Kisah Oedipus Versi Orhan Pamuk

in Rehal by

Judul            : THE RED-HAIRED WOMAN

Penulis       : Orhan Pamuk

Penerbit     : Bentang Pustaka

Edisi            : Pertama, Februari 2018

Tebal           : 392 hal

ISBN            : 9786022914495

Konon dalam beberapa mitologi dan peradaban, babak baru peradaban dimulai dengan tragedi dalam garis sedarah. Catatan sejarah telah membuktikan “kabar konon” yang ini. Ketika Zeus membunuh ayahnya, Cronus, atau Prajapati Brahmana dibunuh anaknya, Rudra, maka dimulailah babak baru peradaban. Tragedi pembunuhan ini pula yang disinggung Orhan Pamuk dalam novel terbarunya The Red-Haired Woman.

Novel ini dimulai dengan tiga kutipan Oedipus. Pertama dari Nietzsche tentang Oedipus. Kedua dari drama karangan Sophocles, “Oedipus Rex. Dan yang terakhir adalah kutipan dari karya penyair Persia Ferdowsi, “Shahnameh”.

Sebagaimana putra tanpa ayah, seorang ayah tanpa putra pun akan sebatang kara.

Hubungan ayah anak yang disinggung Pamuk dalam novel ini dapat menjadi sangat kontempelatif bahkan dapat pula dimaknai sebagai simbolisasi bangsa Turki. Sebagaimana Sigmund Freud sampaikan terkait Oedipus yang kemudian menjadi istilah Oedipus Kompleks, bahwa hanya dengan membunuh ayah secara metaforis, mereka akan dewasa. Lantaran sosok ayah menciptakan egoisme patriarki yang membatasi anak-anaknya. Membunuh ayah yang dimaksud Frued, bukan bermakna leterlek tragedi berdarah seorang anak menghabisi nyawa ayah. Melainkan, sebuah simbolisasi anak yang berusaha menghapus bayang-bayang ayah demi kemandirian dan kebebasan.

Cem, pemuda 16 tahun yang baru saja lepas sekolah dan berkeinginan menjadi penulis. Namun, cita-cita itu terkendala biaya. Ayahnya ditangkap pihak keamanan lantaran terkait gerakan politik di Turki. Kemudian Cem menjadi asisten penggali sumur, Tuan Mahmut.

“Tidak mungkin ada peradaban tanpa ada sumur, dan tidak ada sumur tanpa ada penggali sumur. Dan, tidak ada asisten penggali sumur yang tidak patuh dengan perintah gurunya,” demikian Tuan Mahmut memberi garis tebal akan peranan profesinya dalam peradaban Turki.  Perihal sumur dan simbolisasi kehidupan, ingatan saya terbawa pada cerpen “The Man in the Well” karya Ira Sher, yang karena sederhana cerita justru membawa banyak tafsiran baru dan beragam kemungkinan pemaknaan.

Untuk bertahan hidup,” kata Tuan Mahmut, “seorang penggali sumur harus bisa mempercayai asistennya seperti anaknya sendiri.”

Secara maknawi, Tuan Mahmut lebih berperan sebagai ayah ideologis Cem dan kemudian menggantikan peran ayah kandung Cem yang dipenjara, dan dianggap Cem telah mati.

Dalam penggalian sumur di Ongoren (30 km dari pusat pusat Turki), Cem mengalami jatuh-bangun susahnya mencari uang sebagai asisten penggali sumur. Kemudian, Cem jatuh cinta kepada perempuan pemain teater berambut merah bernama Gülcihan. Tuan Mahmut tak menyukai itu, hingga Cem harus diam-diam kalau hendak menyaksikan Gülcihan berpentas. Atau kalaupun keduanya bersama-sama pergi ke kota pada malam hari, maka Cem akan diam-diam menjauh dari Tuan Mahmut demi menyaksikan kemolekan Gülcihan, baik di panggung teater ataupun dari balik jendela rumah tingkatnya.

Hingga kemudian tragedi pembunuhan itu menimpa Cem. Tuan Mahmut jatuh ketika ditarik Cem keluar dari galian sumur sedalam 30 meter. Cem ketakutan karena kutukan Oedipus akan menimpanya. Cem telah membunuh Tuan Mahmet, guru sekaligus ayah ideologisnya. Ingat, novel ini benang merahnya adalah tragedi pembunuhan ayah-anah.

Tragedi ini mengubah total hidup Cem. Pertama, Cem tak lagi ingin menjadi penulis. Kedua, Ongoren tidak lagi menjadi kota terpencil tandus akibat sumur yang sukses mengubah kota kecil menjadi maju. Batas-batas mengabur, Ongoren menjadi bagian dari Ankara, kota modern yang tak lagi Cem kenali. Peradaban dimulai dari sumur dan tragedi pembunuhan Tuan Mahmut.

Setelah selesai kuliah geologi, Cem hidup sukses sebagai pengusaha kontraktor, dan kaya raya bersama istrinya, Ayşe. Namun, bayang-bayang pembunuhan Tuan Mahmut tak bisa dia hapus. Perlahan keterkaitan hidup Cem dewasa dengan tragedi Tuan Mahmut ditemukannya.

Oedipus menerima kutukan besar karena telah membunuh ayahnya sendiri dan bersetubuh dengan ibunya sendiri. Cem secara tidak langsung telah melakukannya. Cem merasa telah membunuh Tuan Mahmut, dan juga telah tidur dengan Gülcihan, yang adalah salah satu perempuan simpanan ayah kandung Cem. Dan ketika diketahui bahwa Gülcihan melahirkan anak Cem, ketakutan itu semakin menghantuinya.

Setelah menemukan ini, Cem merasa bahwa dia dihadapkan dalam dua pilihan, akankah menjadi bagian kisah Oedipus yang membunuh ayahnya atau Rostam yang membunuh anaknya? Akankah dia terlibat dalam kriminalitas patricide (pembunuhan ayah) atau filicide (pembunuhan anak kandung)?

Novel ini penuh dengan obsesi ayah dan anak, yang bila ditarik ke orbit yang lebih luas, memiliki simpul dengan kondisi politik Turki dan Asia secara umum. Otoritas ayah yang kita temukan di sini sama dengan kekuatan besar Negara. Dan Pamuk, meski terpesona dalam narasi arketipe, tidak dapat menghindari kenyataan bahwa dia tinggal di Turki yang dipimpin Presiden Recep Erdogan, figur ayah yang semakin berwibawa.

Oedipus, simbol psikologis anak yang menolak ayahnya dan membenci otoritasnya, mewakili pemberontakan Barat yang individualistis. Rostam, sang ayah, yang dengan membunuh anaknya sendiri menunjukkan kekuatan utamanya, menjelma “ayah Asia yang otoriter”.

Bila kita menganggap Oedipus adalah sisi Barat dan Rostam adalah sisi Timur, dua hal yang selalu menjadi konsen Pamuk dalam tulisannya, maka Cem ada di antara keduanya. Kegelisahan manusia modern yang kerap berada di status quo, antara Barat dan Timur yang sama-sama memiliki pengaruh kuat.

Maka Pamuk menawarkan sebuah teori, bila ingin menjadi manusia modern harus lepas dari bayang-bayang ayah, yang dapat kita artikan sebagai negara atau Presiden Erdogan.

Novel ini terbilang sangat sederhana dan tidak menghadirkan jalinan bahasa rilis dan lapis-lapis konflik yang mendalam. Gaya tutur dan rentetan alur Cem, mulai dari usia 16 tahun hingga kemudian mati dalam tragedi sumur, cukup sederhana, bahkan terkesan bukan sebuah gaya Pamuk dalam bercerita.

Pokok cerita Cem menjadi simbolisasi akan prasyarat bagaimana kita mencapai kebebasan individual. The Red-Haired Woman menjadi pelajaran dasar yang membantu kita menafsirkan masa kini, tapi pada saat yang bersamaan menangkap kecenderungan manusia dan politik yang abadi, yang ingin merdeka dan menemukan identitas masing-masing meski harus diawali dengan tragedi berdarah sekalipun.[]

Teguh Afandi

Teguh Afandi

Penggiat Klub Baca Yogyakarta.
Teguh Afandi

Latest posts by Teguh Afandi (see all)