kental sehingga sanggup mengatasi hiruk-pikuk di luar cerita dan menyedot pembaca untuk fokus demi segera menyelesaikan pembacaannya.

Satu hal yang khas dari cerpen-cerpen di buku ini adalah karakter-karakternya yang didominasi oleh orang-orang kelas bawah. Tema-temanya pun banyak mengangkat tentang kemiskinan dan kehidupan dari golongan jelata. Tentu, tidak kemudian Hamsad meminjam kisah-kisah kehidupan kaum papa ini untuk menguras air mata pembaca. Tidak sama sekali. Sentuhan Hamsad para kehidupan orang miskin menjadikan kehidupan mereka yang hitam-putih menjadi terasa berwarna dan sesekali penuh jenaka. Membaca cerpen-cerpen di buku ini, pembaca diajak untuk merasakan banyak hal: miris karena menyaksikan kehidupan kaum jelata, tersedu haru melihat kebaikan-kebaikan kecil yang masih sempat mewarnai kehidupan mereka yang serba terbatas, juga sesekali terkikik geli-namun-terasa ironis menonton tingkah-tingkah konyol yang sering kali dipertunjukkan akibat keterdesakan ekonomi. Cerita “Sampah Bulan Desember” dan “Cerita Awal Tahun” menjadi perwakilan dari cerita jenis ini.

Ada satu lagi kekhasan seorang Hamsad Rangkuti, mampu menyindir banyak kita dan di saat yang sama masih menimbulkan sesuatu yang menyesakkan dada pembaca lewat karakter dalam ceritanya. Dalam cerpen pertama di buku ini, “Perbuatan Sadis”, kita bisa merasakan sentilan sekaligus rasa iba campur muak. Seorang wanita muda sedang menunggu bus di pinggir jalan yang sepi. Wanita ini sengaja menampakkan kalung emasnya yang gilar-gilar, seolah tidak takut aksinya ini bisa memancing kejahatan. Seperti bisa ditebak, dua penjahat lalu datang dan memaksa si wanita menyerahkan kalung emasnya itu. Kalung pun diserahkan di bawah todongan pisau yang terhunus. Setelah kedua penjahat itu pergi, anehnya si wanita muda tidak berteriak minta tolong atau sekadar menangis tersedu. Tahulah pembaca bahwa ternyata perhiasan yang dirampok tadi adalah perhiasan palsu alias imitasi sehingga wajar jika wanita itu tenang-tenang saja, mungkin merasa senang berhasil meng-kadal-i para penjahat itu.

Tapi, siapa menyangka, para penjahat itu kembali lagi dan memaksa si wanita muda untuk menelan perhiasan imitasinya. Di bawah todongan pisau, untuk yang kedua kalinya, dia diancam lagi. Kali ini, dia dipaksa untuk menelan perhiasan palsu miliknya. Siapa yang layak dicela dalam hal ini? Dua perampok yang menodong dan memaksa korbannya, ataukah si wanita yang ternyata menyimpan kepalsuan? Bayangkan, seandainya kepalsuan itu serupa benda, dan kita yang selama ini sering sekali menampakkan kepalsuan kita di hadapan orang lain, kemudian kita dipaksa untuk menelannya. Sungguh, mungkin tidak banyak orang yang masih bisa selamat ketika harus menelan sendiri segala kepalsuan yang entah ada berapa banyak dalam kehidupan kita. Cerpen pembuka ini memang sangat istimewa, cocok ditampilkan sebagai pembuka kumpulan cerpen yang dulu pernah diterbitkan dengan judul Sampah Bulan Desember ini.

Kemiskinan tampaknya menjadi perhatian khusus penulis karena Hamsad banyak mengangkat tema ini dalam cerpen-cerpennya, di samping karakter-karakternya yang kebanyakan memang rakyat jelata. Dengan cara ini, penulis seolah hendak memberikan satu bagian dari sastra kepada golongan yang sering terpinggirkan ini. Beberapa cerpen seperti “Karjan dan Kambingnya” seolah hendak menunjukkan nasib orang-orang terpinggirkan yang terpinggirkan karena kemiskinan dan kebodohannya. Kebodohan menyebabkan kemiskinan, kemiskinan mendorong pada kebodohan; sebuah lingkaran setan yang tidak akan putus kecuali ada niat dan dorongan untuk mengubahnya. Bukankah salah satu fungsi sastra adalah untuk mempromosikan nilai-nilai tentang menjadi manusia? Maka, dengan cara demikianlah Hamsad Rangkuti memilih memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang sastrawan lewat tulisan-tulisannya.

Namun, sama sekali tidak ada niatan berkhutbah atau menceramahi pembaca dalam cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti. Seperti pernah disinggung oleh SGA, bahwa buku sastra bukanlah buku agama sehingga keliru kiranya jika penulis menceramahi pembaca lewat tulisannya. Media bercerita terkadang lebih berhasil dalam menyampaikan makna ketimbang melulu menceramahi. Seperti yang ditunjukkan Hamsad dalam buku ini, dia menunjukkan, alih-alih menceramahi, sehingga pembaca bisa menyimpulkan sendiri nilai-nilai di balik tulisannya. Hamsad menghadirkan apa adanya lewat kisah, begitu real dan detail (ini juga salah satu yang menjadi keunggulannya) sehingga pembaca tidak jemu dan malah ikut hanyut serta terharu.

Lewat cerpen-cerpennya, Hamsad menghadirkan kemiskinan dan kelucuan dalam satu bingkai sebagai wujud pembelaannya (seperti dikatakan Sapardi DD) terhadap kaum miskin. Kisah-kisah pendek dalam buku ini (sering kali mengejutkan di bagian belakang dan ada dua cerita yang ditulis unik dengan teknik mengulang-ulang) semoga bisa membuat banyak pembaca untuk semakin merasa dan lebih memperhatikan. Ada begitu banyak detail dalam kehidupan ini yang sering kali luput bahkan untuk sekadar kita perhatikan sejenak akibat begitu lajunya aktivitas keseharian untuk mempertahankan kehidupan. Lewat cerita, kita belajar untuk merasa.

Dion Yulianto

Dion Yulianto

Penulis dan penerjemah yang karena masih single sering menggenggam buku dengan kucing bergulung di kakinya.
Dion Yulianto