Kesaksian Toilet Gereja

in Cerita Pendek by
eyeem.com

Misa perayaan Natal akan berlangsung hari ini. Seluruh panitia telah menyiapkan segalanya, dari urusan tata laksana hingga perlengkapan, dan kamu merasa yakin dirimu termasuk hal penting yang juga harus segera disiapkan. Kamu meyakini mereka tidak mungkin mengabaikanmu. Dalam hal ini kamu sering berbangga diri, karena jika waktunya kamu dibutuhkan tiba, banyak orang akan mengakui bahwa mereka sangat bergantung kepadamu, terlepas dari mereka telah mendapatkan ketenangan karena asupan keimanan melalui ibadah. Kamu yakin untuk urusan kesehatan jasmani, kedudukanmu sama tingginya dengan altar yang mereka muliakan itu, tentu saja jika mereka mau jujur bahwa mereka tidak ingin menemui penderitaan dalam hidupnya. Kamu mengatakan begitu bukan bermaksud untuk merendahkan tempat ibadah itu, atau menyepelekan keimanan yang mereka yakini, tapi kamu hanya ingin mengatakan bahwa tempat ibadah dan dirimu sama-sama mereka butuhkan. Terlebih karena kamu menganggap bahwa mereka adalah makhluk yang sangat lemah, mudah jatuh dalam dosa dan jatuh sakit.

Kamu menyadari, baumu memang tidak seharum altar yang penuh bunga-bunga itu. Termasuk kamu juga menyadari, meski orang-orang menganggapmu penting, mereka tidak lantas mau memberimu tempat di depan. Kamu memang harus rela diberi tempat paling belakang, jika perlu di pojokan, dan andai kamu bisa disembunyikan, kamu yakin mereka akan melakukannya. Tapi setidaknya kamu sering merasa berharga, karena banyak orang bisa berlaku jujur di hadapanmu. Di luaran sana orang-orang akan cenderung menutupi diri untuk menjaga kewibawaan, dengan bersikap sewajar mungkin, jika perlu melakukan kebohongan-kebohongan agar mereka tidak tampak nakal atau bodoh di muka sesamanya. Tapi di sini, orang-orang akan cenderung jujur dan terbuka, bersikap seperti apa yang mereka ingin lakukan. Itu berarti jika mereka berada di sini tidak pernah punya keinginan mengelabui. Mereka tidak berbohong kepadamu. Dan hal itulah yang kamu suka. Kamu bisa mengerti bagaimana sesungguhnya orang-orang itu. Dari peristiwa seperti itulah kamu punya keyakinan bahwa apa yang membuat orang-orang frustrasi karena mereka tidak berani bersikap jujur terhadap diri sendiri maupun pada orang lain.

Kamu merasa di setiap perayaan hari Natal selalu mendapati sebuah kisah istimewa, seperti yang terjadi pada tiga tahun terakhir. Kamu masih ingat betul, tiga peristiwa yang terjadi di tiga Natal itu. Pada Natal tiga tahun yang lalu kamu menjadi saksi pertama adanya seorang penyusup yang ikut misa di gereja ini. Kamu yakin orang itu sedang membawa bom yang ditaruh di dadanya. Kamu tahu saat orang itu sedang berbicara di dekatmu melalui telepon, orang itu mengatakan bahwa bom yang dia bawa tidak bisa meledak. Lalu orang itu masuk ke ruanganmu, memeriksa bom yang ada di balik bajunya. Kamu masih ingat, orang itu berulang kali mengumpat, mungkin kesal atau justru menyadari memang ada masalah dengan kabelnya. Kira-kira selang lima belas menit dari orang itu pergi, kamu mendengar sebuah ledakan dahsyat. Tempat ini bergetar. Teriakan histeris bersahut-sahutan. Tak lama kemudian kamu mendengar sebuah percakapan dua orang yang melintas di dekatmu. Ada bom bunuh diri yang gagal masuk ke dalam gereja. Bom itu meledak di depan gereja. Pada saat itu kamu ingat doa-doa yang sering mereka lantunkan, Terpujilah NamaMu Yang Besar, atas segala karunia dan perlindunganMu.

Pada Natal dua tahun yang lalu, kamu tidak pernah akan percaya jika kamu tak menyaksikan sendiri bagaimana ada seorang lelaki bangsat bersujud di kaki putri kecilnya, berjanji akan memperbaiki jalan hidupnya. Waktu upacara misa telah sampai pada prosesi ibadat tobat dan petugas koor mulai menyanyikan lagu Tuhan, kasihanilah kami, lelaki yang tubuhnya penuh dengan tato mendekatimu. Ndlogog, bajingan, asu adalah kata-kata yang dimuntahkan dari mulutnya ketika lelaki itu masuk ke ruanganmu. Kamu masih ingat benar, dengan muka merah lelaki itu tertunduk lemas, tampak seperti memendam sesuatu. Dan tak lama kemudian apa yang dipendam itu tumpah dalam gumam. Kamu masih ingat apa yang digumamkan lelaki itu, adalah belum siap untuk menjadi baik. Dia merasa terlalu kotor dan nista. Dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan berkatNya. Tak lama kemudian ada suara ketukan di pintumu. Lelaki bertato itu mengusap matanya yang sempat berkaca-kaca sebelum membuka pintumu. Ketika pintumu terbuka, di ambangmu telah berdiri seorang anak perempuan kecil yang matanya telah penuh dengan air mata. Anak perempuan itu memanggil lelaki bertato itu dengan sebutan “Papa”. Kamu masih hafal apa yang dikatakan anak perempuan kecil itu sebelum lelaki bertato itu mencium kakinya. “Papa telah berjanji, kali ini Papa tidak akan pergi lagi. Papa telah berjanji bertobat.” Lalu kamu berandai-andai jika kamu punya air mata, kamu yakin saat itu ruanganmu akan penuh dengan air mata.

Kamu ingin tahu, peristiwa apa yang akan terjadi di Natal kali ini. Jalannya misa Natal sudah mulai sejak tadi tapi kamu merasa belum ada satu pun peristiwa yang kamu anggap istimewa, yang sebanding dengan keistimewaan hari ini. Dari tadi orang yang datang kepadamu memang hanya untuk keperluan yang sewajarnya, karena kebelit pipis.

Kini kamu mengingat apa yang terjadi di pesta Natal tahun kemarin. Waktu itu kamu terkejut ketika misa telah sampai prosesi penerimaan komuni, ada anak lelaki yang tiba-tiba berlari mendekatimu lalu masuk ke ruanganmu dengan mata sembap. Kamu bisa mendengar apa yang dikatakan dalam tangisnya. Anak lelaki itu tidak mau menerima kehadiran ibu kandungnya yang dulu telah tega meninggalkannya. Anak itu membenci ibu kandungnya. Dia sangat bersedih. Tapi selain kamu mendengar anak lelaki itu mengatakan begitu, kamu juga mendengar apa yang digumamkannya berulang kali dan kamu merasa hal itu adalah suara hatinya yang terdalam, bahwa sesungguhnya dia kangen dengan ibunya. Dia ingin seperti anak-anak yang lain, mendapatkan kasih sayang utuh dari ibu kandungnya. Tak lama kemudian kamu mendengar pintumu diketuk orang. Pintu tidak dikunci. Orang yang mengetuk pintumu ternyata ibu kandung anak itu. Dia membukamu. Ibu muda nan cantik itu mendapati anak lelakinya. Kamu ingat, ibu muda itu mengatakan sesuatu, mengatakan bahwa dirinya memang bukan ibu yang sempurna tetapi dia memohon kepada anaknya itu agar memberinya kesempatan kedua, dia berjanji akan berusaha menjadi ibu yang baik. Kamu juga ingat begitu anak itu mendengar perkataan ibunya, dia tak kuasa menahan haru, lalu langsung menubruk ibunya. Menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Berdua larut dalam tangis, yang menurutmu hal itu adalah tangis kebahagiaan.

Karena asyiknya kamu mengenang peristiwa yang kamu nilai istimewa di Natal-Natal sebelumnya itu sampai membuatmu tak menyadari misa perayaan Natal kali ini sudah hampir selesai. Kamu mendengar koor telah menyanyikan lagu Bangunlah dada kelana, lagu penutup setelah Pastur memberi berkat. Itu tandanya misa segera akan selesai. Pada saat kamu mulai meyakini bahwa Natal kali ini tidak ada peristiwa yang kamu anggap istimewa datang ke situ dua perempuan muda. Kamu menilai keduanya cantik, perempuan yang satu berpakaian wajar. Baju yang sopan, baju yang sepantasnya dipakai untuk pergi ke gereja. Sedangkan perempuan yang lainnya mengenakan pakaian buruk, maksudmu baju yang tidak sepantasnya dipakai untuk misa di gereja. Dan kini kamu tertegun mendengarkan perbincangan dua perempuan itu.

“Dari awal sudah kubilang, jika niatmu mau ke gereja haruse bisa menyesuaikan. Jangan pakai baju kayak gitu. Itu baju waktu kamu melacur. You can see-mu itu membuat ketiakmu ke mana-mana. Dan panjangnya tak mampu menutupi udelmu.”

“Dari tadi kamu bicara itu itu saja.”

“Belum lagi rokmu. Bahkan cawetmu yang ijo norak itu tetap terlihat meski dudukmu sesopan apa pun.”

“Kamu itu kesusu, tauk. Aku baru bisa niatku, hatiku, belum pakaianku. Bukankah Tuhan mau menerimaku, bahkan mungkin dalam keadaan telanjang sekali pun?”

“Ya. Aku percaya karena Tuhan gak mungkin nafsu mbek kowe. Tapi mereka itu manusia Wuk… manusia…. Kau tahu, manusia itu makhluk lemah. Mereka punya hawa nafsu. Para lelaki bisa tergoda bila melihat kayak gini. Kurasa cukup dulu. Misa Natal ini sudah cukup membuktikan kamu mau bertobat. Mengaku dosanya lain kali, saja. Gak pantas kamu berduaan dengan romo pakai pakaian kayak gini. Biar aku bilang romo, jadwalnya dipending dulu.”

“Tidak. Aku tidak mau setengah-setengah. Aku tetap akan mengaku dosa bar misa.”

No. Paling tidak bukan saat kamu pakai beginian. Kau tahu, keringatmu itu sangat bau. Bau langu, kayak sperma.”

Ra urus.” Kamu terkejut ketika perempuan berbaju seronok itu tiba-tiba membuka pintumu dan masuk ke ruanganmu. Dia menutup pintumu dengan keras. “Pokoknya aku ingin sekarang. Kau yang dulu mekso-mekso aku tobat. Kenapa jadi begini hanya karena bajuku? Jadi kau harus membantuku. Sekarang.” Perempuan itu berkata-kata sembari mengangkat roknya ke atas. Lalu memelorotkan cawatnya. Wanita itu jongkok, pipis. Kini kamu bisa menyaksikan sendiri warna hijau cawatnya.

“Baiklah. Akan aku lakukan.”

Selesai pipis, wanita itu keluar darimu dan mendapati temannya telah kembali.

Piye?”

“Romo sudah siap. Kau ditunggu di ruang bih.”

“Sekarang?”

“Besok! Ya sekaranglah. Cepat sana.”

Kamu melihat kedua wanita itu berlalu. Kamu merasa lega dan senang menyaksikan kisah pertobatan itu. Sejenak kemudian kamu merenung agak lama, lalu kamu berpikir mungkin kisah pertobatan perempuan lacur itu adalah kisah istimewa Natal kali ini. Baru saja kamu berpikir begitu, pintumu dibuka seseorang. Oh kamu menyadari ternyata Pastur paroki yang masuk ke dalam dirimu. Tidak biasa pastur masuk ke dalam dirimu masih mengenakan jubah. Pastur terlihat buru-buru. Kamu pikir pasti karena kebelet pipis waktu memberi pelayanan pengakuan dosa tadi. Tapi waktu itu kamu melihat gelagat aneh. Pastur mengangkat jubah bagian bawah dan membuka celana lalu memelorotkannya, termasuk cawatnya. Pastur mengocok. Partur ngeloco. Kamu tertegun melihat itu sembari pikiranmu melayang pada perkataan salah satu perempuan muda tadi. Kamu pikir perkataan perempuan itu benar bahwa orang-orang memang mudah tergoda, tak terkecuali dengan pastur ini. Dia juga manusia yang punya hawa nafsu. Kamu menganggap apa yang dilakukan pastur itu hal wajar, bahkan kamu menganggap hal itu masih sangat terhormat dibandingkan kejahatan yang pernah dilakukan oleh pastur-pastur zaman dulu. Kabar dulu ada pastur yang suka memperkosa perempuan kencur dan membunuhnya, lalu mayatnya ditanam di dinding-dinding gereja.

Begitu selesai ngeloco dan keluar darimu, ternyata pastur telah ditunggu perempuan berbaju seronok tadi. Kamu mendengar perempuan itu mengucapkan terima kasih. Mereka berjabat tangan. Setelah itu perempuan itu izin permisi. Saat perempuan itu berbalik dan berlalu, kamu melihat mata pastur masih sempat melirik bokong perempuan itu.  Bokong yang bentuknya seperti sepasang buah semangka. Bokong itu bergetar-getar saat perempuan itu berjalan. Tapi kamu meyakini pastur itu sudah tak bernafsu lagi. Lalu sekarang kamu bertanya-tanya, kisah mana yang lebih istimewa di Natal kali ini, perempuan lacur bertobat atau pastur khilaf. Tak lama kemudian kamu mendengar pastur memanggil perempuan itu dengan nama Maria. Perempuan itu berhenti dan menengok. Lalu pastur mengucapkan selamat Natal padanya.***

Yuditeha

Yuditeha

Alumni De Britto dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini, dikenal sangat santun dan menyenangkan. Tapi karya-karyanya, memiliki keliaran yang kadang mengejutkan. Ia menulis puisi, cerpen, dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku kumpulan cerpennya, Balada Bidadari , diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2016.Akan segera terbit kumpulan cerpen terbarunya, Matinya Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya di Penerbit Basabasi. Pelukis wajah yang hobi bernyanyi puisi ini, adalah penyuka bakpia dan onde-onde.
Yuditeha

Latest posts by Yuditeha (see all)