Kelab Kebatinan di Pringgolayan

in Cerita Pendek by
downthedarkpath.com

Angkringan yang terletak di barat daerah Bunderan, lebih kurang seratus meter dari patung tentara heroik yang mengacungkan senapan laras panjang itu lumayan sepi. Malam gerimis dan beberapa tikar yang biasanya tergelar di emperan luar bangunan lembaga bimbingan belajar dan pendidikan dasar bagi anak-anak kaum berada itu tergulung agak berantakan di belakang Tambir, sang bakul angkringan yang sedang asyik dengan gawai canggih barunya. Pada cuaca cerah, panorama Tambir memegang gawai lebih dari tiga menit tergolong langka karena angkringan ini tergolong ramai. Selain racikan minumannya yang mantap, aneka makanan serta lauk penyerta nasi kucing juga tersedia lumayan lengkap dan harganya terjangkau, bahkan untuk kantong para pemulung sekalipun. Tak jauh dari angkringan itu memang terdapat pengepul rongsokan dan barang bekas yang lumayan besar dan memberi fasilitas tempat tinggal kepada para pemulungnya. Angkringan itu sudah sekitar lima belas tahun berdiri di area itu. Hitungan tahun ini sekaligus menunjukkan kekuatan dan keliatan angkringan itu dalam bertahan hidup. Pernah beberapa kali tergusur dan pindah, walau masih di area yang sama, kini angkringan itu menemukan posisi terbaiknya dan memiliki banyak konsumen yang loyal. Angkringan itu dinamai Birman, akronim dari Tambir dan Man. Man adalah bakul angkringan itu selain Tambir. Keduanya berasal dari Cawas, Klaten, kabupaten di sebelah barat kota Solo. Daerah ini sudah terkenal sebagai pemasok bakul angkringan andal di seputaran Solo, Jogja, dan kota lain yang memungkinkan diambah angkringan. Tambir dan Man bergantian menjadi bakul di angkringan itu dengan rentang waktu dua minggu. Saat ini adalah giliran Tambir beroperasi, berarti dua minggu itu pula Man berada di desanya: bertani, menyuntuki burung-burung kelangenannya, atau sepuas-puasnya menggauli istri.

Di sekitar anglo yang ditumpangi tiga ceret aluminium, Gindus, nama panggilan Daniel, mahasiswa sastra Indonesia UNS sedang menyeruput teh jahe hangatnya. Di samping kanannya Primbon, panggilan akrab Prima, mahasiswa program studi Televisi dan Film ISI Surakarta, sedang sibuk mengunduh lagu Armada, Asal Kau Bahagia, lewat gawainya. Keduanya adalah mahasiswa stadium lanjut. Begitu unduhan selesai, Primbon meneguk wedang jeruknya dan membelokkan pembicaraan seputar duka nestapa kejomloan mereka ke arah yang lebih berkelas.

“Kemarin lusa aku nonton film Pengabdi Setan garapan Joko Anwar.”

“Bagus, Bung?”

“Lumayanlah, Bung. Lumayan seram. Sampai kini aku masih terbayang-bayang sosok ibu yang jadi pengabdi setan itu. Aku kadang merinding kalau lagi sendirian di kamar dan merasa gentar kalau harus ke kamar mandi malam-malam.”

“Dasar penakut. Tapi memang kodrat penakut itu hobi membeli rasa takut. Mereka gemar meneror diri sendiri.”

“Jembut kucing! Aku tak lagi butuh tausiahmu, Bung.”

“Haha seberapa menakutkan film itu, Bung?”

“Ada satu adegan yang mengagetkanku hingga aku spontan berteriak ‘Allahuakbar’ di gedung bioskop itu.”

“Untung saja kau ini jomlo, Bung. Coba kalau kau punya pacar, sudah pasti ia akan sangat malu oleh teriakan takbirmu itu dan kemungkinan besar langsung memutuskanmu di gedung bioskop itu. Kau akan keluar sebelum film selesai sambil berurai air mata, Bung.”

“Tempik kirik!”

Gerimis menderas. Tambir menyodorkan mangkuk mi goreng pesanan Gindus yang langsung menerima dan menyantapnya. Primbon melanjutkan ceritanya.

“Bukan kengerian itu yang menjadi masalah bagiku, Bung. Aku mempersoalkan pesan moralnya. Di film itu justru yang menjadi korban jiwa adalah Pak Ustaz dan anak lelakinya yang ingin menolong keluarga pengabdi setan itu. Sementara keluarga itu sendiri malah selamat, paling tidak hingga akhir film tak ada korban jiwa selain si nenek yang memang mati syahid dan menjadi setan demi menolong keluarga itu.”

“Aku menyimak, Bung,” kata Gindus sambil mengunyah mi gorengnya.

“Secara pesan moral kuanggap ini menjadi preseden buruk bagi penonton film itu, Bung. Bagaimana mungkin orang yang baik hati, gemar menolong, dan dekat dengan Tuhan justru mati mengenaskan dibantai oleh setan dan pengikutnya?”

“Namanya juga film, Bung. Segalanya bisa terjadi sesuka hati sutradaranya.”

“Bukan begitu, Bung. Di film Pengabdi Setan versi lawas tidak begitu. Setan dan para pengabdinya itu justru dikalahkan oleh Pak Ustaz dan jemaahnya. Memang klise, tapi sebaiknya memang tetap begitu. Kebaikan datang untuk mengatasi kebatilan.”

“Lantas apa perkaranya kalau Joko Anwar memodifikasi alurnya jadi seperti itu, Bung?”

“Pesan moralnya, Bung. Penonton film itu bisa jadi tersugesti untuk takut berbuat baik dan menolong orang lain karena mengira justru akan berbuah petaka. Misalnya saja, mereka akan takut menolong korban kecelakaan lalu lintas karena akan dikira cuma menolong dompet korban dan berakhir dengan hujan bogem mentah dari massa di sekitarnya. Padahal itu cuma prasangka saja. Ini perkara berat, Bung. Keengganan untuk berbuat baik dan menolong sesama itu adalah petaka bagi kemanusiaan.”

“Kini kau yang tampak mirip ustaz, Bung. Tak perlulah kau secemas itu. Ingat Bung, gampang cemas itu tanda kurangnya iman, haha.”

“Tai ngasu!”

“Aku ini kuliah di sastra Indonesia, Bung. Tiap hari camilanku pesan moral dalam prosa. Aku sudah bosan dengan itu dan kini kau malah berbusa-busa membahasnya. Catat ini Bung, dengar frasa ‘pesan moral’ dari mulutmu itu malah membuatku ngaceng.”

“Gamblis trewelu, Bung!”

Gindus meludeskan mi gorengnya. Primbon mengulurkan lagi tahu goreng dan mendoan untuk dibakarkan Tambir. Kebersamaan mereka belum akan berakhir.

“Teror sesungguhnya dari film itu berada di akhir film, Bung. Ada adegan menggantung dengan tusukan yang telak dalam benak penonton bahwa ada kelompok pengabdi setan di sekitar kita. Bagaimana menurutmu, Bung?”

“Mungkin saja itu, Bung. Aku tak akan heran kalau kelompok itu memang ada. Namun, keberadaan mereka itu akan terasa sangat sepele bagiku.”

“Mengapa bisa begitu, Bung?”

“Karena aku lahir, tinggal, dan besar di Pringgolayan, Bung.”

Wajah Gindus jadi lebih serius. Ia menggeser posisi duduknya dan menghadap ke arah Primbon yang melakukan hal sebaliknya sehingga kini mereka berhadapan. Gindus mulai menceritakan kampung halamannya yang cuma berjarak tak lebih setengah kilometer dari angkringan itu.

Menurut penuturan Pakde Bambang Wiyanto, ketua RT 02, sepanjang masa di kampung Pringgolayan, nama kampung ini diambil dari nama Patih Pringgoloyo, patih Kerajaan Mataram di masa kepemimpinan Sri Sunan Paku Buwono II dengan pusat pemerintahan di daerah Kartasura. Patih Pringgoloyo ini adalah tokoh kunci berbaliknya keberpihakan Sunan kepada Belanda, dari yang semula berempati pada perjuangan kaum Cina yang ditindas habis-habisan oleh pemerintah Belanda, terutama di Batavia. Kemudian Kerajaan Mataram ikut berperan aktif dalam pembasmian pemberontakan yang akrab dengan sebutan Geger Pacinan tersebut. Di tahun 90-an di kampung itu memang ditemukan sebuah makam kuno di bawah lebat rumpun bambu yang dalam bahasa Jawa disebut papringan. Menurut para sesepuh kampung yang diamini oleh Pak RT seumur hidup, di situlah dimakamkan Patih Pringgoloyo sehingga kampung ini disebut Pringgolayan. Akan tetapi, keterangan ini tampaknya tidak selaras dengan berbagai catatan sejarah. Namun, perkara anakronisme dan segala ketidakselarasan itu adalah urusan para sejarawan dan tidak berpengaruh pada ceritanya sehingga Gindus merasa tidak perlu memperdebatkan atau membahasnya lebih lanjut.

Masih di tahun 90-an, Pringgolayan adalah daerah yang kondang angker. Kesan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa kampung ini bersanding dengan kompleks pemakaman kuno. Namun, itu semua hanya sebatas kesan. Penduduk asli kampung ini bisa dibilang golongan insan pemberani. Anak-anak kampung tak pernah gentar bermain-main di kuburan bahkan hingga malam hari. Puncak dari ketidaktakutan itu adalah saat kompleks pemakaman kuno ini dialihfungsikan menjadi perumahan ABRI, puskesmas, gedung bulu tangkis, dan puluhan perumahan liar warga. Makam-makam kuno itu diratakan, sebagian lagi dibongkar oleh keluarga jenazah. Pembongkaran ini bahkan jauh dari suasana horor. Anak-anak kampung bahkan menggunakan tulang belulang mayat, yang harus dikeluarkan karena pembangunan fondasi bangunan, sebagai mainan. Sebagian lagi, yang memang hidupnya berkarib dengan kemiskinan mengumpulkan batu bata makam untuk dijual kembali pada para pengepul batu bata tua.

Semua makam boleh dibongkar, tetapi tidak dengan makam Patih Pringgoloyo. Makam yang terpisah jauh dari kompleks pemakaman ini tegak berdiri dan tetap pekat dengan kesan angkernya. Untuk perkara angker ini memang bukan isapan jempol belaka. Banyak anak yang tiba-tiba jatuh sakit begitu bermain-main di papringan dekat makam. Para orang tua mewanti-wanti anaknya untuk tidak bermain di tempat ini. Konon, ada juga orang dewasa yang pernah digoda setan ketika melintas di tempat itu. Tak hanya saat malam hari, siang hari pun ada yang digoda oleh arwah penasaran. Gindus menambahkan bahwa tempat itu memang menguarkan aura negatif yang kian pekat saat angin bertiup agak kencang dan papringan itu berkereot memiriskan. Menurut Mbah Wongso, sesepuh kampung, ada wewe gombel yang menunggu papringan itu. Wewe gombel itu adalah gundik Patih Pringgoloyo dan mereka sering bersanggama di tempat itu. Ketika Gindus bertanya pada nenek berusia hampir 70 tahun itu apakah persetubuhan ganas itu bakalan menghasilkan anak dan apakah kampung ini akan menjadi kampung setan, Mbah wongso malah meradang dan menggetok kepalanya dengan gagang sapu. Gindus lari pontang-panting. Setelah agak jauh ia berhenti sejenak lalu memerosotkan celananya dan menghadapkan bokong hitamnya ke arah Mbah Wongso sambil berteriak mengejek, “Mbah Wongso kiper!”

Gindus menjeda kisahnya dan menepuk-nepuk pundak Primbon. “Orang Jawa itu pantatnya item, tak peduli seputih apa pun kulit luarnya. Ini sudah rumus. Jadi, jangan digugat lagi. Kau juga yakin kan, Bung?”

“Aku yakin, Bung. Aku pernah dapat cerita dari Totok bahwa bokong Lusi itu juga item. Padahal si Lubang Siput itu kurang putih apa coba? Kerjaannya cuma keluar masuk salon suntik vitamin biar kulitnya putih bersih.”

“Mungkin bokongnya lupa difesyel, Bung?”

“Mungkin juga Bung, kalau bokong Lusi yang seputih itu saja item seberapa kelam ya bokong Tambir ini?”

Tambir yang berkulit cokelat keruh yang diam-diam menyimak obrolan itu hanya bisa misuh-misuh.

“Gamber landak! Mbayangin bokong Tambir bikin nafsu makanku minggat Bung, kayaknya aku bakalan susah ngaceng selama tiga hari ini.”

“Baca Ayat Kursi buat tolak bala, Bung. Dengan kenyataan itu, sudah sepantasnya orang Jawa punya peribahasa sendiri ya, Bung.”

“Peribahasa macam apa, Bung?”

“Memang bokong tetangga tampak lebih item.”

Tawa mereka memecah keheningan angkringan. Dan, Gindus melanjutkan ceritanya.

Setelah mengejek Mbah Wongso itu Gindus menderita sakit gigi akut selama seminggu. Siksanya luar biasa hingga pipinya bengkak. Sakitnya menjalar sampai telinga dan kepala bagian samping. Setelah aneka obat medis dan penanganan taktis mantri puskesmas mental, Gindus akhirnya menceritakan kelakuan tercelanya itu pada kedua orang tuanya. Setelah mendapat sentilan cukup keras di telinga kanannya, Gindus setengah diseret bapaknya ke rumah Mbah Wongso untuk minta maaf. Ternyata Mbah Wongso tidak jual mahal dan bukan seorang pendendam walau memang emosinya rada tidak stabil. Mbah Wongso mengambil air putih lalu memantrainya dan meludahinya kemudian meminta Gindus meminumnya. Sekujur tubuh Gindus merinding saat meminumnya. Ia menenggak oplosan air putih dan ludah itu dengan mata terpejam. Segala jijik harus ia sujudkan demi kesembuhan.

Setelah menerima kembali gelas itu, Mbah Wongso berujar pada bapak Gindus, “Anakmu ini memang keranjingan betul. Tak hanya ngece aku dengan pamer bokong item, ia juga berani mencuri uang sajen di makam Patih Pringgoloyo. Kerok mbendo tenan!”

Gindus terkejut karena tindakan tercela lain yang dilakukannya ternyata diketahui oleh Mbah Wongso. Padahal selama ini ia merasa aman karena memang ia yakin sekali tak ada yang mengetahui pencurian ini, selain komplotannya. Setelah memberi amplop kepada Mbah Wongso, bapak Gindus mengajaknya pulang dan menghadiahinya sentilan keras di kuping kirinya. Gindus pasrah. Kuping kirinya langsung merah. Pertanggungjawaban itu memang menyakitkan, tetapi hanya sementara. Begitu rasa sakit akibat sentilan itu mereda, Gindus baru menyadari bahwa sakit giginya juga telah minggat. Ludah Mbah Wongso memang sakti. Begitu teringat akan ludah Mbah Wongso yang kini menyatu dengan darahnya, perut Gindus langsung kontraksi.

Sejak itu tak ada lagi yang berani mencuri uang sajen sebesar lima ratus rupiah yang selalu disisipkan Mbah Wongso di pincukan daun pisang yang berisi kembang tujuh rupa, kemenyan, dan minyak serimpi. Kisah Gindus ini menjadi pembelajaran bagi komplotannya yang sering berbagi giliran mencuri uang sajen itu. Dan, lokasi makam Patih Pringgoloyo itu kian menahbiskan keangkerannya.

Namun, segala keangkeran juga punya durasi. Pungkasan kewingitan itu berawal dari kepemilikan tanah. Ternyata area pemakaman Patih Pringgoloyo itu bukan tanah umum, melainkan hak milik perorangan warga. Area pemakaman itu segera dipagari dan dibangunlah sebuah rumah permanen yang terbilang bagus untuk ukuran warga Pringgolayan. Namun, seperti yang diduga banyak warga kampung, penghuni rumah tersebut tidak kerasan. Banyak gangguan makhluk halus dan anak mereka yang masih balita selalu rewel dan tak pernah mau turun dari gendongan seakan lantai rumah itu terbuat dari bongkahan bara. Beberapa orang pintar sempat dipanggil untuk menjinakkan gerombolan makhluk halus yang mengganggu itu, tetapi sia-sia. Semua dukun itu terlihat bodoh dan tak mumpuni. Salah seorang dukun cuma bilang bahwa papringan dan makam Patih Pringgoloyo itu adalah pusar dari makhluk halus di kawasan ini hingga radius dua kilometer. Dengan kata lain, tempat itu adalah kantor pusat para setan di mana bos gengnya berdinas tetap.

Pemilik rumah yang sudah putus asa berusaha menyewakan rumah itu dengan harga murah, tetapi hingga beberapa bulan tak ada yang meminatinya. Karena hanya punya rumah itu sebagai tempat tinggal, mau tak mau si pemilik rumah harus meninggalinya sendirian. Istri dan anak balitanya bermukim di rumah mertuanya. Karena keterpaksaan, lama-kelamaan ia terbiasa dan dari luar tampak sudah hidup harmonis dengan setan.

Pertolongan nyata bagi pemilik rumah yang sebenarnya menderita itu datang sekaligus mengubah tatanan gaib kampung Pringgolayan. Tersebutlah sebuah aliran kepercayaan bernama Darma Manungsa yang diakui dan tercatat resmi oleh pemerintah. Pak Bambang Wiyanto, sang RT seumur hidup, adalah salah seorang penghayat kepercayaan ini. Beberapa penghayat Darma Manungsa yang tugasnya hanya berbuat baik dan menolong sesama tanpa boleh menerima imbalan materi apa pun itu menawari bantuan untuk meruwat makam Patih Pringgoloyo. Di bagian ini Gindus tidak begitu yakin, antara menawarkan bantuan atau dimintai pertolongan. Ceritanya simpang siur. Namun, yang jelas para penghayat ini punya maksud baik dan menjamin bahwa tidak akan ada lagi gangguan makhluk halus di kampung itu.

Proses ruwatan yang dikira bakal berlangsung horor dan heroik itu nyatanya berlangsung datar-datar saja. Segala konflik dan pertarungan ganas hanya terjadi secara metafisika, tak dapat ditangkap pandangan mata. Harapan bahwa akan ada anggota penghayat yang kesurupan pun tak terjadi. Semua berjalan lancar dalam sunyi bahkan hingga pemugaran makam dan penebangan papringan itu. Menurut Pak RT sepanjang masa, seluruh makhluk halus yang tinggal di area makam telah dipindahkan ke Sungai Bengawan Solo. Ada ritual mistik boyongan yang dilakukan sebagai penghormatan dan para setan itu setuju. Karena kalau menolak, mereka akan ditumpas. Para setan itu paham bahwa kesaktian para penghayat ini lebih tinggi sehingga pada akhirnya mereka pilih menurut saja. Orang-orang yang sudah tak butuh duit memang susah dikalahkan.

Sebagai wujud terima kasih, pemilik rumah menyediakan sedikit lahannya sebagai tempat peribadatan bagi para penghayat yang lazim disebut sanggar. Karena tak boleh menerima imbalan dari orang yang ditolongnya, para penghayat ini patungan membangun tempat peribadatan itu ditambah bantuan dana dari sekretariat pusat Darma Manungsa di Salatiga. Tak berselang lama berdirilah sebuah sanggar sederhana yang mampu menarik minat warga Pringgolayan untuk menjadi anggota Darma Manungsa. Kiranya kemampuan menyembuhkan orang sakit, mengusir gangguan makhluk halus, dan menolong secara mistik lainnya menggoda iman para pemuda, ibu-ibu, bapak-bapak, dan orang tua di kampung itu. Lagi pula, Darma Manungsa tidak mengharuskan anggotanya menanggalkan agama atau kepercayaan yang telah dianutnya. Setiap anggotanya dibebaskan untuk merangkap iman. Prinsip yang lentur ini menjadikan warga Pringgolayan berbondong-bondong menjadi anggota Darma Manungsa. Mereka tak perlu mengisi formulir ketaatan atau administrasi lainnya. Mereka cukup datang ke sanggar untuk ‘sujud’, istilah untuk peribadatan kunci mereka, kemudian bisa dilanjutkan dengan sujud sendiri di rumah masing-masing.

Waktu dan seleksi alamlah kiranya yang merontokkan anggota-anggota baru itu satu per satu. Menolong orang lain tanpa pamrih bukanlah perkara mudah. Menjadi orang baik itu susah. Banyak anggota yang tak siap dengan perjalanan jauh atau waktu yang kadang tak bersahabat dengan jam kerja untuk menjadi seorang penderma. Mereka tak memiliki kesiapan lahir dan batin sekuat itu, Pada akhirnya tinggal beberapa orang saja yang menjadi penghayat Darma Manungsa di Pringgolayan.

“Kalau kau serius ingin berbuat baik seperti pesan moral yang kau harapkan dari film Pengabdi Setan itu, aku bisa mengantarkanmu kepada Pak RT seumur hidup itu. Beliau adalah penghayat Darma Manungsa sejati,” ucap Gindus menyela ceritanya.

“Lantas apa untungnya bagiku, Bung? Toh aku juga tak akan bertambah kaya?”

“Setidaknya kau bisa melihat wujud-wujud setan. Konon mereka bisa menjelma apa saja. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, kau bisa merekam gambarnya dan kita bisa mengunggahnya di internet. Itu komoditas laris. Kita bisa kaya, Bung.”

“Iya, memang bisa kaya tapi sebelum kaya aku bisa jantungan atau opname karena kesurupan, Bung.”

“Nah kalau kau kesurupan, akulah yang akan merekam gambarmu, Bung. Itu juga akan jadi tontonan yang menjual. Segala yang berhubungan dengan setan adalah barang yang laku. Kita tetap bisa kaya, Bung.”

“Pringsilan jaran, Bung!”

Gindus mengambil satu tusuk sate kere yang berisi jeroan sapi lalu meminta Tambir membakarnya sebelum melanjutkan ceritanya.

Runtuhnya panji-panji Darma Manungsa kiranya tak lepas dari merebaknya Capjikia, sejenis judi togel yang berisi dua belas nomor, angka 1-6 merah dan hitam, dengan penggandaan hadiah sepuluh kali lipat. Capjikia ini begitu digemari oleh warga Pringgolayan karena menerima taruhan sekecil apa pun. Sebagian besar warga terlibat dalam judi ini, mulai dari anak-anak hingga manula. Mereka telah ketagihan Capjikia dan bila sehari saja Capjikia libur, hidup terasa sungguh ngelangut. Tidak ada kesibukan menafsirkan syair bawaan dari bandar untuk tiap bukaan padahal kegiatan ini sungguhlah mengasyikkan. Meski syair lebih sering tidak nyambung dengan nomor yang keluar, tetapi membaca syair yang dihiasi ilustrasi gambar punakawan dalam wayang ini tetap menjadi hiburan tersendiri, terutama bagi Gindus. Capjikia yang buka sehari lima kali ini sanggup membakar kelesuan warga Pringgolayan. Mereka menjadi punya rutinitas layaknya karyawan tetap. Mereka akan menanti datangnya para tambang, sebutan bagi pencatat nomor alias perpanjangan tangan bandar dengan tak sabar. Mereka akan dengan harap-harap cemas menanti datangnya pengepul di pinggir jalan. Pengepul di sini adalah anak buah bandar yang bertugas berkeliling mengabarkan nomor yang keluar. Biasanya mereka ngebut di jalanan sambil mengacungkan jari berdasarkan angka yang keluar sambil berteriak lantang. Maklum saat itu telepon masih jadi barang langka.

Keberadaan Capjikia ini menggaris Pringgolayan menjadi dua kelompok besar yakni kelompok nyonji dan mistik. Kelompok nyonji adalah kelompok matematis yang membikin ramalan nomor yang akan keluar berdasarkan hitung-hitungan yang cukup rumit. Tingkah para penyonji ini sudah mirip dengan ahli statistika. Mereka akan merentang panjang ke belakang dan mengurai angka-angka yang telah keluar kemudian membuat asumsi-asumsi dan kecenderungan-kecenderungan yang dilakukan bandar hingga akhirnya melahirkan prediksi angka yang akan keluar. Berdasar prediksi tersebut, mereka akan membeli beberapa nomor sekaligus. Benang merah dari kelompok ini cuma satu: logika.

Kelompok ini bertolak belakang dengan kelompok mistik yang mengandalkan hal-hal yang bersifat supranatural untuk menebak angka yang akan keluar. Yang paling sederhana adalah lewat mimpi. Mereka akan menafsirkan mimpi berdasarkan perkiraan sendiri. Apabila kesulitan, mereka akan menggunakan buku Tafsir Mimpi. Maka, tak heran jika di Pringgolayan saat itu melimpah buku Tafsir Mimpi. Perbandingannya sekitar 5 : 1. Tiap lima rumah hampir dipastikan memiliki satu buku Tafsir Mimpi. Tingkatan yang lebih sulit dari sekadar menafsirkan mimpi yaitu mencari wangsit, ngalap berkah, dan menemui dukun. Wangsit bisa dicari di kuburan, pohon besar, atau tempat-tempat angker lainnya. Metodenya bisa dengan bertapa, tiduran, mandi, berendam, atau hal-hal tak terbayangkan lainnya. Intinya meminta bantuan langsung kepada setan. Ngalap berkah sebetulnya hampir serupa. Bedanya kegiatan mistik itu dilakukan di tempat-tempat yang sudah kondang memiliki tingkat ijabah tinggi seperti ziarah ke makam para wali atau mendatangi rumah para kiai. Untuk perkara terakhir ini memang sedikit diperlukan trik islami. Biasanya, para pecandu Capjikia itu mendatangi para kiai yang dinilai linuwih dan menceritakan kondisi ekonomi mereka yang sedang seret. Rezeki dijadikan dalih. Mereka akan mengiba-iba dan minta didoakan agar rezekinya lancar. Lalu sang kiai yang welas asih dan tanpa prasangka buruk akan memohonkan kebaikan untuk mereka dan entah dengan metode apa mereka akan nembus Capjikia. Bisa jadi doa dari para kiai itu kemudian menjelma pertanda yang dengan mudah mereka tafsirkan. Bisa pula lewat mimpi atau kejadian sepele sehari-hari. Gindus mengibaratkan datangnya pertanda angka Capjikia ini serupa dengan saat para rasul menerima wahyu dari Ilahi.

Golongan mistik mayoritas adalah mereka yang mendatangi dukun karena cara ini dianggap paling praktis. Lewat penerawangan gaib, para dukun itu senantiasa update ramalan karena dalam sehari ada lima kali bukaan Capjikia. Dukun yang tepat menebak akan segera kondang dan koceknya akan segera menebal. Dalam sehari mereka bisa melayani hingga puluhan klien. Perkara akurasi itu sebenarnya bukan harga mati. Apabila dari lima bukaan, mereka tepat menebak sekali saja, itu sudah bagus. Namun, tingkat akurasi penerawangan ini akan berpengaruh pada tarif mereka. Para penggila Capjikia yang kere akan patungan dan mengutus seseorang untuk mendatangi dukun yang mereka anggap tebakannya jitu. Hal ini mempererat semangat gotong royong di antara mereka karena bila tembus mereka akan bersuka ria bersama, apabila yang terjadi sebaliknya, mereka akan menangis berjemaah. Tak jarang yang mengaku-ngaku sebagai dukun ini adalah anggota dari Darma Manungsa. Oknum ini bisa dianggap murtad oleh penghayat lain karena tindakannya ini melanggar AD/ART kepercayaan itu. Namun, yang bersangkutan senantiasa bisa berkilah bahwa Yang Mahakuasa melimpahkan rezeki kepadanya lewat media Capjikia dan segala perdebatan kemudian tak akan ada habisnya. Para pecandu Capjikia dalam mazhab mistik ini bisa ditengarai dari pemasangan mereka yang cuma pada satu nomor dan dengan nominal yang besar. Hal itu menunjukkan tingginya keyakinan mereka.

Masa ini bisa dibilang sebagai masa paling bergairah di Pringgolayan. Jalanan tak pernah sepi, bahkan hingga malam dan dini hari. Obrolan tentang Capjikia seakan tak pernah terjeda. Para warga mendayagunakan akal budi, pikiran, dan segala sumber daya dalam dirinya untuk mengais keberuntungan. Hampir tak ada yang tampak bersedih dan menganggur di kampung itu. Hidup terasa begitu hidup. Selalu ada yang ditunggu dari waktu ke waktu.

Kobar kehidupan itu akhirnya meredup ketika pemerintah lewat kepolisian secara resmi melarang peredaran Capjikia. Bandar besarnya ditangkap dan para perangkatnya diancam akan dimasukkan bui. Lalu hidup kembali lesu. Harapan seakan dicabut paksa dari diri warga Pringgolayan dan kampung-kampung lain di Kota Solo. Tak ada lagi yang dinanti-nanti dalam hitungan jam, dan beban hidup sungguh terasa berkali lipat beratnya.

“Di daerah Nusukan masih ada kok Capjikia ini,” sela Tambir yang diam-diam ikut menyimak cerita Gindus. “Aku dapat kabar dari pelangganku. Ia juga keranjingan Capjikia walau peredarannya kini sangat terbatas dan juga kucing-kucingan dengan kepolisian.”

“Ah, aku yakin ada oknum aparat yang jadi beking Capjikia itu,” sergah Primbon yang memang selalu apatis dengan aparat keamanan.

“Apalagi yang diceritakan orang itu?” tanya Gindus kepada Tambir.

“Persis ceritamu, ia juga bertanya kepadaku mengenai orang pintar di daerahku yang kiranya jitu menebak Capjikia,” jawab Tambir sambil meletakkan gawainya di kaleng roti penyimpan uang.

“Ah dasar otak kambing. Kalau dukun-dukun itu benar-benar sakti tentu mereka akan pasang Capjikia sendiri. Mereka akan dapat uang lebih banyak kalau nembus daripada buka praktik tipu-tipu bersekutu dengan setan,” interupsi Primbon lagi dengan menunjukkan logak congkak yang begitu menggoda Gindus untuk menggetoknya dengan sendok.

“Kau ini memang cuma percaya pada kiai, Bung, tapi tak pernah salat. Pro berat kiai tapi nyoblosnya PDI.”

“Lakang Kudanil, Bung!”

Gindus melanjutkan ceritanya dengan memberi penegasan berlebihan pada kata ‘kontemporer’. Sejak Capjikia dilarang memang tak ada lagi hal yang menarik di Pringgolayan, terutama untuk perkara kelab kebatinan. Kelengangan panjang itu meletus ketika sekelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Administrasi Swasta (STAS) asal Purwokerto membawa kebiasaan wagu mereka ke Pringgolayan. Tiga belas mahasiswa yang menyewa satu rumah besar sebagai hunian itu tergabung dalam Komunitas Fanatik Sandal Jepit. Selain senantiasa memakai sandal jepit bahkan hingga ke kampus mereka di daerah Baron, dan baru menggantinya dengan sepatu ketika memasuki ruang kuliah, mereka juga punya seremoni unik. Setiap sore mereka berkumpul di halaman rumah kontrakan yang cukup lapang itu kemudian duduk melingkar dan menaruh sandal jepit mereka di tengah-tengah lingkaran. Dalam diam yang khusyuk dan bersahaja, mereka mengagumi sandal-sandal jepit yang sebagian mulai kerepes dan gabusnya terkelupas itu. Kiranya hanya mereka yang tahu mengenai nilai religius dan estetik dari sandal-sandal jepit itu.

Lama-kelamaan kebiasaan itu menarik perhatian warga sekitar. Mereka ikut bergabung dalam lingkaran dan para mahasiswa itu menyambut mereka layaknya para gembala menerima kembali domba-domba yang tersesat. Mereka mengulurkan tangan bagi setiap kehampaan yang singgah. Setiap hari jumlah para penghayat sandal jepit itu makin banyak. Lingkaran itu kian membesar. Para warga yang tergencet kebutuhan hidup seakan mendapat pencerahan yang menenangkan hati hanya dengan mencermati sandal jepit mereka. Hampir tak ada filosofi atau ajaran, baik lisan maupun tertulis dalam kelompok yang telah menyerupai sekte itu. Semua berjalan dalam diam. Ketenangan batin merambat tanpa suara dan memasuki kalbu mereka serta membahagiakan dari dalam.

Saking cintanya pada sandal jepit mereka akan merawatnya dengan ketelatenan perawat rumah sakit swasta. Sebisa mungkin mereka akan mereparasi sandal jepit yang jebat. Ikhtiar dilakukan semampu-mampunya. Apabila sudah tak mungkin lagi diperbaiki atau diakali, barulah mereka membeli sandal jepit baru. Sandal jepit lawas itu akan mereka kuburkan layaknya memakamkan saudara tercinta. Harus ada prosesi layatan yang minimal dihadiri oleh dua orang. Entah siapa yang memulai ritual ini, tetapi karena dianggap bajik dan bijak, seremoni ini diamalkan oleh warga. Maka, di Pringgolayan saat itu secara tak resmi telah berdiri kompleks pemakaman sandal jepit. Warga silih berganti ke kompleks pemakaman di dekat lapangan voli itu. Ada yang berziarah dan menaburkan bunga-bunga, ada yang sekadar melepas kangen, ada yang khusyuk berdoa, serta ada yang tersedu sedan di pusara sandal jepit kesayangan.

Sekte sandal jepit itu berakhir ketika para mahasiswa STAS itu diwisuda empat tahun kemudian dan kembali ke Purwokerto. Mereka yang lulus berbarengan, membawa serta sandal jepit kesayangan beserta fondasi keagungan kelompok itu. Dan, itu tak tergantikan. Ada seorang warga yang masih gigih meneruskan kegiatan itu. Namanya Beni Swalo. Kegigihannya mencermati sandal jepit sempat menarik perhatian beberapa anggota karang taruna yang juga menjadi anak buahnya. Namun, begitu ia mencoba menyuarakan filosofi mengenai sandal jepit, kelompok itu bubar jalan. Padahal filosofi yang diucapkan Beni Swalo itu kalau dipikir-pikir lumayan indah, bercita rasa cukup tinggi, dan mulia. Ia menyuarakan agar penghayat yang tersisa bercermin pada sandal jepit dalam makna harfiah: kalau berjalan lihatlah selalu sandal jepitmu, maka kau tak akan terperosok atau tersandung. Kalau kau melihat ke atas, kau justru akan mengalami kesialan itu. Melihat ke sandal jepit bisa diartikan mengacu kepada kaum miskin atau yang kurang beruntung. Dengan itu akan membuat pemakai sandal jepit tetap bersyukur. Melihat ke atas bermakna mengacu pada orang yang lebih kaya atau lebih beruntung. Dengan begitu hidup akan tersiksa karena pemakainya akan merasa selalu kekurangan padahal kekayaan itu tak ada habisnya.

Mental Beni Swalo hancur oleh kenyataan itu. Lantas ia mengundurkan diri sebagai ketua karang taruna dan akhirnya pergi ke Trenggalek untuk nyantri kepada seorang kiai yang tak pernah masuk televisi. Lima tahun kemudian ia kembali ke Pringgolayan, tetapi puncak karier tausiahnya hanya mencapai mubalig tingkat kecamatan. Namanya harum di lingkungan Kecamatan Serengan dan menjadi mitra sejati koramil dan polsek setempat untuk perkara pengendalian kriminalitas secara kebatinan.

“Barangkali itulah yang disebut seni instalasi tingkat tinggi ya, Bung?” tanya Primbon dengan wajah terkagum-kagum.

“Aku sendiri tidak tahu, Bung. Hingga sekawak ini aku juga belum tahu nilai estetik dan religius dari sebuah sandal jepit,” jawab Gindus asal-asalan.

“Matamu memang bukan mata seniman, Bung. Hanya orang-orang terpilih dan diberkahi Ilahi yang mampu melihat puncak keindahan sebuah benda sederhana macam sandal jepit. Ustaz Beni Swalo itu salah satu orang yang teberkati karunia itu.”

“Mungkin kau betul, Bung. Sampai kini aku kadang tak tahu bedanya orang genius, seniman, dan orang kurang kerjaan?”

“Apa kau sedang menyindirku, Bung?”

“Tentu tidak, Bung. Dirimu adalah calon seniman adiluhung. Aku percaya itu hanya saja aku tak cukup yakin danamu akan mendukung haha”

“Sesama kere harus saling menghormati, Bung.”

“Tentu Bung, sesama asu harus saling bantu.”

Gindus dan Primbon berjabat tangan lalu mereka melakukan ritual khas persahabatan mereka yaitu dengan saling menyentuhkan kuping masing-masing sebelum Gindus melanjutkan kisahnya.

Ritual yang dilakukan oleh tiga belas mahasiswa Purwokerto itu rupanya jadi prototipe. Tanpa dikira siapa pun sekte serupa kembali muncul di Pringgolayan, hanya saja kini bukan sandal jepit yang jadi protagonis, melainkan tabung gas tiga kiloan.

Adalah Nella Kharisma yang secara tak langsung menjadi penggagas sekaligus pendiri tidak resmi sekte ini. Janda kembang itu kesal karena tak kebagian gas walaupun ia sudah menyiapkan uang yang lebih banyak untuk menebusnya. Dengan kekesalan tingkat tinggi, ia melemparkan tabung hijau kosong itu ke lapangan voli dan berselonjor di sana lalu cuma bengong memandanginya. Setelah amarahnya tandas, Nella Kharisma mengambil kembali tabung gasnya lalu pulang. Meski tak berlangsaung lama, adegan itu terpatri dalam di benak penyaksinya. Esoknya giliran Rabiyem yang melakukan hal serupa. Berikutnya Rani, Sadiyah, Zulkifli, Kintil, dan hampir semua orang yang kehabisan gas melakukannya. Prosesi semacam itu rupanya efisien untuk meredakan kekesalan akibat tak bisa memasak karena ketiadaan gas.

Ketika pasokan gas dari distributor macet, sekte tabung gas itu resmi terbentuk. Mereka ramai-ramai meletakkan tabung gas kosong itu di tengah lapangan voli lalu melingkar mengelilinginya. Setelah dirasa cukup mereka membubarkan diri dengan kepuasan yang tampak jelas terpancar dari wajah mereka.

Lama-kelamaan ritual peletakan (dari mulanya pelemparan) tabung gas itu tak tergantung lagi pada pasokan gas. Dengan kreatif dan alamiah, warga Pringgolayan menciptakan solusi batiniah bagi persoalan hidup mereka yang kian kompleks. Begitu kekesalan akibat dikalahkan oleh kehidupan, mereka meletakkan tabung gas di tengah lapangan voli dan mencermatinya. Karena hampir semua orang melakukan hal ini, seseorang yang Gindus lupa namanya dalam pertemuan RT mengusulkan untuk melakukan ritus ini secara berjemaah dan usul disetujui secara aklamasi oleh warga. Maka, ritual pencermatan tabung gas itu pun dilaksakan secara berjemaah tiap sore di lapangan voli. Pesertanya selalu membludak, tetapi ketenangannya senantiasa terjaga. Mereka memilih berdiam dan menghayati ketertindasan hidup masing-masing dalam batin sebelum menumpasnya dengan parang hening. Dengan sendirinya, semangat kerukunan dan kekeluargaan terbina di antara warga Pringgolayan. Hampir tak pernah terjadi cekcok atau tumbuh permusuhan di antara mereka.

Kemudian mukjizat itu datang.

Pada sebuah sore yang teberkati, saat keheningan memuncak pada ritual mencermati tabung gas, tiba-tiba Laura Kambil, atlet panjat tebing asli Pringgolayan, berteriak histeris, “Aku melihat lafal ‘Allah’ di tabung gas paling ujung itu.” Lalu secara berbarengan mereka mengalihkan pandangan pada tabung gas yang ditunjuk Laura Kambil itu, dan benar saja, mereka bersepakat bahwa kelupasan cat pada tabung gas tiga kiloan itu membentuk lafal ‘Allah’ dalam huruf hijaiah. Lalu seseorang tanpa dikomando berteriak “Allahuakbar” yang diikuti oleh peserta lainnya. Teriakan takbir itu diulang sebanyak tiga kali.

“Bagian ini agak sulit kupercaya, Bung. Kau cuma mengarang cerita saja kan, Bung?” tanya Primbon ketika tahu bahwa Gindus telah memungkasi ceritanya.

Gindus hanya mengangkat bahunya tanpa bersuara. Ia sengaja membiarkan Primbon bertarung sengit melawan pertanyaannya sendiri.

“Ayolah, Bung. Aku penasaran ini.” Suara primbon terdengar mengiba sekaligus memaksa. Namun, Gindus sama sekali tak menanggapinya.

Setelah menandaskan teh jahenya, Gindus berkata lirih pada Primbon, “Pulangnya mampir ke rumahku sebentar ya, Bung, aku ingin memberimu sesuatu.”

Primbon hanya mengangguk. Tampaknya ia masih sibuk berjibaku dengan pertanyaannya tadi.

Mereka pun meninggalkan angkringan Birman setelah melunasi tagihan yang masing-masing kurang dari ceban. Hujan sudah reda dan sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Gindus. Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 00.45 malam. Primbon diminta menunggu di ruang tamu yang telah sepi, sedangkan Gindus menyelinap ke ruangan di sebelah kamarnya dan kembali dengan sebuah buku yang dibungkus plastik hitam yang lantas diberikannya kepada Primbon.

Primbon menerimanya dan bersegera pamit, tetapi Gindus mencegahnya. “Aku ingin menunjukkanmu sesuatu.” Lalu ia menggandeng tangan Primbon ke ruangan yang tadi dimasukinya.

Begitu lampu ruangan itu dinyalakan, Primbon terkejut bukan main. Di kamar itu ada semacam altar pemujaan yang meski tanpa aksesori bunga dan lampu bohlam merah tetap menguarkan aura kesakralan dan kemistisan. Di atas altar itu berdiri dengan kudus sebuah tabung gas tiga kiloan dengan rajah huruf hijaiah berlafalkan ‘Allah’ di kelupasan cat hijaunya.

Kiranya itu semua telah menjawab pertanyaan yang mengganggunya di angkringan tadi. Primbon pamit pulang dengan wajah tanpa beban dan Gindus mengantarnya hingga pagar.

Sekitar lima ratus meter dari rumah Gindus, Primbon menghentikan motornya. Dengan rasa penasaran tak tertahankan, ia membuka buku yang terbungkus plastik hitam itu. Di bawah cahaya lampu merkuri ia membaca bagian sampul buku itu: Melihat Tabung Gas Bekerja karya Mansyur S.

***

LIMA BELAS tahun kemudian, Prima Binaraga Nusantara alias Primbon, mengejutkan publik film Indonesia. ‘Mengejutkan’ rasanya bukan kata yang pas untuk mewadahi kenyataan yang sebenarnya, lebih tepatnya kalau ‘menggemparkan’. Ia berhasil menjadi sutradara pertama Indonesia yang menyabet Piala Oscar untuk kategori film berbahasa asing.

Dalam pidato Oscar-nya yang mengebu-gebu, ia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada sahabatnya yang bernama Daniel Ratau Sambat, alias Gindus yang telah menjadi inspirasi terbesar dari film itu. Tak sekadar membanggakan Kota Solo, film tentang sekumpulan pemuda di daerah Stasiun Balapan yang keranjingan dan memuja buah srikaya itu berhasil mengharumkan serta mengangkat harkat dan martabat perfilman Indonesia di dunia internasional. Film monumental yang akan dicatat dengan tinta emas oleh sejarah perfilman nasional itu berjudul Ganteng-Ganteng Srikaya.

Solo, 2017

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)

  • #Ar_rha

    Terlihat ketidak seriusan yang serius dibuat dari cerpen ini. Keren

  • d4mN

    PENTIL KING K0NG !
    Cerpen apaan nih?, ahak ahak ahak

  • Mohammad Iqrom

    Asu..