Kenyataannya, Posisi Editor Itu Biasa Saja

in Hibernasi by
editor dan penulis
Sumber Gambar hamline.edu

To write is human, to edit is divine.—Stephen King

Sebagian penulis memang nyaman menjadi penulis saja. Sebagian editor—mari batasi pengertian editor dalam tulisan ini dalam lingkup editor fiksi—nyaman menjadi editor saja. Sebagiannya lagi, baik editor maupun penulis akan saling penasaran untuk menjelajah wilayah satu sama lainnya. Editor penasaran bagaimana menulis. Penulis… jarang sih yang penasaran bagaimana mengedit. Karena itu, akan lebih sering kita temukan editor yang kemudian juga menjadi penulis, daripada sebaliknya.

Penyebabnya adalah salah satu perbedaan mendasar sikap penulis dan editor. Penulis memiliki ego yang tinggi. Terhadap kisahnya, nama tokohnya, setting-nya, dan terutama, gaya berceritanya. Sementara, editor harus memiliki kerendahan hati yang dalam sekali. Tentu lebih mudah bersikap egois setelah lama merendah hati ketimbang sebaliknya, bukan?

Tapi, selama masih berstatus sebagai editor, tidak boleh ada ego dalam diri.

***

Pada sebuah acara, seorang kawan berkisah bahwa dia disodori pertanyaan menarik. “Mbak, kerjaan editor itu ngebenerin tulisan sesuai EYD, kan?” Belum sempat kawan saya menyahuti, orang itu lanjut bertanya, “Terus, kenapa di novel masih ada elu-gue dan dibiarin?”

Iya, beberapa orang memang memandang pekerjaan editor adalah patuh tunduk pada EYD dan KBBI.

Salah satu fungsi fiksi adalah sebagai mimesis, cerminan. Kenyataannya, banyak yang menggunakan sapaan tersebut. Justru melalui buku, pembaca akan tahu bahwa begitulah dunia di sebelah sana. Bukankah buku adalah jendela dunia, tempat pembaca bisa berwisata mengenal berbagai budaya, meski tidak memijak langsung dunia sebelah sana yang sebelumnya asing? Lalu, bagaimana buku dapat menjadi jendela dunia jika dunia di balik jendela tersebut kelewat ketat dibatasi?

Oscar Wilde berkata, dalam pengantar novel Lukisan Dorian Gray, “Sesungguhnya, seni lebih merupakan pantulan dari para penikmatnya, alih-alih pantulan dari kehidupan.” Bisa jadi, si penanya memang belum pernah berkomunikasi menggunakan sapaan macam itu dan merasa tidak nyaman ketika membacanya. Jika memang demikian maka sesungguhnya dia bisa memilih jendela lain.

Sementara itu, bagi Stephen King, editor lebih mulia ketimbang penulis. Dia bahkan mengatakan mengedit itu pekerjaan dewa. Pernyataan itu tentu bentuk penghargaannya sebagai penulis kepada editornya. Karena merasa diskusi yang dilakukannya dengan sang editor memang membawa dampak pada tulisannya. Baik secara isi maupun rasa. Pernyataan itu bisa melambungkan perasaan para editor, sedikit berbahaya. Kenyataannya, posisi editor sering kali tidak seagung itu. Kadang, editor justru sekadar jembatan. Editor menjembatani agar apa yang ingin disampaikan oleh penulis sampai dengan baik kepada pembaca. Tapi bahkan, jembatan ini pun dirasa tidak diperlukan.

Salah satunya, pada karya penulis ternama. Yang terbaru, Suti karya Sapardi Djoko Damono. Jika sudah membaca, tentu dapat merasakan hal-hal yang mengganggu di dalamnya, terutama menjelang bagian akhir.

Tentu saya bersepakat jika kata-kata ngrumpi, ngangsu, ngerasani, nyesek, dan sejenisnya tidak perlu dibakukan karena diksi-diksi itu menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan untuk mendukung suasana kedaerahan dalam novel Suti.

Meskipun demikian, kehadiran seorang editor tentu akan meminimalisir kekeliruan ketika kali menjadi kaki, karena menjadi kaena, Ndoro menjadi Mdoro, napas yang masih ditulis nafas. Hingga, kekeliruan yang lebih serius seperti desa Tungkal yang disebut Tumbal dan Kanto yang sulung kemudian disebut sebagai si bungsu. Sehingga, pembaca tidak terganggu ketika sedang berusaha mengikuti kisah Suti bersama keluarga Pak Sastro.

Saya bertanya-tanya setelah selesai membaca: kenapa buku penulis ternama negeri ini justru tidak didampingi editor?

Ada beberapa kemungkinan. Di antaranya, bisa saja karena pihak penerbit sudah percaya dengan kemampuan penulis, atau karena jadwal terbit yang sudah mendesak. Atau, kombinasi keduanya.

Saya rasa, seterkenal apa pun seorang penulis, tetap membutuhkan editor. Munculnya editor tentu bukan sebagai bentuk ketidakpercayaan penerbit terhadap kemampuan penulis. Justru, menghadirkan editor merupakan bentuk penghargaan. Karena karya yang baik harus dipersiapkan dengan baik pula, agar pesan yang ingin disampaikan penulis dapat diterima dengan nyaman oleh pembaca.

Tentu ada pula buku yang telah didampingi editor tapi masih tidak nyaman dinikmati. Editor hanyalah pembaca yang memiliki sensitivitas lebih. “Bagian ini tidak menarik, dihilangkan saja, ya?” atau, “Sebelah sini ada logika yang bolong,” kadang, “Tokoh ini marahnya kurang greget nggak, sih?” Begitu-begitu saja, kok. Justru jarang berkutat dengan hal-hal macam jumlah titik yang boleh digunakan dalam naskah, apakah air mata digabung atau dipisah, atau di mana jodoh yang tak kunjung tampak subjek sebuah kalimat.

Tapi, seperti halnya penulis, meskipun sekadar jembatan, editor pun memiliki tingkatan kualitas. Ada yang mudah goyah seolah dari tali seperti yang masih digunakan beberapa siswa negeri ini untuk berangkat ke sekolah. Ada pula yang kokoh seperti Jembatan Suramadu, yang bisa menyatukan dua pulau berbeda. Tinggal pilih saja.

  • Wazifa19

    Ah, saya telat bacanya…
    Berarti yg nulis ini editor ya? Cool!! Jadi tau isi hati seorang editor…
    Tapi saya kira editor tetap punya ruang yang Tidak Biasa-Biasa saja di mata pembaca (yang peduli). Gak bakal ada penulis beken tanpa editor yang kece. Jadi, masing-masing punya porsi tersendiri. Editor itu kayak makhluk yang bekerja dalam diam kali ya? Hehe…
    Tetap aja di menurut saya editor itu keren! ^_^