Kitab Suci dan Nabi Kita Sama, tapi Tuhan Kita Telah Berbeda

in Celoteh by
happeningafrica.com

Serupa Anda yang muslim, saya juga muslim yang meyakini kebenaran mutlak al-Qur’an. Saya pun ittiba’ mutlak kepada Nabi Muhammad Saw. Sampai di sini, saya dan Anda semua, tanpa kecuali, seshaf.

Tetapi memang Islam sebagai sebuah agama juga mengalami apa yang dinyatakan Huston Smith dalam Kebenaran yang Terlupakan (2017) sebagai “konstruksi konseptual” khas manusia penganutnya dalam proses mewujudkan nilai-nilai ajaran spiritualitas dalam perilaku sosialnya. Islam muskil steril dari ikatan-ikatan profan penganutnya yang seiring jalannya waktu memberikan sentuhan warna, karakter, konsep, pandangan, dan finalnya diyakini atau diikuti sebagai “konstruksi kebenaran”. Sebagai sebuah mazhab; sebuah ortodoksi. Tentunya, aslinya, ini alamiah belaka sebagai kebenaran ijtihadi; kebenaran konseptual; kebenaran paradigmatik—sesuai bentuk pengejawantahan nilai-nilai spiritual itu pada ranah sosialnya yang niscaya majemuk.

Bila ada di antara umat Islam yang tanpa tedeng aling-aling menggemborkan penegakan mutlak “Islam kaffah” sebagai semurni-murninya praktik Islam di era nabi Muhammad Saw., para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in, yang kini diistilahkan “Salafi”, sehingga yang tidak demikian dianggap salah, melenceng, bahkan sesat dan kafir, dengan klaim telah bercampur-aduk dengan hal-hal kekinian dan kedisinian (bid’ah), tepat di titik inilah (mayoritas) kita rentan telak berbeda.

Secara empiris, kita tak mungkin membantah bentangan jarak dan masa yang amat panjang antara kehidupan kita kini dengan masa Rasulullah Saw. dulu sebagai problem riil keislaman murni itu. Sungguh rapuh untuk dipertanggungjawabkan bahwa kita adalah pelaku Islam murni berkat menyokong paham Salafi—dalam artian yang semurni-murninya. Bahwa kita adalah muslim yang kaffah berkat Islam yang murni itu.

Mari cerna dulu.

Jangankan kita kini dan di sini, bahkan—jika menukil Muhammad Syahrur—sejatinya  sejak dulu kala penurunan ayat-ayat al-Qur’an yang berpola satu demi satu (dalam 22 tahun 2 bulan dan 22 hari) juga tak lepas dari “mekanisme respons” Tuhan, Islam, atas pelbagai realitas kehidupan bangsa Arab. Al-Qur’an sendiri memuat respons-respons dinamis pada dinamika manusia yang ditujunya. Lihatlah bagaimana mekanisme pengharaman khamr dan penetapan hukum poligami, misal. Dengan statemen ini, jelas muskil untuk menafikan khazanah realitas, lokalitas, dan dinamika kezamanan kita sendiri atas nama idealisme Islam murni.

Coba kita ambil satu tamsil. Turunnya ayat “…hendaklah kalian memanjangkan jilbab kalian….” dalam surat an-Nur itu secara konteks sosio-historisnya tak lepas dari pengaduan Saudah, salah satu istri Nabi, kepada Nabi yang ditegur oleh Umar bin Khattab karena keluar dari rumahnya. Lalu turunlah ayat tersebut.

Banyak ulama tafsir, di antaranya dalam kitab Al-Mishbah, yang mengatakan bahwa konteks sosial masa turunnya ayat itu memang sarat dengan perbuatan-perbuatan usil, iseng, dan nakal dari kaum preman Madinah kepada para perempuan hamba sahaya. Kaum perempuan hamba sahaya itu lazim mengenakan penutup kepala saja, sejenis tudung kepala. Itulah ciri yang membedakan perempuan merdeka dengan budak. Maka diperintahkannya Saudah (dan kaum muslimah) untuk memanjangkan jilbab dimaksudkan sebagai pembentukan identitas tegas yang membedakan kaum muslimah dengan hamba sahaya. Agar tak diganggu oleh kaum jahil Madinah. Sebab ada konsekuensi sosial bila kaum muslimah diganggu oleh siapa pun.

Khazanah sosio-kultural kita di masa kini jelas telak berbeda dengan masa historis diturunkannya ayat tersebut. Gangguan-gangguan para preman kepada kaum perempuan masa kini dikarenakan jilbab yang pendek (ala hamba sahaya dulu) tidaklah menjadi konteks sosial kita. Maka, pertanyaannya, apakah memanjangkan jilbab masih menjadi ajaran yang mutlak diterapkan kini –seperti kaum muslimah di masa Nabi? Ataukah jilbab tetap wajib dikenakan dengan syarat semata memenuhi fungsionalnya saja sebagai menutup aurat—dan karenanya kreasi jilbab pun sangat leluasa untuk dikembangkan sedemikian rupa sesuai dinamika fashion kekinian?

Begitulah kenyataannya.

Konstruksi “Islam murni” di masa kini benar-benar sangatlah problematis implementasinya, baik secara wacana, apalagi praksisnya di hadapan kemajemukan realitas kulturalnya. Ini lantas bukan lagi semata soal bentangan jarak dan masa yang panjang tadi, yang rentan menyebabkan kita “kehilangan banyak nilai lamanya”, tetapi secara aktual yang lebih mendasar ialah keragaman konteks sosio-kultural yang melingkupi kehidupan nyata umat Islam sendiri.

Sudah pasti, para cendekiawan berbeda pendapat. Itu lazim belaka. Alamiah. Ini mestinya tak perlu dirisaukan. Kita terima dengan legawa.

Sayangnya, kenyataannya, sulit untuk berhenti risau bila menyaksikan situasi sosial kita kini yang gara-gara perbedaan pandangan, wacana, khitab, mendorong mayoritas kita untuk riuh sesat-menyesatkan, kafir-mengkafirkan. Ini problem baru kekinian yang aslinya dipantik oleh khittah keragaman mazhab, aliran, dan pandangan keislaman, yang dampaknya jauh lebih mengerikan dibanding ikhtilaf itu sendiri ketika mulai diselubungi oleh faksional politik dan ideologi.

Dalam laporan terbaru Tirto.id (18/3/2017), misal, kita terperangah begitu mengetahui kenyataan di lapangan (di luar itu niscaya masih sangat banyak kasus sejenis) betapa berberainya umat Islam hanya karena beda pilihan politik. Seorang anggota takmir dipecat hanya gara-gara mendukung Ahok, ditingkahi hegemoni religius yang tak terbayangkan akan terjadi di sini dan kini: “Dinyatakan keluar dari Islam, diminta bersyahadat lagi jika ingin bergabung, jika tetap mendukung Ahok, kelak kalau mati takkan dishalatkan di masjid kampung itu.”

Mengerikan!

Apa pun yang dijadikan landasannya, perilaku sejenis itu mencerminkan serangan virus intoleran yang amat berbahaya bagi kesehatan kohesi sosial kita. Ia telah mendobrak benteng ukhuwah islamiyah kita—apalagi ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Orang yang jelas-jelas sejak kecil muslim, telah berhaji pula, dan memiliki kontribusi sosial-ekonomi kepada masjid, bagaimana logikanya “dipecat” dari agama Islam hanya karena memilih Ahok? Hanya karena beda frame of interest dalam konstelasi Pilkada Jakarta?

Jika dikaitkan dengan statemen-statemen di awal tulisan ini, rupanya, berdasar kasus tersebut, kesamaan al-Qur’an dan Nabi bukan lagi penghalang untuk tidak berberai sedemikian ekstremnya. Dan ironisnya ini telah keluar dari tanggul-tanggul wacana, opini, konsep, khitab beragama. Ini telah melontarkan agama dengan sangat jauh dari hakikat spiritualitasnya, ruhaniahnya, menjadi komoditas politik dan sentimen-sentimen pribadi yang menemukan momentum pembalasannya.

Jika kita sepakat benar bahwa al-Qur’an kita sama, Nabi kita sama, dan otomatis Tuhan kita juga harusnya sama, mengapa ekspresi sosial kita sedemikian diametralnya sampai membubrahkan sendi-sendi ukhuwahnya? Mengikuti narasi Huston Smith di atas, ini jelas aslinya hanya tentang “konstruksi konseptual” beragama, berislam, berpolitik, dan bermasyarakat. Hanya sayangnya, bangunan konsep keislaman itu telah tega ditumbalkan sedemikian murahnya kepada riuh politik atau kesumat personal yang tak tuntas. Walhasil, semua mengatasnamakan marwah Tuhan, meski sungguh tak ada Kasih Tuhan di dalamnya.

Mengapa Tuhan yang sama menghasilkan sikap yang berbeda mutlak begitu, seolah Tuhan Anda dan Tuhan saya adalah Wujud yang berbeda dan bahkan bermusuhan?

Jawabannya sesederhana ini: sebab Tuhan pun adalah “konstruksi konseptual” kita!

Jika Anda masih ragu, tengoklah seruan-seruan takbir “Allahu akbar” yang semarak di jalanan. Kalau dulu kita mendengar takbir “Allahu akbar” sebagai panggilan beribadah atau mengingat keagunganNya, kini “Allahu akbar” bisa bermakna komando untuk menyerang, memukul, dan menghancurkan.

“Tuhan kita”, yang kita konstruksikan konsepnya, sungguh benar-benar tak sama lagi.

Purwokerto, 19/3/2017

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu