Kesengsem Skuter: Dara dan Indonesia

in Memorabilia by

“Pertumbuhan penjualan skutik di tanah air cukup menjanjikan. Pada kuartal pertama 2018, jenis roda dua ini mampu menguasai 83 persen pangsa pasar kendaraan roda dua.” Dua kalimat itu dicomot dari iklan dimuat di Kompas, 11 Juni 2018. Iklan berartikel untuk membujuk orang membeli skutik. Pengiklan sesumbar: “skutik pintar dan seksi.” Urusan pintar dan seksi bukan mutlak milik manusia. Benda berpaham cepatisme pun memiliki sebutan pintar meski tak pernah sekolah. Benda itu seksi tanpa pernah membaca seribu petunjuk di majalah-majalah perempuan atau tekun mencatat di seminar kecantikan. Seksi masih terkesan milik perempuan, tak melarang lelaki boleh seksi. Sebutan pintar lekas terpahamkan oleh bocah sampai orang sudah tua. Seksi kadang sebutan belum pantas bertengger di imajinasi bocah. Kamus-kamus di Indonesia sering mengartikan seksi adalah “merangsang rasa berahi.” Semula, seksi itu raga, sebelum dikenakan ke benda-benda.

Sebutan seksi di iklan itu mengingatkan iklan sehalaman di majalah lawas. Iklan hitam-putih tapi mengesankan. Iklan skuter belum otomatis. Di majalah Selecta, 10 Maret 1966, halaman 32, iklan dari Lambretta Jet. Perempuan anggun bertubuh langsing sedang berdiri minta dikagumi. Ia berbusana khas perempuan Indonesia masa lalu. Ia bukan perempuan fanatik mengenakan celana buatan negeri asing, rok mini, atau berkaus lengan pendek. Ia masih menuruti anjuran Soekarno dan nasihat kaum ibu masa lalu: berbusana sesuai kepribadian nasional. Busana apik di raga langsing. Ia tampak tinggi dengan sandal jinjit. Perempuan itu pujaan masa 1960-an.

Tangan si perempuan memegangi skuter. Tangan lain seperti melambai untuk memanggil orang atau mengabarkan girang. Di iklan, tulisan besar: “Semangkin langsing.” Tulisan mengarah ke perempuan pujaan atau skuter? Pengiklan membuat persamaan raga perempuan dan skuter? Dulu, Poerwadarminta belum berpikiran langsing berkaitan alat transportasi. Pembuat kamus sering bersurjan dan bersandal itu masih berimajinasi kuno. Langsing berurusan tubuh. Di Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952), langsing berarti “ramping, pandjang lampai.” Contoh penggunaan kalimat mengarah ke manusia: tubuh atau pinggang. Pada masa 1960-an, langsing itu raga skuter berdampingan perempuan langsing. Iklan memang berhak mengadakan bahasa tanpa patuh kamus-kamus.

Kita menduga perempuan pujaan itu bukan pengendara skuter. Ia mungkin membonceng di perjalanan paling romantis. Sang kekasih di depan mengendarai skuter mengantar perempuan melihat pemandangan atau menuju ke gedung bioskop untuk menonton film. Lelaki dan perempuan di skuter itu pengisah asmaranisme. Adegan di skuter cenderung romantis ketimbang di becak atau mobil.

Pada 2018, berita datang dari Arab Saudi. Perempuan tak abadi selalu membonceng atau duduk di samping sopir. Raja Salman bin Abdulaziz al Saud mencabut larangan mengemudi kendaraan bagi perempuan. Kompas, 26 Juni 2018, memberitakan dengan judul agak cengeng: “Air Mata Bahagia Perempuan Arab Saudi”. Di sana, cerita-cerita paling sering terdengar adalah mobil. Perempuan mengemudi mobil. Lakon perempuan berskuter tak seheboh di Indonesia. Kaum perempuan di Indonesia tak menangis gara-gara skuter atau mobil. Mereka sudah diperkenankan mengemudi sejak puluhan tahun silam. Perempuan mungkin menangis mungkin gara-gara melihat sang kekasih berselingkuh dengan cara memboncengkan perempuan idaman di skuter atau duduk manis dalam mobil.

* * *

Di Jakarta masa 1970-an, kaum remaja sedang menggandrungi lagu-lagu Galih Rakasiwi. Popularitas dan uang melimpah ke pelantun lagu-lagu romantis. Di hati, Galih pernah berkata: “Jakarta ganas. Jakarta manis. Jakarta terang. Jakarta kelam. Jakarta berseri. Jakarta muram. Jakarta kecintaanku. Jakarta telah mengubah hidupku. Jakarta telah memberiku hidup senang. Namaku jadi melangit.” Galih adalah artis dan mahasiswa di IKJ. Di Jakarta, Galih mengontrak rumah, membeli televisi, mengongkosi kuliah sendiri, dan sanggup membeli skuter. Rezeki juga dikirimkan ke orang tua di kampung.

Tokoh Galih dianggap mentereng. Pada masa 1970-an, pilihan mengendarai skuter menjelaskan selera kemodernan dan kelas sosial. Di kampus, para mahasiswa masih jarang memiliki sepeda motor atau skuter. Mereka biasa menggenjot sepeda onthel, naik bus, naik becak, atau jalan kaki. Mobil juga dipakai meski berjumlah sedikit. Galih, lelaki cakep dan terkenal, sengaja memilih membentuk identitas diri dengan skuter. Di mata publik, skuter memuat cerita puja teknologi, jalan, kecepatan, dan keanggunan.

Skuter juga bercerita asmara. Di kampus, Galih berkenalan dengan Marlina, perempuan cantik, manis, dan semampai. Pada suatu hari, Galih mengantar Marlina pulang mengendarai skuter. Adegan romantis dua sejoli di skuter. Galih berkata: “Pegang erat-erat pinggangku, Lin!” Perempuan cantik dan lugu jadi penurut: “Tanpa sungkan-sungkan, tangan itu melingkar di pinggang Galih.” Jalinan asmara Galih dan Marlina semakin romantis di atas skuter. Para mahasiswa melihat mereka: takjub dan cemburu. Skuter itu bergerak di “jalan asmara”. Skuter tak cuma alat transportasi asal Italia. Bagi kaum lelaki di Jakarta, skuter sempat diartikan keparlentean dan keromantisan ketimbang mobil. Skuter pun memiliki kekhasan saat melaju lincah di jalan. Kita mengenang Jakarta, Galih, Marlina, dan skuter dalam novel berjudul Puspa Indah Taman Hati (1977) garapan Eddy D Iskandar.

Skuter di novel lucu dan romantis itu (agak) terbenarkan jika kita membaca buku berjudul Jakarta 1950-1970 (2018) susunan Firman Lubis. Gambar-gambar di sampul buku sudah mengingatkan bahwa skuter turut mengisahkan Jakarta. Lelaki berskuter tampil bersama perempuan menuntun sepeda. Skuter di jalan-jalan di Jakarta masa lalu menebar pelbagai cerita: kegagahan, asmara picisan, intelektualitas, keparlentean, dan kesenimanan. Di ingatan kaum jurnalis lawas, skuter pun bercerita heroisme mencari berita dan pembentukan identitas pers. Perkara skuter dan jurnalis tak mendapat pengisahan di buku Firman Lubis. Skuter sengaja diceritakan berkaitan ketokohan terbatas: mahasiswa dan dosen.

Firman Lubis menulis: “Selama 1960-an, di antara teman-teman kuliah saya, hanya beberapa orang yang menggunakan sepeda motor atau skuter buatan Italia merek Vespa dan Lambretta. Rata-rata mereka masih menggunakan sepeda atau naik becak. Waktu itu sepeda motor masih tergolong benda mewah.” Skuter asal Italia terus bersaing dengan kendaraan bermotor berdatangan dari Jepang. Pada 1970-an, orang-orang masih kesengsem skuter tapi godaan mengendarai sepeda motor bebek memicu cerita-cerita heboh.

Puluhan tahun sebelum skuter diceritakan dalam novel, kita mendapat berita-berita mengejutkan tentang dara dan skuter. Majalah Aneka edisi 10 September 1958 memuat berita berjudul “Dara & Scooter”. Berita belum memuat foto perempuan mengendari skuter. Di Bandung, acara bertokoh perempuan dan skuter “menghidangkan atraksi jang dapat menggiurkan setiap kaum prija.” Deskripsi acara di Stadion Siliwangi, 7 Agustus 1958: “Tepat djam 10.15 scooter concours dimulai dengan sedjumlah 41 dara sebagai peserta mewakili empat buah paberik ialah Vespa, Lambretta, NSU, serta Rabbit keluaran Djepang dengan model terbaru. Perlombaan itu dibagi dalam tiga bagian, ialah pertama-tama untuk bagian pakaian sport, kedua untuk bagian pakaian nasional sarung-kebaja, dan paling achir untuk pakaian indah alias pakaian umum.”

Berita mengenai dara berskuter berlanjut di Aneka, 20 September 1958. Berita memuat foto tiga dara berbusana beda. Mereka mengendarai skuter dengan wajah semringah. Dara mesti berdandan dulu sebelum mengendarai skuter. Dandanan menentukan tepuk tangan dan nilai dalam lomba. Dulu, dara-dara itu mungkin berlaku sebagai pengiklan agar jumlah penjualan skuter meningkat. Peran sebagai pengemudi pun membuktikan perempuan tak bergantung lelaki untuk bepergian ke pelbagai tempat.

Di majalah Aneka edisi 20 Januari 1959, ada berita berjudul “Dara-Dara Naik Skuter…”. Di Jakarta, para dara mengikuti Scooter Concours d’Elegance. Mereka berebut gelar Ratu Scooter Jakarta 1959. Para dara mengendarai skuter demi propaganda elegan dan seksi. Dara pantas menggunakan skuter sesuai raga dan penampilan. Di Lapangan Ikada, 11 Januari 1959, mereka berparade di depan ratusan penonton. Pada masa 1950-an, skuter ingin dijual dengan slogan-slogan cantik, seksi, dan lincah. Skuter untuk perempuan.

Wartawan Aneka menulis: “Penonton di Ikada telah menampak para peserta perlombaan satu persatu ditengah lapangan. Mereka telah siap untuk parade lengkap dengan aneka warna pakaiannja dan scooter jang sengadja dicat warna-warni: merah, merahmuda, biru, birumuda, hidjau dan cream serta warna kelabu.” Lomba di Ikada mendapat sambutan heboh dari penonton saat melihat kaum dara anggun, cantik, molek, dan langsing bersaing menjadi Ratu Scooter Djakarta 1959. Di mata wartawan saat meliput lomba di Ikada, ada keteledoran panitia dalam kewenangan dan cara juri menilai. Laporan dari wartawan: “Perlombaan dimulai satu djam terlambat dari rentjana semula. Ketika concours berlangsung, salah satu djuri (ketua) telah mempergunakan waktunja untuk mengambil gambar peserta dengan camera. Bagaimana dia bisa menilai dengan teliti: tjara berpose, gaja rambut, pisik setjara umum, gaja bertindak dan make up tiap peserta dari lubang camera jang ketjil itu?”

* * *

Kita belum memiliki sumber bacaan melimpah untuk bercerita dan menginformasikan skuter. Para sastrawan mungkin enggan bercerita skuter. Mereka gampang mengisahkan mobil, sepeda onthel, kereta api, becak, dan sepeda motor. Kita masih ingat novel-novel garapan Marga T dan Ashadi Siregar pada masa 1970-an dan 1980-an. Alat transportasi muncul di halaman-halaman novel, mengajak pembaca mengerti perkembangan kota-kota di Indonesia. Orang-orang berpindah tempat menggunakan kendaraan pribadi: beroda dua atau empat. Para tokoh dalam novel Marga T dan Ashadi Siregar semakin menguak modernisasi di Indonesia, selera alat transportasi, kesadaran kelas sosial, dan pendefinisian diri. Di jalan, alat transportasi bermesin mengabarkan kecepatan. Di kantor, kampus, rumah, atau pusat perbelanjaan, keberadaan pelbagai alat transportasi mengartikan profesi, derajat sosial, dan pandangan hidup.

Kini, orang-orang semakin kesengsem skuter-otomatis. Skuter dengan pelbagai merek mengingatkan kita pada masa lalu. Teknologi sudah semakin canggih. Para pengendara gampang mengoperasikan tanpa ribet dan capek. Kaki tak lagi menginjak rem. Tangan kiri tak usah lagi bekerja berat. Semua tata cara digampangkan. Industri otomotif mulai berlakon skuter. Para pengguna semakin meningkat. Di jalan, tatapan mata kita mudah menemukan para pengendara skuter. Mereka bukan Galih dan Marlina. Mereka mungkin berimajinasi seperti Agnes Mo atau para artis dalam iklan-iklan skuter. Konon, mengendarai skuter membuat mereka tampil ekspresif, manis, dan sensual. Selebrasi skuter perlahan membuka kasus besar mengenai dua produsen besar dalam penentuan harga. Para ahli menuduh ada kartel dalam bisnis skuter berbeda merek.

Di Indonesia, skuter-otomatis adalah lanjutan pencanggihan teknologi alat transportasi di Eropa. Dulu, skuter adalah simbol mujarab. Hebdige menganggap skuter itu sistem “seksisme mekanis”, sumber pembeda lelaki/perempuan, pekerjaan/kesenangan, produksi/konsumsi, dan fungsi/bentuk. Semula, skuter itu cenderung keperempuanan. Lelaki disimbolkan dengan sepeda motor. Skuter berarti feminisasi. Skuter mesti ramping atau seksi ibarat perempuan. Sejak masa 1950-an, skuter jadi saingan terberat sepeda motor. Pameran Sepeda Motor Istana Earl (1955) membuat publik tercengang. Di pameran, orang melihat ada 50 skuter baru (Celia L, Budaya Konsumen, 1998). Skuter perlahan jadi idaman di pelbagai negara. Kini, Indonesia pun berhasil jadi “negeri skuter”.

Kita semakin mengerti bahwa Indonesia itu pasar paling menggiurkan untuk industri otomotif beroda dua. Skuter pelbagai merek telah membuat jutaan orang kesengsem jadi konsumen dan pengendara. Mereka malah membentuk komunitas pemilik skuter. Di Indonesia, lakon terbaru adalah skuter cenderung bertokoh para dara. Mereka mengendarai untuk ditatap dengan takjub ketimbang kita melihat pengendara lelaki berlagak gagah: mengenakan kacamata hitam dan berjaket kulit. Begitu.

Bandung Mawardi

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)