Kiat Menulis Asyik dari Pengalaman Remeh Temeh Agus Mulyadi

in Hibernasi by
Kiat Menulis Asyik dari Pengalaman Remeh Temeh Agus Mulyadi
Kiat Menulis Asyik Agus Mulyadi Sumber gambar: Blogger Klaten

Sejujurnya saya tak begitu mengikuti karya-karya Agus Mulyadi. Belakangan saya baru tahu kalau beliau ternyata penulis yang lebih dulu dikenal sebagai tukang gubah foto digital. Saya mengetahui Agus Mulyadi justru dari portal media daring yang sekarang sudah tutup itu. Ia bekerja sebagai redaktur di sana. Setahu saya, Mas Agus ini memang penulis cerdas yang lincah dengan kemasan jenaka―meski kontennya tak melulu seputar haha-hihi belaka. Lalu sebenarnya, resep dan bumbu apa yang ia gunakan saat menulis? Dan yang tak kalah penting, kenapa tulisan-tulisannya bisa lucu dan lumayan berfaedah?

Acara ini diinisiasi oleh Blogger Klaten bekerja sama dengan Godrej Indonesia. Kegiatan seru bertajuk Kelas Menulis Kreatif ini berlokasi di salah satu rumah makan daerah Klaten pada Ahad (23/4) lalu. Agus Mulyadi jadi pembicara tunggal. Ia tak memaparkan bagaimana teknis menulis yang baik, atau tips-tips jitu bagaimana menjadi penulis yang andal. Ia hanya berbagi pengalaman remeh temehnya ihwal terceburnya dirinya ke dalam dunia kepenulisan.

Sekira delapan tahun silam, tahun 2009, pria kurus asal Magelang ini memutuskan untuk merantau ke Yogyakarta. Ia mencari peruntungan dengan bekerja sebagai operator warnet. Sembari jaga warnet―eh, operator warnet maksudnya, ia merangkap sebagai tukang edit foto. Tak disangka, hasil dari kerja ngedit fotonya itu tak hanya menghasilkan pundi-pundi ekonomi yang melimpah karena kebanjiran pesanan―ia juga diundang ke berbagai media nasional. Agus Mulyadi mulai tenar sebagai “pakar” edit foto.

Lama-kelamaan ia tak begitu tertarik dikenal sebagai tukang edit foto. Beralihlah Agus dari ngedit foto ke kegiatan yang lebih nyeni dan mulia: menulis. Pekerjaannya sebagai operator warnet yang banyak waktu selonya itu ia manfaatkan dengan membuat blog. Meski awalnya seorang Agus hanya menulis artikel copy-paste di blog pribadinya―yang kemudian berkembang menjadi menulis kejadian-kejadian kesehariannya. Dengan gaya bertutur apa adanya. Dari sinilah cahaya hidup kepenulisan seorang Agus dimulai.

Berbagai penerbit menawarkan untuk membukukan tulisan-tulisannya. Berbagai media menawarkan dirinya menjadi penulis kolom. Hingga akhirnya ia sempat bekerja sebagai redaktur di media daring yang termasyhur itu. Sekadar informasi, saat ini Agus telah menulis tiga buku di antaranya Jomblo Tapi Hafal Pancasila (2014), Bergumul Dengan Gusmul (2015), dan Diplomat Kenangan (2015).

 

Kiat Sukses

Agus berbagi pengalaman menulisnya dalam forum ini. Baginya, empat hal berikut perlu diperhatikan ketika kita sedang menulis, atau agar tulisan kita bisa enak dibaca: sudut pandang, gaya bahasa, orisinalitas, serta kutipan-kutipan. Substansi jadi nomor kesekian, karena memang Agus berangkat dari hal-hal keseharian.

Sudut pandang adalah kunci. Ini bagian paling penting dalam memotret sebuah angle objek tulisan. Hal-hal paling tidak penting sekali pun bisa jadi menarik ketika kita mendapat sudut pandang yang bagus. Misalnya saja tulisan Agus yang berjudul “In Celana Dalam Indomaret, I Trust”. Agus mengupas celana dalam mulai dari harga, varian warna, kenyamanan hingga perbandingan dengan merek lain. Hal-hal sepele―bahkan tabu semacam ini yang jadi andalan Agus dalam memilih sudut pandang. Semakin liar, semakin seksi.

Selanjutnya gaya bahasa. Agus meyakini industri tulis menulis tak bisa lepas dari pengaruh media dan teknologi. Media dan teknologi terus berubah dan bergerak cepat. Bahkan Agus menceritakan sudah ada program yang mendeteksi isu-isu yang sedang berkembang. Artinya, mungkin di kemudian hari kerja-kerja jurnalisme sudah tidak manual lagi―melainkan wartawan bisa dikloning oleh mesin. Mengerikan bukan?

Maka dari itu gaya bahasa jadi begitu pentingnya. Mungkin teknologi bisa merangkap segala hal-hal teknis dari kehidupan manusia, tapi tidak bagi pemikiran. Karena menulis adalah proses berpikir. “Selama robot tak bisa jatuh cinta, mesin tak bisa menggantikan gaya bahasa. Karena itu adalah buah pikiran,” tukas Agus dengan gaya ndelegeknya itu.

Kiat selanjutnya adalah orisinalitas. Kunci utama dalam menulis adalah jujur. Menjadi diri sendiri. Meskipun tentunya, tulisan kita pastinya dipengaruhi oleh karya-karya orang lain. Dalam hal ini, Agus Mulyadi mengidolakan Umar Kayam. Seorang sosiolog, penulis dan budayawan serta guru besar di Fakultas Sastra UGM. Faktor kelokalan menjadi penting di mata Agus. Karena ia merupakan cerminan identitas diri.

Terakhir adalah kutipan-kutipan. Secanggih-canggihnya karya tulisan, yang paling nempel di kepala adalah kutipan-kutipannya. Kutipan adalah intisari dari sekujur tulisan. Agus berseloroh, seberapa banyak dari kita yang sering mengumbar-ngumbar kutipan Pram, tanpa pernah membaca bukunya sampai tuntas. Hayo ngaku? Menyisipkan kutipan menjadi penting, karena ia punya peluang besar untuk populer.

Agus Mulyadi telah membuktikan bahwa menjadi penulis, tak harus punya latar belakang akademis. Juga tak melulu didorong oleh gairah intelektual yang tinggi. Cukup dengan menjadi apa adanya. Yang remeh temeh belum tentu remah sepah. Karena jangan salah, tulisan yang sederhana itu justru hasil dari ketidaksederhanaan. Kira-kira begitu.

Gunawan Wibisono

Gunawan Wibisono

Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak maupun online seperti Harian Kompas, Majalah Jasmerah, Midjournal, Sorgemagz, Warning Magazine, dan Geschieporia Magazine. Beberapa puisi dan esainya diikutkan dalam buku antologi TentangLangit (2012) terbitan Balai Soedjatmoko Solo dan Hajatan Aksara (2012) terbitan Taman Budaya Jawa Tengah. Pernah menulis skenario film pendek W.A.R (2012). Saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di Lab Sosio FISIP UNS sembari merampungkan buku perdananya bertajuk Musik dan Gerakan Sosial.
Gunawan Wibisono